Sementara itu kericuhan terjadi di Akademi Yunshang. Jam pelajaran telah dimulai, tetapi Guru Qian tak kunjung muncul. Lama menunggu akhirnya seorang siswa berinisiatif untuk memeriksa kamar Guru Qian.
“Guru! Guru Qian ...”
Lengang. Guru Qian maupun Guru Lei tidak berada di kamar. Du Fei menjadi khawatir. Terakhir, ia membantu Guru Qian untuk keluar akademi dengan cara melompat pagar.
‘Mungkinkah Guru Qian belum kembali?’ batin pemuda tersebut. Ia pun segera bergegas kembali ke kelas dan menyampaikan kepada teman-temannya bahwa Guru Qian saat ini tengah sakit sehingga tidak akan datang untuk mengajar mereka. Alih-alih membuat tenang para murid justru merasa khawatir dan ingin mengunjungi sang guru. Namun hal itu justru langsung dicegah oleh Du Fei.
“Tunggu! Guru Qian berpesan dia hanya butuh istirahat jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Meski melalui perdebatan tetapi Du Fei berhasil mencegah yang lainnya agar tidak ke kamar Guru Qian. Ia pun menggiring mereka ke perpustakaan untuk menyalin materi dari buku-buku yang ada di sana. Kemudian ia mendekati salah satu temannya yang ia percaya dapat menjaga rahasia. Membisikkan bahwa ia tidak dapat menemukan Guru Qian juga Guru Lei di kamar. Sang teman itu pun terkejut dan refleks menutup mulut yang seketika membuka lebar dengan kedua tangannya. Du Fei pun meminta agar hal tersebut tidak diketahui oleh yang lainnya.
“Maksudmu keduanya pergi bersama? Bukankah Guru Lei sangat membenci Guru Qian? Jangan-jangan ...”
PLAK!
Sebuah pukulan segera mendarat di kepala pemuda itu. Du Fei geram karena temannya justru menambah kekhawatiran dirinya. Akhirnya keduanya memutuskan untuk pergi diam-diam mencari Guru Qian dan Guru Lei.
“Jangan bicara sembarangan! Biar bagaimana pun Guru Lei adalah seorang putra jenderal terkemuka di negeri ini. Rasanya tidak mungkin bertindak gegabah hanya karena masalah pribadi. Lagi pula Guru Qian bukan orang yang perlu dilenyapkan, bukan?”
“Guru Qian pria yang baik dia juga dari Zhao. Kamu benar jika terjadi sesuatu urusan ini akan melibatkan dua negara.”
Menyusuri jejak terakhir Guru Qian. Keduanya berhenti di dekat tembok yang dipanjat oleh sang guru. Du Fei berniat hendak memanjat, tetapi dicegah oleh temannya. Bisa jadi masalah jika sampai ada yang melihat tindakan ilegal tersebut Terlebih saat siang hari keduanya terlihat begitu jelas.
“Jangan bodoh, kita bisa dihukum,” cegah sang teman.
“Guru Qian mungkin dalam masalah.”
“Kita juga akan dalam masalah jika ketahuan. Lagi pula setelah keluar dari akademi kau mau cari Guru Qian di mana?”
“Di mana saja, kita punya mulut untuk bertanya dan kaki untuk berlari, apa yang harus ditakutkan?”
“Akh ... terserahlah!”
Tiba-tiba hujan lebat turun membasahi tubuh keduanya. Akan tetapi, mereka tetap tidak mengurungkan niat untuk mencari Guru Lei dan Guru Qian. Justru jika hujan lebat tidak akan ada petugas akademi yang berkeliling. Keduanya pun berhasil melompati dinding batu tersebut.
“Sekarang kita ke mana?”
“Kita teduh dulu. Emm, di sana!”
Du Fei menunjuk sebuah kedai yang tampak ramai. Keduanya sudah basah kuyup, berteduh pun sebenarnya percuma, hanya saja ternyata Du Fei punya maksud lain. Ia sebenarnya tengah mencari informasi. Berharap satu dari mereka mengetahui atau pernah melihat pria asal Zhao yang mereka sebut sebagai Guru Qian.
“Tuan Yu diserang pembunuh bayaran,” ujar salah satu pengunjung yang langsung dikerumuni lainnya.
