"Kenapa kemarin kamu tidak ke ruangan saya?"
Pertanyaan Frans terdengar begitu kaki kanannya memasuki ruang Presdir. Pria itu masih berkutat dengan laptopnya, tanpa memedulikan Alessa yang datang ke ruangan membacakan jadwal seperti biasanya.
"Kemarin saya di instalasi rawat inap, Pak." Jawab Alessa menunduk.
"Ada apa disana?" Tanya Frans lagi.
"Hanya membantu saja kok Pak."
"Bukan karena kamu melihat Mama dan saya yang terlibat pertengkaran di ruangan ini?"
Alessa langsung terdiam mendengar kalimat terakhir Frans. Pria itu tau dirinya tak sengaja menguping di depan pintu, dan masih bersikap seolah tidak terjadi apapun.
"Ma,--maaf Pak, saya,--"
"Ya sudah." Frans tidak ingin memperpanjang masalah kemarin.
Masih dengan fokus ke arah laptop, "Bacakan jadwal ku siang ini."
Alessa dengan patuh membacakan jadwal, "Kita ada rapat dengan salah satu investor besar Pak, pukul sepuluh. Setelah itu, ada janji temu dengan Pak Irawan membahas kontrak di resto Arintis."
"Siapa investornya?"
"Pak Irawan." Jawab Alessa.
Sontak Frans menghentikan kegiatannya, fokusnya teralih pada Alessa sepenuhnya. "Pak Irawan?"
Alessa mengangguk, "Benar Pak,"
"Siapkan meeting kali ini dengan matang. Usahakan jangan sampai ada kesalahan, semuanya harus sempurna."
Alessa terdiam mendengar perkataan Frans, tak biasanya pria itu memerintahkan Alessa dengan nada khawatir. Alessa memiliki firasat, jika rapat kali ini akan lebih sulit dari rapat sebelumnya.
"Baik, Pak. Akan saya usahakan dengan sebaik mungkin. Saya permisi."
Frans mengangguk tanpa melihat Alessa, pria itu fokus pada pekerjaannya yang tidak ada habisnya. Bahkan bisa Alessa tebak, jika semalem Frans tidak tidur. Memilih begadang dengan setumpuk berkas di mejanya yang kini sudah lenyap.
***
"Presentasi hari ini sangat memuaskan, tapi saya tidak berminat untuk menjadi salah satu investor rumah sakit Santa Claria."
"Berikan kami kesempatan sekali lagi untuk presentasi, Pak."
"Tidak perlu, saya sudah puas mendengarkan. Tapi, karena rumor yang saya dengar dari pihak luar. Saya masih ragu."
Pria paruh baya itu beranjak dari kursi, Frans mencegahnya. "Tunggu, Pak."
"Tolong pikirkan sekali lagi, kami sangat membutuhkan Anda sebagai investor kami."
"Maaf sekali lagi, Pak Frans. Rumor rumah sakit Santa Claria sangat buruk, saya ragu. Bukannya saya mendapat untung, justru saya yang akan rugi."
"Pak, kami berusaha sekuat mungkin untuk kejayaan rumah sakit kami. Tentu kami tidak akan mengecewakan Bapak, sebagai investor kami."
"Maaf sekali lagi, Pak Frans. Saya tidak bisa."
Alessa segera mencegah Pak Irawan untuk tidak meninggalkan ruang rapat. "Pak Irawan, mohon berikan kami waktu untuk menyelesaikan semuanya. Kami berjanji akan mengusut masalah ini hingga tuntas, berikan kami waktu Pak."
"Kami pun tidak tinggal diam, ketika pihak lain berusaha menjatuhkan citra rumah sakit Santa Claria. Dengan sangat kami memohon kepada Pak Irawan, agar memberikan kami kesempatan untuk membuktikan perkataan kami, Pak."
"Saya mohon, Pak. Kami membutuhkan Anda, untuk mengembalikan citra rumah sakit Santa Claria."
Frans menatap Alessa, gadis itu sangat bersungguh-sungguh dalam ucapannya. Membujuk Pak Irawan dengan cara yang halus tanpa kekerasan atau pun emosi. Frans pun terkesan dengan cara komunikasi Alessa yang bisa di bilang sangat bagus.
Tidak ada kalimat yang menyakiti, atau pun merendahkan Pak Irawan ketika menolak menerima kerja sama. Bohong jika Pak Irawan tidak goyah ketika mendengar bujukan Alessa. Tidak akan Frans tampik jika ia juga menyukai kinerja Alessa. Gadis itu lebih dari kata mumpuni untuk menjadi sekretarisnya.
