Alea duduk di samping ranjang Matias sambil memegang tangannya. Dokter menjelaskan ada penyumbatan berat yang memerlukan operasi bypass.
"Om akan baik-baik saja," kata Matias.
"Dokter saja belum berani menjamin, kenapa Om sok tahu?"
Alea marah karena takut. Tobias tidak menyuruhnya tenang. Ia mengurus administrasi hanya setelah Matias dan Alea menyetujui.
Malam sebelum operasi, Matias memberikan sebuah map kepada Alea. Isinya dokumen rumah, tabungan, serta surat kuasa.
"Om, jangan bicara seperti mau pergi."
"Om hanya memastikan kamu tidak kesulitan kalau terjadi sesuatu. Persiapan bukan berarti menyerah."
Bima menggambar keluarga mereka dan meletakkannya dekat ranjang. Ia bertanya apakah Matias akan mati. Orang dewasa tidak membohonginya.
"Operasinya serius, tapi dokter akan berusaha membuat Om Matias sehat," jawab Tobias.
Operasi berlangsung lima jam. Alea berjalan bolak-balik hingga Tobias mengajaknya makan sedikit.
"Aku tidak lapar."
"Kamu tidak harus menghabiskan. Tapi tubuhmu tetap butuh tenaga untuk menunggu."
Dokter akhirnya keluar dan mengatakan operasi berhasil. Matias harus berada di ruang intensif selama beberapa hari.
Alea menangis dalam pelukan Tobias. Bima memeluk kaki mereka karena tidak mampu menjangkau lebih tinggi.
Pemulihan Matias tidak mudah. Ia membenci ketergantungan dan menolak bantuan mandi serta berjalan.
"Om selalu menyuruhku menerima bantuan," kata Alea. "Sekarang giliran Om belajar."
Matias akhirnya bersedia tinggal sementara di rumah Alea dan Tobias. Kehadiran lima orang—termasuk perawat harian—membuat rumah semakin ramai.
Di tengah pemulihan, Matias mengaku ingin pensiun dari yayasan. Alea terkejut karena pekerjaan itu selama ini menjadi bagian besar hidup omnya.
"Om tidak mau menunggu tubuh memaksa berhenti lagi," katanya.
Matias kesulitan menjalani hari tanpa pekerjaan. Ia bangun pukul lima, mengenakan kemeja rapi, lalu duduk menonton berita sambil mengkritik semua orang.
Bima mengajaknya bermain gim, tetapi Matias selalu mengubahnya menjadi pelajaran strategi.
"Om Matias nggak bisa santai," keluh Bima.
Alea membantu mencari kegiatan tanpa mengatur seluruh hidupnya. Matias memilih melatih keamanan sukarela dua kali seminggu dan belajar memasak pada hari lain.
Masakannya sangat buruk. Tobias tetap memakannya karena takut menyinggung pasien jantung.
"Kamu menghadapi penjahat bersenjata, tapi takut bilang sup ini asin?" ejek Alea.
"Aku ingin rumah tetap aman."
Kondisi Matias membaik dan ia kembali ke rumah sendiri. Alea merasa cemas setiap kali telepon tidak dijawab. Ia memasang kamera tanpa meminta izin dan Matias langsung mencabutnya.
"Om masih punya privasi."
Alea sadar dirinya mengulangi perilaku Tobias dahulu. Ia meminta maaf dan mengganti kamera dengan alat darurat yang dipilih Matias sendiri.
Tobias berkata, "Ternyata mengontrol karena takut bukan keahlian khususku."
"Diam. Aku sedang bertumbuh."
Di Roda Rasa, Alea menunjuk pemimpin produksi baru agar dapat mengurangi jadwal. Beberapa pegawai mengira ia akan meninggalkan perusahaan.
Alea menjelaskan delegasi bukan pengunduran diri. Perusahaan yang sehat tidak boleh runtuh jika pendirinya mengambil cuti.
Rendra mengundang keluarga mereka ke pernikahannya dengan Naya. Tobias menjadi pendamping, sedangkan Alea membantu memilih makanan.
Pada acara tersebut, Matias menari terlalu semangat dan langsung dimarahi semua orang. Ia tertawa, tampak hidup dengan cara yang berbeda setelah hampir kehilangan nyawa.
