Elisa POV
Hari ini cuaca tidak bersahabat. Hujan turun dengan deras. Aku duduk di ruangan kelas tempat aku mengajar selama 8 tahun ini. Aku memandang hujan di luar dari jendela kelasku. Hujan yang mengingatkanku pada hujan 15 tahun lalu yang selalu tinggal di pikiran dan hatiku. 15 tahun lalu di sini, di lapangan sekolah ini kami bertemu. Saat itu hujan juga turun dengan derasnya seperti hari ini.
15 tahun lalu...
'Aduh, deras sekali hujannya! Sebentar lagi lonceng berbunyi, kalau terlambat di les pertama ini bisa gawat.' pikirku dalam hati sambil berlari mengejar waktu.
Byuurrrr... Cipratan air hujan membasahi rok SMP dan kaus kakiku. "HEYYY! Apaan sih?" teriakku refleks.
Yang diteriaki hanya menoleh sesaat dan melambaikan tangan " Sori, buru-buru!"
'Apes, apes. Percuma deh pakai payung' sesalku di hati.
Sesampaiku di kelas dengan nafas yang ngos-ngosan karena harus berlari menaiki tangga, aku dihadapkan pada wajah bengis guru walikelasku. "Sana, gabung dengan yang terlambat!"
Aku pun berjalan menghampiri teman yang terlambat dan terkejut mendapati ia adalah orang yang tadi menyipratiku air hujan. Aku masih sangat kesal padanya sehingga hanya melihatnya sekilas. Kami berdiri berdampingan di depan kelas. Alangkah malunya aku, baru kali ini aku terlambat dan baru kali ini juga aku disetrap begini. Dan pada hari pertama sekolah juga.
"Kenapa terlambat, Wilson, Elisa?" tanya bu Ani, guru walikelasku. " Jangan bilang karena hujan ya, itu alasan paling mubajir."
" Tadi bus kami telat jemput bu karena bas bus ny bocor." jawab anak laki-laki di sampingku.
" Bus kami? Kalian satu bus?" tanya bu Ani.
Aku menoleh bingung padanya. Satu bus? Ya, aku memang naik bus antar jemput ke sekolah. Dan memang hari ini busnya telat jemput. Tapi kami satu bus? Aku tidak merasa pernah melihatnya di bus. Jadi aku hanya diam bengong.
" Elisa?" tegur bu Ani.
" Ehm, iya bu! Tadi busnya telat jemput." jawabku.
" Ya, sudah! Jangan ganggu pemandangan, kalian berdiri di luar pintu kelas sana!"
" Baik, bu!" jawabku sambil berjalan keluar kelas dan diikuti anak laki-laki tadi.
Aku pun mengeluarkan buku catatan dari tas dan mulai menyalin tulisan yang ada di papan tulis sambil berdiri.
"Hey, sori ya, kamu jadi basah. Tadi aku buru-buru karena uda telat kan." kata anak laki-laki itu.
"Kenapa kamu bohong kalau bus kita telat?" tanyaku.
"Lho? Busnya memang telat kan?" balasnya heran.
" Busku yang telat." jawabku sekenanya sambil tetap menyalin catatan.
" Iya, bus kita telat. Kan kita satu bus. Kamu tidak tahu kita satu bus?" tanyanya heran.
Ya, aku memang kurang perhatian pada situasi di bus. Karena setiap di bus, aku selalu memandang keluar jendela melihat lalu lintas di jalan raya. Jadi mungkin saja aku tidak tau kalau kita memang satu bus. Karena sadar akan kesalahanku, aku mendiamkannya.
2021...
Hujan akhirnya berhenti dan membawa ingatanku kembali ke masa sekarang.
" Bu, ayo kita makan siang sebelum pulang!" ajak asistenku sambil menyimpan barang - barangnya.
" Ayo, kebetulan juga tadi pagi tidak sempat masak." Aku bergegas menyimpan semua barang dan mengunci pintu kelas.
Kami pun pergi ke salah satu cafe favorit kami. "Wah, hari ini ramai ya, padahal hari Senin."
Aku melihat sekeliling dan akhirnya menemukan meja kosong di ujung. "Ayo, Chin, di sana ada meja kosong." kataku sambil berjalan ke meja kosong tersebut.
