Hujan turun dengan sangat deras, aku berusaha sekuat tenaga memfokuskan pandanganku, sialnya aku melupakan kaca mataku di rumah.
Setelah beberapa saat mengemudi aku merasa tidak sanggup lagi jika terus dilanjutkan, hujannya semakin deras dan aku hampir tidak bisa melihat apapun. Kemudian aku melihat supermarket yang buka 24 jam dan memutuskan untuk singgah di tempat itu hingga hujannya sedikit mereda.
Terdengar konyol sekali, kau mengemudi tetapi kau masih berteduh sebentar hingga hujan sedikit reda.
Tring
Suara khas bel pintu yang menandakan seseorang baru saja melewati pintu tersebut mengiringi langkahku saat memasuki supermarket tersebut.
“selamat datang” ucap seseorang dari balik kasir.
Tanpa menoleh aku langsung masuk dan memilih satu mie instan serta beberapa cemilan lainnya kemudian aku pergi ke meja kasir untuk membayar dan pada saat itulah pertama kali mata kami bertemu.
Aku tertegun memandangnya untuk beberapa saat.
Matanya colat rambutnya berwarna hitam sedikit agak panjang, matanya bulat dan saat dia tersenyum ada lesung pipi muncul di pipi kirinya.
Dia terlihat sangat tampan tetapi imut?
“apa hanya ini saja?”
Aku terseret kembali ke kenyataan “iya ini saja”
“baiklah untuk pembayaran cash atau kartu?”
“aku akan pakai kartu saja”
“silahkan di tap disini” aku mentap kartuku kemudian dia menyerahkan kantung belanjaanku kemudian tersenyum kembali.
“hati-hati saat di jalan, di luar sedang hujan sangat deras” ucapnya ramah.
“terimakasih” aku balik tersenyum ke arahnya dan memperhatikan name tag yang ada di bajunya
Jake
Wajah itu sangat berbahaya bagi jantungku, aku tidak tau aku masih bisa bereaksi seperti ini. Aku yakin ini hanya sementara saja. Seperti biasa aku cepat melupakan hal-hal yang seperti ini.
Setelah hujannya sedikit mereda aku memutuskan untuk pulang.
***
Helaan nafasku terdengar berat saat aku berjalan di antara bangunan.
Dimana tadi aku memarkirkan mobilku?
Aku tidak percaya Alex mengajakku bertemu dimalam hari begini, kalau dipikir-pikir setiap harinya sejak seminggu yang lalu aku hanya keluar pada malam hari, aku sudah seperti hewan nocturnal.
Ketenangan langsung aku rasakan ketika aku menutup pintu mobil, aku menyandarkan punggungku dan memejamkan mataku, menyerap sisa-sisa energi yang kupunya.
Tiba-tiba saja aku teringat dengan pria yang ada di supermarket itu, tidak seperti biasanya, pria itu membuatku sedikit penasaran, aku rasa aku akan membeli sesuatu di sana sembari pulang, biarpun sebenarnya arah pulang dan supermarket itu berbeda.
Aku sudah beberapa kali pergi ke supermarket tersebut dengan alasan membeli kopi, pada titik ini aku bisa terkena serangan jantung mendadak. Beberapa kali juga aku duduk di depan supermarket itu sembari mengerjakan novelku.
Aku tidak melihat pria itu saat aku membayar di kasir, aku rasa ini bukan shiftnya, lagi pula ini sudah sekitar jam 11 malam. Hanya ada pria tua yang tersenyum ke arah sembari membereskan belanjaanku.
Aku yakin pria tua ini pemilik toko ini.
Karena tidak ada tanda-tanda pria tersebut di tempat ini, aku pun kembali mengendarai mobilku ke arah yang berlawanan dari arah menuju ke rumahku.
Entah apa yang aku pikirkan, hanya untuk berjaga-jaga.
Tanpa disangka aku melihat pria tersebut sedang berjalan di pinggir jalan dengan tas ransel di punggungnya. Dia berjalan sedikit terhuyung-huyung dan kepalanya menunduk kebawah yang membuatku bingung.
Apakah dia sakit?
Aku memelankan laju mobilku kemudian aku menurunkan kaca jendelanya ketika kami sudah sejajar.
“permisi, hei, apa kau baik-baik saja?”
