Di sisi lain, tepatnya di salah satu cafe di bilangan SCBD, bari dan andrei memutuskan untuk menenggak beberapa gelas beer guna menghilangkan penat di hati dan pikiran. Ya tentunya hal ini hanya diperuntukkan oleh bari, sedangkan andrei hanya sebagai teman setia yg mendengarkan kicauan bari yg tidak jauh dari naka, naka dan naka.
"Loe tau kan ndrei, gw sebenernya cinta mati sama naka, siap mati kalau ga dapet naka lagi, gw ga bisa hidup tanpa naka!" seru bari sambil menenggak kesepuluh gelas beernya.
"Cih, gaya bgt loe, kemarin loe udah nikah dan ga hidup sama naka tapi ga mati bro!" sahut andrei sambil menoyor kepala temannya yg sudah sempoyongan.
"Kemarin gw masih belum berasa segininya ndrei sama dia, sekarang gw kaya ga rela gitu dia sama cowo lain!"
"Dih, mnurut gw loe bukan cinta, loe cuma ga terima ajah dilangkahin orang!" balas andrei sambil menggeser gelas bari menjauh dari jangkauan tangan temannya.
"Sembarangan loe ndrei!"
"Sembarangan gimana? coba inget-inget lagi, dua tahun lalu siapa yg ninggalin siapa? loe yg ngilang, loe yg ga bales chat dia, loe yg tiba-tiba nyebar undangan sama perempuan lain. Sekarang giliran dia yg mau nikah, loe teriak-teriak ga rela. Itu namanya ego bar, bukan cinta." kicau andrei panjang lebar sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.
Bari terdiam. Matanya memerah, entah karena beer atau karena kalimat andrei barusan yg menusuk tepat di titik yg selama ini dia hindari.
"Loe pikir gw mau ninggalin dia?" suara bari melirih. "Papa gw kena stroke ndrei, di rumah sakit, sambil megang tangan gw dia minta satu hal, cuma satu, nikahin anak temennya. Gw mau ngomong apa? gw mau nolak permintaan terakhir bokap gw sendiri?"
"Trus kenapa loe ga jujur ke naka? sejelek-jeleknya berita, mending dia denger dari mulut loe bar."
"Gw ga sanggup ndrei." jawab bari sambil menutup mukanya dengan kedua telapak tangan. "Gw ga sanggup ngeliat muka dia pas gw ngomong hal kaya gitu. Jadi gw pilih ilang ajah, gw pikir dia bakal lupa, gw pikir gw juga bakal lupa. Ternyata engga, ndrei. Ga sehari pun."
Andrei menghela nafas panjang. Dia kenal bari sejak semester satu, dan baru kali ini dia lihat temannya serapuh ini. "Bar, gw mau ngomong sesuatu dan loe jangan marah yah." lanjut andrei. "Perempuan itu ga nunggu penjelasan yg dateng telat dua tahun. Naka udah selesai sama loe, dan sekarang dia lagi seneng-senengnya sama orang lain."
"Tapi kemarin loe sendiri yg bilang mereka masih ada halangan!"
"Iya, dan gw ga nyabut omongan gw." sahut andrei sambil melambaikan tangan ke pelayan, minta segelas air putih untuk temannya. "Beda keyakinan itu bukan perkara kecil bar, apalagi kalau udah nyampe ke keluarga. Tapi gw ngomong gitu bukan biar loe seneng di atas susahnya orang. Gw cuma mau loe siap kalau suatu saat naka butuh tempat buat sandaran."
"Berarti gw masih ada kesempatan kan ndrei?"
"Loe ga denger yah dari tadi gw ngomong apa." andrei menoyor kepala bari untuk kesekian kalinya. "Ya udah, terserah loe. Tapi janji satu hal sama gw, jangan pake cara kotor. Sekali ajah loe main kotor, gw yg pertama mundur dari sebelah loe."
Bari mengangguk, walaupun andrei ga yakin anggukan itu keluar dari kesadaran penuh atau dari sepuluh gelas beer yg sudah masuk ke perut temannya. Setengah jam kemudian andrei membayar semua tagihan, memapah bari ke parkiran, mendudukkan tubuh temannya di jok depan, lalu duduk di balik kemudi.
Sepanjang jalan bari hanya diam sambil memandangi layar ponselnya. Di kontaknya masih tersimpan satu nama yg tidak pernah dia hapus, Naka, dengan emot hati kecil di belakangnya. Nomor lama, yg bari sendiri ga tau apakah masih aktif atau sudah lama diganti. Jarinya bergerak mengetik, lalu dihapus, mengetik lagi, dihapus lagi.
Akhirnya bari mengetik satu kalimat pendek dan langsung menekan tombol kirim sebelum sempat berubah pikiran.
Bari : Ka, gw tau gw udah ga punya hak apa-apa lagi. Tapi kalau suatu hari nanti kamu capek, gw ada.
Centang satu, abu-abu, dan tidak berubah jadi dua. Bari menatap layar itu sampai matanya terasa berat, lalu tertidur dengan ponsel yg masih tergenggam di tangan.
Andrei melirik temannya sekilas dari balik kemudi. Semoga gw ga salah nemenin loe bar batin andrei sambil membelokkan mobil ke arah rumah bari, sementara di seberang kota, ponsel naka tergeletak diam di atas nakas dalam keadaan mode pesawat.