Hari simulasi tiba. Ibu Kelana tidak berada di taman. Dokter sengaja menjadwalkan terapinya di ruang lain agar anak itu bisa mengenal tempat tanpa pertemuan mendadak.
Kelana datang bersama Deni, Gea, dan pendamping. Ia membawa boneka berpita kuning, sedangkan boneka kembarannya tetap berada bersama ibunya. Petugas keamanan tidak mengambil foto atau menyebut nama pasien di area umum.
Sebelum masuk taman, pendamping menunjukkan kartu bergambar tiga pilihan: tetap, istirahat, dan pulang. Kelana boleh menunjuk jika sulit berbicara saat gugup. Anak itu memasukkan kartu ke dalam tas kecilnya.
'Kalau Kelana lupa ngomong, Mama lihat kartunya ya,' pesannya.
'Iya. Tapi Mama tetap tanya, nggak menebak sendiri,' jawab Gea.
Deni juga berlatih menunggu di bangku jauh. Ia tidak akan mendekat hanya karena melihat Kelana diam. Pendamping akan memberi tanda bila kehadirannya dibutuhkan.
'Ibu nanti duduk di mana?' tanya Kelana.
Dokter menunjukkan bangku di bawah pohon yang jaraknya dekat dari pintu bangsal. Kelana memilih duduk di ujung kanan dan meminta Gea berada di sebelahnya.
'Ayah di mana?'
'Ayah bisa di bangku sana,' jawab Deni sambil menunjuk tempat beberapa langkah jauhnya. 'Kalau Kelana panggil, Ayah datang.'
Kelana mencoba berjalan dari gerbang taman ke kursi dua kali. Pendamping menjelaskan dia boleh membawa boneka, air minum, dan satu gambar. Tidak perlu membawa banyak hadiah.
Dokter memperlihatkan pintu keluar terdekat dan ruang tenang tempat Kelana bisa beristirahat. Tidak ada pintu yang dikunci selama simulasi. Anak itu mencoba masuk ke ruang tersebut, duduk satu menit, lalu kembali ke taman.
'Di sini nggak ada Ibu?' tanyanya lagi.
'Hari ini nggak ada,' jawab dokter. 'Kami janji tidak membuat pertemuan kejutan.'
Kelana terlihat lega. Kepercayaan pada jadwal sama pentingnya dengan keberanian bertemu.
'Kalau Ibu nangis, Kelana harus apa?' tanyanya.
'Kelana nggak harus menghentikan tangis Ibu,' jawab pendamping. 'Dokter akan bantu. Kelana boleh tetap duduk atau pergi bersama Mama.'
'Kalau Kelana nangis?'
'Mama sama Ayah bantu Kelana.'
Gea menggenggam tangan anak itu. Simulasi berlangsung tidak sampai tiga puluh menit. Setelah itu Kelana meminta pulang dan makan es krim. Tidak ada pertanyaan untuk menguji apakah dia benar-benar siap.
Di mobil, Deni mengatakan dirinya bangga. Gea mengingatkan jangan sampai pujian membuat Kelana merasa harus tetap berani pada hari pertemuan.
'Kalau nanti takut, tetap nggak apa-apa,' kata Deni memperbaiki.
Kelana mengangguk sambil memakan es krim.
Sore hari Gea kembali ke kampus untuk rapat observasi. Kelompoknya mendapat izin mengunjungi perusahaan pilihan minggu depan. Dosen meminta mereka menyusun pertanyaan sendiri dan tidak menyalin laporan lama.
Perusahaan tujuan meminta nama seluruh peserta dan topik wawancara. Gea membagi tugas administratif kepada Fian, sedangkan Putri menyusun pertanyaan. Ia sendiri membuat jadwal dan daftar kebutuhan data.
'Ketua bukan berarti lo kerjain semua,' kata Rangga.
'Gue tahu. Makanya kalian jangan kabur.'
Mereka tertawa. Gea menyadari kemampuan membagi tanggung jawab juga sedang dipelajarinya di rumah bersama Deni.
Putri menunjuk Gea sebagai koordinator. Gea sempat menolak karena takut orang menganggap dirinya selalu mendapat peran utama setelah menikah dengan Deni. Rangga mengingatkan pemilihan dilakukan kelompok, bukan suaminya.
'Lo jangan jadikan gosip alasan menolak semua kesempatan,' kata Rangga.
Gea akhirnya menerima. Ia membagi tugas dan meminta setiap keputusan dicatat agar tidak ada anggota merasa ditinggalkan.
