Yeonchan mengalihkan perhatiannya sejenak dari layar laptop saat mendengar ponselnya berbunyi nyaring. Segera, tangannya meraih ponsel itu dan menerima panggilan tersebut. Tanpa perlu melihat identitas yang memanggilnya, Yeonchan sudah tahu siapa.
[Nona Yoon sudah pulang ke apartemennya dengan selamat, Tuan,] sahut suara di seberang telepon.
Kepala Yeonchan otomatis mengangguk meski tahu lawan bicaranya tak akan melihat pergerakan tubuhnya. Rasa lega segera mengaliri hati Yeonchan mendengar laporan yang diberikan Taejoon—salah satu body guard yang dimiliki Yeonchan—yang sengaja ia perintahkan untuk menjaga Soomin dari jarak jauh. Yeonchan meminta Taejoon mengawasi dan melindungi Soomin tanpa sepengetahuan gadis itu. Hanya ini jalan yang bisa Yeonchan lakukan selama Soomin yang masih menolak bertemu dengannya.
“Terima kasih atas laporanmu, Taejoon-a. Lalu, kegiatan apa saja yang hari ini Soomin-i lakukan?”
[Seharian ini, Nona Yoon berada di kantornya. Ia sempat keluar untuk makan siang bersama beberapa rekan kerjanya.]
“Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas laporanmu. Kau bisa beristirahat sebelum kembali mengawasi besok, Taejoon.”
[Ya, Tuan. Kalau begitu selamat malam.]
Sambungan telepon pun terputus. Yeonchan menghela napas lega setelah mendengar laporan dari Taejoon setiap malamnya. Ini sudah memasuki minggu ketiga sejak Hyunso pergi ke Munich dan menitipkan Soomin sebagai tanggung jawabnya. Dan selama tiga minggu ini pula, Yeonchan belum menemui perempuan itu.
Bukan, bukan karena Yeonchan belum siap bertemu Soomin ataupun sebaliknya. Tapi, pekerjaan Yeonchan sebagai seorang CEO yang kini memiliki banyak anak perusahaan membuat pria itu terpaksa harus berpuas diri dengan laporan Taejoon setiap malamnya tentang Soomin. Seandainya saja pekerjaan ini tak menuntut dirinya, tentu Yeonchan sudah pergi dan menjaga Soomin secara langsung. Yeonchan tak bisa seegois itu ditengah banyaknya pegawai yang bergantung pada baik buruknya kondisi semua perusahaannya.
Yeonchan melepas kacamatanya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya. Atensinya kemudian jatuh pada foto Soomin yang terdapat di meja kerjanya. Hanya memandangi sosok Soomin dalam foto, semudah itu senyuman terbit di roman tampannya. Rasa lelah Yeonchan pun menguap seiring memandangi senyuman Soomin.
“Ya Tuhan, aku sangat merindukannya,” gumam Yeonchan pada dirinya sendiri.
Ya, Yeonchan sangat merindukan Soomin. jika saja hubungan mereka tak memburuk, dapat dipastikan, Yeonchan akan pergi menemui Soomin dan memeluknya erat. Sayang, hubungannya belum juga membaik. Yeonchan masih tak siap membagi semua bebannya pada Soomin.
Pria bermarga Park itu hanya bisa mendesah sedih, jika mengingat upayanya menebus kesalahan pada Soomin malah menimbulkan masalah baru. Yeonchan berharap setidanya upayanya untuk menjaga Soomin kali ini tidak akan merusak kepercayaan Hyunso padanya. Apa pun, akan Yeonchan lakukan untuk menjaga Soomin, meskipun ia harus membayar mahal seorang body guard untuk mengawasi keseharian Soomin. Karena itu yang bisa Yeonchan lakukan saat ini, menjaga Soomin dari jauh, saat perempuan itu menolak kehadiran dirinya.
