"ini satupun gak ada yang benar ya ampun" frustasi Aland sambil menggaruk kepala sendiri, antara merasa gagal menjadi guru atau memang muridnya yang ber otak bebal
"Yah.... Gimana dong?" Polos Heyla yang justru merasa senang sendiri mengerjai Aland
"Rial sama Saskia aja ada yang bener" ucap Malia, seketika rasa mood Heyla mengerjai Aland hancur seketika, perkataan Malia itu terlalu menjatuhkan seseorang dan terlihat sangat membanding bandingkan. Heyla benci hal itu meskipun sebenarnya ia paham. Bagaimana jika justru orang lain yang benar benar paham di posisinya?
"Yaudah sini gue kerjain lagi" ucap Heyla dengan nada bad mood
"Sini gue ajarin lagi" ucap Aland menarik kembali buku Heyla
"Muak gue"
"Eh main muak aja Lo, paham kagak muak iya. Ayo fokus"
Dengan sabar Aland membantu Heyla menjawab soal, jika Aland men tes Heyla dengan bertanya kelanjutan jawaban Heyla menjawab dengan benar agar Aland tidak menjelaskan dari awal lagi. Bukan Aland yang lelah tapi Heyla yang lelah mendengar penjelasan yang sudah ia ketahui berkali kali.
Setelah beberapa lama mereka semua belajar kelompok dan saling membantu mereka semua merasa kelelahan karena berfikir. Apalagi suara perut Rial yang tak sengaja terdengar berbunyi.
Kryuuukkkkkkk
Mereka berempat langsung melihat kearah Rial yang menahan malu.
"Lo lapar yah? Sama.... Jajan yuk" ajak Heyla
"Eh enak aja main cabut" protes Aland
"Waktunya kan udah mau habis bentar lagi, ya kan Lia?" Bela Heyla
"Iya sih. 10 menit lagi"
"Tuh... Bonus aja deh gue juga udah laper"
"Gimana kalo kita makan malam bareng kali ini? Ini udah jam berapa.... Udah bisa untuk makan malam" saran Saskia
Heyla melihat ke jam di ponselnya. Karena mereka yang lumayan terlambat jadi waktu mereka pun mengaret. Hari sudah mulai gelap dan jam segini sudah termasuk jam makan malam dirumahnya.
"Iya yah? Sekaligus refreshing kita" antusias Heyla
"Gue sih ada waktu" balas Rial yang sudah kelaparan
"Gue udah pasti ada" ucap Saskia
"Gue.... Sebenarnya ada kegiatan" keluh Malia
"Oh... Gak papa kok. Memang murid pintar itu sibuk, Lo land?" Jawab Heyla dengan cepat, Malia terasa sedikit tersinggung karena Heyla tidak membujuk nya
"Gue free"
"Okeh.....jadi.... Lo ikut apa enggak nih? Kita semua bisa loh" ajak Heyla lagi pada Malia, karena tadi di skakmat oleh Heyla kini Malia membuang gengsinya jauh-jauh sebelum ia tidak ikut beneran
"Gue ikut, gue jarang keluar rumah"
"Good, sesekali Lo harus jadi bad girl, btw kita makan kemana?"
"Mmmm..... Keluarga gue punya toko ayam kentaki gitu, tapi itu menu utama masih ada menu lain kok. Kalo kita ke rumah gue kita bakalan makan di atas rumah gue aja. Di bawahnya kan toko kalo di atap lantai tiga itu lokasi gue sama sodara gue. Kita bisa disana deh bebas tanpa orang lain"
"Serius? Kita bisa masak mie gak?" Tanya Heyla
"Bisa, kita bisa bakar daging juga kok"
"Ehmmm! Cucok meong. Gue setuju.... Lo pada ?"
"Gue setuju" jawab Rial
"Gue setuju kemana aja" balas Malia
"Yaudah ayok" tegas Aland
Mereka semua langsung mengemasi barang-barang nya kedalam tas. Saat Heyla berdiri dia langsung menarik tangan Heyla dan merasa janggal tidak menarik Malia juga.
"Ayok Lia" panggil Heyla berusaha akrab
Malia, Saskia dan Heyla berjalan didepan sedangkan Aland dan Rial mengikuti di belakang. Mereka keluar dari gedung perpustakaan dan bingung hendak menaiki apa.
