Hari pertama di unit transisi dimulai dengan masalah kecil. Ibu Kelana salah membaca jadwal sarapan dan tiba ketika makanan hampir dibereskan. Ia langsung menganggap petugas sengaja tidak menunggunya.
Dahulu pikiran itu akan berkembang menjadi keyakinan bahwa semua orang ingin menahannya jauh dari Kelana. Kali ini ia memeriksa jadwal di pintu dan menemukan dirinya datang dua puluh menit terlambat.
'Aku salah lihat,' katanya kepada petugas. 'Masih ada makanan?'
Ia mendapat roti dan telur, bukan perlakuan khusus. Kesalahan pertama tidak membuat percobaan dibatalkan.
Siang hari ia mencuci pakaian sendiri, mengikuti sesi terapi, lalu menelepon Deni pada waktu yang telah ditetapkan. Deni hampir bertanya apakah ia ingin dipindahkan ke apartemen, tetapi Gea yang duduk di seberangnya menggeleng.
'Gimana kamarnya?' tanya Deni.
'Sepi. Tapi aku bisa buka jendela.'
'Kalau butuh apa-apa, bilang.'
'Aku butuh buku catatan Kelana yang salinannya ada di rumah Mama.'
Deni berjanji mengantar melalui petugas besok, bukan datang malam itu. Kakaknya menerima batas pengiriman.
Hari kedua lebih sulit. Suara ambulans membangunkannya sebelum subuh. Ia berdiri di depan pintu dengan tas setengah terisi dan ingin kembali ke ruang perawatan. Petugas mengingatkan bahwa kembali diperbolehkan. Tidak ada yang menyebutnya gagal.
Ia memilih menunggu sepuluh menit, membaca kartu tanggal, lalu menelepon perawat jaga. Setelah tubuhnya lebih tenang, ia membongkar tas dan tetap mengikuti jadwal. Keputusan bertahan dicatat bersama fakta bahwa ia membutuhkan bantuan, bukan ditulis sebagai keberhasilan mandiri mutlak.
Hari ketiga, keluarga Arman datang tanpa Kelana. Pertemuan berlangsung di ruang bersama. Mereka membawa satu tanaman kecil, tetapi bertanya lebih dahulu apakah benda hidup diperbolehkan di unit.
'Arman selalu lupa siram tanaman,' kata salah satu kerabat.
'Aku yang siram semuanya,' jawab ibu Kelana.
Mereka tertawa kecil, lalu sama-sama menangis. Tidak ada pembicaraan tentang siapa yang paling kehilangan Arman. Keluarga itu menawarkan bantuan mencari hunian dekat kawasan mereka setelah masa transisi, tetapi menegaskan perempuan tersebut boleh memilih lokasi lain.
'Aku belum tahu mau di mana,' katanya.
'Nggak perlu jawab sekarang.'
Pertemuan berakhir setelah dua puluh menit. Ia mengembalikan tanaman kepada mereka karena belum yakin mampu merawatnya. Penolakan itu tidak dianggap tidak sopan.
Sementara percobaan berlangsung, Kelana menjalani rutinitas biasa. Ia pergi ke sekolah, bermain dengan nenek, dan mengikuti panggilan video singkat pada hari kedua. Ibu tidak menceritakan kepanikan karena ambulans secara rinci. Ia hanya berkata sedang belajar tinggal di kamar baru.
'Ibu tidur sendiri?' tanya Kelana.
'Ada petugas dekat, tapi kamar Ibu sendiri.'
'Takut?'
'Tadi takut. Terus Ibu minta bantuan.'
'Kelana juga panggil Mama kalau takut.'
Perempuan itu menatap Gea yang tampak di latar belakang. 'Iya. Minta bantuan boleh.'
Gea tidak menyela. Kalimat tersebut menjadi titik temu tanpa perlu mengatakan siapa yang lebih dibutuhkan.
Pada akhir tiga hari, tim mengevaluasi seluruh catatan. Ibu Kelana mampu mengikuti sebagian besar jadwal, mengenali satu kesalahan, meminta bantuan dua kali, dan tidak mengubah kesulitan menjadi alasan menuntut Kelana datang. Ia belum siap tinggal tanpa dukungan, tetapi percobaan dapat diperpanjang satu minggu.
'Kapan Kelana boleh lihat kamar?' tanyanya.
'Setelah satu minggu stabil dan setelah Kelana dinilai siap,' jawab dokter.
'Dia nggak menginap?'
'Tidak.'
Kekecewaan muncul, tetapi ia tidak menutup map. Ia meminta daftar syarat kunjungan dan mengetahui durasinya hanya dua puluh menit dengan petugas serta pendamping.
