Hari ini sekolah berjalan seperti biasa, Heyla kembali menaiki bus untuk pergi sekolah dan bertemu dengan Ika digerbang sekolah. Dirinya langsung teringat orang tua Ika dan Ika yang tidak ada datang ke acara semalam. Entah mereka tidak diundang atau tidak sempat datang Heyla sama sekali tidak tahu.
Mengenai acara semalam Heyla rasa semua berjalan lancar, tidak ada hal mengganjal atau yang harus ia khawatirkan.
"Mana kacamata Lo?" Tanya Ika setelah mereka sampai di dalam kelas
"Kan udah rusak. Nanti gue mau beli lagi Lo lihat kan gue pake softlens"
Ika yang tadinya tak memperlihatkan mata Heyla mengamati sebentar dan bisa melihat memang ada softlens bening dengan warna hitam sebagai kombinasi hingga membuat iris mata Heyla terlihat sedikit lebih besar.
Sebenarnya softlens yang dipakai Heyla tidak memiliki obat seperti kacamata nya. Lagi-lagi ini hanya untuk mengelabuhi identitas dirinya sebagai pemilik mata minus.
"Hai Land!" Teriak Heyla melihat Aland masuk kedalam kelas, dari kondisi yang masih membawa tas sudah pasti Aland baru tiba.
"Tumben Lo lebih lama dari biasanya"
Aland yang jarang disapa pagi-pagi kebingungan harus merespon Heyla seperti apa. Heyla pun memang menyapa seperti itu untuk melihat reaksi Aland, jika dia mengenal Heyla semalam pasti tatapan Aland akan muncul penuh selidik. Tapi saat ia melihat Aland hanya mengangkat bahu nya dengan wajah yang bahkan kebingungan sendiri Heyla tertawa dan menyuruh Aland mengabaikan perkataannya tadi.
"Eh Lo ingat gak hari ini kita belajar apa?" Tanya Ika mencoba mengingat kan Heyla akan rutinitas nya.
"Jam pertama...... Fisika?!" Panik Heyla yang sadar sebentar lagi bel untuk apel akan berbunyi.
"Giliran siapa?" Ucap Ika lagi
"Heheh. Gue.... Gue cabut!"
Heyla beranjak dari kursinya dan berlari menuju kelas Zuke. Tujuannya adalah meminjam buku catatan Zuke sehingga jika mereka kena panggil untuk menjawab soal di buku mereka hanya menyalin buku Zuke. Meksi sebenarnya Heyla pandai fisika tetap saja lagi-lagi ini demi penyamaran.
"Zuke!" Teriak Heyla melihat kedalam kelas Zuke. Posisinya hanya kepalanya yang muncul dari pintu kelas sedangkan badannya masih dibalik dinding
"Eh Ela" ucap Zuke sambil memasang senyuman sumringah nya, entah kenapa dia sangat suka melihat Heyla yang bertingkah menggemaskan seperti sekarang. Hanya kepalanya yang kelihatan di pintu dengan wajah senyum dengan ekspresi meminta sesuatu. Bahkan sekelas Zuke ikut melihat Heyla sebentar. Hal ini sudah sering menjadi tontonan mereka sejak dulu.
Zuke mengambil bukunya dari meja kemudian mendekati Heyla yang berada di pintu.
"Ck, makin hari dia makin menyebalkan aja" ucap Sondia
"Lo gak usah heran. Bukan kita aja yang sadar betapa gatelnya anak itu" ucap Lily. Mereka sedang berada di meja guru untuk duduk diatas mejanya.
"Bisa-bisanya dia gak down setelah kejadian di toilet. Apa masih kurang?"
"Mungkin pesan yang kita maksud belum jelas kali"
"Kapan mereka lanjutin rencananya?"
"Gue dengar sih hari ini. Mereka udah bikin banyak rencana asal Lo tahu aja. Gue dengar tiap hari mereka bakalan jadiin Heyla target. Dan bukan target tambahan lagi tapi target utama"
"Serius?" Sondia benar-benar tak percaya rencananya akan semulus dan semudah ini
"Ngapain gue bohong hah? Saksiin aja. Gue penasaran kalo hari ini gimana".
Disaat yang bersamaan Heyla dan Zuke berbicara diluar. Mereka tidak terlihat dengan jelas jika dilihat dari meja murid. Tapi sangat jelas jika dari meja guru.
