Nao dan teman-temannya memasuki desa dengan perasaan bercampur aduk. Cahaya yang mereka lihat tadi adalah nyala api yang membakar beberapa bangunan desa. Desa Trogir yang terkenal sebagai desa yang paling damai kini hancur berantakan. Bangunan runtuh di mana-mana dan kobaran api juga ada di mana-mana. Desa ini sudah tidak ada lagi kehidupan. Sungguh k**i orang telah melakukan serangan di desa ini.
“Apa ada orang di sini?” pekik Nao mencari seseorang. Tak ada yang menjawab pekikan Nao.
“Apa para penduduk telah meninggalkan desa ini?” tanya Rei karena sedari tadi mereka tidak menemukan orang.
"Sepertinya seperti itu. Desa ini pasti telah diserang beberapa saat yang lalu,” ujar Ken. “Bahkan kobaran api masih menyala,” lanjut Ken.
“Kita berpencar untuk melihat keadaan sekitar. Sekalian kita mencari makanan unuk makan malam kita,” ujar Ken dan teman-temannya pun mengangguk.
Keempat s*****n itu pun berpencar untuk mencari petunjuk siapa yang telah menyerang desa.
Nao terus berjalan memeriksa keadaan sekitar sekaligus mencari makanan. Menggeledah tiap-tiap banguan yang telah runtuh. Tanpa Nao sadari beberapa pasang mata telah mengawasinya sedari tadi.
“Aku menemukan makanan,” pekiknya senang menemukan beberapa buah dan cemilan dalam runtuhan bagunan. Nao segera mengambil makanan tersebut memeluknya erat bermaksud ingin menemui teman-temannya yang lain.
Namun, baru beberapa langkah tubuhnya pun membeku seketika saat merasakan sebuah pedang es kini berada di lehernya. Tumpukan makanan yang ada di pelukannya pun terjatuh di tanah.
***
Setelah beberapa menit mengeledah desa Ken dan temannya-temannya pun berkumpul di tempat semula mereka berpisah. “Nao mana?” tanya Ken karena ia tidak melihat saudaranya.
“Tadi aku melihatnnya berjalan ke arah sana. Ayo kita memeriksanya,” ujar Gin sambil menunjuk arah tempat Nao menghilang.
Ken dan Rei pun mengangguk. Lalu ketiganya pun mencari Nao tempat ke arah Nao menghilang.
“Nao!” Ketiga lelaki itu berteriak kencang memanggil Nao berharap yang mereka cari mendengar dan segera menyahut.
“Nao!” sekali lagi mereka berteriak namun masih tak ada jawaban.
“Dia di mana sih,” gerutu Ken dalam hati.
“Lihat! Aku melihat sesuatu di sana!” pekik Gin saat sekilas ia melihat seseorang berlari.
Ken dan Rei melihat arah yang Gin tunjukkan. Namun, mereka tak melihat apapun. “Mana? Enggak ada apa-apa di sana.”
“Apa hanya perasaanku saja, yah,” batin Gin.
Lama mereka mencari. Namun, ketiga lelaki itu masih belum bisa menemukan Nao. Ken yang semula terlihat baik-baik saja dan sedikit cuek mulai panik. Tak hanya Ken, Gin pun tak kalah paniknya.
“Kita istirahat saja. Aku yakin Nao pasti baik-baik saja.”
“Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu padanya. Nao tidak punya mana jadi ia tidak bisa melawan jika terjadi sesuatu dia hanya bisa memainkan pedang dan pedangnnya ada padaku.”
“Iya, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya,” sambung Gin.
Rei menghela napas. “Aku tahu kalian mencemaskannya. Tapi kita juga harus mencemaskan diri kita masing-masing. Dari tadi kita belum makan dan sedari tadi kita berjalan. Apa kalian tidak capek?”
“Baiklah ...” gumam Gin pelan dan menunduk.
Akhirnya ketiga lelaki itu pun beristirahat. Sambil memakan makanan yang mereka temukan. Tak terkecuali makanan yang di temukan Nao sebelumnya juga di temukan oleh mereka bertiga saat mencari Nao.
Tak ada yang menyadari beberapa pasang mata tengah memperhatikan ketiga lelaki itu sambil tersenyum menyeringai dari beberapa sisi. Ken, Gin dan Rei kini di kepung oleh beberapa orang yang tak di kenal.
“Kenapa kepalaku sangat sakit ...” lirih Gin tiba-tiba, ia merasa kepalanya sangat sakit saat ini seakan ada duri yang menusuk kepalanya .
