'Ibu tetap Mama Kelana,' jawab dokter kepada perempuan yang memeluk boneka berpita biru. 'Kelana punya hubungan dengan Ibu yang tidak bisa digantikan. Gea merawat Kelana saat Ibu sedang menjalani perawatan.'
Ibu Kelana menatap dokter dengan mata merah. Ia bertanya mengapa anaknya memanggil Gea Mama dan Deni Ayah. Pertanyaan itu tidak dijawab dengan mengatakan Kelana salah atau harus mengganti panggilan.
'Panggilan itu tumbuh selama Ibu belum bisa bersama Kelana,' jelas dokter. 'Kelana masih kecil dan membutuhkan orang yang merawat setiap hari. Itu tidak menghapus Ibu atau Arman.'
'Tapi dia anak aku.'
'Iya. Dan sekarang dia aman.'
Sesi dihentikan ketika napas pasien kembali cepat. Tidak ada pertemuan kedua dan tidak ada gambar baru yang diberikan. Dokter hanya menyimpan boneka di tempat yang bisa dilihatnya.
Setelah istirahat, dokter tidak kembali menanyakan panggilan Mama. Ia mengajak pasien menyebutkan hal-hal yang masih diingat tentang Kelana saat bayi. Perempuan itu mampu menceritakan warna selimut, lagu tidur, dan ketakutan anaknya pada petir.
'Ingatan Ibu tetap milik Ibu,' kata dokter. 'Gea tidak memiliki semua kenangan itu. Tempat kalian memang berbeda.'
Perempuan itu bertanya apakah Gea mengetahui lagu tidur Kelana. Dokter tidak menebak dan berjanji bertanya kepada keluarga. Pertanyaan tersebut dicatat sebagai rasa ingin tahu pertama tentang Gea yang tidak langsung berupa penolakan.
Tim juga menyepakati tidak menggunakan kata ibu kedua atau ibu pengganti. Istilah itu bisa membuat pasien merasa posisinya sedang dibandingkan. Gea akan dikenalkan sebagai Gea, istri Deni, orang yang merawat dan dipanggil Mama oleh Kelana.
Di rumah, Kelana terbangun dua kali malam itu. Gea menemaninya sampai pagi, sementara Deni tidur di sofa kecil dalam kamar agar anak itu tidak merasa salah satu dari mereka akan pergi.
'Ibu marah sama Mama,' kata Kelana setelah bangun.
'Ibu sedang bingung,' jawab Gea. 'Marahnya Ibu bukan karena Kelana memanggil Mama.'
'Kalau Kelana panggil Tante, Ibu nggak marah?'
Gea merasakan dadanya sakit. Ia tidak ingin Kelana mengubah panggilan karena takut. 'Kelana boleh panggil yang terasa nyaman. Nggak perlu ganti supaya orang dewasa senang.'
Deni mengangguk dari samping ranjang. 'Ayah juga tetap sayang kalau Kelana suatu hari mau panggil Om. Tapi jangan pilih karena takut.'
Kelana memikirkan sebentar lalu memeluk Gea. 'Kelana mau Mama.'
'Iya, sayang.'
Pagi itu mereka membatalkan les piano karena Kelana kurang tidur, bukan sebagai hukuman setelah pertemuan. Deni memberi kabar kepada tempat les dan menawarkan kegiatan tenang di rumah.
Pendamping datang siang hari untuk melakukan sesi terpisah. Ia tidak meminta Kelana menceritakan seluruh kejadian. Mereka bermain dengan empat boneka kecil yang dapat ditempatkan di rumah berbeda.
Pendamping meminta Kelana membuat jalan di antara rumah dan rumah sakit. Anak itu menggambar garis panjang dengan dua gerbang. Boneka Gea diletakkan di satu gerbang, sedangkan boneka dokter berada di gerbang lain.
'Kalau Kelana mau ketemu Ibu, Mama antar sampai sini,' katanya sambil menunjuk ujung jalan.
'Kalau Ibu belum siap?' tanya pendamping.
'Kelana pulang sama Mama.'
'Kalau Mama sedih?'
Kelana terdiam. Gea hampir menjawab, tetapi pendamping memberi isyarat menunggu.
'Mama boleh sedih sendiri,' kata Kelana akhirnya. 'Kelana nggak harus bikin Mama senang.'
Gea merasakan matanya panas. Kalimat itu menunjukkan anak tersebut mulai memahami bahwa perasaan orang dewasa bukan tanggung jawabnya.