Tiba-tiba Chintya asistenku berhenti dan menyapa seseorang. "Hai, Cindy! Sama siapa?"
Deg... Cindy yang disapa Chintya ternyata adalah Cindy adiknya Wilson, anak laki-laki dari masa laluku.
"Sama mamaku, kenalin, Ma, ini Chintya." jawab Cindy.
"Halo, Chintya! Panggil saja tante Lia. Baru pulang kerja ya?" tanya tante Lia.
"Iya, tante! Oh, ya, kenalin ini rekan kerjaku, walikelasku, alias atasanku lho." kata Chintya sambil cengar cengir. Cindy dan mamanya memandangku dari kepala hingga kaki, kaki hingga kepala.
Karena risih ditatap begitu, aku mengulurkan tangan sambil tersenyum kaku karena gerogih, "Halo, kenalin, namaku Elisa."
Raut wajah Cindy berubah dan tersenyum lebar. "Oh, pantas rasanya pernah lihat di mana. Rupanya kak Elisa, Ma! Teman sekelas kak Wilson dulu," jelas Cindy sambil tersenyum simpul dan meraih tanganku. "Wah, sudah lama sekali tidak ketemu. Tapi dulu kita juga hanya ketemu sekali ya kalau tidak salah? Ayo, gabung, duduk aja bareng kami." Cindy menarik kursi kosong di sampingnya untukku.
"Ayo, duduk!" lanjut tante Lia mempersilakan kami duduk dan memanggil pelayan. "Mbak, mau order ya!" Kami langsung menyebutkan menu yang akan kami pesan ke pelayan cafe. Sambil menunggu pesanan, kami mengobrol. Chintya yang lebih banyak berceloteh dan hanya sesekali kutimpali basa-basi. Di tengah lancarnya obrolan, sama sekali tidak disinggung sedikitpun tentang Wilson, seolah adik dan mamanya sendiri sudah melupakannya karena jauh keberadaannya.
Obrolan kami terhenti ketika pelayan menyajikan menu pesanan kami. ternyata banyak sekali yang kami pesan. Chintya dan Cindy memesan spagheti oglio olio dan fettucine carbonara serta pizza. Ya mereka memang sedang ingin makan western food. Lain halnya denganku, aku memesan nasi goreng pete karena hari ini teringat Wilson dan bertemu adik dan mamanya. Nasi goreng pete adalah makanan kesukaan Wilson.
"Wah, pesanan kita sama ya! Tante jadi teringat anak tante, Wilson. Dia juga sangat suka nasi goreng pete seperti tante." kata tante Lia sambil mengambilkan kami sepasang sendok dan garpu. Aku mematung sejenak ketika nama Wilson disebutkan.Nama itulah yang daritadi kutunggu-tunggu.
Kemudian sambil menyendokkan suapan pertama nasi goreng ke mulutku, aku memberanikan diri bertanya, " Bagaimana kabar Wilson, tante?"
"Wilson baik kok, sehat dan selalu sibuk." jawab tante Lia sambil tersenyum dan berpikir sejenak. "Hemm, sangking sibuknya, dia bahkan jarang pulang. Bahkan libur hari-hari besar juga dia lebih betah di Jakarta daripada pulang ke Medan." lanjut tante Lia muram.
" Sudah ada kekasih mungkin, tante. Jadi, waktu liburannya mau habiskan dengan pacar dong." ceplos Chintya yang membuat perasaanku tidak karuan. Memang selama puluhan tahun ini kami tidak pernah bertemu, tidak heran juga kalau dia sudah punya kekasih. Selama puluhan tahun ini aku juga pernah beberapa kali menjalin hubungan yang selalu berakhir karena ketidakcocokkan. Tapi sebenarnya karena hati dan pikiran ini masih tidak dapat melupakan masa lalu.
Tante Lia hanya menggeleng dan disambut jawaban mengejutkan dari Cindy. " Kekasih sih kurang tahu ya, kak Wilson jarang membicarakan masalah pribadinya kalau telepon ataupun chatting. Tapi kak Wilson kayak menghindari kota Medan ini, kayak sedang melarikan diri dari seseorang."
