Mata Soomin terbelalak tak bisa mempercayai apa yang baru saja ia dengar. Tubuh perempuan itu mendadak kaku juga otaknya seolah kehilangan kemampuan mengolah informasi dengan cepat, setelah mendengar perintah yang diberikan atasannya beberapa saat yang lalu.
“Direktur Byun, bisa Anda ulangi ucapan Anda?”
Soomin tak bisa menahan dirinya untuk tak meminta Direktur Byun mengulangi perintahnya. Semua itu Soomin lakukan untuk memastikan bahwa telinganya masih berfungsi dengan baik.
Byun Baekki menatap aneh salah satu tangan kanan terbaiknya—Yoon Soomin—yang entah kenapa terlihat begitu terkejut dengan perintah yang ia berikan. Tidak biasanya Soomin memintanya mengulangi perintah yang ia katakan. Meski merasa sedikit aneh, Baekki akhirnya hanya menghela napas dan mengulang perintahnya.
“Aku menugaskanmu menjadi pengawas proyek kerjasama, menggantikanku yang seharusnya menjadi pengawas utama dari kerjasama antara Byun Media Group dan Park Land Corp.”
Soomin merasa resah mendengar perintah yang diberikan Direktur Byun padanya. Firasat hatinya yang sejak pagi tadi membuatnya gelisah ternyata terbukti. Harapannya untuk tak bertemu Park Yeonchan pupus sudah seiring dengan perintah mutlak yang diberikan Baekki hari ini.
Soomin menggigit bibirnya untuk mengurangi perasaan tak enak yang terus muncul memenuhi hatinya. Soomin mengangkat wajah dan memberanikan diri menatap langsung wajah atasannya.
“Direktur Byun, tidakkah seharusnya Anda sendiri yang mengawasi proyek kerjasama ini? Mohon maaf, saya tidak bermaksud membantah Anda, tapi hanya memberikan saran agar kelangsungan proyek kerjasama ini berhasil, mengingat dana yang dikucurkan perusahaan Anda dan perusahaan Park tidak sedikit. Saya yakin Anda berdua—”
“Kau tak sepenuhnya mengambil alih tugasku, Soomin-ssi. Kau hanya menggantikan tugas mengawasi kegiatan di lapangan lalu melaporkannya padaku,” potong Baekki dengan tenang.
Pria yang baru menjadi seorang ayah itu menatap Soomin penuh permohonan. Berharap asistennya mau mengambil alih tugas dilapangan mengingat dirinya yang masih tak tenang jika harus meninggalkan istrinya—Kim Hyora—yang baru saja melahirkan putri pertama mereka beberapa minggu yang lalu. Baekki dan Hyora jelas membutuhkan penyesuaian mengingat jam tidur mereka yang akan selalu terganggu oleh malaikat kecil mereka.
Tapi, Soomin tak semudah itu menerima perintah yang diberikan Baekki. Terlebih setelah Soomin tahu siapa penanggung jawab proyek kerjasama dari pihak Park Land Corp. Ya, penanggung jawab proyek kerjasama ini adalah direktur dari masing-masing perusahaan. Hal ini mengindikasi bahwa penanggung jawab dari Park Land Corp adalah Park Yeonchan. Soomin tak mau repot-repot mencari kesempatan agar terus bertemu dengan pria dari masa lalunya tersebut.
“Tapi, Direktur Byun, saya rasa perintah Anda sedikit berlebihan. Bagaimana mungkin Anda menyerahkan tugas yang begitu penting se—”
Ucapan Soomin terpotong karena Baekki mengangkat sebelah tangannya karena ponselnya berdering. Segera saja, Baekki menerima telepon masuk tersebut. Sementara itu, Soomin hanya bisa menelan kembali kata-kata yang hendak ia katakan. Soomin jelas harus menunggu hingga atasannya selesai berbicara di telepon.
Butuh waktu beberapa menit hingga Baekki memutuskan sambungan telepon. Baekki kini memasang senyuman penuh pengertian pada Soomin, berharap asistennya mengerti posisinya sebagai seorang ayah siaga untuk istri dan putri pertamanya.
“Jadi, kuanggap pembicaraan hari ini kita sudah deal,ya? Kau akan menggantikan tugasku mengawasi proyek ini,” putus Baekki yang kini beranjak dari duduknya dan mengambil jasnya yang tersampir di kursi kerjanya, “sekarang, kau bisa kembali ke ruanganmu. Aku ada urusan mendadak, Hyora membutuhkanku.”
