Hari berganti, menuntun sebuah takdir yang terus berjalan membimbing sang penerima kehendak Langit. Di pagi hari yang cerah itu, Hwa Goon berjalan menuruni anak tangga paviliunnya bersama beberapa dayang yang berjalan di belakangnya.
Senyum tipis itu membuat wajahnya sedikit bersemu tatkala pandangannya menangkap sosok sang Putra Mahkota yang telah berdiri di bawah anak tangga bersama dengan Hwarang kesayangannya.
Seulas senyum hangat menyambut Hwa Goon, menuntun wanita itu untuk sejenak menundukkan kepalanya. Memberikan salam kepada sang Putra Mahkota hingga pandangan keduanya kembali dipertemukan.
"Kita pergi sekarang."
Hwa Goon mengangguk dan saat itu sebuah uluran tangan datang padanya. Merasa cukup ragu sebelum ia menyambut uluran tangan tersebut ketika dihadapkan dengan senyuman hangat sang Putra Mahkota.
Telapak tangan lembut yang telah tergenggam. Tae Hwa lantas menuntun sang Putri Mahkota untuk berjalan di sampingnya dan meninggalkan paviliun dengan Chang Kyun yang berjalan di belakang mereka dan kemudian disusul oleh para dayang.
"Kenapa dia tetap sedingin itu?" keluh Yeon Woo dengan suara pelan ketika ia yang diam-diam mencuri pandang terhadap Hwarang sang Putra Mahkota.
Dayang Choi menyahut dengan suara yang tak kalah pelan namun terdengar begitu tegas, "apa maksudmu?"
"Hwarang Park Changkyun, kapan aku bisa melihatnya tersenyum?" ujar Yeon Woo dengan senyum yang tiba-tiba melebar dan segera digantikan oleh ringisan ketika Dayang Choi memukul kepalanya.
"Bicara sembarangan."
Berjalan menjauhi paviliun, rombongan mereka pun menapakkan kaki di paviliun Baginda Raja. Bagian utama dari istana, di mana di sana akan diselenggarakan perjamuan untuk merayakan kembalinya Putra Mahkota ke istana.
Meninggalkan para dayang di bawah tangga. Tae Hwa, Hwa Goon dan Chang Kyun menaiki anak tangga menuju gazebo bertingkat di mana di sana sudah menunggu para anggota keluarga kerajaan.
Meninggalkan Chang Kyun yang berdiri di dekat tangga. Tae Hwa dengan senyum lebarnya segera menghampiri tempat sang ayah yang telah duduk di singgasana bersama dengan sang Ratu yang tidak lain adalah ibu tirinya. Sejenak memberi salam, perhatiannya lantas terjatuh ke samping, di mana di sana terdapat Pangeran Joon Myeon dan juga sang istri—Bae Joo Hyun yang duduk di balik meja.
Dengan senyum hangatnya, Tae Hwa lantas menghampiri sang kakak yang kemudian beranjak berdiri dan berjalan memutari meja. Melakukan sedikit reuni ketika kemarin keduanya belum sempat untuk bertemu.
"Lama tidak bertemu, Kakak." Tae Hwa menyambut sang kakak yang memberikannya pelukan selamat datang.
"Sudah lama sekali, senang bisa melihatmu kembali ke istana."
"Harusnya aku menemui Kakak lebih awal."
Joon Myeon tersenyum ramah. "Aku cukup tahu diri, kau tidak perlu merasa sungkan seperti itu."
Tae Hwa tersenyum canggung sebelum wajahnya terlihat sedikit kaku ketika dipertemukan dengan tatapan Joo Hyun. Mereka kemudian menempati tempat duduk masing-masing, di mana kedua putra dari Baginda Raja Kim Jeon itu duduk berseberangan dengan memberi ruang kosong di antara mereka.
Tampak kebahagian dalam senyuman Raja Kim Jeon pagi itu, di mana kedua putra dan menantunya berkumpul dengan perasaan yang damai. Diawali obrolan ringan di antara mereka berenam hingga beberapa dayang datang untuk menuangkan arak pada gelas kosong di hadapan mereka.
Joon Myeon meraih gelasnya dan mengangkatnya ke arah Tae Hwa. "Aku akan bersulang untuk kembalinya adikku."
"Kalau begitu, aku juga akan bersulang untuk Kakak."
Senyum yang berbalas, keduanya sama-sama menenggak arak mereka masing-masing. Namun saat itu Joo Hyun langsung menyahut sembari mengambil gelasnya, "Jika di izinkan, aku ingin bersulang untuk Putri Mahkota."
"Ye?" tampak keterkejutan di wajah Hwa Goon, mengingat hubungan keduanya yang tidak berjalan dengan baik. Bahkan keduanya hampir tak pernah berbicara, dan meski keduanya berpapasan, Hwa Goon hanya akan memberikan sapaan ringan dan langsung pergi setelahnya.
Hwa Goon mempertemukan tatapan yang penuh keraguannya dengan tatapan teduh milik Tae Hwa yang hanya memberikan seulas senyum tanpa arti, dan perhatian mereka teralihkan oleh suara Lady Hye Sun yang tiba-tiba menyahut.
"Kalau begitu, aku akan bersulang untuk kedua menantuku," sebuah ajakan yang disambut oleh tawa bahagia dari Raja Kim Jeon dan senyum dari para putra serta menantunya. Namun keraguan masih terlihat di wajah Hwa Goon.
