Gea bangun sebelum alarm berbunyi. Deni ternyata juga sudah terjaga. Mereka saling menatap dalam gelap, lalu Gea mengambil kotak alat tes yang disimpan di laci.
'Aku masuk sendiri,' katanya.
'Aku tunggu di luar.'
Deni tidak meminta ikut ke kamar mandi. Ia duduk di tepi ranjang sambil menggenggam kedua tangannya sendiri. Beberapa menit terasa lebih lama daripada seluruh pemeriksaan dokumen yang pernah mereka jalani.
Gea keluar dengan alat tes tertutup tisu. Mereka harus menunggu sesuai petunjuk. Deni memasang pengatur waktu agar tidak melihat terlalu cepat.
'Kalau positif, kamu senang?' tanya Gea.
'Senang dan takut.'
'Aku juga.'
'Kalau negatif, aku juga nggak kecewa sama kamu.'
Gea mengangguk. Kalimat itu penting karena ia tidak ingin tubuhnya dianggap gagal memenuhi harapan keluarga.
Pengatur waktu berbunyi. Gea membuka tisu bersama Deni. Ada dua garis merah muda, satu terlihat lebih samar tetapi tetap jelas.
Deni menutup mulutnya. Matanya langsung berkaca-kaca, tetapi ia tidak berteriak atau mengambil foto. Ia menatap Gea lebih dahulu.
'Boleh aku peluk?'
Gea mengangguk. Deni memeluknya hati-hati seolah tubuh istrinya mendadak rapuh. Gea tertawa kecil di tengah tangis.
'Ini baru alat tes. Kita belum periksa dokter.'
'Iya. Kita periksa.'
Mereka sepakat belum memberi tahu siapa pun, termasuk orang tua. Deni membuat janji dengan dokter kandungan melalui klinik yang tidak berhubungan dengan kampus atau rumah sakit kakaknya agar privasi Gea terjaga.
Deni bertanya apakah Gea ingin Putri ikut karena perempuan itu sudah mengetahui keterlambatan. Gea memilih hanya bersama suaminya untuk pemeriksaan pertama. Ia mengirim pesan kepada Putri bahwa tes menunjukkan dua garis dan meminta rahasia tetap disimpan.
Putri membalas dengan ucapan selamat serta pengingat agar Gea tidak mencari terlalu banyak gejala di internet. Jawaban itu membuat Gea tertawa kecil.
'Kenapa?' tanya Deni.
'Putri lebih kenal kebiasaan panik aku daripada kamu.'
'Aku bisa belajar.'
'Jangan belajar paniknya.'
Kelana mengetuk pintu beberapa menit kemudian. Deni menyimpan alat tes di laci sebelum membukakan. Anak itu masuk membawa buku pertanyaan tentang ibunya.
'Kelana mau tulis surat buat Ibu,' katanya.
Gea duduk di sampingnya. Perasaan bersalah datang tiba-tiba karena ada calon anak di dalam tubuhnya sementara Kelana masih takut kehilangan posisi. Ia menahan diri agar tidak berubah menjadi terlalu protektif atau memberi janji berlebihan.
'Mau tulis apa?' tanya Gea.
'Kelana nggak marah. Tapi waktu itu Kelana takut. Kelana tetap sayang Ibu sama Mama.'
Deni membantu menulis kata-kata sesuai ucapan Kelana, tidak memperbaiki istilah Ibu dan Mama. Surat itu akan diberikan kepada pendamping lebih dahulu, bukan langsung ke pasien.
Siang hari dokter rumah sakit membaca surat bersama tim. Mereka menilai isinya jujur tetapi kalimat tentang rasa takut mungkin membuat ibu Kelana merasa bersalah. Bukannya menghapus, dokter menyiapkan pasien sebelum surat diberikan.
Pendamping Kelana juga menyimpan salinan surat asli. Jika nanti anak itu lupa atau merasa ucapannya diubah, ia dapat melihat bahwa semua kata berasal darinya. Tidak ada bagian tentang Mama yang disembunyikan untuk melindungi perasaan pasien.
'Kejujuran perlu disiapkan, bukan dipotong,' ujar pendamping kepada Deni dan Gea.
Mereka setuju. Ibu Kelana berhak membaca seluruhnya saat siap, sedangkan Kelana berhak tahu pesannya tidak diubah oleh orang dewasa.
Ibu Kelana mendengarkan penjelasan bahwa anaknya tidak diminta memilih. Ia menangis, lalu bertanya apakah Gea takut kepadanya.