“Ada apa ....” Baru saja Rei akan mendekati Gin memeriksa tubuh sahabatnya. Tiba-tiba kepalanya pun ikut sakit. Dan tak lama kemudian Gin dan Rei pun tak sadarkan diri.
“Ada apa dengan kalian ...” gumam Ken panik.
“Mungkinkah karena makanan ini,” batin Ken. karena hanya dia satu-satu yang tidak merasakan apapun. Karena ia tidak bisa makan karena terlalu mencemaskan saudaranya yang menghilang entak ke mana dia sekarang.
Terdengar suara ranting patah dari arah belakan Ken. “Siapa di sana?” teriak Ken cepat. Lelaki itu bersiap-siap menyerang jika ada seseorang yang menyerangnya.
Namun, sayangnya. Sebelum lelaki itu melihat siapa yang ada di belakannya sebuah panah tiba-tiba menancap di tubuhnya dari arah lain.
“Ap_ s**l ...” baru saja lelaki itu ingin mencabut panah itu pandangannya mulai mengabur dan akhirnya tak sadarkan diri bersama dengan teman-temanya yang lain.
***
Tak terasa pagi pun tiba. Matahari mulai memancarkan cahayanya menerangi bumi dan mulai mengusik seorang lelaki yang masih betah dalam tidur panjangnya.
Lelaki itu hanya membalikkan tubuhnya, karena merasa tidak nyaman dengan sinar matahari yang mengganggu tidurnya. Dua lelaki yang sedari ada di sampingnya merasa kesal dengan Ken yang masih betah dengan tidurnya.
“Ken ... cepat bangun ... kau harus melihat ke luar sana ....” Gin mencoba membangunkan Ken yang masih terlalu betah dengan tidurnya. Saat ini ia merasa berada di ayunan.
“Apaan sih, nanti saja aku masih mau tidur,” racau Ken dalam tidurnya dan menepis tangan Gin yang ada di tubuhnya.
“Ini orang bikin kesal saja ... sini biar saya yang membangunkannya.” Gin menggeser tubuhnya dan Rei mendekat.
“BUKA MATAMU SEKARANG JUGA.” Teriak Rei tepat di telinga Ken, namun Rei masih menahan suaranya agar tak terdengar oleh sekitarnya.
Seketika Ken berteriak dan bangun dari tidur panjangnya saat itu juga dan dengan cepat Rei segera membekap mulut lelaki itu untuk tidak ribut.
Rei memberikan isyarat pada Ken untuk tidak ribut. Lelaki itu menagngguk menatap Rei.
Kesadarannya pun kembali sempurna dan memperhatikan sekelilingnya saat itu jugalah kedua mata lelaki itu membulat melihat sekelilingnya.
“Apa yang terjadi ...”
Saat ini ketiga lelaki itu berada di dalam sebuah kurungan yang terbuat dari bambu. Dan di gantung di sebuah pohon besar. Tak hanya itu kurungan mereka bergoyang-goyang saat mereka bergerak sedikit saja. Mungkin karena inilah Ken mengira ia berada di ayunan saat tidur tadi.
“Kami juga tidak tahu. Saat kami bangun kita sudah ada di dalam kurungan ini. Tak hanya itu .... coba kau lihat orang yang ada di sana,” ujar Rei sambil menunjuk seorang lelaki yang kini terikat tak berdaya.
“NA_” sekali lagi Ken ingin berterik melihat saudaranya yang terikat tak berdaya di sebuah kayu kokoh. Tapi teriakannya di hentikan oleh Rei dan Gin yang segera membekap mulutnya secara bersamaan.
"Jangan ribut.” Peringat dua lelaki itu. Ken pun pasrah dan mengangguk.
“Nao ...” lirih Ken menatap saudaranya yang terikat dan di kelilingi oleh beberapa orang yang tak di kenal.
“Ice Blast.” Ken berusaha meledakkan tempat yang mengurungnya. Namun sayangnya. kurungannya masih saja utuh.
“Percuma. Kami berdua sudah mencobanya saat kau masih tertidur. Kurungan ini dibuat khusus untuk tawanan mereka. Kekuatan kita tidak bisa membuka kurungan ini. Jadi percuma saja ...”
Tubuh Ken pun lemas saat itu juga menatap Nao dari kejauhan. “Ma ... Pa apa yang harus aku lakukan ...” lirihnya.