Kelana meletakkan boneka Ibu di rumah sakit, boneka Arman di atas gambar awan, lalu boneka Deni dan Gea di rumah bersama dirinya. Ketika ditanya apakah satu boneka harus dikeluarkan, Kelana menggeleng keras.
'Semuanya keluarga Kelana,' katanya.
Pendamping menuliskan kalimat itu untuk dibawa ke sesi orang dewasa. Ia menjelaskan kepada Deni dan Gea bahwa anak tersebut tidak sedang bingung soal kasih sayang. Ia takut pilihan orang dewasa akan membuat salah satu hubungan hilang.
'Jangan tanya siapa Mama sebenarnya,' pesannya. 'Pertanyaan seperti itu memaksa Kelana memberi jawaban yang melukai orang lain.'
Deni mengakui sempat ingin memastikan Kelana tetap memanggil Gea Mama. Pendamping mengatakan rasa takut itu wajar, tetapi tidak boleh dijadikan beban anak.
Gea juga mendapat waktu bicara sendiri. Ia mengaku mendengar teriakan jangan bawa Kelana berulang kali di kepalanya. Ada rasa bersalah seolah dirinya memang mengambil anak dari ibu yang sakit.
Deni menunggu di luar ruangan selama sesi Gea. Ia tidak meminta pendamping menceritakan isi pembicaraan setelah selesai. Ketika Gea keluar dengan mata sembap, ia hanya menawarkan air dan bertanya apakah ingin pulang atau duduk sebentar.
'Duduk dulu,' jawab Gea.
Mereka berada di teras tanpa bicara beberapa menit. Deni tidak mengisi diam dengan nasihat. Baru setelah Gea menggenggam tangannya, ia mengatakan dirinya juga akan menjalani sesi sendiri minggu depan.
'Aku nggak mau semua beban pengasuhan dan penerimaan Kakak jatuh ke kamu,' ujarnya.
'Terima kasih.'
Jawaban singkat itu cukup. Gea tidak perlu memuji Deni hanya karena memilih bertanggung jawab.
'Apakah Gea yang membuat pasien dirawat?' tanya pendamping.
'Nggak.'
'Apakah Gea melarang hubungan mereka?'
'Nggak. Aku justru ikut menyiapkan pertemuan.'
'Berarti rasa bersalah itu ada, tapi tidak seluruhnya berdasarkan tindakan Gea.'
Gea menangis pelan. Ia tidak diminta segera merasa baik. Pendamping hanya menyarankan Gea tidak memaksakan kunjungan untuk membuktikan dirinya bukan perebut Kelana.
Sore hari dokter menelepon. Ibu Kelana meminta bonekanya tetap berada di kamar dan tidak lagi menanyakan Arman setelah sesi selesai. Namun, setiap nama Gea disebut, ia masih mengatakan bahwa Mama Kelana hanya satu.
'Kita jangan paksa dia menerima kata Mama,' kata Gea.
'Iya. Tapi kita juga jangan paksa Kelana menggantinya,' jawab Deni.
Mereka sepakat tidak merencanakan pertemuan kedua sampai kedua pihak benar-benar siap. Untuk sementara, komunikasi dihentikan beberapa hari agar pertemuan pertama dapat diproses.
Dokter meminta keluarga tidak mengirim surat baru selama masa jeda. Boneka dan gambar lama tetap boleh berada di kamar pasien, tetapi tidak ada pesan yang menuntut jawaban.
'Jeda bukan berarti hubungan dihentikan,' jelas dokter. 'Kita sedang memberi ruang agar ingatan dan emosi tidak datang sekaligus.'
Deni menerangkan hal itu kepada Kelana dengan bahasa sederhana. Anak tersebut boleh tetap menggambar, tetapi gambar baru disimpan di rumah dulu. Kelana memilih memasukkannya ke dalam map kuning dan tidak menganggap Ibu menolak.
Malamnya Kelana tidur di kamarnya sendiri. Sebelum lampu dimatikan, ia meminta foto Arman, gambar ibunya, dan foto Gea-Deni tetap berada di tempat yang sama.
'Jangan dipindah,' pesannya.
'Nggak akan,' jawab Gea.
Kelana menutup mata. Di luar kamar, Deni menggenggam tangan istrinya. Tidak ada yang kehilangan nama malam itu, tetapi mereka tahu rasa takut belum selesai.