"Laporan yang kamu serahkan, semuanya salah!"
Jantungnya berdegup kencang, ia tak percaya. Spontan ia merebut hasil laporan yang kemarin ia serahkan. Membacanya dengan teliti, dan Alessa menemukan kesalahan itu. Ada banyak sekali kesalahan ketika ia memasukkan data.
Tubuhnya terpaku, sudah jelas ini adalah kesalahannya. Padahal Alessa sudah berusaha sekuat mungkin mengerjakan tugas ini dengan baik. Namun, ia melewati beberapa hal hingga kesalahan fatal di akhir data.
"Bila kau tidak bisa, harusnya sejak awal kau menolak!"
"Jika seperti ini, sama saja saya bekerja dua kali!"
"Sekarang, berikan laporan ini pada Lani! Katakan untuk segera mengerjakan dan berikan hasilnya padaku secepatnya!"
Alessa memejamkan matanya sebentar, mengumpulkan keberaniannya. Alessa bisa memperbaiki kesalahan yang telah ia perbuat. "Saya akan memperbaikinya, Pak!"
Frans mendongak, menatap gadis yang berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam. "Kemudian mengulangi kesalahan yang sama?"
Frans tersenyum miring, "Akan lebih baik kau berikan hasil laporan mu yang salah agar Lani bisa mengerjakannya."
"Sekarang keluar."
Berbalik, Alessa berjalan keluar dari ruangan Pak Presdir. Dari luar ruangan, Alessa melihat Lani, sekretaris Pak Presdir yang sibuk. Kedua tangannya berada di keyboard, matanya meneliti sesuatu di layar pipih di hadapannya, sedangkan telinganya terpasang earphone.
Mbak Lani dengan begitu banyaknya pekerjaan, dan hanya karena kesalahan tak sengaja Alessa, perempuan itu harus terkena imbasnya. Tidak! Tidak!
Alessa tak mungkin setega itu, meski Pak Presdir meminta Alessa menyerahkan laporannya yang salah pada Lani. Tapi, Alessa akan memperbaikinya sendiri. Ia akan meminta bantuan Lani, dan sisanya biarkan ia yang menghandle. Kali ini harus benar dan tepat.
"Okay Alessa! Lo bisa! Lo harus bisa!"
***
Lembur, Alessa masih berada di rumah sakit hingga malam menjelang. Semua rekan-rekannya sudah pulang. Tersisa Alessa dan satu orang lainnya yang memang mendapat giliran shift malam.
Rasa kantuk menyapa, berulang kali Alessa menguap. Matanya tak bisa di ajak kerja sama, terasa perih karena menatap layar laptop terlalu lama. Menggelengkan kepala, Alessa bangkit dari duduknya. Ia akan mencuci muka sebentar, lalu keluar mencari makan.
Di ruang depan, tempat biasanya anak-anak berkumpul. Tampak salah satu rekannya tengah menggelar matras di lantai. Bersiap untuknya menjadi tempat tidur, setidaknya istirahat sesaat.
"Mbak Ale, mau kemana?" Tanyanya melihat Alessa berjalan menuju pintu keluar.
"Aku keluar dulu ya Mbak, mau beli makan."
"Dimana? Emang masih buka?"
Ale mengendikkan bahu acuh, "Gak tau sih. Tapi nyoba cari aja deh di depan rumah sakit. Kalo di kantin, udah pasti tutup semua."
"Ya udah, hati-hati ya. Makanannya di bungkus aja, jangan lama-lama di luar. Udah malem banget soalnya."
"Iya Mbak."
Menyusuri koridor rumah sakit, suasana sepi Alessa rasakan. Berjalan menuju pintu masuk sekaligus keluar, Alessa menatap jeli warung makan tenda di sekitar rumah sakit. Tidak terlalu ramai, namun juga tidak begitu sepi. Beberapa orang berlalu lalang melewatinya.
Tiba di warung makan tenda seberang rumah sakit, Alessa segera memesan makanan. Ia memesan dua bungkus nasi penyet ayam dan beberapa gorengan. Sembari menunggu pesanannya selesai, Alessa memeriksa ponselnya.
Ada beberapa pesan dari Refa yang pastinya gadis itu khawatir. Meskipun Alessa telah berkata ia akan lembur, namun tetap saja kekhawatiran Refa selalu memberondongnya dengan banyak pertanyaan dan wejangan.
"Alessa?"
Suara berat menyapa, spontan Alessa mendongak. Ia terkejut melihat Pak Presdir berada di hadapannya, berdiri menjulang dengan tatapan mengintimidasi yang selalu melekat di sepasang matanya.
"Ba-bapak?"
