Suara mesin mobil Alvin makin mengecil di kejauhan. Raisa masih berdiri di depan pagar rumah, map sketsa menempel di dadanya. Sore tadi berjalan lancar. Presentasi proyek green café di hadapan klien berhasil tanpa kendala, tapi justru ketenangan itulah yang membuat hatinya tak tenang.
Ia masuk rumah dengan langkah ringan. Aroma masakan menyambut dari arah dapur. Di meja makan, Mama dan Tasya tengah menata piring.
“Raisa udah pulang?” sapa Citra sambil tersenyum.
“Baru aja, Ma,” sahut Raisa, meletakkan tas di sofa. “Presentasinya tadi nggak lama.”
Tasya melirik kakaknya sambil nyengir. “Kak Raisa pulang bareng Alvin, ya?”
Raisa menarik napas malas. “Iya.”
“Dia kayaknya sering banget ya sekarang nganter jemput,” celetuk Tasya, menggoda.
“Tasya,” tegur Citra halus. “Jangan mulai.”
Raisa menahan tawa. Tapi dalam hatinya, ada sesuatu yang mengganjal. Ia sendiri tidak mengerti kenapa keberadaan Alvin yang dulu pernah terasa asing, kini malah terasa seperti... bagian dari dirinya yang hilang. Atau mungkin, masih tertinggal.
“Dia baik, Ma,” ucap Raisa sambil membuka map sketsa. “Bawain roti sama air mineral tadi.”
Citra menoleh cepat. “Dia perhatian, ya?”
Raisa hanya mengangguk kecil. Tak ingin memperpanjang pembicaraan itu. Sebab kalau terlalu dalam, ia takut kehilangan arah. Ia takut hatinya mengingat sesuatu yang seharusnya tetap terkunci. Keesokan paginya, Raisa tiba lebih awal di kantor. Ia berjalan menyusuri koridor menuju ruang kerja desain. Beberapa staf sudah mulai berdatangan. Di ruangannya, Alvin sudah duduk lebih dulu, menatap layar dengan ekspresi khasnya serius dan datar.
“Pagi,” sapa Raisa sambil duduk di meja seberangnya.
“Hm,” sahut Alvin tanpa menoleh. “Ada revisi dari klien. Aku udah tandai di halaman dua dan lima.”
Raisa membuka berkas. “Cepat banget. Padahal baru semalam.”
“Kerjaan nggak nunggu pagi,” jawab Alvin ringan.
Mereka tenggelam dalam pekerjaan. Sesekali Alvin mengoreksi, memberi masukan seperlunya. Tak ada obrolan yang keluar dari konteks kerja, tapi keheningan di antara mereka terasa... akrab.
Menjelang siang, Dean datang membawa dua map.
“Ini dokumen kerja sama lanjutan dari pihak kampus,” lapor Dean.
“Taruh aja di sini,” sahut Alvin. Dean menurut, lalu menatap Raisa sekilas sebelum keluar ruangan.
Raisa merapikan file-nya. “Dean kelihatan aneh.”
“Dia terlalu banyak mikir,” jawab Alvin singkat. “Fokus aja sama desain. Dua hari lagi harus final.”
Raisa mengangguk, tapi sempat melirik Alvin sejenak. Pria itu memang tak banyak bicara, apalagi tentang hal personal. Tapi justru itu yang membuat Raisa sulit membaca isi pikirannya. Alvin seperti lemari terkunci, datar di luar, penuh sesuatu di dalam.
Di rumah sepulang kerja, Raisa menyempatkan diri membuka laptop. Ia memeriksa ulang sketsa yang telah diperbaiki. Namun pikirannya tak sepenuhnya fokus. Ia membuka pesan dari Alesha.
Alesha: Kamu makin sering bareng Alvin, ya?
Raisa: Iya, kerjaan kampus.
Alesha: Hati-hati, ya. Jangan sampai perasaanmu bingung sendiri.
Raisa menatap layar cukup lama. Perasaannya memang sedang tidak jelas. Ada bagian dari dirinya yang masih kosong, tapi mengapa kehadiran Alvin seperti perlahan mengisinya?
Ia menyandarkan kepala ke sofa. Matanya terpejam, tapi pikirannya berisik.
Sementara itu, Alvin masih berada di kantor. Ia duduk sendiri di ruangannya, menatap desain Raisa di layar monitor. Tangannya bergerak pelan, memberi highlight pada bagian yang perlu dikuatkan. Namun matanya tampak kosong, seolah sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar revisi desain.
Dean muncul di ambang pintu. “Pak, saya pulang duluan.”
Alvin hanya mengangguk. Setelah Dean pergi, ia mengembuskan napas berat.
Di layar, nama file desain itu tercetak jelas: green_café_Raisa.dwg
Ia menyentuh layar sejenak, lalu mematikannya.
Malam makin larut. Di kamarnya, Raisa masih belum tidur. Ia membolak-balik halaman sketsa, lalu menatap kosong ke arah jendela.
Entah sejak kapan, Alvin tidak lagi terasa seperti mantan. Ia bukan sekadar atasan. Bukan pula sekadar orang dari masa lalu. Ia seperti... pintu yang perlahan membuka menuju ruang kosong dalam ingatannya.
Tapi ruang itu masih gelap. Dan Raisa belum berani masuk.