Rianti menatap cucunya dengan sedih. Bram yamg tidak bersalah sering menjadi pelampiasan putrinya.
"Nek, Bram, salah apa sama ibu?" tanya kembali bocah itu dengan polos.
Rianti menatap cucunya sambil tersenyum dengan penuh sayang. Dia berharap cucunya tidak lagi menanggung penderitaan. "Bram tidak ada salah sama ibumu, bahkan pada siapapun, karena Bram anak baik"
"Tapi kata ibu, karena Bram ibu menderita, menderita itu artinya susah kan Nek? berarti karena Bram, Ibu jadi susah ya? pembawa sial itu artinya bikin orang lain susah ya Nek?" mata cokelat Bram menatap neneknya untuk meminta jawabannya.
"Tidak, Nak ... Bram itu anak baik yang membawa kebahagiaan untuk ibumu, untuk Nenek dan semua orang." Rianti memeluk cucunya.
Bram diam mendengar jawaban neneknya, tapi dia tahu kalau yang diucapkan neneknya itu tidak lah benar. Karena sekali waktu dia pernah dengar dari orang-orang kampung kalau dia anak hasil pemerkosaan dan pembawa sial untuk ibunya. Seiring bertambahnya waktu Bram terbiasa dengan keluarganya yang tidak seperti keluarga pada umumnya. Tidak seperti keluarga Irsyad, sahabatnya yang memiliki orang tua lengkap dan penuh kasih. Dia terbiasa dengan ibu yang memiliki kepribadian ganda dan sekarang dia terbiasa tanpa kehadiran neneknya yang sudah meninggal tiga tahun lalu saat dia berumur empat belas tahun.
**********
"Woii Bram! Kau dengar tidak apa yang aku katakan?" Irsyad menatapnya kesal saat Bram tidak menanggapinya.
Bram menatap Irsyad bosan."Keluarga si bos sudah biasa liburan Natal di sini, kau ini seperti baru mendengar berita besar," sahutnya sambil menyirami lantai kandang sapi dan menyikatnya dengan berus lantai bertangkai panjang yang mirip seperti sapu rumah.
"Kau ingat tidak putri kedua juragan?" tanya Irsyad yang akhirnya juga melanjutkan pekerjaannya membersihkan kandang-kandnag tersebut.
"Tidak." Bram menjawab datar.
"Ya ampun ... masa kau tidak ingat anak perempuan si bos yang berambut cokelat seperti boneka?"
"Mbak Sandra?"
"Bukan, dia memang mirip boneka, tapi boneka Chucky," kata Irsyad tertawa.
Bram ingin tertawa tapi ditahannya. Dia ingat Sandra, putri bungsu dari Andrej Johnstone, majikan mereka, seorang gadis kecil yang cantik tapi juga sangat galak dan cerewet.
"Kalau si bos dengar kau menghina putrinya seperti itu, habislah kau Irsyad," sahut Bram.
Irsyad bersandar di tiang kandang sambil berkacak pinggang. "Kalau si bos sampai tau, berarti itu karena kau yang mengadu," kata Irsyad sambil memelototinya.
Bram menatap sahabatnya yang kurus,tinggi dan berkulit cokelat tersebut sambil memegang radio tua berwarna hitam yang diikat dengan karet ban dalam sepeda berwarna orange di bagian baterainya karena penutup batre sudah hilang. Kata Irsyad radio itu adalah hadiah dari kakek pihak ayahnya yang tinggal di Surabaya dan radio tua itu sudah lama menemani mereka berdua. Ketika mereka memotong rumput untuk makanan sapi, yang juga ditanam di perkebunan milik keluarga Johnstone, membersihkan kandang-kandang sapi seperti sekarang,waktu mereka memberi sapi makan, memerah s**u, atau saat sedang jaga malam di peternakan, apapun yang mereka berdua lakukan, radio tua itu pasti menemani mereka ke manapun dan di manapun. Irsyad yang sangat suka lagu-lagu Ebiet G Ade, membuat Bram terbiasa mendengar lagu-lagu lawas tersebut diputar. Sedangkan Bram yang suka musik country harus menunggu siaran pukul sebelas malam. Dan saat mereka mendapat giliran jaga malam, itulah waktu Bram mendengar lagu-lagu kesukaannya.
