Rumah Sakit Medika Utama bukan sekadar bangunan beton dan kaca di pusat kota. Bagi Dr. Adrian Baskara, gedung megah ini adalah sebuah mahakarya presisi yang berdenyut layaknya jantung manusia. Setiap lorong yang ia lewati memiliki aromanya sendiri, campuran tajam antara cairan antiseptik, bau karet sarung tangan steril yang baru dibuka, dan aroma kopi pahit yang sering kali menjadi satu-satunya pendampingnya di tengah malam saat berjaga di ruang ICU.
Adrian Baskara adalah definisi dari keteraturan. Pria berusia tiga puluh empat tahun itu memandang hidup sebagai serangkaian masalah yang harus dipecahkan dengan logika murni, bukan dengan perasaan. Sebagai CEO Medika Utama, ia tidak hanya memimpin para dokter, ia memimpin sebuah sistem yang tidak boleh cacat. Jika satu bagian saja dalam mesin ini bergeser, dampaknya bisa fatal. Karena itulah, ia menciptakan dunianya sendiri di lantai eksekutif, lantai yang ia jaga ketat dari interupsi, kebisingan, dan ketidakpastian.
Pukul 07.00 tepat. Adrian melangkah keluar dari lift khusus CEO. Langkah kakinya terdengar berirama di atas lantai marmer yang dipoles hingga mengkilap seperti cermin. Sepatu kulitnya tidak mengeluarkan suara decitan sedikit pun; ia adalah bayangan yang bergerak dengan tujuan yang jelas. Jas putihnya tampak seperti baju zirah modern, bersih, kaku, dan tanpa cela. Di balik jas itu, ia mengenakan kemeja berwarna navy yang dipadukan dengan dasi yang diikat dengan simpul Windsor sempurna.
Ia tidak memedulikan tatapan hormat sekaligus takut dari para staf yang berpapasan dengannya di koridor. Adrian tidak butuh sapaan 'selamat pagi' yang basa-basi. Ia hanya ingin tahu apakah laporan operasional kuartal ketiga sudah ada di mejanya. Ia ingin tahu apakah tingkat okupansi tempat tidur pasien sudah dioptimalkan sesuai dengan target efisiensi yang ia tetapkan minggu lalu.
Namun, saat ia sampai di depan pintu ruang kerjanya, instingnya menangkap sesuatu yang ganjil. Ada getaran samar di balik pintu itu. Suara dengung rendah yang tidak seharusnya ada di sana.
Seharusnya lantai ini sunyi, pikirnya. Adrian mengerutkan kening. Tangannya, dengan jemari yang panjang dan terlatih untuk operasi presisi, menyentuh kartu akses di samping pintu.
Bip
Pintu otomatis terbuka dengan desis halus yang biasa, namun pemandangan yang menyambutnya di balik pintu itu membuat dunianya yang tertata rapi seolah dihantam badai.
Pemandangan itu begitu sureal, begitu melanggar setiap protokol yang ia tulis, sehingga Adrian sempat terdiam di ambang pintu selama beberapa detik penuh. Ia tidak melihat tumpukan berkas. Ia tidak melihat ruangan kantor yang tenang.
Di tengah-tengah ruang kerjanya, tepat di atas karpet mahal yang baru saja ia pesan, berdiri sebuah tripod logam berwarna hitam yang tampak murah dan rapuh. Di atasnya, sebuah ring light berbentuk lingkaran sempurna memancarkan cahaya putih neon yang menusuk mata. Lampu itu berkedip-kedip, seolah sedang mencoba menantang lampu sorot medis canggih di ruang operasinya.
Di belakang lampu itu, berdiri seorang wanita. Ia mengenakan blazer berwarna kuning neon yang begitu terang hingga Adrian merasa perlu memakai kacamata hitam untuk melihatnya dengan nyaman. Rambutnya terurai bergelombang, tampak berantakan namun disengaja, dan di tangannya, ia memegang ponsel pintar keluaran terbaru dengan casing yang juga berwarna mencolok.
Wanita itu sedang bicara. Bukan bicara seperti manusia normal, melainkan dengan intonasi yang antusias, ceria, dan penuh dengan penekanan yang dibuat-buat, seperti sedang berbicara kepada ribuan orang yang tak terlihat.
"Jadi, guys! Inilah rahasia kenapa RS Medika Utama jadi rumah sakit ternama di kota ini. Bukan cuma karena fasilitasnya yang canggih, tapi karena dedikasi stafnya yang luar biasa, mulai dari perawat, dokter, hingga jajaran manajemennya yang sangat—"
Adrian tidak membiarkan wanita itu menyelesaikan kalimatnya.
"Berhenti."
Satu kata itu terlontar dari tenggorokan Adrian dengan presisi seorang dokter yang memotong arteri. Dingin. Tajam. Dan memiliki otoritas mutlak.