Pak Irawan, terlihat berpikir. Keningnya berkerut, dan akhirnya menghela napas panjang, "Baiklah, saya beri waktu satu bulan. Jika rumor mengenai rumah sakit Santa Claria terbukti salah. Saya yang akan menjadi investor tetap dan menyokong Santa Claria."
Raut bahagia jelas terpancar di wajah Frans. Kelegaan luar biasa, ketika mereka berhasil mendapat kesempatan emas. Pak Irawan seorang pengusaha Farmasi yang kini berjaya, bersedia bekerja sama dengan Santa Claria. Bahkan menjadi investor tetap dan juga akan menguntungkan kedua belah pihak.
"Terima kasih, Pak!" Frans berjabat tangan dengan Pak Irawan sebagai bentuk kerja sama mereka. Pak Irawan pun menyambut dengan senyuman.
"Anda harus berterima kasih dengan sekretaris Anda, Pak Frans. Pandai sekali dalam memuji, hingga saya meleleh dibuatnya." Sanjung Pak Irawan kepada Alessa.
Alessa membalas dengan senyuman ramah, "Saya bekerja secara profesional, Pak Irawan. Dan terima kasih atas pujiannya."
"Sama-sama, Nona--?"
"Alessa."
"Ah, sama-sama, Nona Alessa."
"Tapi tetap ingat ya, waktu kalian satu bulan untuk membuktikan jika Santa Claria tidak bersalah dan menghapus rumor buruk mengenai Santa Claria." Tambah Pak Irawan.
"Tentu, Pak. Kami akan berusaha dengan maksimal untuk keberhasilan Santa Claria ke depannya." Jawab Frans penuh rasa bangga dan lega.
"Saya menunggu."
Lantas, Pak Irawan melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, "Baiklah. Saya permisi dulu, istri saya pasti sudah menunggu saya di rumah untuk makan siang."
"Manis sekali." Celutuk Alessa tanpa sadar.
"Lain kali, ikut lah bergabung makan siang dengan saya dan istri saya. Dia pasti senang bisa mengenal mu, Nona Alessa." Kata Pak Irawan dengan senyum tulus.
"Terima kasih Pak, atas tawarannya."
Pak Irawan mengangguk, kemudian pria berusia empat puluhan itu menatap Frans. "Baik Pak Frans. Saya duluan."
"Silahkan Pak,"
Frans dan Alessa menatap kepergian Pak Irawan dengan raut penuh kelegaan. Akhirnya mereka berhasil mendapatkan investor besar seperti Pak Irawan. Frans menatap Alessa dari samping, ada satu pikiran yang mengganjal di hatinya.
"Kamu tidak perlu ke rumah Pak Irawan."
Pertanyaan Frans membuat Alessa menoleh, "Iya, Pak?"
"Jangan ke rumah Pak Irawan. Ingat, dia sudah punya istri." Setelahnya, Frans melenggang pergi meninggalkan Alessa yang berdiri menatap dirinya.
"Pak Frans kenapa sih? Kan mau kenalan sekaligus makan siang sama istrinya Pak Irawan, bukan makan berdua sama Pak Irawan." Kata Alessa bingung.
"Pak Frans segitunya banget sama gue. Apa ke Mbak Lani juga gitu?"
Dan kalimat itu menjadi angin lalu karena sebatas pertanyaan tanpa jawaban yang berarti. Mengalir mengikuti arus kehidupan yang entah membawa rahasia takdir untuk Alessa.
***
Jam di atas meja kerja milik Mbak Lani sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sejak tadi, Alessa menguap tanpa henti. Matanya ingin terpejam, namun laporan serta materi rapat besok pagi harus segera selesai. Apalagi sejak sore, Frans belum juga keluar dari ruangannya.
Alessa hanya mengantar makanan untuk Frans yang telah ia pesan. Frans belum makan, dan Alessa mencoba membantu Presdirnya mengingatkan untuk makan. Dan setelahnya, pria itu tak keluar sama sekali.
Entah makanan yang telah Alessa pesankan dimakan atau dibuang, ia tidak tahu. Syukur jika Frans mau memakan makanannya, namun apabila dibuang, Alessa akan ikhlas. Tapi sayang sekali jika benar dibuang.