"Nih bukunya, gue rasa nanti contoh soalnya bakalan di latihan 3 bab 5" ucap Zuke memberikan bukunya
"Mantap. Gue suka gaya Lo. Kalo gini gue gak perlu berdiri dan nyapa Lo kalau lewat mau ke kamar mandi kan"
"Hahaha... Ada-ada aja Lo yah"
Heyla terkejut saat Zuke menyentuh kepalanya dan mengacak-acak rambutnya pelan. Belum lagi Zuke menunduk kan kepalanya hingga sejajar dengan wajah Heyla, ia tersenyum lebar menatap wajah Heyla sambil menyentuh kepalanya.
"Eem.m.....yaudah gue pergi dulu" gugup Heyla dan segera berjalan cepat kebelakang menuju kembali ke kelasnya. Zuke tertawa bahagia melihat Heyla yang malu diperlakukan seperti itu.
"Apaan sih Zuke megang kepala gue! Make senyum lagi! Gue gak bisa biarin orang ganteng gituin gue!" Protes Heyla sambil merapikan rambutnya
"Pertama kalo keterusan gue bisa baper. Kedua orang lain ngeliat bakalan mikir yang aneh aneh. Ketiga gak baik buat jantung. Sejak kapan Zuke pandai bersikap manis" batin Heyla sambil memasang wajah berfikir saat masuk kedalam kelas.
"Woi! Napa Lo?" Heran Ika
"Hah?.... Oh.. itu..."
Kringggg
Bel berbunyi dan otomatis mereka semua harus keluar kembali untuk menuju lapangan dan apel.
Setelah 15 menit apel pun selesai terlaksana dengan baik. Para siswa harus segera kembali ke kelasnya masing-masing seperti biasa.
"Heyla!"
Karena ada yang memanggil, Heyla menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia melihat Vivi yang tersenyum tipis padanya.
"Apa?"
"Aku mau ngomong sesuatu"
"Yah.... Tentu?"
Ika pergi terlebih dahulu untuk menuju kelas, dipinggir lapangan dan tepat sedikit lagi menuju koridor Vivi dan Heyla berbicara.
"Ehmm... oh iya. Lo mau gak tukaran kelompok belajar sama gue?"
"Tukeran? Emang kenapa sama kelompok belajar Lo? Lagian kelompok belajar gue gak ada enak-enak nya tahu gak"
"Oh... Gue kurang asik aja di kelompok gue"
"Ya ampun Vi.... Itu karena Lo diam Mulu. Mau dimana pun Lo berada kalo Lo diam aja yah bakalan hambar" ucap Heyla sambil tertawa kecil
Plakkkk
Trakkk
"Akhh!!" Teriak Vivi terkejut
Heyla terkejut dan terdiam sebentar, tangganya ia gerakkan untuk meraba kepalanya yang kejatuhan sesuatu, benda yang lumayan menyakitkan untuk dijatuhkan ke kepalanya.
"s**l" umpat Heyla dan langsung mendongak keatas
Splashhh
Tepat saat wajah Heyla mendongak keatas tepung yang banyak jatuh menyambar wajahnya.
"Ohokk... Uhukkkkkk"
Nafas Heyla kemasukan tepung bahkan Mulutnya bisa merasakan tepung itu. Vivi hanya menatap Heyla dan pergi dari sana karena orang yang berada di koridor berteriak agar semua yang berada dikelas untuk melihat kejadian ini.
"Ahahhaha" suara ratusan rawa terdengar dari gedung sekolah yang berbetuk persegi empat mengelilingi luasnya sekolah mereka membuat Heyla menjadi center point dengan wajahnya yang dipenuhi tepung.
Dalam keadaan seperti itu Heyla diam dan kembali melihat keatas, lantai gedung sekolah yang sampai empat tingkat itu tidak bisa memperlihatkan apakah pelakunya masih ada disana. Bagian teratas yang merupakan atap sekolah sering sepi dan hanya tempat tongkrongan. Sedangkan teras lain sudah dipenuhi kepala yang melihat nya dari atas.
Dengan diam Heyla mengamati wajah-wajah yang menertawakan dirinya atau yang hanya melihat dengan diam.
Aland yang mendengar seseorang berkata ada "adegan seru" awalnya tidak peduli.
"Itu Heyla kan?"
"Hhahaha itu dia, wajahnya putih semua ahahah"
Ika, Rico dan Rudy langsung saling tatap satu sama lain. Aland dengan refleks berlari menuju tangga untuk turun ke bawah.