Sepulang kampus, Gea menemukan Deni sedang memasak bersama Kelana. Tepung menempel di wajah keduanya. Mereka mencoba membuat kue yang pernah dibuat bersama keluarga Arman, tetapi adonannya terlalu cair.
'Ayah bilang bisa,' keluh Kelana.
'Ayah salah baca takaran,' jawab Deni.
Gea tertawa lalu membantu memperbaiki. Ia tidak mengambil alih seluruh pekerjaan. Kelana tetap menuang bahan, sedangkan Deni membersihkan meja.
Saat kue masuk oven, Deni menanyakan rapat kampus. Gea menceritakan dirinya menjadi koordinator.
'Selamat, Bu Ketua.'
'Jangan ledek. Aku sempat takut terima.'
'Karena omongan orang?'
'Iya.'
Deni menyandarkan tubuh ke meja. 'Aku nggak bisa bikin semua orang berhenti bicara. Tapi aku bisa nggak memakai nama aku untuk masuk ke pekerjaan kamu. Sisanya kamu yang buktikan.'
Gea tersenyum. Ia merasa didukung tanpa diambil alih.
Kue mereka akhirnya tidak mengembang sempurna. Kelana tetap memakannya dan mengatakan rasanya enak. Deni ingin membuang bagian yang bentuknya jelek, tetapi Gea menyimpan beberapa untuk sarapan.
'Nggak semua yang bentuknya gagal harus dibuang,' katanya.
'Ini sedang ngomongin kue atau aku?' tanya Deni.
'Dua-duanya mungkin.'
Deni tertawa lalu mencium pipinya saat Kelana tidak melihat. Rumah mereka dipenuhi aroma kue yang terlalu padat, tetapi suasananya terasa ringan.
Malam hari mereka menerima kabar tentang Mila. Perangkat dan akun sudah diamankan, sehingga tidak ada ancaman baru. Proses hukum serta keluhan vendor berjalan di jalur berbeda. Keluarga tidak lagi diminta ikut pemeriksaan harian kecuali ada bukti baru.
'Berarti kita bisa fokus ke kakak aku,' kata Deni.
'Dan ke hidup kita juga,' tambah Gea.
Mereka menyusun jadwal agar pertemuan ibu–Kelana tidak bertabrakan dengan observasi kampus Gea. Deni awalnya menawarkan Gea tidak ikut observasi, tetapi langsung mengoreksi.
'Maksud aku, kalau kamu memilih menemani Kelana, kita bisa minta jadwal lain. Bukan aku yang putuskan.'
'Aku mau dua-duanya. Kita cari waktu yang nggak bentrok.'
Dokter bersedia memindahkan pertemuan ke sore hari karena kondisi pasien biasanya masih stabil. Gea tidak perlu meninggalkan tugas kelompok.
Deni menawarkan sopir untuk mengantar kelompok Gea ke tempat observasi, tetapi Gea memilih kendaraan kampus yang sudah disediakan. Ia tidak menolak bantuan karena malu, melainkan menjaga semua anggota tiba bersama dan mengikuti aturan yang sama.
'Aku jemput setelah selesai saja?' tanya Deni.
'Boleh, kalau waktunya cocok. Kalau enggak aku pulang sama teman-teman.'
'Kabari nanti. Aku nggak akan menunggu tanpa kepastian terus marah.'
Gea tersenyum mendengar Deni bisa menertawakan kesalahannya sendiri tanpa menghapus akibatnya. Mereka menaruh kedua jadwal di kalender rumah supaya urusan kampus dan rumah sakit tidak saling ditanggung Gea seorang.
Sebelum tidur, Deni memeluk istrinya dan mencium belakang kepalanya. Ia berkata Gea adalah orang pertama yang membuat rumahnya terasa penuh tanpa membuatnya kehilangan dirinya sendiri.
'Aku cinta pertama kamu?' tanya Gea menggoda.
Deni terdiam terlalu lama sampai Gea berbalik.
'Kok mikir?'
'Aku pernah tertarik sama orang. Tapi yang pertama bikin aku pengin belajar jadi lebih baik itu kamu.'
Gea tersenyum puas. 'Jawabannya boleh diterima.'
'Kalau aku cinta pertama kamu?'
'Rahasia.'
Deni menggelitik pinggangnya sampai Gea tertawa dan meminta berhenti karena takut membangunkan Kelana. Malam itu mereka tidur tanpa telepon ancaman, dokumen palsu, atau pembicaraan rekening.
Keesokan paginya dokter mengirim konfirmasi. Pertemuan ibu dan Kelana disetujui selama sepuluh menit, dengan pilihan berhenti kapan saja.