Belum sempat Soomin memberikan tanggapan atas keputusan sepihak yang dibuat Baekki, Soomin tercengang melihat Baekki melenggang pergi begitu saja seraya mengacungkan jempolnya pada Soomin. Membuat Soomin tak memiliki kesempatan menyuarakan penolakannya.
Menyadari dirinya tak bisa berdiam diri lebih lama di ruang kerja atasannya, Soomin menghela napas berat. Sepertinya tidak ada jalan lain bagi Soomin untuk menghindari Yeonchan. Soomin beranjak dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan Direktur Byun, bersiap kembali ke ruangannya dan mengerjakan pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini.
~FORGIVENESS~
Yeonchan tak bisa menahan senyuman di wajahnya saat manik hitamnya menangkap kehadiran Soomin di kafe yang telah disepakati sebagai tempat pertemuan. Yeonchan tak menyangka, kesibukan Baekki sebagai seorang ayah memberikan dampak positif bagi Yeonchan. Setelah diberitahu Baekki bahwa pertemuan hari ini, ia kembali diwakili orang kepercayaannya yaitu Yoon Soomin, Yeonchan tak bisa menampik rasa bahagia yang membuncah di hatinya.
Tak ingin suasana pertemuan terkesan kaku seperti sebelumnya, Yeonchan memilih kafe vintage yang berada di daerah Myeong-dong. Pria tampan itu memilih sebuah meja yang berada di dekat jendela agar Soomin merasa santai berada di dekatnya dalam waktu yang lama.
Yeonchan sadar, saat pertemuan pertama kemarin, Soomin merasa kurang nyaman berada di ruangan tertutup berdua dengannya. Itu sebabnya, Yeonchan memilih pertemuan mereka di kafe, agar ia bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan Soomin, perempuan yang selalu ia rindukan kehadirannya.
Sementara itu, Yoon Soomin berdiri mematung saat menangkap kehadiran Yeonchan di kafe Springtale. Bukan tanpa alasan Soomin diam sejenak sebelum melangkah masuk ke dalam kafe, Soomin berusaha menetralkan detak jantungnya yang selalu berdegup kencang saat menyadari kehadiran Park Yeonchan di sekitarnya. Soomin akui, eksistensi Yeonchan sejak dulu sampai sekarang tak pernah berubah. Aura Yeonchan selalu berhasil membuat Soomin terpesona.
Setelah dirasa jantungnya berdetak normal, Soomin mendorong pintu masuk kafe dan melangkah masuk ke dalam. Soomin tersenyum singkat pada pelayan yang menyambut kedatangannya dan melanjutkan langkahnya menuju meja tempat Park Yeonchan menanti kehadirannya.
“Maaf sudah membuat Anda menunggu lama, Direktur Park,” sapa Soomin begitu formal pada Yeonchan.
Untuk sesaat, Yeonchan terpana dengan penampilan Soomin. Ya Tuhan, Yoon Soomin terlihat semakin cantik dari pertemuan pertama beberapa minggu yang lalu. Mengenakan semi formal dress berwarna hitam yang membalut tubuhnya, penampilan Soomin sukses membuat tubuh Yeonchan gelisah dan panas dingin. Bahkan pria itu sempat menahan napasnya setelah melihat penampilan Soomin.
“Aku juga belum terlalu lama datang. Silakan duduk,” jawab Yeonchan dengan senyuman lebar.
Soomin mengangguk sebelum akhirnya duduk di kursi di depan Yeonchan. Usaha Soomin yang berusaha meredam degup jantungnya terasa sia-sia, karena jantungnya kembali berkhianat. Soomin mendesah kesal melihat penampilan Yeonchan yang begitu santai tetapi membuat pria itu terlihat semakin tampan. Soomin berusaha mempertahankan ekspresi dingin di wajahnya seolah tak terpengaruh dengan penampilan Yeonchan.
Untuk menutupi rasa gugupnya, Soomin segera mengeluarkan berkas untuk dibahas dalam pertemuan hari ini. Tindakan Soomin seolah menegaskan bahwa ia tak ingin berada terlalu lama di dekat Yeonchan. Soomin masih menyayangi jantungnya.
“Bagaimana jika kita langsung membahas proyek ini, Direktur Park?”
Menyadari Soomin yang kembali bersikap formal dan seolah tak ingin berlama-lama dengannya, Yeonchan pun mengalah. Sambil menghela napas pasrah, Yeonchan mempersilakan Soomin membahas proyek, meskipun di dalam hati Yeonchan tak akan membiarkan pertemuan hari ini berlangsung begitu cepat.
