Terapi menggunakan bagan keluarga dilanjutkan secara perlahan. Ibu Kelana memilih sendiri warna untuk setiap garis. Arman mendapat warna biru, Kelana kuning, Deni hijau, dan Gea dibiarkan tanpa warna pada sesi pertama.
Dokter tidak memaksanya mewarnai. Ia hanya bertanya siapa yang menyiapkan makanan, menemani sekolah, dan menidurkan Kelana sekarang. Perempuan itu menjawab Deni, lalu terdiam ketika diberi tahu Gea juga melakukannya.
'Dia baru menikah sama Deni,' katanya.
'Iya. Dan selama beberapa bulan ini mereka tinggal bersama Kelana.'
'Beberapa bulan bukan berarti dia Mama.'
'Kami tidak meminta Ibu memanggilnya Mama. Kami sedang menjelaskan kehidupan Kelana sekarang.'
Pasien menunjuk kartu berhenti. Sesi langsung selesai. Kemampuan menggunakan batas tetap dihargai walaupun penerimaan belum berkembang.
Deni datang pada jadwal kunjungan keluarga tanpa Gea atau Kelana. Dokter menilai kakaknya siap bicara singkat dengan adiknya mengenai susunan rumah, tetapi tidak mengenai pertemuan berikutnya.
Sebelum masuk, Deni menjalani persiapan bersama dokter. Ia diminta tidak menggunakan kalimat Gea sudah menjadi Mama untuk menggantikan Kakak. Ia juga tidak boleh meminta kakaknya berterima kasih kepada Gea.
'Kalau dia menuduh, saya jawab fakta singkat lalu berhenti,' ulang Deni.
'Benar. Tujuannya bukan memenangkan perdebatan,' kata dokter.
Deni juga memilih tidak memakai parfum yang biasa digunakan Arman. Ia baru sadar aroma tertentu bisa memicu ingatan dan kebingungan.
Saat melihat Deni, perempuan itu menangis dan memukul bahunya sekali. Perawat siap mendekat, tetapi Deni tidak membalas atau memegang paksa.
'Kamu ambil Kelana,' katanya.
'Aku jaga Kelana waktu Kakak belum bisa,' jawab Deni pelan. 'Kelana aman.'
'Kamu suruh dia panggil perempuan itu Mama.'
'Nggak. Panggilan itu muncul dari Kelana. Gea juga nggak pernah minta Kakak diganti.'
Kakaknya menutup telinga. Deni berhenti bicara sampai dokter bertanya apakah sesi dilanjutkan. Perempuan itu mengangguk, lalu meminta tahu apakah Kelana masih mengingat Arman.
Ia bertanya apakah keluarga Arman pernah datang. Deni menjelaskan dua pertemuan sudah dilakukan perlahan dan Kelana melihat album masa bayi. Kakaknya tampak sedih karena tidak berada di sana.
'Mereka ketemu anak aku tanpa aku,' katanya.
'Iya. Karena Kakak sedang dirawat. Tapi mereka nggak mengambil keputusan apa pun tentang Kelana.'
'Aku harusnya ada.'
'Kakak boleh sedih. Kami akan kasih kabar sesuai arahan dokter.'
Deni tidak berkata seharusnya kakaknya cepat sembuh. Ia membiarkan rasa kehilangan diakui tanpa dijadikan tuntutan.
Deni menceritakan foto di kamar, buku cerita, dan pertemuan dengan keluarga Arman. Ia tidak mengatakan semua itu adalah jasanya. Kakaknya terlihat lega mendengar nama suaminya tetap ada.
'Gea yang bantu pasang foto Arman,' tambah Deni setelah mendapat izin dokter. 'Dia nggak menghapus Kakak atau Arman.'
Perempuan itu tidak menjawab. Namun, kali ini dia tidak meminta sesi berhenti ketika nama Gea disebut.
Di rumah, Gea menjalani hari bersama Kelana. Mereka membuat laporan proyek di meja yang sama dengan buku mewarnai. Ketika Gea harus membaca data, Kelana bermain bersama pengasuh tanpa merasa ditinggalkan.
Reno datang membawa makanan dari mamanya Gea. Ia melihat susunan foto di kamar Kelana dan bertanya bagaimana adiknya bertahan. Gea mengaku takut, tetapi tidak ingin pulang ke rumah orang tua hanya untuk menghindari konflik.
'Kalau lo butuh istirahat, pulang bukan berarti lari,' kata Reno.
'Aku tahu. Sekarang aku masih mau di sini.'
