Pukul 06.00 pagi. Langit di luar jendela masih berwarna biru gelap, menyisakan bias cahaya jingga yang samar di cakrawala. Koridor lantai eksekutif Medika Utama masih sepi, hanya menyisakan suara dengung lampu neon yang sunyi.
Adrian sudah duduk di balik meja kerjanya sejak pukul 05.30. Ia sudah menyelesaikan dua laporan medis dan meninjau jadwal operasi untuk tiga hari ke depan. Namun, fokusnya berkali-kali buyar. Ia melirik jam tangan mahalnya; jarum pendek tepat menunjuk angka enam.
Bip.
Pintu otomatis ruangannya terbuka.
Gia masuk. Ia tidak mengenakan blazer kuning neon atau setelan formal yang kaku hari ini. Ia mengenakan blus krem yang rapi dipadukan dengan celana kain hitam, dan di tangannya, ia menenteng sebuah paper bag kecil bertuliskan kedai kopi ternama di sudut kota.
"Selamat pagi, Dokter," sapanya dengan suara yang untuk ukuran jam enam pagi terlalu bersemangat bagi Adrian.
Adrian tidak menjawab. Ia hanya menunjuk kursi kayu di depan mejanya dengan dagu, memberi isyarat agar Gia duduk. "Anda terlambat tiga detik," ucapnya dingin.
Gia menahan senyum, lalu berjalan mendekat. Ia meletakkan dua cangkir kopi di atas meja kerja Adrian yang bersih tanpa cela. "Tiga detik itu waktu yang cukup untuk menyelamatkan nyawa di ruang operasi, kan? Tapi ini untuk kopi, saya rasa tiga detik adalah toleransi yang masuk akal."
Adrian menatap cangkir kopi itu dengan curiga, seolah benda itu adalah bahan peledak. "Saya tidak menyuruh Anda membawakan saya kopi."
"Saya tahu," balas Gia sambil membuka kursinya dan duduk dengan santai. "Tapi saya butuh konsentrasi penuh dari Anda untuk sesi supervisi hari ini. Dan dari apa yang saya amati kemarin, Dokter sepertinya tipe orang yang berfungsi maksimal dengan kafein."
Gia mengeluarkan tabletnya, lalu mulai menggeser beberapa desain konten ke arah Adrian. "Ini adalah draf awal kampanye kita. Fokusnya adalah 'Manusia di Balik Jas Putih'. Saya ingin menyoroti sisi humanis dokter di rumah sakit ini, dimulai dari..."
"Berhenti," potong Adrian dengan cepat. Ia tidak menyentuh kopinya. "Manusia di balik jas putih? Itu klise. Semua orang tahu dokter adalah manusia. Apa yang ingin Anda jual? Rasa kasihan?"
Gia tidak gentar. Ia justru menyandarkan punggungnya, menatap Adrian dengan sorot mata yang menantang. "Bukan rasa kasihan, Dok. Rasa percaya. Orang-orang saat ini tidak percaya pada institusi yang tidak punya wajah. Mereka butuh melihat bahwa dokter yang akan memegang pisau bedah mereka adalah seseorang yang juga bisa tertawa, bisa lelah, dan punya sisi personal."
Adrian terdiam. Ia menatap draf konten di tablet itu. Ada foto seorang perawat senior yang sedang memegang tangan pasien lanjut usia. Foto itu diambil dengan teknik candid yang sangat lembut. Tidak ada kesan sirkus di sana. Hanya ada empati.
"Foto ini," suara Adrian melunak sedikit, meski tatapannya masih tajam. "Siapa yang mengambilnya?"
"Saya," jawab Gia bangga. "Saya menghabiskan waktu dua jam di ruang rawat inap minggu lalu untuk mendapatkan momen itu, tanpa mengganggu jadwal medis satu menit pun."
Adrian menatap Gia lekat-lekat. Untuk pertama kalinya, ia melihat ada gairah yang tulus di balik ambisi wanita itu. Namun, ia tidak akan membiarkan dirinya terkesan semudah itu.
"Ini hanya satu foto," kata Adrian sambil mendorong tablet itu kembali ke arah Gia. "Masih banyak yang perlu diperbaiki. Misalnya, pilihan kata-kata di teks pendampingnya. Terlalu puitis. Kita adalah rumah sakit, bukan agensi iklan puisi."
Gia terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar sangat asing di ruangan yang biasanya hanya diisi oleh suara klik mouse tersebut. "Baik, Penasihat Utama. Mari kita ubah bahasanya agar lebih... 'medis' dan kaku sesuai selera Anda. Tapi, sebelum itu, silakan diminum kopinya sebelum dingin."
Adrian ragu sejenak, namun akhirnya ia meraih cangkir itu. Aromanya aroma kopi espresso yang kuat, menguar di ruangan itu, mengusir aroma antiseptik yang selama ini menjadi napas utama Adrian.