'Gea terluka ketika Ibu berteriak, tapi dia memahami Ibu sedang kewalahan,' jawab dokter.
'Aku bilang jangan bawa Kelana.'
'Iya. Setelah itu Kelana memilih keluar karena takut.'
Perempuan itu menutup wajahnya. Sesi tidak dipakai untuk membuatnya merasa bersalah. Dokter membantu memisahkan rasa menyesal dari keyakinan bahwa dirinya ibu yang buruk.
'Apa aku boleh minta maaf?' tanyanya.
'Boleh melalui surat. Kelana belum perlu bertemu langsung.'
Ibu Kelana menulis perlahan bahwa dirinya tidak marah kepada anaknya. Ia belum sanggup menulis nama Gea, tetapi mengatakan orang yang menjaga Kelana boleh tetap berada di sisinya.
Surat tersebut dikirim ke rumah setelah diperiksa pendamping. Kelana mendengarkan Gea membacakannya dan terlihat lega.
'Berarti Ibu nggak suruh Mama pergi?'
'Nggak,' jawab Gea. 'Tapi Ibu masih butuh waktu kenal Mama.'
'Kelana juga dulu baru kenal Mama.'
Gea tersenyum lalu memeluknya. Anak itu tidak tahu tubuh Gea menyimpan kabar baru.
Sore hari Deni dan Gea datang ke klinik. Pemeriksaan awal menunjukkan kehamilan masih sangat muda. Dokter meminta tes darah serta kunjungan ulang karena belum semua hal dapat terlihat. Gea diberi saran makan, istirahat, dan tanda bahaya yang perlu diperhatikan.
Dokter juga menanyakan tanggal menstruasi terakhir, obat yang digunakan, dan tingkat stres beberapa minggu belakangan. Gea menceritakan mual ringan serta kurang tidur tanpa membuka detail pasien lain.
'Tes rumah memberi petunjuk kuat, tapi kita tetap konfirmasi bertahap,' kata dokter. 'Kalau ada nyeri hebat atau perdarahan, segera datang.'
Deni ingin menanyakan semua risiko sekaligus. Dokter memintanya menulis pertanyaan dan membahas yang paling penting agar Gea tidak semakin cemas.
'Peran pasangan membantu, bukan mengawasi setiap gerakan,' tambah dokter.
Gea menoleh kepada Deni sambil menahan senyum. Pria itu mengangguk dan menutup sebagian catatannya.
'Kuliah tetap boleh selama kondisi baik,' kata dokter. 'Jangan menganggap hamil berarti harus berhenti semua aktivitas.'
Deni mencatat terlalu banyak sampai Gea menahan tangannya. 'Aku juga dengar. Jangan semua kamu atur.'
'Aku cuma takut salah.'
'Kita belajar bareng.'
Di mobil, Deni bertanya kapan mereka memberi tahu Kelana dan keluarga. Gea ingin menunggu konfirmasi kunjungan berikutnya. Ia juga ingin bicara dengan pendamping agar kabar adik tidak membuat Kelana merasa kembali digantikan.
Mereka sepakat berita pertama nanti diberikan kepada Kelana dalam suasana tenang. Tidak ada kalimat bahwa dia akan menjadi kakak hebat atau wajib senang. Kelana boleh merasa khawatir, marah, atau tidak mengerti.
'Dan jangan bilang ini hadiah buat dia,' kata Gea. 'Bayi bukan benda yang kita kasih supaya Kelana senang.'
'Iya. Ini anggota keluarga baru kalau semuanya berjalan baik.'
Deni juga berjanji tidak membeli perlengkapan bayi sebelum pemeriksaan berikutnya. Ia sudah hampir membuka toko daring, lalu menutupnya ketika Gea memelototinya.
'Aku setuju,' kata Deni. 'Ini kabar kita, tapi akibatnya menyentuh Kelana juga.'
Malam itu mereka menyimpan hasil pemeriksaan di tempat tertutup. Deni mencium kening Gea dan berbisik kepada calon anak mereka tanpa membuat janji besar.
'Tumbuh pelan-pelan ya.'
Gea tersenyum, tetapi ponselnya bergetar. Pesan dari dokter rumah sakit mengatakan ibu Kelana baru saja mengingat pernikahan Deni dan bertanya apakah Gea akan memiliki anak sendiri.
Pertanyaan itu datang sebelum mereka memberi tahu siapa pun tentang dua garis merah muda.