Raja Youngsoo menyesap arak beras yang disajikan sang Ratu untuknya. Sudah beberapa malam ini, Raja selalu bermalam di kediaman Ratu. Hubungan Raja dan Ratu ini memang terkenal paling harmonis, keduanya saling mencintai. Raja Youngsoo selalu menolak untuk mengambil selir. Raja Youngsoo beralasan karena sang Ratu telah berhasil memberikannya seorang putra pewaris, maka ia tidak membutuhkan lagi selir.
Padahal Raja tersebut tahu bahwa menterinya mendesak mengambil selir karena Ratu yang duduk ditakhta saat ini bukanlah Ratu yang di dukung oleh fraksi barat. Meskipun begitu, Ibu Suri Kang sendirilah yang melindungi Ratu Kwon, karena pernah menyelamatkan nyawanya dulu.
“Apa kau sudah menemukan putri pendamping yang cocok untuk Lee Shin?” tanya Raja Youngsoo disela-sela meminum arak berasnya.
Nama lahir Putra Mahkota adalah Lee Shin. Sebagaimana aturan yang berlaku, keluarga kerajaan tidak boleh dipanggil menggunakan nama aslinya. Dalam keadaan ini hanya Raja dan Ratu saja yang boleh memanggil nama asli sang Putra Mahkota. Ketika dinobatkan menjadi Putra Mahkota, Lee Shin mendapatkan nama kehormatan yaitu Putra Mahkota Kwangsun. Itulah sebabnya, seluruh pejabat dan pegawai istana akan memanggilnya dengan nama Putra Mahkota Kwangsun.
Ratu Kwon tersenyum dan mengangguk. “Ye, Jeonha. Ada seorang gadis yang begitu menarik perhatianku saat pertemuan tadi.”
“Siapa gadis itu, Jungjeon?”
“Putri dari Menteri Kim. Kim Myunghee. Gadis itu selain sangat cantik, juga sangat pintar dan bijaksana. Persis seperti Menteri Kim, Jeonha. Akan sangat tepat jika putri Menteri Kim menjadi putri penerus untuk Seja.” Jelas Ratu.
Raja Youngsoo menghela napas. Tangannya mengelus dagunya sambil berpikir. Menteri Kim adalah salah satu menteri yang berada di fraksi yang bersebrangan dengan fraksi Ibu Suri Kang yang berkuasa saat ini. Raja sangat menyukai Menteri Kim karena kinerjanya yang sangat luar biasa selain itu saran – saran yang diberikan Menteri Kim sangat membantu Raja Youngsoo untuk memberikan peraturan yang adil untuk masyarakat.
Sejak awal, Raja Youngsoo memang sedang mencari cara agar Menteri Kim mendapat posisi yang lebih tinggi. Raja Youngsoo ingin memberikan posisi yang lebih tinggi pada Menteri Kim sebagai bentuk penghargaan atas kinerjanya. Mungkin memberikan posisi sebagai Ayah dari Putri Mahkota adalah salah satu solusinya.
“Aku memang sedang memikirkan Menteri Kim akhir-akhir ini, Jungjeon. Aku sedang memikirkan tindakan yang tepat untuk membalas jasanya selama membantuku. Mungkin, saranmu untuk memasukkan putrinya sebagai kandidat utama Putri Mahkota adalah jawabannya.”
Ratu Kwon tersenyum mendengar jawaban yang diberikan Raja atas sarannya. “Aku akan mengusahakan Putri Menteri Kim lolos menjadi Putri Mahkota, Jeonha. Tapi tetap saja, kita perlu mengadakan pemilihan Putri Mahkota. Aku tidak ingin terdengar melangkahi kebijakan Eomma Mama mengenai pemilihan ini. Bagaimanapun, sudah menjadi kebijakan Eomma Mama selaku tetua istana untuk memilih Putri penerus.”