Gia terlonjak hebat, ponselnya nyaris tergelincir dari genggamannya sebelum ia berhasil menangkapnya kembali dengan gerakan akrobatik yang kikuk. Ia berbalik, jantungnya berdegup kencang saat melihat pria yang berdiri di ambang pintu. Pria itu, Dr. Adrian Baskara, tidak hanya tampak marah, ia tampak seperti seseorang yang sedang menahan diri untuk tidak mengeluarkan siapa pun dari gedung ini saat itu juga.
Gia menekan tombol stop pada ponselnya, lalu menatap Adrian. Tidak ada rasa takut yang berlebihan di wajahnya, justru ada senyum kecil yang dipaksakan. Ia sedikit menggigit bibir bawahnya bukan karena takut, melainkan upaya keras untuk tidak tertawa melihat betapa seriusnya pria di depannya ini.
"Dokter?" sapanya dengan nada yang ia buat seringan mungkin, meskipun ia bisa merasakan aura intimidasi yang kuat dari pria di depannya. "Eh, hai! Saya sedang live sebentar, cuma mempromosikan layanan baru kita. Tenang, Dok, saya tidak mengambil gambar wajah dokter, kok. Saya tahu dokter sangat menghargai privasi dan saya tidak akan membuat konten yang tidak etis."
Adrian tidak bergerak. Ia tidak membalas sapaan itu. Ia hanya berjalan masuk, melewati ambang pintu dengan langkah yang terasa seperti ancaman. Setiap langkah sepatunya yang beradu dengan lantai marmer menciptakan gema yang membuat atmosfer di ruangan itu semakin menekan. Ia berdiri tepat di samping tripod itu, mematikan ring light-nya dengan satu sentuhan kasar pada tombol di kabelnya. Tiba-tiba, ruangan itu meredup, menyisakan kesunyian yang mencekam. Hanya deru pelan AC yang terdengar.
"Siapa yang mengizinkan Anda masuk ke ruang kerja saya?" tanya Adrian, suaranya tetap sedatar es, namun kini jauh lebih tajam.
Gia menegakkan punggungnya, berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia adalah seorang influencer yang terbiasa menghadapi komentar pedas di media sosial; pria kaku di depannya ini tidak boleh membuatnya ciut. "Saya Gia, dari tim humas bagian media sosial, Dokter. Bukankah jadwal room tour CEO untuk kampanye digital bulan ini sudah disetujui oleh direksi?"
Adrian menatap Gia lekat-lekat, tatapannya menyapu wanita itu dari ujung kaki hingga ujung kepala, seolah sedang melakukan diagnosa medis yang mendalam dan hasil diagnosanya jelas bahwa Gia adalah penyakit yang harus diisolasi.
"Direksi mungkin menyetujuinya, tapi saya adalah orang yang harus menjalani operasional rumah sakit ini," balas Adrian. Ia berjalan mengelilingi meja kerjanya yang luas, setiap gerakannya terkontrol. "Saya tidak pernah menyetujui adanya sirkus di kantor saya. Rumah sakit ini didirikan untuk menyelamatkan nyawa, bukan untuk dijadikan latar belakang konten hiburan yang dangkal."
Gia merasa tersinggung, namun ia memilih untuk membalas dengan senyuman yang lebih lebar, jenis senyuman yang biasanya ia gunakan untuk memancing interaksi di kolom komentar. "Sirkus? Dok, ini tahun 2026. Era di mana citra rumah sakit sangat menentukan kepercayaan pasien. Kalau kita tidak melakukan branding yang relevan, kita akan kalah saing. Saya di sini bukan untuk membuat sirkus, tapi untuk memastikan orang-orang tahu bahwa rumah sakit ini tidak se-'dingin' yang dibayangkan orang-orang."
Adrian terdiam sejenak. Ia meletakkan tumpukan berkas yang ia bawa ke atas meja dengan dentuman pelan yang cukup untuk membuat Gia sedikit tersentak. "Anda baru saja menggunakan kata yang tepat untuk menggambarkan diri Anda: relevan. Anda merasa relevan dengan mengganggu waktu kerja saya? Dengan mengubah kantor saya menjadi studio foto dadakan?"
Adrian melangkah mendekat, hingga jarak mereka hanya terpisah beberapa jengkal. Gia bisa mencium aroma cologne maskulin yang bercampur dengan bau kertas bersih, aroma yang sangat tipikal pria yang terlalu banyak menghabiskan waktu di ruangan ber-AC.
"Kemasi barang-barang Anda," perintah Adrian dengan suara rendah yang tidak memberi ruang untuk bernegosiasi. "Keluar dari ruangan saya. Dan jangan pernah menginjakkan kaki di lantai ini lagi, kecuali jika Anda punya janji medis sebagai pasien yang membutuhkan pertolongan darurat."