~FORGIVENESS~
Yoon Soomin tak bisa menyembunyikan rasa herannya. Lagi, sudah keempat kalinya ia menemukan sebuah kotak hadiah di dalam kotak surat apartemennya. Soomin membuka kotak tersebut. Begitu kotak tersebut di buka, ia mendapati selembar foto aneh yang tak bisa Soomin pahami apa maksudnya.
Merasa tak penting, Soomin hanya mendengus kesal dan meletakkan kotak berisi foto aneh itu ke kotak sampah yang berada di lantai tiga puluh satu gedung apartemen Green Seoul. Setelah selesai membuang kotak itu, Soomin kembali mendekati pintu apartemennya. Memasukkan kode keamanan dan bersiap masuk ke dalam.
Begitu pintu terbuka, suasana sunyi apartemennya membuat rasa kesepian yang selama ini Soomin rasakan, semakin menguat. Helaan napas panjang Soomin sedikit menggema di lorong pintu masuk apartemennya. Dengan lesu, Soomin segera melepas heels nya dan menggantinya dengan sendal rumah yang nyaman.
Seiring dengan langkahnya yang semakin memasuki apartemen, manik hazelnya menyapu ruang duduknya yang rapi. Lagi, rasa sepi itu semakin menyergap diri Soomin, membuat perempuan itu merasa sangat kosong tanpa kehadiran sepupunya, Hyunso juga Park Yeonchan.
Ketika atensi Soomin beralih dari ruang duduk untuk menuju dapur, perempuan itu terkejut menyadari kehadiran sosok lain di dapur. Mata Soomin terbelalak menyadari jika ia ternyata tak sendirian di apartemennya. Soomin mematung di tempat dan menatap waspada pada sosok tak di kenal tersebut.
“Anda siapa?”
Sosok itu tersenyum lebar dan melangkah mendekati Soomin. Sosok itu menyapukan pandangannya pada Soomin dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Seringainya semakin lebar menyadari tubuh Soomin yang menegang saat mengetahui kehadirannya.
“Aku kemari untuk bersenang-senang denganmu sejenak.”
Tepat setelah mengatakan itu, sosok itu menyergap dan menutup mata Soomin. Rasa panik segera menyerang Soomin karena detik selanjutnya, ia berteriak dan melawan sosok yang menyergapnya. Sayang, tenaga Soomin tak cukup kuat dibandingkan sosok pria tak di kenal yang hendak menyeretnya ke kamar. Tepat sebelum sosok tersebut menyeret Soomin ke kamar, jari lentik Soomin meraih ponselnya yang berada di saku dan menghubungi secara acak lewat panggilan darurat cepat.
Di tengah hazelnya yang tak dapat melihat apa pun, telinga Soomin mendengar sesuatu. Suara seperti bunyi decitan ban, kaca pecah, suara besi yang bertubrukan dengan sesuatu. Suara yang sengaja di putar oleh sosok yang kini tengah menikmati raut ketakutan Soomin.
“Aku ingin kita bersenang-senang sambil mendengarkan musik indah seperti ini.”
Di tengah rasa paniknya akan sesuatu yang akan dilakukan sosok tak di kenal itu, otak Soomin seakan membuka kotak pandoranya, untuk mengingat traumanya. Kedua tangannya dengan cepat menutupi telinganya dari suara-suara yang tak ingin di ingatnya lagi. Suara yang mengingatkannya pada hari di mana ia kehilangan semuanya. Kilasan bayangan kejadian itu berputar dengan cepat di kepala Soomin.
“TIDAK! TIDAK! TIDAAAAK!” jerit Soomin histeris sambil menangis.
~FORGIVENESS~
Park Yeonchan mengernyitkan dahi saat melihat identitas yang menelpon dirinya saat jam menunjukkan pukul delapan malam. Merasa heran dan tak menyangka dengan apa yang ia dapatkan, jari telunjuknya segera mengangkat panggilan tersebut.
Kening Yeonchan berkerut dalam saat ia tak mendapati suara apapun dari seberang sana. “ Soomin-a? Soomin-a, ada apa?”