Frans duduk di sebelah Alessa, menunggu makanan yang ia pesan. Alessa tampak bingung juga gugup, ia tak tau apa yang harus ia lakukan. Apakah menyapa? Tapi Alessa terlalu malu bila ucapannya diacuhkan, terlebih Frans adalah sosok yang pendiam dan sedikit menyeramkan ketika marah.
"Bapak, masih di rumah sakit juga?" Alessa bertanya dengan nada ragu-ragu. Rasanya serba salah, ingin tak menyapa namun sosok di sampingnya adalah bosnya sendiri. Bila tidak menyapa, Alessa akan terlihat buruk di mata bosnya.
"Ya. Saya lembur, banyak laporan yang harus saya selesaikan."
Alessa manggut-manggut mendengar penjelasan Frans, setelah ini, lalu apa? Pertanyaan apa yang Alessa tanyakan? Rasanya sangat canggung sekali, apalagi saat ini bukan jam bekerja.
"Kamu sendiri? Kenapa masih ada di rumah sakit? Bukannya jam kerja mu sudah selesai?"
Tak pernah Alessa sangka, Frans bertanya padanya. Alessa merasa semakin gugup, jawaban apa yang akan ia berikan. Kedua tangannya saling bertautan, matanya berlarian mencari ide.
"Saya tidak pernah meminta staf instalasi untuk lembur jika tidak di butuhkan. Jadi, alasan apa yang membuat mu masih berada di rumah sakit selarut ini?" Pertanyaan Frans kian membuat Alessa terdesak.
"Mbak, ini pesanannya." Suara dari si penjual warung tenda menginterupsi pembicaraan keduanya.
"Terima kasih Bu, ini uang,--"
"Saya yang bayar. Sekalian makanan milik saya." Frans menyela Alessa yang akan memberikan uang kepada si penjual.
"Tidak usah Pak, saya bawa uang kok." Alessa tetap menyodorkan uangnya, membuat si penjual bingung.
Tanpa banyak bicara, Frans mengambil uang milik Alessa dan menggantikan dengan uang miliknya. "Totalnya, jadikan satu dengan makanan milik saya."
"Eh? Baik Pak. Sebentar, di tunggu dulu." Frans menerima bungkusan nasi milik Alessa.
"Pak, Bapak tidak perlu membayar makanan saya." Alessa protes. Karena sikap Frans, Alessa tak ingin terlibat lebih jauh dengan pria itu.
Ketika Alessa akan mengambil kresek putih berisi makanan miliknya, Frans sengaja menjauhkan bungkusan itu. Membuat Alessa kesulitan menggapai bungkusan miliknya.
"Pak!"
"Duduk."
Tak ada pilihan lain selain duduk di kursinya kembali, Alessa menatap tidak terima. "Pak, itu makanan saya."
"Saya akan kasih makanan kamu, setelah kamu menjawab pertanyaan saya."
Alessa terdiam sejenak mendengar perkataan Frans, apakah harus berkata jujur? Bagaimana jika kejujurannya menambah masalah? Alessa secara diam-diam, menentang perintah Frans.
"Saya masih menunggu."
Tak ada pilihan lain. "Saya lembur memperbaiki laporan saya yang salah." Alessa memilik mengatakan apa adanya.
"Apa yang saya perintahkan pada mu, tadi pagi?"
"Apakah saya menyuruh mu untuk lembur?"
"Apakah saya mengatakan kamu yang harus menyelesaikan laporannya?"
Pertanyaan Frans mengintimidasi Alessa yang duduk diam sambil menunduk, "Tidak Pak."
"Saya meminta kamu, untuk menyerahkan laporan itu pada Lani. Apakah perintah saya kurang jelas?"
"Maafkan saya. Saya bersalah." Alessa pasrah akan nasibnya kali ini.
"Ini, Pak. Pesanannya." Si penjual memecah ketegangan diantara keduanya. Frans menerima bungkusan itu, "Kembaliannya untuk ibu saja."
"Duh, saya tidak enak. Terima kasih, Pak." Frans membalas dengan senyuman.
Alessa masih diam di tempat duduknya, Frans menghembuskan napas perlahan. "Ada kesulitan?"
Alessa mendongak, matanya mengerjap tak percaya. Pikirannya sudah menerka-nerka apa yang akan Frans lakukan padanya. Memarahinya mungkin, tapi ternyata pria itu tak marah. Atau karena mereka berada di tempat umum?
"Alessa. Saya bertanya."
"Eh, iy-iya, Pak? Maksudnya?"
"Laporannya, ada kesulitan?"
"Tidak Pak, saya sudah meminta bantuan Mbak Lani."