"Ehm.... Gue bawa mobil, kita bertiga di dalam mobil gue aja" ucap Malia
Para perempuan segera masuk kedalam mobil Malia yang tidak terparkir jauh. Aland dan Rial mengendarai Motornya masing-masing.
"Eh Saskia, emang gak papa kita main di atas? Maksudnya keluarga Lo gak keganggu gitu?"
"Enggak kok, rumah kami tinggal itu disebelah toko. Jadi tempat kita nanti itu lantai atas toko. Gak akan keganggu"
"Okeh.... Kalo gitu gue gak sungkan lagi loh ya"
"Hahah, iya La"
Mereka segera melesat dalam diam kembali, karena Heyla belum terlalu dekat dengan mereka jadi Heyla tidak bisa berkoar koar begitu saja seperti jika ia bersama Ika dan yang lain.
"Eh Malia, Gue dengar Lo mau masuk kedokteran yah? Ngambil Univ mana?" Usaha Heyla untuk berbaur pada Malia, mereka keseringan berdebat dikelas dan saling mencibir. Tapi Heyla sadar sebentar lagi ia akan lulus dan meninggalkan dunia samarannya. Otomatis Heyla ingin semua berjalan dan berakhir baik meski belakangan ini dia merasakan sisi lain di sekolah. Seperti dirinya yang kena bully atau perundungan.
"Gue rencana kuliah diluar negeri, tapi gue bakalan coba di Indonesia juga dan belum tahu mau ngambil di univ apa. Soalnya itu tergantung mama papa gue"
"Oh...."
"Emang Lo mau masuk apa La? Gue belum pernah dengar cita-cita Lo" ucap Saskia
"Gue? Hmmm.... Di umur gue yang udah segini gue masih bimbang masalah cita-cita. Hari ini gue mau jdi model tapi sadar tampang, terus gue mau jadi novelis masih insecure. Mau jadi guru sadar diri sendiri malas belajar. So... Gue bakalan nentuin H-1 saat pemilihan jurusan.
"Hahaha, Lo enak yah bisa santai mikirin cita-cita. Kalau gue sejak kecil udah diajari buat bercita-cita menjadi dokter. Dari keluarga gue belum ada yang jadi dokter dan mereka rasa gue cocok dalam hal ini" terang Malia yang merasa nyaman bercerita dengan Saskia dan Heyla
"Jadi.... Lo gak pernah punya cita-cita sendiri selama hidup Lo?" Heran Heyla
"Pernah, sering malahan. Tapi lagi-lagi gue selalu menjawab menjadi dokter jika ditanya oleh orang lain. Gue ngerasa menjadi dokter itu kewajiban bagi gue"
Heyla merasa Malia merasakan keterpaksaan dengan jalan hidupnya ketika mendengar Malia yang tidak bebas untuk mengutarakan cita-cita nya
"Emang cita-cita Lo apa sih? Maksud gue selain dokter yang Lo bilang pernah terlintas di benak Lo?"
"Ehmm.... Gue pingin jadi Guru"
"Hah? Serius?" Ucap saskia dan Heyla bersamaan
"Serius dong? Emang kenapa? Kok terkejut sih?"
"Eh Malia, dimana-mana orang yang pengen jadi dokter terpaksa jadi guru gara-gara nilai rendah dan biaya mahal. Giliran Lo udah cocok jadi dokter malah mau jadi guru. Terbalik deh..... Hahaha" bala Heyla
"Yah namanya juga impian.... Cuman sekedar pingin aja kok. Gue bakalan daftar jadi dokter. Eh ini g**g nya kan?"
"Iya" jawab Saskia
Mereka sudah sampai disebuah rumah makan yang menu utamanya adalah ayam kentaki, setelah mereka semua keluar Aland dan Rial juga sudah disana mengikuti mereka dari belakang sejak awal.
"Ayo masuk, ayah gue ada didalam sama mama"
"Ayah Lo di dalam? Aduh gue gak enakan" keluh Heyla
"Ayah gue itu masak ayam, gak masak orang"
Mereka masuk kedalam cafe dan ayah Saskia menyadari kedatangan anaknya.
"Saskia, kamu sudah pulang? Ini.....? Heran ayahnya melihat Saskia membawa rombongan
"Teman kelompok belajar di sekolah yah"
"Oo... Masuk nak"
Heyla menyalam tangan ayah Saskia kemudian ibunya yang sedang menjaga kasir
"Kalian mau duduk dimana?" Tanya ayahnya pada Saskia
"Kita mau dilantai atas aja, biar Kia aja yang ngangkat hidangannya, ayah disini aja"
Heyla segera menaiki tangga yang ada bersama yang lain. Setelah menaiki kelantai dua mereka melanjutkan satu kali lagi untuk sampai ke atap. Syukurnya cuaca memang sedang cerah.