Di rumah, Gea menerima hasil pemeriksaan kehamilan terbaru melalui klinik. Semua nilai yang dinilai dokter berada dalam batas yang diharapkan. Ia dan Deni memilih memberi tahu keluarga tanpa pesta. Kelana ikut mendengarkan penjelasan bahwa pemeriksaan baik hari ini bukan janji semua hari akan mudah.
Deni mengirim kabar singkat ke grup keluarga dengan izin Gea. Ia melarang unggahan publik dan tidak menyertakan foto hasil pemeriksaan. Mamanya membalas dengan banyak tanda hati, tetapi menepati keputusan untuk tidak mengadakan acara. Batas yang dulu harus diulang kini mulai dijalankan tanpa pertengkaran.
'Titiknya sudah besar?' tanyanya.
'Sekarang bentuknya lebih kelihatan seperti bayi,' jawab Deni sambil menunjukkan gambar terbaru.
'Boleh dikasih nama?'
'Mama sama Ayah belum pilih nama. Kelana boleh kasih nama panggilan sementara kalau mau, tapi bukan berarti nama resminya.'
Kelana memikirkan banyak pilihan lalu tetap menyebutnya Titik karena sudah terbiasa. Ia membacakan satu cerita pendek dan menempel stiker bintang pada kotak buku yang dipinjamkannya.
Di kampus, kehamilan Gea akhirnya diketahui lebih banyak orang karena perubahan tubuhnya terlihat. Ia meminta pihak kelas tidak membuat pengumuman khusus. Dosen menilai tugasnya dengan standar yang sama dan memberikan penyesuaian hanya pada kebutuhan fisik, bukan isi akademik.
Seorang mahasiswa bercanda bahwa anak pemilik kampus pasti lahir dengan nilai sempurna. Gea menatapnya sampai orang itu meminta maaf.
'Bayi gue belum lahir dan udah dibawa ke urusan nilai,' katanya kepada Putri.
'Orang kalau nggak lucu suka maksa jadi lucu,' jawab Putri.
Gea memilih tidak memperbesar kejadian. Ia mencatat jika komentar serupa berubah menjadi gangguan, tetapi kembali mengerjakan tugas hari itu.
Malam sebelum keputusan perpanjangan unit transisi, ibu Kelana meminta berbicara dengan Gea melalui panggilan yang didampingi dokter. Deni tidak ikut setelah memastikan Gea setuju.
'Aku sudah lihat kamar ini,' kata perempuan di layar. 'Kecil, tapi bukan kamar rumah sakit.'
'Aku dengar percobaannya diperpanjang,' jawab Gea.
'Aku dulu pikir sembuh berarti masuk rumah Deni dan bawa Kelana. Sekarang aku nggak mau tinggal di rumahmu.'
Ucapan itu dapat terdengar seperti penolakan, tetapi wajahnya tidak menunjukkan kemarahan.
'Kenapa?' tanya Gea.
'Karena kalau aku tinggal di sana, setiap Kelana memanggilmu Mama aku akan merasa kalah di dalam rumah yang bukan milikku. Kelana bakal lihat itu tiap hari.'
Gea menunggu. Perempuan itu membuka kertas berisi rencana pribadinya.
'Aku mau punya tempat sendiri setelah mampu. Kelana bisa datang kalau aman, terus pulang ke rumahnya. Aku mau belajar jadi Ibu tanpa mengambil hidup yang dia punya sekarang.'
Air mata Gea turun sebelum sempat dicegah. 'Itu pilihan besar. Nggak harus diputuskan cuma karena satu minggu.'
'Aku tahu. Makanya aku tulis sebagai tujuan, bukan tanggal.'
Ia belum menerima panggilan Mama dan belum tahu bentuk pengasuhan bertahun-tahun ke depan. Namun, untuk pertama kalinya, ia tidak menyusun pemulihan sebagai jalan merebut tempat Gea.
'Aku perlu tanya satu hal,' katanya. 'Kalau Kelana nanti datang ke tempatku, kamu mau bantu dia percaya bahwa pulang lagi ke rumahmu bukan berarti meninggalkan aku?'
Gea mengusap air mata. 'Aku mau, selama kita juga bilang datang ke tempat Ibu bukan berarti meninggalkan Mama.'
Perempuan itu terdiam, lalu mengangguk.
Tidak ada garis baru yang digambar malam itu. Hanya ada dua perempuan yang akhirnya menyebut dua arah perjalanan Kelana dengan kata yang sama: pulang.