“Benarkah?’
“Iya, padahal beliau sedang mengadakan pesta besar pesta ulang tahunnya. Entah untuk alasan apa aku dengar beliau berada di tandu wanita penghibur Nyonya Chen. Aku rasa beliau menjemput langsung wanita dari Zhao itu. Di tengah jalan mereka dicegat pembunuh bayaran. Untung saja putra Jenderal Lei datang tepat waktu dan menyelamatkan keduanya. Tapi ...”
“Kenapa, kenapa?”
“Kudengar Tuan Yu terkena pedang. Itu sebabnya pesta tidak dilanjutkan meskipun ada gubernur dan istri gubernur di sana.”
Du Fei mendengarkan dengan seksama cerita tersebut. Semua orang tahu bagaimana Tuan Yu dan Guru Lei bagaikan saudara. Kemungkinan saat ini Guru Lei juga tengah berada di kediaman keluarga Yu. Meski tak ada yang menyebut tentang Guru Qian setidaknya sedikit informasi tentang Guru Lei cukup untuk melanjutkan pencarian terhadap Guru Qian.
Setelah menghabiskan teh yang dipesan keduanya kembali menembus hujan untuk menuju kediaman keluarga Yu. Du Fei tak lagi menggubris keluhan dan larangan temannya. Keputusannya mengajak rekan yang banyak bicara cukup ia sesali. Seharusnya ia pergi sendiri, tetapi semua sudah terjadi. Mau tidak mau ia harus mendengar ocehan temannya tersebut, hingga keduanya sampai di depan gerbang megah saudagar muda, Tuan Yu.
“Hei, kalian murid Akademi Yunshang untuk apa datang ke mari?” tanya penjaga gerbang.
“Tuan, izinkan kami masuk. Kami ingin mencari guru kami, Guru Lei.”
Mendengar nama putra jenderal itu disebut, penjaga langsung memberikan izin kepada keduanya. Lagi pula orang yang mereka cari memang tengah berada di rumah besar ini. Salah satu dari penjaga pun mengantar keduanya ke paviliun tempat Guru Lei bermalam.
“Putra Jenderal ada di dalam.”
Setelah penjaga pergi, ragu-ragu Du Fei mengetuk pintu di hadapannya. Guru Lei tidak dekat dengan para murid. Du Fei terpaksa harus menemuinya demi memastikan Guru Qian baik-baik saja. Tak lama kemudian pintu itu pun dibuka.
“Guru Lei.”
“Kalian kenapa di sini? Siapa yang memberi izin kepada kalian meninggalkan akademi. Kalian harus dihukum—“
“Guru Lei! Guru Qian menghilang,” sergah Du Fei.
“Hilang?!”
“Iya, pagi ini kami tidak dapat menemukan Guru Qian di mana pun.”
Tiba-tiba, Guru Lei terdiam untuk sejenak mengingat dan berpikir. Mungkinkah wanita yang saat ini berada di kamar Tuan Yu adalah Guru Qian? Keduanya sama-sama dari Zhao. Sebagai seorang pria Guru Qian memiliki aroma sangat harum bagaikan wanita. Tubuhnya tinggi semampai tanpa otot yang menonjol. Jemarinya lentik dan wanita itu memanggilnya Guru Lei bukan sebagai putra jenderal.
“Dia tidak hilang. Dia ada bersamaku menghadiri pesta Tuan Yu. Saat ini dia sedang berada di rumah kerabatnya. Kalian kembalilah ke akademi, aku akan membawanya ke akademi setelah makan siang,” titah Guru Lei kepada kedua muridnya.
Meski ragu, Du Fei tidak punya pilihan lain selain percaya kepada Guru Lei. Temannya juga terus mendesak agar segera kembali ke Akademi sebelum yang lain menyadari kepergian mereka. Ketakutan akan dihukum membuat langkah kaki seribu pun dilakukan.
Hujan telah reda. Du Fei dan temannya kembali memanjat dinding batu. Beruntung tidak ada yang memergoki keduanya. Akan tetapi, para murid tampak heran melihat pakaian keduanya yang basah kuyup. Keduanya bergegas untuk mengganti baju sebelum pertanyaan-pertanyaan menjebak dilontarkan.
To be continued