Reno tidak memaksa. Ia bermain dengan Kelana sementara Gea menyelesaikan satu bagian laporan. Kehadirannya menjadi bantuan, bukan ajakan meninggalkan pernikahan.
Putri menghubungi melalui video untuk membahas laporan. Kelana melambaikan tangan lalu kembali menggambar. Tidak ada yang membicarakan ibunya di depan layar.
'Lo kelihatan capek,' kata Putri setelah Kelana pergi.
'Kurang tidur beberapa hari.'
'Jangan semua dikerjain sendiri. Bagian tabel biar gue sama Fian.'
Gea menerima pembagian itu. Ia belajar menjadi koordinator bukan berarti menanggung seluruh pekerjaan, sama seperti menjadi Mama tidak berarti dirinya harus memenuhi semua kebutuhan Kelana tanpa bantuan.
Deni pulang sore hari dan menceritakan kunjungan dengan jujur. Ia tidak menyembunyikan pukulan kakaknya, tetapi juga tidak menggambarkannya sebagai serangan berbahaya.
Gea bertanya apakah Deni merasa marah saat dipukul. Pria itu mengaku terkejut dan sedih, bukan hanya karena sakit, melainkan karena kakaknya memandangnya seperti orang asing.
'Aku hampir bilang semua yang aku lakukan buat Kelana,' katanya. 'Tapi itu pasti terdengar seperti aku minta dipuji.'
'Kamu sudah melakukan banyak. Kakak kamu belum harus mengakuinya hari ini.'
Deni mengangguk. Ia juga tidak menuntut Gea menghiburnya sepanjang malam. Setelah bicara, dia membantu Kelana mandi dan membiarkan Gea menyelesaikan laporan.
'Kakak tanya Arman dan tenang waktu tahu fotonya ada,' kata Deni. 'Waktu aku bilang kamu yang pasang, dia dengar.'
'Dia bilang apa?'
'Nggak bilang apa-apa.'
Gea mengangguk. Diam belum berarti menerima, tetapi bukan juga penolakan baru.
Malam itu mereka bertiga makan bersama mamanya Deni. Kelana meminta cerita tentang Arman saat muda. Mamanya Deni mengatakan Arman pernah salah masuk ruang rapat dan tetap duduk sampai selesai karena malu keluar.
Setelah makan, Kelana ingin tahu apakah ibunya dulu suka memasak. Mamanya Deni menjawab kakaknya Deni paling pandai membuat sup, tetapi sering lupa menaruh garam.
'Mama Gea juga pernah lupa garam,' kata Kelana.
'Berarti kalian punya satu hal yang sama,' ujar mamanya Deni.
Gea tersenyum. Kesamaan itu tidak dipakai untuk mengatakan ia menggantikan siapa pun. Ia hanya menjadi satu jembatan kecil agar Kelana bisa membayangkan ibunya sebagai orang biasa, bukan pasien di rumah sakit.
Kelana tertawa terbahak-bahak. Deni juga menceritakan kakaknya dulu paling berani memarahi siapa pun yang membuat Arman sedih.
'Ibu galak?' tanya Kelana.
'Ibu berani,' jawab Deni. 'Sekarang Ibu juga sedang berjuang.'
Setelah Kelana tidur, Gea bertanya apakah Deni masih merasa dirinya harus memilih antara kakak dan istri. Pria itu menggeleng.
'Aku bisa menghormati sakitnya Kakak dan tetap melindungi kamu. Tapi aku harus belajar caranya tanpa membuat kalian jadi lawan.'
Gea memeluknya. Rasa takut belum hilang, tetapi mereka sudah memiliki bahasa untuk mengakuinya.
Keesokan harinya dokter mengirim foto bagan keluarga yang sudah diubah pasien. Garis Gea akhirnya diberi warna merah muda. Di samping namanya, ibu Kelana menulis dua kata dengan tangan gemetar.
Dokter menjelaskan warna itu dipilih pasien sendiri setelah membaca paragraf rutinitas Gea. Ia belum mau menyebut Gea sebagai Mama, tetapi mampu mengatakan perempuan tersebut tidak membawa Kelana pergi dari rumah Deni.
'Dia mulai membedakan kehilangan tempat dengan berbagi pengasuhan,' kata dokter. 'Masih sangat awal. Jangan jadikan tulisan ini izin untuk pertemuan baru.'
Deni dan Gea sepakat. Dua kata itu diterima sebagai kemajuan, bukan penyerahan hak.
Jaga Kelana.