"Wah.... Bisa-bisanya atap cafe Lo yang aesthetic ini gak di jadiin tempat pelanggan" ucap Rial saat sampai di atap cafe. Disana ada sebuah meja besar yang dijadikan tempat duduk sekaligus. Pinggiran atap semen nya juga dibatasi pagar semen. Lampu kelap-kelip kecil juga dipasang.
"Kalian mau pesan apa? Biar gue ambil kan" tanya Saskia
"Ehm.... Gue mau pesan sepaket ayam tentunya sebagai menu andalan. Terus mie ramen kuah pedas.... Dan Soda" ucap Heyla
"Lo... Bakalan habiskan itu semua sendiri?" Heran Aland yang mewakili keterkejutan Malia dan Rial sekaligus
"Iya, gue belum makan siang dan gue memang suka makan. Lo kira badan gembelesssss ini asalnya dari mana hah?"
"Haha, oke yang lain?" Lanjut Saskia
"Kita bakar daging aja, terus ayam. Gue rasa Lo sama keluarga Lo sering kan nongkrong begini? Buat aja seperti keluarga lo. Kali ini gue mau mentraktir" terang Aland
"Serius? Bagus dong gue hemat uang. Oh iya tapi pesanan gue tetap yah hehhee"
Saskia mengangguk dan segera masuk kembali untuk mengambil pesanan mereka.
"Emang dia bisa ngangkat semuanya?" Ucap Malia
"Biar gue bantu" susul Rial ke dalam
Tinggallah Aland, Heyla dan Malia di sana. Heyla meletakkan tas nya dan berjalan mendekati batas pagar.
"Wah..... Cantiknya. Aku harap punya atas seperti ini. Atap rumah ku itu genteng...... Ck" keluh Heyla
"Bukannya rumah mu lantai dua? Ada teras atas kan?" Ucap Aland
"Kurang tinggi untuk melihat lampu jalanan dan rumah lain. Lagian aku di perumahan gak di jalan besar begini"
Malia dan Aland sama-sama sudah duduk di meja kayu pendek yang luas itu, sedangkan Heyla masih asik menikmati kesenangan dirinya melihat lalu lalang kendaraan dan lampu perkotaan, dan juga gedung tinggi yang bersinar.
"Emmm..... Land?" Panggil Malia berusaha memulai perbincangan. Ia jarang dan bahkan nyaris rak pernah berbicara dengan Aland
"Lo bimbingan belajar dimana?" Malia sama sekali tidak tahu harus bertanya atau mengatakan apa agar bisa berbicara dengan Aland karena pikirannya langsung blank
"Gue privat, dirumah"
"Oh ya? Siapa gurunya? Lo lebih ahli dari gue. Kayaknya Lo bakalan jadi juara kelas atau mungkin juara umum deh"
"Kenapa? Lo takut gue lengserkan?"
"Eh bukan begitu... maksud gue."
"Becanda, gue gak terlalu ambis untuk sekolah, mengenai nilai gue bakal menang di Matematika, fisika dan kimia doang. Kalo pelajaran lain gue kurang tertarik jadi gak bakalan setinggi Lo nilai nya"
Malia tersenyum, namun Aland sudah mengalihkan perhatian nya ke arah Heyla yang masih ditempat nya sambil mendongakkan kepalanya ke atas. Aland juga refleks melihat ke langit seolah penasaran Heyla sedang melihat apa.
"Ternyata dia bisa diam juga, hhh" tawa kecil Aland yang baru kali ini bisa melihat Heyla diam dan sangat tenang.
"Makanan datang....." Ucap Saskia yang baru muncul
Mereka menyiapkan meja kecil tambahan untuk meja makan mereka dan tempat memasak daging, pemanggang portabel sudah tersedia beserta daging Sapi yang sudah dipotong kecil.
Tok tok tok
Suara pintu yang sudah mereka tutup mengalihkan perhatian mereka.
"Oh.... Ramen Lo sama ayam kita" ucap Saskia yang beranjak untuk membuka pintu
Salah satu pegawai ayahnya masuk dam mengantarkan ramen panas. Tiga paketan ayam kentaki. Minuman bersoda dan air mineral sudah terlebih dahulu dibawa oleh saksi dan Rial di awal.