"Jadi putri si bosyang mana?" tanya Bram sabar menjaga perasaan Irsyad yang tampak bersemangat.
"Kakaknya mbak Sandra. Kita masih kelas enam SD terakhir kalinya dia datang ke sini." Irsyad menatap Bram serius, memaksa sahabatnya itu menolak lupa pada putri juragan mereka yang sudah lama tidak datang.
Bram menghitung dalam hati, sekarang mereka kelas tiga SMA, berarti enam tahun lalu dan dia masih belum ingat yang dimaksud Irsyad.
"Aku lupa," jawab Bram enteng.
"Kau lupa pada boneka secantik itu?"
"Memangnya ada hubungan apa dia denganmu?" Bram mulai kesal karena sahabatnya itu menganggu pekerjaannya.
"Ya tidak ada, maksudku, besok kita ke pasar ya pangkas rambut, biar rapi dan ganteng." Irsyad memainkan alisnya naik turun sammbil tersenyum lebar.Bram mendengus melihat tingkah sahabatnya itu.
"Kalian berdua! Kalau terus ngobrol besok tidak usah datang kerja lagi!" teriak kang Jaja yang mengukuhkan dirinya sebagai supervisor untuk Bram dan Irsyad di bagian kebersihan kandang, pemotongan rumput dan juga untuk makanan ternak sapi.
"Selow lah kang! Selow!" balas Irsyad berteriak.
"Syad, kau jangan ganggu Bram! Sini bantu kang Jaja mengangkat pakan ke gudang!" Pria kurus cungkring itu kembali berteriak kepada Irsyad.
"Siap superpeser!" jawab Irsyad lalu kembali menatap Bram dan mengingatkan sahabatnya itu. "Bram besok kita pangkas rambut ya."
"Iya." sahutnya singkat. Irsyad pun tersenyum puas, lalu berjalan menghampiri kang Jaja yang sedang berdiri di belakang truk yang sedang menurunkan pakan untuk makanan sapi.
Terdengar sayup Radio tua Irsyad memutar lagu Cintaku Kandas Di Rerumputan milik Ebiet G Ade yang terkenal itu di tengah-tengah peternakan saat mereka semua bekerja.
"Kenapa kau tidak memangkas rambumut?" tanya Irsyad sambil memandang Bram keesokan harinya saat mereka sedang dalam perjalanan pulang dari pasar, dari tempat tukang pangkas kaki lima langganan mereka.
"Kau yang ingin pangkas rambut Syad, bukan aku," sahut Bram sambil menatap geli sahabatnya itu.
Lalu Irsyad memperhatikan sahabatnya dengan serius, lalu menayakan suatu hal yang sudah mengganjal di hatinya beberapa hati belakangan ini. "Bram, apa kau tau, kalau Nisa naksir padamu?"
Bram terbelalak mendengar pertanyaan Irsyad, kemudia dia tertawa terbahak-bahak."Kau suka padanya kan?" justru dia kembali bertanya mrnggoda sahabatnya itu.
"Tapi si Nisa sepertinya suka padamu." Irsyad menarik nafas dengan perasaan kalah.
"Setahuku Nisa tidak menyukaiku. Dia ramah pada siapa pun, dan dia tidak ada menunjukkan sesuatu yang spesial padaku. Dan lagi pula, aku dan Nisa tidak mungkin bersama," ucap Bram.
"Kenapa?"
"Walaupun pak Ustad, ayahnya Nisa sangat baik, tapi aku bukan orang yang tepat untuk Nisa, lagi pula kata Nisa tidak ada istilah pacaran dalam kamusnya."
"Bram! Nisa itu cantik, matanya seperti rusa, hidungnya indah, pokonya dia adalah paket komplit yang namanya cantik." Mata Irsyad menerawang membayangkan Anisa, putri seorang Ustad di kampung mereka yang juga satu kelas dengan mereka.
"Nisa memang cantik, sangat cantik, tapi aku menganggapnya hanya sebagai teman, lagi pula dia pasti mengharapkan laki-laki soleh rajin sholat seperti dirimu." Bram meliriknya sambil tersenyum menggoda Irsyad. Dia tahu sudah lama sahabatnya ini menaruh hati pada gadis tercantik di sekolah mereka tersebut. Tapi seperti yang dikatakan Bram, sikap Anisa kepada siapa pun baik dan ramah.