"Kalau begitu, aku juga akan bersulang untuk adik iparku," Joon Myeon tiba-tiba menyahut dan membuat Hwa Goon terlihat canggung, pasalnya ia tidak pernah menyentuh arak sekalipun.
Raja Kim Jeon pun pada akhirnya turut menyahuti. "Ah ... baiklah, kalau begitu aku akan bersulang untuk calon cucuku," diakhiri dengan tawanya, semua orang kecuali Hwa Goon dan Tae Hwa mengangkat gelas arak mereka.
Hwa Goon yang tak diberi pilihan lain pun kemudian mengambil gelasnya dan dengan ragu mendekatkannya ke mulut. Namun belum sempat bibirnya menyentuh permukaan gelas, saat itu Tae Hwa merebut gelas di tangannya dengan lembut.
"Arak tidak baik untuk wanita yang sedang mengandung."
Menggantikan Hwa Goon, Tae Hwa lantas meminum arak yang baru saja ia rebut dari tangan Hwa Goon dengan begitu mudahnya. Namun saat itu Joo Hyun tiba-tiba tersedak dengan wajah yang tampak terkejut.
"Kau harus lebih berhati-hati," tegur Jun Myeon dengan lembut yang hanya dibalas oleh senyuman canggung dari Joo Hyun sebelum pandangan wanita itu terjatuh pada Tae Hwa yang tengah melihat ke arah lain.
Tawa Raja Kim Jeon kembali terdengar, diiringi oleh tawa ringan Lady Hye Sun.
"Ini adalah kebahagiaan yang sesungguhnya. Aku harap hubungan baik ini bisa berjalan dalam waktu yang lama."
Joon Myeon menyahut, "jika Ayahanda menginginkannya. Maka mari, kita wujudkan hal itu."
Tak mampu ikut tertawa, Tae Hwa hanya mengulas senyumnya. Namun senyum itu perlahan memudar ketika ia merasakan sesuatu yang tak nyaman pada dadanya. Tanpa menarik perhatian orang-orang di sekitarnya, Tae Hwa menyentuh dadanya yang terasa sedikit panas. Namun dia mulai terlihat gelisah ketika seperti ada sensasi terbakar yang semakin kuat di dalam dadanya.
Dan dari semua orang di sana, hanya Joo Hyun dan Chang Kyun lah yang menyadari kegelisahan di raut wajah Tae Hwa saat itu. Wajah Joo Hyun tiba-tiba memucat tanpa sebab, sedangkan Chang Kyun hanya berdiam diri di tempatnya dengan pandangan yang tak pernah luput dari setiap gerak-gerik sang Putra Mahkota.
Hwa Goon sedikit kaget ketika telapak tangan Tae Hwa menyentuh punggung tangannya yang saat itu berada di pangkuannya. Wanita muda itu menoleh dan guratan heran tercipta di wajahnya ketika ia melihat sesuatu yang tak beres terjadi pada sang Putra Mahkota.
Hwa Goon lantas berujar dengan suara yang pelan, "Putra Mahkota, kau baik-baik saja?"
Wajah Tae Hwa tiba-tiba mengernyit dengan tangan yang tiba-tiba mencengkram dadanya bersamaan dengan genggaman yang semakin kuat pada punggung tangan sang istri. Menambah kekhawatiran di wajah wanita muda itu terlebih ketika tubuh sang Putra Mahkota yang mulai condong ke arahnya.
Tae Hwa beringsut ke arah Hwa Goon ketika sensasi terbakar di dadanya semakin menjadi. Mulutnya terkatup rapat seakan ingin menahan sesuatu di mulutnya hingga di detik berikutnya ia tumbang. Kedua lututnya jatuh pada lantai bersamaan dengan darah yang menyembur dari mulutnya dan mengenai pakaian serta tangan Hwa Goon.
Hwa Goon memekik, "Putra Mahkota!"
Semua orang panik. Raja Kim Jeon langsung berdiri dengan panik dan menghampiri putranya, begitupun dengan Chang Kyun. Sedangkan Hwa Goon langsung beringsut dari tempat duduknya, menjatuhkan kedua lututnya di hadapan Tae Hwa yang menunduk dengan mulut bersimbah darah.
"Apa yang terjadi?" lantang Raja Kim Jeon. Namun sebelum sang ayah sampai di tempatnya, Tae Hwa telah lebih dulu kehilangan kesadarannya dengan kening yang jatuh pada bahu Hwa Goon yang mencoba menahan tubuhnya.
Ketakutan terlihat di wajah Joo Hyun namun kebingungan terlihat di wajah Joon Myeon dan Lady Hye Sun yang sempat bertukar pandang. Chang Kyun yang saat itu telah menjangkau tempat Tae Hwa, segera menjauhkan sang Putra Mahkota dari Hwa Goon dan terkejut ketika melihat langsung keadaan tuannya.
Dengan suara tegas dia berucap, "seseorang telah meracuni Putra Mahkota."
"Apa-apaan ini? Cepat panggilkan tabib!" murka Raja Kim Jeon yang bercampur dengan kekhawatiran.
Tak menunggu waktu lebih lama lagi. Chang Kyun segera berbalik badan dan menaruh Tae Hwa di punggungnya, lalu membawanya meninggalkan tempat tersebut, di ikuti oleh Hwa Goon yang tampak menahan tangisnya.
"Bertahanlah Putra Mahkota."