Frans mengangguk mendengar jawaban Alessa, "Kamu membeli dua makanan, untuk siapa?" Frans tak sengaja melihat ada dua bungkus makanan di dalam kresek Alessa.
"Untuk rekan saya Pak, yang jaga shift malam."
Frans mengerti. Kemudian ia memindahkan satu bungkus ke dalam kantong kresek miliknya. Alessa mengernyit heran.
"Bapak mau ngapain?"
Frans menyodorkan kresek yang tersisa satu bungkus makanan dengan beberapa gorengan. "Berikan pada rekan mu, dan datang ke ruangan saya. Saya sendiri yang akan mengajari mu."
"Hah?"
"Saya tunggu."
"Ta-tapi Pak,--"
Frans keburu menyebrang, kembali ke rumah sakit. Meninggalkan Alessa yang diam melongo di warung tenda. Bisa saja Alessa membeli makanan lagi, tapi masalahnya ia tak membawa uang. Hanya sisa kembalian uang lima puluh ribuan yang juga di sita oleh Frans.
"Kenapa jadi ngeselin sih!"
***
Setelah mengantar makanan untuk rekan kerjanya yang berjaga shift malam. Alessa harus memberikan sebuah alasan untuknya pergi ke ruangan Frans. Makanannya berada di tangan pria itu, entah apa maksudnya memerintah Alessa agar menemui pria itu.
Tiba di depan pintu, Alessa mengetuk pintu terlebih dahulu. Baru setelah di ijinkan masuk, Alessa membuka pintu ruangan Presdir. Di sana, tampak Frans menunggu kedatangan dirinya.
Pria itu duduk di sofa, dengan makanan tersaji di atas meja dengan rapi. Lengkap sendok dan alat makan lainnya.
"Silahkan duduk. Kita bisa makan bersama," Frans mempersilahkan Alessa mengambil tempat duduk di sebelahnya.
Alessa duduk dalam diam di samping Frans, rasanya ia sangat canggung berada dalam satu ruangan dengan Frans. Alessa belum menyentuh makanannya. Pria itu mengawali kegiatan makan, kemudian meminta Alessa memakan makanannya.
Alessa mengangguk dengan kaku, menyingkir sendok. Alessa terbiasa makan dengan tangan ketika makan nasi penyet. "Saya makan pakai tangan, gapapa ya, Pak?" Alessa meminta ijin, takutnya Frans tidak nyaman dengan cara makannya.
"Tidak masalah. Lagi pula nasi penyet nikmat jika di makan dengan tangan bukan sendok. Sayang sekali, saya memesan makanan capcay dan telur."
Alessa bingung menanggapi ucapan Frans selain, "Hehe, iya Pak."
Tak butuh waktu lama, Frans menyelesaikan makanan di piringnya tanpa sisa sedikit pun. Kemudian pria itu membereskan makanan di atas meja sembari menunggu Alessa selesai makan.
"Kamu habiskan makanan mu." Ujar Frans melihat Alessa yang sedikit panik.
"Eh, iya Pak."
Menyusul Frans, Alessa selesai dengan makanannya. Kemudian Alessa membereskan dan membuat kertas bekas makanannya ke tong sampah. Mecuci tangan dengan sabun di kran air, atas arahan Frans yang mempersilahkan memakai kamar mandi pribadi milik pria itu.
Maaf saja, di sana tidak ada wastafel. Yang ada hanya kamar mandi, dan itu satu-satunya jalan Alessa membersihkan tangannya yang penuh dengan lemak ikan juga sambal.
"Sudah selesai?"
Alessa mengangguk, "Sudah Pak."
"Sampai mana laporan yang sudah kau kerjakan? Kemari kan. Saya akan memeriksanya."
Alessa memberikan laptopnya pada Frans, pria itu memeriksanya dengan hati-hati dan teliti. Frans tersenyum puas, "Masih ada sedikit kesalahan. Tapi tidak masalah,"
"Untuk data pengeluaran, kau bisa memakai sistem FIFO, FEFO atau LIFO. Sesuaikan dengan tanggal expired pada barang. Ini mengurangi jumlah expired pada obat dan juga kerugian."
"Baik Pak."
Frans menjelaskan secara detail dan lebih rinci, tak mudah memang. Namun, entah mengapa alunan merdu dari bibir pria itu justru membuatnya terbuai. Membelai lembut, bak pengantar tidur.
Beberapa kali Alessa mengerjapkan matanya, menahan kantuk yang kembali datang. Sekuat apapun, Alessa menahan. Matanya perlahan menutup, menyerah pada kantuk yang membawanya pada alam mimpi.
***