~FORGIVENESS~
“Wah, pertemuan kita berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan, ya?” gumam Yeonchan sambil melirik rolex yang melingkari pergelangan kirinya.
Senyuman kini menghiasi romannya karena berhasil menahan Soomin hingga waktu makan malam telah tiba. Mereka baru saja selesai memesan makanan dan minuman untuk makan malam mereka.
Soomin menanggapi ucapan Yeonchan dengan senyum terpaksa. Di dalam hati, Soomin kesal karena Yeonchan bersikap menyebalkan saat membahas proyek kerjasama. Terlalu banyak hal – hal yang mendadak kurang sesuai dengan keinginan Yeonchan, yang menyebabkan Soomin terpaksa mendiskusikannya kembali meskipun pada akhirnya tidak ada hal yang berubah dari rencana awal.
“Pertemuan bisa berlangsung lebih cepat jika saja tidak banyak hal yang Anda rasa tidak sesuai dari rencana awal, Direktur Park,” sindir Soomin yang seakan memasukkan berkas ke dalam map jauh lebih menarik untuk menghindari bersitatap dengan Yeonchan.
Yeonchan tertawa mendengar sindiran Soomin. Soomin-nya memang tak berubah, masih tetap bermulut pedas. Hal itu membuat Yeonchan semakin gemas. Yeonchan mengambil posisi nyaman dengan sebelah tangannya menopang wajah agar ia bisa merasa nyaman selama menatap intens Soomin yang terlihat kesal.
“Ayolah Soomin-a, tidak ada salahnya menghabiskan waktu sedikit lebih lama untuk berbasa-basi. Lagipula, Baekki tidak akan marah karena hal ini.”
Soomin mendengus. Soomin tahu, Tuan Baekki tidak akan marah jika pertemuan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Tanpa Yeonchan tahu, Soomin khawatir dengan jantungnya yang terus berdegup kencang selama pertemuan ini. Terlebih, saat berdiskusi tadi, beberapa kali tangannya bersentuhan secara tak sengaja dengan tangan kokoh milik Yeonchan, membuat tubuh Soomin panas dingin.
Tak berapa lama, seorang pelayan datang mengantarkan pesanan. Satu persatu, pesanan milik Yeonchan dan Soomin mulai terhidang di atas meja. Sebenarnya, Soomin tak sempat memilih makanan dan minuman yang ia inginkan karena Yeonchan sudah melakukan itu untuknya. Kini, Soomin terkejut saat melihat makanan yang dipesankan Yeonchan untuknya.
Pria itu masih mengingat makanan kesukaannya!
Rasa hangat perlahan mengaliri hati Soomin mengetahui Yeonchan masih mengingat hal kecil tentangnya. Tapi, otak Soomin dengan cepat memerintahkan agar Soomin tak lagi terjerat pada sikap manis yang diberikan seorang Park Yeonchan. Soomin menarik napas panjang untuk mengusir perasaan aneh yang mulai menjalari hatinya.
Untuk mengusir rasa aneh tersebut, Soomin segera mengambil pisau dan garpu sebagai alat makannya. Belum sempat kedua alat makan tersebut menyentuh makanannya, tangan kokoh Yeonchan terulur, meraih piring milik Soomin dan menukar piring mereka.
Soomin yang melihat tindakan tersebut mendongak menatap tak mengerti pada Yeonchan. Manik hazelnya menatap Yeonchan menuntut penjelasan.
“Kenapa kau menukar makananmu dengan milikku?”
Yeonchan tersenyum simpul mendengar pertanyaan Soomin. Dengan lembut, Yeonchan balas menatap Soomin. “Aku menukarnya supaya kau tak perlu repot lagi memotong daging steaknya,Soomin-a.”
Soomin kembali kehilangan kata-kata di depan Yeonchan. Dulu, Yeonchan memang cukup perhatian pada Soomin, tapi Yeonchan dalam ingatan Soomin tak pernah bersikap gentle seperti ini. Perhatian kecil itu membuat Soomin resah dan... aneh?
Berusaha mengusir perasaan resah yang kembali menyelimuti hatinya, Yoon Soomin memilih menyantap makanannya dalam diam. Meski jauh di dalam hatinya, Soomin berusaha bersikap biasa saja di bawah tatapan dan sikap lembut yang ditunjukkan Yeonchan selama pertemuan hari ini.
Ya Tuhan, selamatkan aku dari pesona pria ini!
~FORGIVENESS~