Entah kenapa rasa panik mulai menyergap hati Yeonchan saat tak kunjung mendapat balasan dari Soomin. Hingga, Yeonchan merasa jantungnya seperti di tarik paksa saat mendengar suara jeritan Soomin dari seberang sana. Darah Yeonchan seolah membeku ketika mendengar suara lain setelah jeritan Soomin.
Yeonchan memutuskan sambungan dan mencoba menelpon kembali nomor Soomin. hingga suara nada tunggu berhenti, Soomin tak menjawab panggilan tersebut. Detik selanjutnya, Yeonchan berlari keluar dari ruang kerjanya.
Tak mempedulikan tatapan heran para pegawainya, Yeonchan bergegas menuju apartemen Soomin setelah sebelumnya memerintahkan sekretarisnya menyuruh seseorang menyiapkan mobilnya di depan gedung. Yeonchan menekan tombol lift tak sabar dan ia segera masuk begitu lift terbuka.
Begitu keluar lift, Yeonchan mulai menghubungi Taejoon. Satu-satunya orang yang keberadaannya begitu dekat dengan Soomin adalah Taejoon. Yeonchan menunggu panggilannya diangkat sambil mengeluarkan beragam sumpah serapah. Pria itu begitu panik dan takut terjadi sesuatu yang pada Soomin, terlebih telinga lebarnya tadi mendengar suara seseorang berada di dekat Soomin.
“Taejoon, dobrak pintu apartemen Yoon Soomin SEKARANG JUGA!”
Yeonchan segera memberi perintah begitu panggilannya terhubung dengan Taejoon. Tanpa mendengar balasan Taejoon di seberang sana, Yeonchan segera masuk ke dalam mobilnya, mengambil alih dari pegawai yang membawa mobilnya dari basement.
Tanpa ragu, Yeonchan segera menancap gas, meninggalkan halaman kantor. Yeonchan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Pria itu bahkan tak mengindahkan traffic light yang akan menghalangi dirinya. Rolex dipergelangan kirinya menunjukkan angka pukul delapan malam dan suasana jalanan Seoul jauh dari kata sepi. Meski jalanan padat, hal itu tak menghentikan Yeonchan untuk menginjak pedal gasnya semakin dalam.
Saat ini hanya satu yang berada dalam pikiran Yeonchan, Yoon Soomin. Nalurinya mengatakan telah terjadi sesuatu pada Soomin. Sambil berusaha fokus pada jalanan di depannya, Yeonchan berharap Taejoon bisa menghentikan segala hal buruk yang terjadi pada Soomin sebelum ia tiba di sana.
~FORGIVENESS~
Yeonchan tiba setengah jam kemudian di gedung apartemen Soomin. Selesai memarkirkan mobilnya, Yeonchan bergegas menuju apartemen Soomin. Begitu Yeonchan keluar dari lift, ia menemukan Taejoon sedang berbicara dengan beberapa petugas keamanan gedung apartemen. Sadar dengan kehadiran Yeonchan, Taejoon menghentikan percakapannya sejenak dan melangkah mendekati Yeonchan.
“Soomin, di mana Soomin?” tanya Yeonchan setelah Taejoon ada di depannya.
“Nona Yoon berada di dalam. Tuan, saya sudah mengurus seseorang yang mencoba....”
Belum sempat Taejoon memberikan keterangan pada Yeonchan, pria bertubuh tinggi itu segera melesat masuk ke dalam apartemen. Iris hitamnya segera mencari keberadaan Soomin. Yeonchan menemukan Soomin tengah duduk sambil menekuk lututnya di sudut kamarnya.
Yeonchan merasa dunianya hancur saat melihat keadaan Soomin. Tubuh Yeonchan seperti melayang melihat Soomin yang terlihat begitu rapuh, tak percaya dengan apa yang ia lihat. Tertatih, Yeonchan mendekati Soomin. Dalam hati Yeonchan berharap perempuannya itu dalam keadaan baik-baik saja. Melihat Soomin tak kunjung menyadari kehadirannya, Yeonchan memanggilnya begitu lembut.