Zuke yang berada dikelas berbeda pun terlambat menyadari itu Heyla, saat ia hendak menuju Heyla ia bertemu dengan Ika dan yang lain.
"Aland sudha disana, lebih baik kita mengejar pelaku nya siapa tahu masih ada waktu" ucap Rudy. Mereka semua langsung ngos-ngosan menaiki tangga dengan terburu-buru.
Guru-guru yang awalnya dikantor dan sedang bersiap-siap untuk mengajar keheranan mendengar riuh diluar dan segera keluar.
"Ela!" Panggil Aland
Mendengar namanya dipanggil untuk kedua kalinya hari ini Heyla yang awalnya menatap wajah para siswa yang menertawai nya dari lantai atas melirik kebelakang. Ekspresi nya sama sekali tidak terbaca. Lagi-lagi keadaannya berantakan dan lebih memalukan daripada kejadian kemaren.
"Ternyata bully seperti ini bisa dilakukan terang-terangan" ucap Heyla yang membuat nafas dari mulutnya mengeluarkan tepung. Karena wajahnya benar-benar dipenuhi bubuk putih itu.
Aland yang awalnya hanya berdiri tepat didepan Heyla langsung menarik tangan kanan Heyla, ia menarik Heyla untuk dekat padanya. Kepala Heyla ia buat untuk menunduk dan berlindung pada badan bagian depannya, agar siswa yang sejak tadi memfoto Heyla tidak bisa mengambil gambar Heyla lagi.
Dengan perlahan Aland membawa Heyla berjalan masuk kedalam gedung. Guru-guru yang tahu apa yang terjadi langsung membubarkan keramaian dan masuk kedalam kelas masing-masing agar siswa tidak ada yang berada diluar.
"Argh! Kita terlambat" geram Zuke saat mereka melihat lantai atas atap sekolah Sudah kosong. Hanya ada sebuah ember berisi air dengan plastik tepung yang besar.
"Mungkin air itu tidak sempat ditumpahkan karena mereka keburu kabur" ucap Rico
"Ini sudah kedua kalinya" ucap Ika
"Gimana ini Zuke?" Tanya Rudy
"Hei kalian!!"
Mereka semua langsung melihat bapak olahraga berada dipintu.
"Sedang apa kalian?" Bapak olahraga itu melirik ember dan bekas tepung didekat mereka
"Kalian semua.... Masuk ruangan saya"
Setelah mengatakan itu guru tersebut pergi meninggalkan mereka dengan tatapan mengancam. Bahkan mereka tidak sempat menjelaskan kejadian sebenarnya.
"Oke.... Sekarang kita tersangka" kesal Rico sambil menatap mereka semua.
"Lo g****k banget yah. Banyak saksi yang melihat kita di kelas saat kejadian nya. Kita ada alibi jelas apa yang harus kau takutkan hah?"
"Hei Zuke. Lo gak perlu kasar" lawan Rico tak terima
"Guys!" Teriak Ika
"Daripada kalian debat mending kita langsung ke ruang bapak untuk jelasin. Terus kita bisa nyusul Aland untuk lihat Heyla, okeh?"
Ika langsung meninggalkan mereka, Rico dan Zuke saling tatap kemudian mengikuti Ika begitu juga dengan Rudy.
Didalam ruangan UKS Heyla duduk disebuah kursi sambil meraba-raba rambut nya yang lengket. Aland datang membawa sebuah baskom dengan handuk kecil.
Heyla memperhatikan semua gerakan Aland mulai membasahi handuk itu dan memeras nya.
"Sini"
"Hah?"
"Muka Lo biar gue lap"
"Sayang handuknya, haccim!!!!!"
Heyla bersin dengan keras hingga tepung dibadannya berterbangan.
"Tuh kan, sini biar gue bersihin muka Lo diluan"
Aland mendekatkan kursinya pada Heyla, tangan kirinya memegang dagu Heyla dan tangan kanannya mulai menyapukan handuk basah yang memang banyak di ruang UKS untuk membersihkan wajah Heyla.
"Aww bentar"
"Kenapa?"
"Mata gue"
"Coba gue liat"
Aland membuka mata Heyla untuk melihat apa yang mengganjal disana.
"Lo pake softlens?"