Saat Adrian menyesap kopi itu, Gia memperhatikannya dengan saksama. Adrian Baskara, sang CEO yang dingin itu, akhirnya menyesap kopi yang ia bawakan.
"Bagaimana?" tanya Gia pelan.
Adrian meletakkan cangkir itu kembali ke meja. Ia tidak memuji. Ia tidak tersenyum. Namun, ia tidak menyuruh Gia keluar.
"Kita punya waktu satu jam sebelum jadwal visit saya," ucap Adrian datar. "Buka draf konten kedua. Jangan buang waktu saya lagi."
Gia tersenyum lebar. Ia tahu, pertempuran kecil hari ini baru saja dimenangkan.
Satu jam berlalu dengan intensitas yang tak terduga. Ruangan yang tadinya hening kini dipenuhi dengan diskusi yang alot namun terstruktur. Adrian, yang awalnya berniat memberikan instruksi kaku, ternyata terjebak dalam debat panjang mengenai etika representasi pasien.
"Tunggu, bagian ini salah," Adrian menunjuk layar tablet Gia. "Menggunakan istilah 'keajaiban' untuk prosedur medis bisa menyesatkan. Kita harus menggunakan istilah 'prosedur yang presisi dengan tingkat keberhasilan tinggi'. Jangan membuat publik punya ekspektasi irasional."
Gia mengangguk, jarinya lincah mengetik perubahan di tabletnya. "Saya mengerti, Dok. Anda benar. Tapi kalau kita terlalu teknis, pesannya tidak akan sampai ke masyarakat awam. Bagaimana kalau kita gabungkan? 'Prosedur dengan presisi tinggi yang memberikan kesempatan kedua bagi pasien.' Apakah itu cukup objektif untuk standar Anda?"
Adrian terdiam sejenak, membaca kalimat itu berulang kali. "Itu... bisa diterima."
Gia tersenyum kecil. Ia mulai menyadari pola pria di depannya. Adrian bukan benci pada kreativitas, ia hanya benci pada ketidaktelitian. Begitu Gia menyesuaikan pendekatannya dengan logika klinis Adrian, tembok pertahanan pria itu mulai retak.
Tiba-tiba, ponsel di atas meja Adrian bergetar hebat. Sebuah panggilan darurat dari ruang ICU.
Adrian segera mengangkatnya. Wajahnya yang tadi tegang karena perdebatan konten, seketika berubah menjadi wajah seorang dokter yang siap beraksi. "Saya segera ke sana. Siapkan protokol stabilisasi," ucapnya singkat sebelum menutup telepon.
Ia berdiri dengan cepat, menyambar jas putih yang tersampir di sandaran kursinya. Tanpa sadar, ia menatap Gia yang masih duduk dengan tablet di pangkuannya.
"Rapat selesai," ujar Adrian sambil berjalan menuju pintu.
Gia sigap berdiri, memasukkan tabletnya ke dalam tas. "Saya ikut, Dok."
Adrian berhenti di ambang pintu, menoleh dengan dahi berkerut. "Anda tidak perlu ikut. Itu area steril."
"Saya perlu melihat kenyataan di lapangan kalau ingin membuat konten yang jujur, bukan cuma berdasar asumsi di atas meja," balas Gia cepat, langkahnya sudah menyamai langkah panjang Adrian. "Saya janji tidak akan mengganggu, tidak akan memegang kamera, dan akan tetap berada di titik yang tidak menghalangi kerja medis. Saya hanya ingin... melihat bagaimana Anda bekerja saat nyawa dipertaruhkan."
Adrian menatap Gia tajam, berusaha mencari alasan untuk melarangnya. Namun, ada sesuatu dalam sorot mata Gia yang membuatnya ragu untuk menolak. Gia tidak terlihat seperti seorang influencer yang sedang mencari sensasi; ia tampak seperti seseorang yang benar-benar ingin memahami 'jantung' dari tempat yang ia kelola.
"Jangan pernah menghalangi jalan saya," desis Adrian sebagai peringatan terakhir. "Jika Anda mengganggu prosedur satu milimeter saja, Anda saya keluarkan dari rumah sakit ini hari ini juga."
Gia mengangguk mantap. "Dimengerti, Dok."
Mereka pun berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit yang kini tampak lebih sibuk dibandingkan pagi tadi. Gia tertinggal beberapa langkah di belakang, memperhatikan bagaimana setiap orang yang berpapasan dengan Adrian langsung menepi, memberi hormat, atau memberikan ruang dengan tatapan segan.
Adrian Baskara benar-benar pusat gravitasi di tempat ini. Saat mereka tiba di pintu kaca ICU, Adrian menoleh ke arah Gia. "Tetap di sudut sana. Jangan bersuara."