Lagi-lagi Raja Youngsoo menghela napas. “Aku tahu. Lagi pula Eomma Mama tidak akan diam saja jika aku mengajukan putri penerus dari fraksi timur. Eomma ama pasti akan tetap memilih putri penerus dari fraksinya. Kudengar, putri Menteri Kang akan maju mengikuti pemilihan ini. Sudah bisa di tebak Eomma Mama akan memilih putri menteri Kang, yang berasal satu klan dengannya.”
Ratu duduk resah mendengar itu. Ratu Kwon tahu betul suaminya memiliki mimpi untuk memutus rantai keluarga yang ingin mendapatkan kekuasaan yang besar di istana. tetapi dalam mewujudkan keinginannya itu Raja Youngsoo memiliki penghambat salah satunya adalah ibunya sendiri—Ibu Suri Kang.
Fraksi Ibu Suri Kang adalah fraksi yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap pemerintahan dan istana. Karena itu, Ratu Kwon tahu betul akan sulit memilih putri Menteri Kim jika masih ada putri dari Menteri Kang.
“Ye. Aku pun sudah bertemu dengan Putri Menteri Kang hari ini.”
Raja Youngsoo memandang Ratunya. “Apakah putri Menteri Kang memiliki kemampuan yang menakjubkan?”
Ratu Kwon menggeleng pelan. “ Tidak ada yang istimewa selain memang cantik.”
“Lebih baik kita hentikan sementara percakapan ini. Aku sangat lelah hari ini, Jungjeon.”
Ratu mengangguk, mengerti dengan keinginan sang Raja. Segera Ratu membereskan meja yang dipakai untuk menghidangkan arak beras dan makanan kecil dan mulai mempersiapkan kasur untuk sang Raja.
...
Keesokan harinya, saat Raja Youngsoo berada di aula istana, para menteri mulai menyinggung masalah mengenai putri pendamping untuk Putra Mahkota. Para menteri mulai menyinggung hal ini bertepatan sehari setelah masuknya para putri Menteri untuk mendapatkan pengenalan singkat mengenai istana oleh sang Ratu.
“Jeonha, hamba rasa Seja Jeoha sudah cukup umur untuk melaksanakan pernikahan. Bukankah Jungjeon Mama kemarin sudah bertemu dengan para putri dari Menteri dan pejabat istana? Tidak perlu ragu untuk segera melaksanakan pernikahan istana, Jeonha” saran Menteri Han, yang berasal dari fraksi barat.
Para menteri dari dua fraksi itu kini bersujud berkali-kali agar Raja menerima saran yang diberikan oleh mereka. Raja Youngsoo menopang dagunya mendengarkan saran-saran dari menteri yang terus menerus mendesaknya segera mengeluarkan perintah mengenai pernikahan putra mahkota.
“Ah baiklah. Kalian ini selalu saja mendesakku seperti ini. Jungjeon juga sudah pernah membicarakan ini padaku. Mulai hari ini, peraturan pembatasan pernikahan sebelum pernikahan istana aku keluarkan.” putusnya.
“Anugrahmu sungguh tak terkira, Jeonha.”
Para menteri segera bersujud hormat karena Raja Youngsoo langsung menerima saran mereka. Mulai hari itu juga peraturan pembatasan pernikahan sebelum pernikahan istanapun dikeluarkan.
...
Sementara itu di kediaman Ibu Suri, Ibu Suri Kang tampak sedang menikmati teh bunga liar bersama sang Ratu. Berita mengenai Raja Youngsoo telah mengeluarkan perintah pelarangan pernikahanpun telah terdengar oleh wanita tua itu.
“Benarkah berita itu, Dayang Cho?” Ibu Suri Kang meletakkan tehnya. Wanita istaa itu menatap balik pada dayang setianya yang baru saja menyampaikan pesan mengenai aturan itu padanya.
“Ye, Daebi Mama. Yang Mulia Raja baru saja mengeluarkan perintah tersebut.” jawabnya.
Seulas senyum terukir diwajah Ibu Suri. ” Kalau begitu, Jungjeon, istana dalam sudah bisa mempersiapkan pemilihan putri pendamping untuk Seja. Bukan begitu?”