Gia menahan napas. Ia merasa seperti sedang berhadapan dengan tembok beton yang tidak bisa dipanjat. "Dokter Adrian," panggil Gia saat ia mulai merapikan kabel ring light-nya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Adrian tidak menoleh, ia sudah duduk di kursi kulitnya dan mulai menatap layar monitor dengan fokus yang kembali tajam, seolah Gia sudah tidak ada di sana.
"Bisa terlihat sangat dingin di balik jas itu, tapi saya yakin, jauh di dalam sana, Dokter cuma butuh satu gelas kopi enak untuk memulai hari. Mungkin saya bisa merekomendasikannya nanti," ujar Gia. Ia sengaja meninggalkan kalimat itu menggantung di udara, berharap bisa mendapatkan reaksi apa pun itu dari pria itu.
Namun, Adrian tetap bergeming. Ia hanya menggerakkan mousenya, menelusuri data medis pasien. Gia mendengus kecil, meraih tas selempangnya, lalu melangkah keluar dengan dagu yang tetap terangkat tinggi. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Pria kaku bernama Adrian Baskara ini baru saja memberinya tantangan konten yang paling menarik dalam kariernya.
Begitu pintu otomatis ruang CEO tertutup rapat di belakangnya, Gia mengembuskan napas panjang. Ia bersandar pada dinding koridor lantai eksekutif, memejamkan mata sejenak untuk menenangkan detak jantungnya yang masih memacu cepat.
"Gila," gumamnya pelan. "Pria itu benar-benar terbuat dari es batu."
Namun, alih-alih merasa terintimidasi, sudut bibir Gia justru perlahan terangkat. Ia menatap ponsel di genggamannya. Rekaman video live-nya tadi terputus tepat saat Adrian mematikan ring light. Jika ia mengeditnya dengan tepat, momen pengusiran itu bisa menjadi pembuka yang sangat dramatis untuk konten Vlog terbarunya.
Gia adalah seorang profesional. Baginya, penolakan hanyalah awal dari negosiasi. Ia berjalan menuju lift, otaknya sudah berputar cepat, merancang strategi baru. Jika Adrian Baskara adalah benteng, maka ia tidak akan mencoba mendobrak pintu depannya lagi. Ia akan mencari celah lain, mungkin melalui staf administrasi, atau mungkin... melalui kopi. Kata-katanya tadi soal "kopi yang enak" bukan sekadar basa-basi. Ia memperhatikan meja kerja Adrian; tidak ada cangkir kopi, tidak ada botol air mineral, bahkan tidak ada foto keluarga. Pria itu benar-benar hidup dalam kekosongan yang ia ciptakan sendiri.
Sementara itu, di dalam ruang kerjanya, Adrian Baskara menatap layar komputernya dengan tatapan kosong. Keheningan di ruangan itu kini terasa berbeda; tidak lagi menenangkan, melainkan terasa hampa dan terlalu sunyi, seolah kehadiran Gia yang enerjik tadi telah meninggalkan jejak yang sulit dihapus.
Ia mencoba fokus pada angka-angka efisiensi rumah sakit, namun konsentrasinya buyar. Aroma parfum manis yang ditinggalkan wanita itu, aroma yang sangat kontras dengan bau antiseptik yang memenuhi hidungnya setiap hari, masih samar-samar tercium di udara.
Adrian mendengus pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. Ia merasa terganggu. Bukan karena kehadiran wanita bernama Gia itu semata, melainkan karena cara wanita itu menatapnya dengan kepercayaan diri yang tidak masuk akal dan senyum yang terasa begitu asing di tempat ini.
Selama bertahun-tahun, Adrian membangun dunianya di atas aturan yang jelas. Ia tidak suka kejutan. Ia tidak suka ketidakpastian. Dan yang paling penting, ia tidak suka diganggu saat sedang bekerja. Namun, melihat tripod yang tadi berdiri di tengah ruangannya membuat Adrian menyadari satu hal: rumah sakit ini sudah mulai terasa seperti museum. Terlalu sunyi, terlalu steril, dan terlalu kaku.
Cukup, pikir Adrian. Ia kembali menegakkan tubuhnya, menyingkirkan bayang-bayang warna kuning neon yang tadi menyilaukan matanya. Ia harus fokus. Ia memiliki pertemuan dengan dewan direksi siang ini untuk membahas modernisasi peralatan medis, dan ia tidak akan membiarkan seorang influencer amatir merusak ritme kerjanya.
Namun, di sudut meja kerjanya, ia melihat sesuatu yang tertinggal. Sebuah kartu nama kecil berwarna cerah. Gia pasti tidak sengaja menjatuhkannya saat mengemas tripod tadi.
Adrian mengambil kartu itu. Di sana tertulis: Gia Pramestia – Creative Lead & Digital Content Strategist.
Ia memandangi kartu itu selama beberapa detik sebelum akhirnya melemparkannya ke dalam laci meja, tepat di samping tumpukan berkas laporan yang belum selesai. Ia akan membiarkannya di sana. Untuk saat ini.