"Nah.... Saatnya kita masak....." Ucap Heyla
"Btw Gue makan ramen dluan yah keburu kembang" ucap Heyla
Saskia memasak daging dibantu Malia untuk menambahkan sedikit bumbu, mereka duduk melingkar dimana Saskia berada di tengah antara Heyla dan Malia, Aland didekat Malia dan Heyla di dekat Rial.
Mereka semua saling bercerita sambil memakan Ayam yang memang sudah siap sejak dibawa menunggu daging yang sedang mereka masak. Sedangkan Heyla satu-satunya yang sambil asik memakan mie ramen pedas disana.
"Ya ampun Ela, bisa-bisanya Lo udah habisin 2 paha ayam sama semangkok ramen, kuah nya aja licin Lo buat" ucap Rial yang berdekatan dengan Heyla jadi tahu apa saja yang sudah masuk ke dalam perut perempuan itu.
"Ih yang penting bahagia"
Aland tertawa mendengar perkataan Heyla, perempuan itu sama sekali tidak jaim ketika makan bahkan ia menghisap jari-jarinya yang dipenuhi saos ayam yang ia makan.
"Nih udah masak" ucap Saskia memberikan sepiring daging, mereka semua mengambil sumpit dan mengambil daging yang sudah masak itu.
"Enak, memang Lo udah ahli yah" puji Heyla
"Sejak kapan Lo gak suka makanan hah? Semua enak di mata Lo" ucap Aland
"Baru aja gue mau ngomong itu, hahaha" lanjut Rial
"Kalian berdua.... Kalo nge hujat gue nyambung nya 4G yah" kesal Heyla sambil mengunyah.
Malam itu kelompok mereka menjadi lebih dekat dari biasanya. Terutama Heyla, Saskia dan Malia. Saskia merupakan orang yang minderan itu sebabnya ia susah dekat dengan Malia karena merasa perbedaan kasta sosial. Kemudian minder pada Heyla yang mudah akrab dengan semua orang. Rial yang memang suka cuek namun perhatian di dalam. Juga Aland yang bisa merasakan pertemanan di dunia luar. Selama ini ia dan Zuke berteman hanya sebatas main ke tempat terkenal, nongkrong ke tempat mewah. Ikut acara besar bisnis dan keluarga, tali malam ini dia mendapatkan pengalaman baru yang menyenangkan.
"Ternyata bahagia itu sederhana, tidak harus tempat mewah dan terkenal. Tidak harus menghabiskan banyak biaya. Yang penting bersama dengan orang yang menyenangkan" batin Aland
Dilain tempat diwaktu yang berbeda seorang gadis baru saja pulang dari tempat belajar nya. Ia sedang berjalan menuju rumahnya yang terletak di tengah kota.
"Hai ma... Vivi pulang" sapa Vivi pada mamanya yang sedang ada di dapur
"Eh Viv, gimana sekolahnya?"
"Lancar ma"
"Bagus lah.... Oh iya papa belum pulang, kamu makan terus tidur atau belajar duluan aja yah. Biar mama yang nemanin papa kamu makan"
Vivi mengangguk dan segera ke kamarnya terlebih dahulu. Dirinya benar benar kelelahan dan stress berat.
"Kapan keluargaku akan membaik. Sampai kapan ayah harus kerja serabutan terus....." Batin Vivi
Saat ia kelas 1 ayahnya bekerja disalah satu kantor ternama di kota, sedangkan ibunya sebagai ibu rumah tangga. Namun saat ia hendak naik kelas 2 SMA ayahnya di pecat tanpa sebab yang sama sekali tidak jelas. Ayahnya sudah berusaha mendapatkan kerja di tempat lain namun ternyata ayahnya terdaftar dalam buku hitam yang membuat orang berfikir dua kali untuk menerima ayahnya. Sejak hari itu kehidupan mereka berubah, yang awalnya berkecukupan dengan mudah kini harus membanting tulang diluar.
"Argh.... Kenapa tidak ada yang mau menceritakan padaku apa yang terjadi pada ayah di tempat kerjanya" gerutu Vivi, hingga kini ibunya bahkan tidak mau memberi tahu hal yang sebenarnya. Ia mengatakan belum saatnya Vivi tahu.
-Jangan lupa beri komentar dan follow Author nya yah ❤️ please-