"Iya"
"Mata Lo kemasukan tepung juga. Lepas aja softlens Lo"
Heyla yang memang pandai melepaskan softlens dengan mudah langsung mengeluarkan nya dari matanya.
"Hoi!!' teriak Aland
"Apasih? Kaget gue"
"Lo lepasnya main narik dari mata Lo aja. Kalo mata Lo keluar gimana?"
"Yah masukin balik"
Heyla melakukan nya lagi untuk mata kiri dan Aland merasa ngilu sendiri dibuatnya. Softlens yang sudah dilepas di masukkan kedalam ember air tempat Aland membasuh handuk tadi.
"Kok Lo buat disitu?"
"Besok kacamata gue udah siap lagian itu softlens udah lama banget jadi buang aja"
Aland mengangguk dan menarik dagu Heyla lagi untuk melanjutkan kegiatannya. Heyla menutup matanya agar Aland bisa membersihkan semua mukanya. Dengan teliti Aland membersihkan wajah Heyla, ia juga mengamati wajah Heyla dengan seksama karena baru kali ini dia melihat wajah Heyla yang bersih dan cantik itu dari dekat.
"Udah?" Tanya Heyla setelah merasakan handuk itu tak bergerak lagi di wajahnya
"Lo kok bisa diserang sih?" Heran Aland
Tok tok tok
Belum sempat Heyla menjawab seseorang mengetuk pintu dan masuk kedalam. Disana ada guru perempuan yang datang menghampiri mereka.
"Ehmm..... Heyla apa kau baik-baik saja?'
"Saya baik-baik saja buk"
"Tapi keadaan mu.... Ibu rasa tidak baik. Kau bisa pergi ke kamar mandi di kolam renang, ibu akan memberikan seragam sekolah cadangan untuk kamu pakai"
"Baik Bu" Heyla beranjak hendak mengikuti Bu guru yang keluar untuk menjemput baju. Tapi ia merasakan tangan Aland yang menahannya
"Gue ikut"
"Ikut apa? Ikut mandi?"
"Iya"
Peltakkk
"Awwwww! Sakit!" Ringis Aland karena Heyla langsung menjitak jidatnya
"Kotor banget otak Lo"
"Kotor dimana coba? Gue cuman mau jagain Lo doang daripada Lo dikerjain lagi disana" jelas Aland
"Tadi Lo bilang apa?"
"Gue bilang mau iku......" Aland sadar ia menggunakan kalimat yang salah dan langsung berdehem untuk menghilangkan malunya
"Gue ikut nunggu dari luar"
"Ini baru betul. Dasar mulut Lo kebiasaan banget pasti"
Karena tangan Aland masih bertengger Heyla menarik Aland agar segera beranjak untuk mengambil baju dari Bu guru.
Diruangan guru olahraga, Zuke, Ika, Rudy dan Rico duduk berjejer menghadapi bapak olahraga yang menemukan mereka dilantai atas.
"Bicara yang jujur. Kalian yang menyerang Heyla?"
"Bukan pak" jawab mereka serentak
"Lalu siapa? Dan kenapa kalian bisa di TKP?"
"Kami mau cari Heyla terus....yah kami mau nyari Heyla oak tapi juma sama Zuke ..... Aland udah lari ke bawah makanya kami keatas"
Mereka semua berbicara bersamaan untuk menjawab pertanyaan guru olahraga
"Satu orang!" Tegas bapak olahraga membuat mereka diam.
"Begini pak, kami sudah sampai kelas jadi pas semua siswa malah menonton Heyla dari teras kelas masing-masing saya mau turun kebawah buat bantuin Heyla. Ternyata Aland sudah kesana jadi kami semua yang mau nyusul kepikiran untuk kelantai atas siapa tahu pelaku nya masih disana. Ternyata udah pergi. Kalau bapak gak percaya banyak saksi kalau kami dikelas waktu kejadian"
"Jadi..... Apa kalian jujur? Bapak akan bertanya pada teman-teman kalian"
"Kami jujur pak"
"Yasudah kalian kembali ke kelas. Jangan ke tempat lain"
"Tapi pak"
"Apa lagi?"
"Bapak akan memproses kejadian ini kan?"
"Emang kenapa? Kamu takut ketahuan?"
"Bukan begitu pak Heyla itu teman kami. Kami tidak akan terima jika kejadian ini di biarkan"
-Jangan lupa beri komentar dan follow Author nya yah ❤️-
-Maaf atas banyaknya typo-