Percobaan tinggal di apartemen dukungan dimulai selama satu malam. Ibu Kelana datang bersama petugas pada sore hari, memeriksa jadwal obat, membeli bahan makan sesuai daftar, dan menghubungi unit transisi setelah pintu terkunci.
Tidak ada Kelana, keluarga Arman, atau Deni. Malam pertama harus menunjukkan apa yang ia lakukan ketika kesepian tanpa menjadikan anak sebagai penenang.
Ia memasak sup terlalu asin dan hampir tidak makan. Alih-alih melewatkan makan, ia menelepon petugas untuk bertanya pilihan. Petugas tidak datang memasakkan. Ia dibantu memilih roti, telur, dan buah yang masih tersedia.
Saat ambulans terdengar lewat tengah malam, tubuhnya membeku. Ia mengambil tas dari lemari, tetapi kali ini tidak memasukkan pakaian. Ia hanya memegangnya sambil membaca kartu tanggal dan menelepon nomor bantuan.
'Aku ingin kembali ke unit,' katanya.
'Boleh. Apakah Ibu ingin kendaraan dikirim sekarang atau mencoba latihan sepuluh menit lebih dahulu?' tanya petugas.
Ia memilih latihan. Setelah lima belas menit, ia memutuskan bertahan sampai pagi. Keputusan tersebut tidak dianggap lebih benar daripada kembali; yang penting ia memilih dalam keadaan lebih tenang.
Pagi hari, dokter datang untuk evaluasi. Ibu Kelana mengakui sup gagal, makanan hampir dilewatkan, dan tas sempat diambil. Ia tidak menyembunyikan satu pun demi mendapat izin pindah.
'Saya ingin coba dua malam lain kali,' katanya.
'Kita evaluasi dengan tim. Menambah waktu bukan hadiah,' jawab dokter.
Selama enam minggu berikutnya, proses bergerak bertahap. Percobaan satu malam diulang, kemudian dua malam, lalu akhir pekan. Dua kali ia memilih kembali lebih awal ke unit transisi. Satu kali ia lupa membeli sarapan dan menggunakan daftar cadangan. Setiap kesulitan dicatat bersama perbaikan.
Kelana tidak dibawa ke apartemen sampai ibu mampu menjalani tiga malam berurutan dengan jadwal stabil. Anak itu melihat foto dan memilih kursi yang ingin dipakai. Pendamping menegaskan kunjungannya hanya satu jam, tanpa menginap dan tanpa melihat kamar tidur jika tidak mau.
Gea memasuki tahap kehamilan yang lebih besar selama enam minggu tersebut. Perubahan waktunya terlihat melalui pemeriksaan rutin, tugas kuliah yang selesai satu per satu, pakaian yang tidak lagi muat, dan gerakan bayi yang semakin kuat. Tidak ada bulan yang hilang tanpa proses.
Ia berkonsultasi dengan bagian akademik tentang semester berikut. Setelah menghitung perkiraan kelahiran dan beban mata kuliah, Gea memilih menyelesaikan semester berjalan lalu mengambil jeda resmi. Keputusan itu dibuat karena kebutuhan tubuh dan bayi, bukan karena Deni memintanya berhenti.
'Aku bisa urus semua kalau kamu mau lanjut,' kata Deni.
'Bukan soal kamu bisa atau nggak. Aku yang akan melahirkan dan pulih. Aku mau jeda, terus lanjut lagi.'
'Aku dukung.'
'Catat, jangan nanti kamu bilang ini keputusan kita kalau orang tanya. Ini keputusan aku setelah kita diskusi.'
Deni mengangguk. Ia juga menyusun cuti kerjanya sendiri tanpa menganggap mamanya otomatis mengurus bayi. Mereka membagi malam, bantuan keluarga, dan waktu khusus Kelana dalam rencana yang masih dapat berubah.
Hari kunjungan apartemen tiba ketika kandungan Gea semakin jelas. Kelana memilih Deni sebagai pengantar, tetapi meminta Gea ikut sampai lobi. Gea duduk di kedai kecil gedung bersama pendamping, mudah dihubungi namun tidak terlihat dari apartemen.
'Mama pulang dulu?' tanya Kelana.
'Mama tunggu di bawah satu jam. Kalau Mama perlu pergi karena kondisi badan, Mama kasih tahu.'
'Ibu di atas.'
'Iya. Kelana berkunjung ke tempat Ibu.'
Anak itu naik bersama Deni. Ibu Kelana membuka pintu dan menunjukkan rak rendah berisi dua buku, kertas gambar, serta satu foto Kelana. Tidak ada lemari pakaian anak atau ranjang tambahan.