“Soomin-a....”
Kepala Soomin terangkat saat mendengar seseorang memanggilnya. Hazel itu memicing berusaha mengenali sosok yang ada di depannya. Tubuh Soomin secara refleks bergerak mundur menjauhi Yeonchan. Ekspresi ketakutan begitu jelas menghiasi roman Soomin. Yeonchan benar-benar sakit melihat Soomin yang bergerak menjauhi dirinya. Soomin seakan tak mengenali dirinya.
“Sayang, ini aku, Yeonchan.”
Yeonchan kembali bergerak mendekati Soomin. Hatinya remuk melihat sorot ketakutan yang ada di hazel milik Soomin. kedua manik itu seolah kehilangan cahayanya, begitu hampa, kosong dan juga penuh ketakutan. Yeonchan berusaha menahan airmatanya melihat Soomin yang begitu terguncang.
“Sayang, ini aku Yeonchan. Kau dapat mengenaliku, ’kan?” tanya Yeonchan sambil memegangi kedua bahu Soomin dengan lembut.
“Y-Yeonchan? Park Yeonchan?” lirih Soomin.
“ Iya, sayang. Ini aku Park Yeonchan.”
“Yeonchan? Kau Park Yeonchan?” ulang Soomin.
Yeonchan menganggukkan kepalanya. Seulas senyum Yeonchan perlihatkan pada Soomin agar perempuan itu mempercayai dirinya adalah Park Yeonchan. “Iya sayang. Ini aku, Park Yeonchan. Kau baik-baik saja ‘kan?”
Detik selanjutnya Soomin kembali menangis kencang. Hal itu membuat Yeonchan hancur lebur seiring airmata yang membasahi pipi pucat Soomin. Soominnya kembali terluka. Tanpa bisa di cegah, Yeonchan membawa Soomin ke dalam pelukannya. Yeonchan memeluk erat tubuh rapuh Soomin, tak peduli jika kemeja mahalnya akan basah.
“Aku membunuh ibu dan putriku sendiri. Aku membunuh mereka. Aku jahat, aku pembunuh.”
Seperti ada pisau yang menusuk jantung Yeonchan saat mendengar ucapan Soomin yang begitu pilu. Yeonchan semakin erat memeluk Soomin, dan airmata pun menetes dari sudut mata Yeonchan mendengar gumaman Soomin yang menyalahkan dirinya sendiri.
Ya Tuhan, siapa yang begitu tega mengingatkan Soomin tentang kejadian itu? batin Yeonchan sambil berusaha meredam isak tangisnya.
“Aku sangat jahat, Yeonchan-a. Aku membunuh mereka yang tak bersalah. Aku....”
“Tidak sayang. Kau tak membunuh siapa pun. Itu kecelakaan dan bukan kesalahanmu.”
Di dalam pelukan Yeonchan, Soomin terus menyalahkan dirinya. Tubuh Soomin bergetar karena rasa sedih dan ketakutan yang dirasakannya. Bahkan Soomin menjerit histeris saat ingatan itu kembali muncul di kepalanya, membuat Yeonchan benar-benar sakit melihat penderitaan Soomin.
Soominnya yang bersinar kini terlihat begitu rapuh, hancur, dan tak berdaya. Soominnya kembali terguncang hanya karena mengingat kejadian menyakitkan itu. airmata Yeonchan terus menetes karena hatinya yang begitu pedih melihat kondisi Soomin.
Di dalam hati, Yeonchan bersumpah akan mencari tahu motif di balik kejadian ini. Sambil tak melepaskan pelukannya dan mendengarkan Soomin yang terus menyalahkan diri, Yeonchan mengeratkan tangannya akan menghancurkan orang yang sudah berani membuat Soominnya yang begitu berharga kembali terluka.
~FORGIVENESS~