“Betul, Mama. Aku sudah mulai mempersiapkan berbagai persiapan untuk pemilihan putri pendamping.” Jawab Ratu Kwon sambil tersenyum.
Ibu Suri mengusap pelan dagunya. “Ah benar juga. Kemarin Jungjeon baru saja menyambut putri dari para Menteri dan pejabat yang masuk ke istana. Sayang sekali, aku tidak bisa melihat bunga-bunga segar itu. Apakah Jungjeon sudah meminta Dukun In untuk melihat fisiognomi para putri Menteri itu ?”
Lagi-lagi Ratu tersenyum mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Ibu Suri. “Ye,Eomma Mama. Aku sudah meminta Dukun In untuk melihat fisiognomi Ratu dari para putri yang kemarin masuk ke istana. Sesuai dengan saran dari Eomma Mama. Hanya saja….”
Senyum di wajah Ratu sedikit memudar.
Ibu Suri menatap khawatir. “Apa ada masalah?”
Ratu mengangguk. “Fisiognomi dari calon Ratu belum terlihat jelas. Masih ada kabut yang menutupi. Tapi Dukun In menjanjikan ada calon Ratu di antara para gadis yang kemarin berkunjung ke istana.”
Ibu Suri menghela napas kesal. “Bagaimana mungkin Dukun In bisa berkata seperti itu. Bukankah dia seorang dukun yang berbakat yang di miliki Sangsucheon—puri bintang, bahkan melebihi Kepala Dukun Han?”
“Aku juga berpikir seperti itu, Mama. Itulah alasannya kenapa aku meminta Dukun In untuk melihat fisiognomi Ratu dari para putri Menteri. Tapi ternyata jawabannya kurang menyenangkan.”
Ibu Suri lagi-lagi menghela napas. “Ah sudahlah kalau begitu. Mulai saat ini yang terpenting adalah mempersiapkan pemilihan putri sebaik mungkin, Jungjeon.” pungkasnya.
“Ye,Mama. Aku akan mempersiapkannya sebaik mungkin. Eomma Mama tenang saja.” Ratu membungkuk hormat.
Tidak lama setelah membicarakan mengenai pemilihan putri pendamping Ratu pamit untuk kembali ke kediamannya. Sepanjang perjalanan menunju istana tengah, Ratu Kwon tampak sibuk berpikir. Begitu pintu kamarnya ditutup, sang Ratu duduk di takhtanya dan menghela napas lega.
Wanita itu terpaksa berbohong pada Ibu Suri mengenai penglihatan dari Dukun In. Ratu tahu betul, posisinya tadi sangat berbahaya. Berbohong pada wanita tua yang sudah menjadi Ibu mertuanya selama lebih dari dua puluh sembilan tahun.
Tapi, Ratu terpaksa berbohong untuk mendapatkan putri mahkota yang pantas di posisinya. Bukan karena banyaknya dukungan fraksi. Ia sudah bersumpah untuk membantu Raja membersihkan pemerintahan dan Istana dari orang-orang yang haus kekuasaan.
“Bulan terbelah menjadi dua, Jungjeon Mama. Bulan pemilik takhta ratu yang sebenarnya untuk sementara akan tertutup oleh awan. Walau begitu, sinarnya akan tetap menerangi rakyat. Ketika bulan yang duduk di atas takhta cahayanya semakin meredup, itulah saat di mana bulan sebenarnya masuk ke dalam istana. Bulan yang meredup itulah yang akan membawa bulan pemilik takhta sebenarnya ke dalam istana. Saran Hamba, lebih baik Anda mengikut aturan yang biasanya telah ditetapkan. Jika Anda memaksakan kehendak Anda, maka Bulan yang sebenarnya dalam posisi terancam. Bahkan, Bulan akan berwarna merah, semerah darah. Harap Anda menyikapi dengan bijak.”
Tiba – tiba saja pesan dari Dukun In kembali terngingang ditelinganya. Disatu sisi, Ratu menginginkan Kim Myunghee yang kelak terpilih menjadi Putri pendamping putra kesayangannya. Tetapi ia tidak ingin adanya pertumpahan darah di istana ini.