Namun seusai pesta, Sari menelepon. Ia mengalami kambuh dan meminta kunjungannya dengan Bima dihentikan sementara.
Bima merasa dirinya penyebab Sari kembali menggunakan zat. Ia mengingat kunjungan terakhir ketika mereka bertengkar karena Bima menolak pulang bersamanya.
"Kalau aku bilang iya, Ibu mungkin tidak sedih," katanya.
Alea menjelaskan pemulihan Sari adalah tanggung jawab orang dewasa, bukan tugas Bima.
Tobias menghubungi pusat rehabilitasi melalui Maya tanpa mengambil alih keputusan Sari. Sari memilih kembali menjalani perawatan.
Kunjungan dihentikan selama satu bulan, tetapi Bima boleh mengirim surat jika mau. Ia menulis bahwa dirinya marah dan tetap menyayangi Sari.
"Boleh dua-duanya?" tanyanya.
"Boleh," jawab Alea.
Deni juga datang untuk mendukung Bima. Ia telah bebas utang dan tetap mengikuti konseling. Hubungannya dengan anak tersebut berkembang sebagai kerabat, bukan perebutan status ayah.
Tobias merasa sedikit cemburu ketika Bima terlihat senang bersama Deni. Ia mengakui perasaan itu kepada Alea.
"Aku takut hubungan biologis mereka membuatku tidak penting."
"Kamu yang bilang cinta bukan saham yang berkurang kalau dibagi."
"Aku tahu. Ternyata teori lebih gampang."
Bima kembali bertemu Sari setelah kondisinya stabil. Pertemuan berlangsung singkat dan didampingi. Sari meminta maaf tanpa meminta Bima menghiburnya.
"Ibu sedang memperbaiki diri lagi," katanya.
Bima tidak langsung memeluk. Ia hanya menyerahkan surat yang ditulisnya.
Pengalaman itu memengaruhi konten Alea. Ia ingin membuat episode tentang pemulihan kecanduan, tetapi meminta ahli dan penyintas dewasa, bukan memakai kisah Sari atau Bima.
Episode tersebut mendapat penghargaan. Alea menerimanya atas nama tim dan menolak menjelaskan inspirasi pribadi di baliknya.
Keluarga mereka belajar bahwa menjaga privasi juga merupakan bentuk cinta.
Sebuah perusahaan media internasional menawarkan membeli mayoritas saham Roda Rasa. Nilainya cukup besar untuk membuat Alea tidak perlu bekerja lagi.
Syaratnya, perusahaan pembeli berhak menentukan konten dan menggunakan wajah Alea selama lima tahun.
Tobias mengingatkan keputusan tersebut mirip kontrak eksklusif yang dahulu ditolak. Namun kali ini Alea juga bertanggung jawab kepada puluhan pegawai dan investor.
"Kalau kujual, tim mendapat modal besar. Kalau kutolak, pertumbuhan lebih lambat," katanya.
Ia mengajak pegawai serta pemegang saham berdiskusi. Sebagian ingin menerima, sebagian takut kehilangan budaya perusahaan.
Tobias tidak menggunakan sahamnya untuk memaksakan pilihan. Ia menyatakan akan mengikuti keputusan yang dibuat melalui mekanisme resmi.
Alea menawarkan alternatif: menjual saham minoritas tanpa hak editorial. Perusahaan internasional menolak pada awalnya, lalu kembali setelah Roda Rasa memperoleh dua penghargaan baru.
Negosiasi berlangsung keras. Alea tidak lagi gadis yang membeli barang tanpa membaca rincian. Ia memeriksa setiap klausul bersama pengacara.
Kesepakatan minoritas akhirnya tercapai. Tim memperoleh modal ekspansi, sementara kendali kreatif tetap berada di Roda Rasa.
Alea membuka program pelatihan untuk kreator daerah. Ia tidak lagi harus menjadi pusat setiap produksi.
Tobias merayakan dengan memberikan pigura berisi salinan transfer dividen sembilan juta pertama.
"Kamu bilang jangan memberi hadiah mahal," katanya.
"Ini murah tapi sangat menyebalkan. Cocok untukmu."
Mereka tertawa.
Pada malam yang sama, Bima meminta izin mengganti nama belakangnya dengan gabungan nama keluarga biologis dan keluarga Tobias. Keputusan itu mengejutkan semua orang.