'Kelana duduk mana?' tanyanya.
'Pilih sendiri.'
Kelana memilih karpet. Mereka membuat adonan kue dari resep Arman dengan Deni dan petugas tetap hadir. Ketika tepung tumpah, ibu Kelana sempat meninggikan suara, lalu berhenti.
'Ibu kaget lihat berantakan. Bukan berarti Kelana jahat,' katanya.
'Bersihin bareng?'
'Iya.'
Deni tidak mengambil sapu lebih dahulu. Ia membiarkan ibu dan anak menyelesaikan bagian aman, lalu menangani oven sebagai orang dewasa kedua.
Kue pertama sedikit gosong. Kelana tertawa dan berkata Papa Arman juga pernah membuat kue gosong. Ibunya tertawa sambil menangis, tetapi tidak menghentikan kegiatan.
Pada menit keempat puluh, Kelana bertanya kapan dirinya tidur di sana. Perempuan itu melihat kamar yang sengaja hanya memiliki satu tempat tidur.
'Belum ada rencana menginap,' jawabnya. 'Kelana pulang sama Ayah dan Mama setelah kunjungan.'
'Ibu sedih?'
'Iya. Tapi sedih bukan alasan ubah rencana.'
Ketika satu jam selesai, Kelana membawa dua kue dan meninggalkan satu gambar di rak setelah memberi izin. Ia memeluk ibunya, lalu berjalan menuju lift bersama Deni tanpa ditahan.
Gea berdiri dari kedai saat melihat mereka. Kelana berlari kecil dan menyerahkan satu kue.
'Mama, kita pulang.'
Di lantai atas, ibu Kelana berdiri di balik pintu yang sudah tertutup. Ia menangis setelah mendengar lift bergerak, lalu menelepon petugas sebelum rasa sedih berubah menjadi dorongan mengejar.
Dalam debrief, Kelana berkata tempat Ibu juga rumah, tetapi bukan rumah tempat tidurnya. Pendamping menanyakan apakah kata pulang membingungkan.
'Nggak. Tadi Kelana pulang dari rumah Ibu ke rumah Mama sama Ayah.'
'Kalau nanti berangkat ke Ibu?'
'Pergi ke rumah Ibu. Terus bisa pulang lagi.'
Ibu Kelana menerima ringkasan tersebut dengan air mata. Ia tidak meminta anak menyebut apartemennya sebagai satu-satunya rumah. Ia justru menambahkan kalimat pada rencana pribadi: Kelana boleh memiliki rumah yang tidak ditempati Ibu.
Malamnya, ia menghubungi Gea melalui jalur pendamping.
'Kelana bilang pulang waktu turun ke kamu,' katanya.
'Iya.'
'Sakit dengarnya. Tapi dia juga menyebut tempatku rumah.'
'Dua-duanya bisa benar.'
Perempuan itu mengangguk. Lalu, untuk pertama kalinya, ia bertanya tentang bayi bukan karena takut kehilangan Kelana.
'Setelah bayi lahir, kapan kamu mau orang lain datang?'
'Aku belum tahu. Aku mau lihat kondisi aku dan bayi dulu.'
'Kalau aku sudah cukup stabil, boleh aku bertemu setelah kamu siap? Bukan di rumahmu kalau itu terlalu berat.'
Gea tidak memberi janji tanggal. 'Boleh kita rencanakan setelah lahir. Aku hargai Ibu tanya, bukan menganggap pasti boleh.'
Setelah panggilan berakhir, Gea menyampaikan permintaan itu kepada Deni. Pria tersebut sempat ingin langsung mengatakan kakaknya tentu boleh datang. Gea mengingatkan bahwa masa setelah melahirkan tidak dapat disusun untuk menyenangkan keluarga sebelum mereka tahu kondisi ibu dan bayi.
'Aku akan bilang ke Mama juga supaya nggak ada yang datang mendadak,' kata Deni.
'Bilang ini berlaku buat semua orang, bukan cuma Kakak kamu.'
Mereka menulis rencana kunjungan sementara dengan satu kalimat utama: keputusan dibuat setelah kelahiran, dan tidak ada orang yang memiliki giliran otomatis.
Percakapan berakhir tanpa ucapan selamat dan tanpa keakraban palsu. Namun, pertanyaan ibu Kelana akhirnya berubah. Ia tidak lagi bertanya apakah bayi akan merebut anaknya, melainkan bagaimana memasuki hidup bayi itu tanpa merebut ruang Gea.