Pria itu sedikit tersentak terkejut kemudian menolehkan kepalanya dengan lemah dan terlihat jelas dia berjuang untuk tersenyum dan mengangguk.
“aku baik-baik saja”
“kau yakin? Dimana kau tinggal? Aku bisa mengantarkanmu” dia tidak terlihat baik sama sekali dimataku.
“ah tidak, aku benar-benar baik-baik saja” pria ini sedikit membungkukkan badannya.
Dia sudah terlihat akan pingsan seperti dan masih bilang baik-baik saja?
Kau bercanda?
Aku berhenti tidak jauh di depannya kemudian keluar dari mobil dan berjalan ke arahnya.
“kau terlihat pucat sekali, ayolah aku bukan orang jahat, aku mengenali, kau adalah pria yang bekerja di supermarket X kan? Kita pernah bertemu sebelumnya”
Berusaha sangat keras untuk meyakinkannya dan selembut mungkin agar pria ini tidak lari ketakutan. Pria ini tidak menjawab apapun dan mulai memejamkan matanya sambil meringis.
Sial, jika dia tiba-tiba pingsan di sini siapa yang akan mengangkatnya?
Buru-buru aku meraih tangannya dan dengan pelan menuntunnya masuk ke dalam mobil, aku merebahkan sandarannya agar dia bisa duduk dengan lebih nyaman.
Setelah meletakkan ranselnya di kursi belakang aku masuk ke kursi pengemudi dan mulai menjalankan mobilku.
“rumah mu ada dimana?”
Butuh waktu beberapa lama baginya untuk akhirnya menjelaskan alamat rumahnya.
Saat kami tiba aku dengan susah payah memapahnya keluar dari mobil dan kami masih harus naik tangga untuk sampai ke unit tempat pria ini tinggal, rasanya punggungku hampir menyerah. Syukurlah kami berhasil sampai di depan unitnya.
“berapa kode sandinya?”
Dia mengucapkan kat sandinya sambil menutup mata, dia bahkan sudah tidak bisa membuka matanya.
Dengan setengah mati aku memapahnya hingga sampai di tempat tidurnya dan membaringkannya dengan perlahan.
Aku membantunya membuka sepatunya dan jacket yang dia kenakan. Ketika aku meraba keningnya aku merasa telapak tanganku terbakar.
Tanpa menanyakan apakah dia punya obat di rumahnya atau tidak, aku berlari ke bawah menuju ke mobil dan mengambil kotak p3k ku. Aku selalu menyimpan kotak p3k dan meletakkan di mana-mana.
Aku kembali ke sampingnya dengan obat dan segelas air di tanganku.
“aku membawakanmu obat, minumlah aku akan membantumu”
Dia menjawab dengan anggukan ringan kemudian aku membantunya untuk duduk dengan sangat pelan agar tidak memicu sakit kepalanya semakin parah.
Pelan-pelan aku memberikannya minum kemudian menyuapkannya dengan obat setelah itu aku kembali membaringkannya perlahan. Aku mengusap pelan keningnya yang penuh keringat.
aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja kan?
Atas dasar kemanusiaan aku pun menunggu di sampingnya, aku duduk di atas lantai sambil terus mengawasinya. Keningnya tampak berkerut – aku tau betul bagaiaman sakitnya itu.
Setelah sekitar 20 menit dia tampak mulai tenang, sudah tidak ada lagi kerutan di keningnya, pegangan erat pada selimut juga sudah mulai meregang, terlihat badannya sudah mulai rileks dan terdengar dengkuran halus dari mulutnya.
Syukurlah, aku rasa dia sudah membaik sedikit, pada saat itulah aku sedikit melihat-lihat ke sekitar. Pria ini tinggal sendirian lalu bagaimana jika tadi aku tidak menemukannya?
Aku memperbaiki selimutnya dan posisi tidurnya agar lebih nyaman.
Walaupun dia sudah terlihat tenang aku rasa aku akan menunggu sedikit lebih lama lagi, jika saja dia terbangun dan membutuhkan sesuatu.
Rasa kantuk mulai menghampiriku, aku berusaha keras untuk tetap terjaga sambil terus mengawasinya dari ujung ruangan. Tetapi kemudian rasa kantukku menang dan aku pun tertidur sambil duduk dengan kepala di sandarkan ke lemari di sebelahku duduk.