Gia mengangguk dan segera menepi ke dekat mesin monitor yang tidak terpakai, menjaga jarak agar tidak mengganggu tim medis yang mulai bekerja dengan ritme yang sangat cepat. Ia melihat Adrian berubah total. Pria kaku yang tadi berdebat soal istilah iklan, kini bertransformasi menjadi sosok yang begitu tenang di tengah badai kepanikan. Tangan Adrian bergerak dengan ketepatan yang luar biasa, suaranya memberikan komando dengan nada yang stabil, bahkan saat suasana di ruangan itu mencapai titik puncak ketegangan.
Gia terpaku. Ia tidak merekam, tidak memotret, bahkan lupa akan niatnya untuk membuat konten. Ia hanya berdiri di sana, menyaksikan dedikasi nyata yang selama ini hanya ia baca di dokumen proposal.
Di tengah kesibukan itu, Adrian sempat melirik ke sudut ruangan. Ia melihat Gia di sana, berdiri diam, menahan napas, dengan tatapan yang penuh kekaguman yang jujur.
Untuk sepersekian detik, pandangan mereka bertemu. Adrian merasa ada sesuatu yang aneh. Kehadiran Gia di sana, sebagai saksi bisu pekerjaannya, ternyata tidak membuatnya merasa terganggu. Sebaliknya, entah mengapa, Adrian merasa ingin bekerja lebih baik lagi.
Satu jam kemudian. Suasana di ruang tunggu ICU mulai melandai. Pasien berhasil distabilkan, dan Adrian baru saja keluar dari ruang perawatan dengan masker yang sudah dilepas, menampakkan wajah yang terlihat lelah namun lega.
Ia menemukan Gia masih berdiri di sudut yang sama, tepat seperti yang ia instruksikan tadi. Wanita itu tampak sedikit pucat, mungkin karena baru pertama kali melihat prosedur darurat dari jarak sedekat itu.
Adrian berjalan menghampirinya. "Anda masih di sini?"
Gia mengerjap, lalu tersenyum tipis. "Masih. Saya hanya tidak ingin keluar sebelum Anda selesai."
Adrian terdiam sejenak. Ia melihat ke arah ruang ICU, lalu kembali menatap Gia. "Tadi itu... bukan tontonan untuk konten, kan?"
"Sama sekali bukan," jawab Gia jujur. "Tadi itu... sesuatu yang lain." Ia terdiam sebentar, mencari kata yang tepat. "Tadi saya melihat kenapa Anda begitu protektif dengan rumah sakit ini, Dok. Ternyata ini bukan cuma soal sistem atau efisiensi bagi Anda. Ini soal hidup dan mati."
Adrian tidak menyangka akan mendengar kalimat itu. Ia tidak menjawab, hanya mengalihkan pandangannya ke arah lantai marmer yang bersih. "Itu pekerjaan saya. Tidak ada yang spesial."
"Bagi Anda mungkin tidak," sela Gia. "Tapi bagi orang yang baru saja Anda selamatkan di dalam sana, itu adalah segalanya."
Adrian merasakan keheningan yang nyaman menyelimuti mereka. Ini adalah pertama kalinya mereka berbicara tanpa ada debat soal konten atau strategi. Suasana di koridor itu terasa berbeda, jauh lebih manusiawi.
"Kopi tadi," ujar Adrian tiba-tiba, suaranya lebih rendah dari biasanya. "Rasanya... tidak buruk."
Gia menoleh dengan mata berbinar. "Oh, ya? Akhirnya, sang kritikus kopi memberikan penilaiannya."
"Hanya 'tidak buruk'," tegas Adrian, meskipun sudut bibirnya sedikit berkedut. "Jangan besar kepala."
Gia tertawa kecil. "Baik, Dok. Saya akan mencatatnya sebagai 'tidak buruk'. Besok saya akan bawakan yang jauh lebih baik agar nilainya naik menjadi 'lumayan'."
Adrian mendengus, namun ada sorot mata yang berbeda. Ia menatap Gia, seolah baru pertama kali benar-benar melihat wanita itu tanpa prasangka. "Anda harus pulang sekarang. Anda terlihat pucat. Saya tidak ingin divisi humas menuntut rumah sakit karena staf mereka pingsan di koridor."
"Perhatian sekali," goda Gia dengan nada bercanda.
"Itu instruksi CEO," balas Adrian cepat, kembali ke balik topeng profesionalismenya. Ia memutar tubuh dan mulai berjalan pergi, namun sebelum benar-benar menjauh, ia berhenti. "Gia."
Gia menoleh. "Ya, Dok?"
"Jangan hapus ingatan tentang apa yang Anda lihat di dalam tadi," kata Adrian tanpa menoleh. "Jadikan itu dasar untuk draf konten Anda berikutnya. Saya rasa... itu akan lebih efektif daripada sekadar foto-foto estetis."
Adrian pun berlalu, meninggalkan Gia yang berdiri mematung di koridor dengan senyum lebar yang tak bisa ia sembunyikan. Pria itu tidak hanya memberi izin; dia baru saja memberikan kunci untuk masuk lebih dalam ke dalam dunia pribadinya.