Menghembuskan napas kasar, "Pusing mikir Pak Presdir."
Menyanggah dagu, Alessa menatap layar komputer di depannya. Matanya terasa kering dan perih sekarang. Sejak selesai rapat, Alessa sama sekali tidak beranjak dari komputer. Pergi pun hanya ke toilet atau ke kantin mencari makan.
"Kak Ken gak niat mau pulang? Udah malem, lembur lagi?" Alessa bertanya sendiri sembari menatap pintu ruang Presdir.
Menghembuskan napas lelah, Alessa merebahkan kepalanya di atas meja. Menatap jarum jam yang berdetak seirama dan runtut. Melewati angka demi angka yang perlahan membuat malam makin larut. Perlahan, sepasang matanya terpejam. Bunyi detik jam membuai, menghantarkan jiwanya tenggelam dalam pusaran mimpi semu yang indah.
Tidur yang nyenyak harus terganggu ketika, dering ponselnya mengagetkan Alessa. Gadis itu terlonjak kaget dengan duduk tegak di kursinya. Napasnya menderu kencang, menarik napas dan menghembuskan pelan. Alessa menstabilkan pernapasannya.
"Astagfirullah, gue ketiduran."
Alessa melirik jam yang kini menunjukkannya pukul sebelas kurang lima belas menit. Kemudian menatap pintu ruangan Presdir yang masih tertutup rapat. Tak tahan harus menunggu, Alessa bangkit dari kursinya.
"Aku cek Kak Ken aja kali ya, siapa tau Kak Ken lupa waktu. Gue harus pulang juga, udah malem." Alessa membereskan barang-barangnya, membawa tasnya sekalian.
Mengetuk pintu, Alessa menunggu respon dari Frans yang mempersilahkan untuknya masuk. Sekali dua kali, Alessa tidak mendapat respon. Dengan ragu, ia membuka pintu dengan pelan.
"Pak Frans?" Panggilnya.
Kosong.
Ruang Presdir tampak lengang tanpa aktivitas apapun. Alessa mengernyitkan kening heran, "Apa Kak Ken pulang duluan? Tapi gak mungkin deh, kan gue ada di depan. Kalo Kak Ken pulang pas gue ketiduran pasti di bangunin, tega banget kalo enggak bangunin gue. Seenggaknya bilang pulang, udah cukup kok. Biar gue juga bisa pulang."
Langkah Alessa terhenti di tengah ruangan ketika melihat kaki terjulur dari belakang meja Presdir. Alessa berlari mendekat. Betapa terkejutnya Alessa ketika melihat Frans tergeletak di lantai.
"Kak Ken!"
Alessa menepuk pelan pipi Frans, "Kak Ken! Bangun Kak!"
"Kak Ken! Bangun!"
"Astagfirullah, badan Kak Ken panas banget!"
Dalam keadaan panik, Alessa meminta bantuan satpam yang masih berjaga di gerbang rumah sakit untuk membantunya mengangkat tubuh Frans yang tergeletak di lantai.
"Kakak kenapa bisa kayak gini?"
Alessa menatap wajah pucat Frans, bibirnya sedikit kering dan pecah. Suhu tubuhnya pun sangat panas, ketika Alessa menempelkan punggung tangannya ke kening Frans.
Siang tadi, Alessa yakin Frans dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan ketika Alessa mengantarkan makanan, Frans masih dengan sikap cuek dan kalimat pedasnya yang menusuk hati. Dan sekarang, pria itu tumbang di lantai.
Bahkan Alessa tidak tahu sejak kapan Frans tergeletak di lantai yang dingin. Dengan AC yang menyala, tentu saja udara dingin yang menusuk membuat Frans semakin menggigil dengan gigi bergemelatuk.
"Kak Ken..." Panggil Alessa dengan nada sendu, hatinya tak tega melihat Frans terbaring lemah seperti ini.
Ajaibnya, sepasang kelopak mata itu terbuka. Menampilkan manik hitam yang memandangnya sayu, tangannya terangkat ingin menyentuh wajah Alessa. Sementara Alessa, tubuhnya diam membeku. Pandangannya terpaku pada wajah pucat yang menatapnya penuh kerinduan.
"Dhih...Vahhh..."
Adalah kata terakhir, sebelum sepasang kelopak mata itu kembali menutup. Tangannya terkulai lemas di atas lantai, belum sempat menggapai wajah ayu Alessa.
"KAK KEN!"
***