"Uhuk...uhuk..." Aku tersedak jus jeruk yang kuminum. "Tante, aku ke toilet dulu ya." Aku bangkit berdiri dan memberi kedipan mata ke Chintya lalu berlalu ke toilet. Di toilet, aku bercermin menatap mata yang sama dengan mata 15 tahun lalu, mata yang masih penuh kerinduan dan rasa bersalah.
17 Agustus 2006
" Lis, sini, ayo cepat!" seru Evelyn sekretaris kelas yang sibuk mengatur barisan untuk upacara bendera. " Itu ya, Lis, ketiga dari belakang." tunjuk Evelyn.
" Oke !" Aku pun masuk ke barisan yang ditunjuk Evelyn,
" Lis, aku kira kamu absen hari ini. Gimana, masih sakit perut?" bisik Olivia sahabat dekatku yang sudah berbaris di sebelahku. Tadi pagi memang aku tiba-tiba menstruasi dan sakit perut. Mama juga menyuruhku untuk absen saja karena upacara kemerdekaan hari ini lumayan lama. Tapi aku hadir juga karena upacara ini dihitung absensinya.
" Gak mungkin aku absen, Liv. Nanti bolong dong absensiku." bisikku pada Olivia sambil menoleh ke belakang karena tadi buru-buru masuk barisan, tidak perhatikan siapa yang berdiri di belakangku. Raut wajahku langsung berubah melihat siapa yang berbaris di belakangku. Ya, dia adalah Wilson. Aku masih kesal karena kejadian disetrap hari itu. Hukuman setrap yang seharusnya hanya selama 1 jam pelajaran jadi bertambah hingga 2 jam pelajaran karena ulah Wilson yang asyik mengajakku mengobrol. Aku yang hanya diam menyalin catatan juga jadi kena imbasnya. Sejak saat itu, aku selalu menghindarinya dan malas bertegur sapa dengannya. Tapi hari ini dia berbaris di belakangku. " Heuhh.."
" Kenapa, Lis? Sakit perut?" bisik Olivia memperhatikan raut wajahku.
" Gak kok! Ssst..." kataku mendiamkan Olivia.
Setelah setengah jam upacara berlangsung, perutku mulai terasa sakit, kaki juga mulai lemas. Badanku perlahan terhuyung ke belakang. Untung ada sepasang tangan yang menahan pundakku. " Kenapa? Mau pingsan ya?" bisik Wilson di belakang telingaku.
Karena kesal dengan pertanyaannya yang terdengar seperti ledekan daripada prihatin, aku pun menguatkan diri, " Gak kok!" Selang beberapa menit kemudian, badanku kembali terhuyung ke belakang. Aku kembali merasakan sepasang tangan menahan badanku, tapi kali ini sepasang tangan itu memgang kedua tanganku dari belakang. Saat dia hendak bersuara, aku memberinya kode untuk diam. " Sstt.." Aku tidak mau jadi salah satu tontonan heboh karena setiap upacara selalu saja ada tontonan murid yang pingsan. Dan aku terlalu malu untuk dibopong atau digandeng keluar lapangan dalam keadaan lemah begitu. Jadi, aku sengaja merapatkan punggungku ke belakang. Aku menggunakan tubuh Wilson untuk menahan tubuhku. Sesekali dia mencengkeram tanganku untuk memberi kekuatan pada tubuhku. Aku menoleh padanya memberinya tatapan terima kasih karena sepertinya dia sadar dengan jalan pikiranku.
Tapi ketika kemudian dia mencengkeram pinggangku, aku langsung mendesis tidak suka, hingga Olivia yang ketiduran tersadar karena suara desisanku." Kenapa, Lis?" tanya Olivia masih setengah sadar dari tidurnya.
"Gak, gak kenapa-kenapa." balasku buru-buru. Tapi aku bahkan tidak berani menoleh menatap Olivia karena takut ketahuan ekspresi wajahku yang pasti campur aduk, perpaduan pucat dan merah karena hampir pingsan dan kesal. Aku hanya mematung di sana dengan pasrah membiarkan Wilson mencengkeram pinggangku karena kalau dia melepaskannya, aku pasti terjatuh karena memang kakiku sudah lemas walaupun perut sudah agak lumayan berkurang sakitnya. Kami terus berdiri seperti itu hingga upacara selesai.
Setelah pemimpin upacara meninggalkan lapangan dan barisan dibubarkan, aku langsung meraih dan mencengekeram tangan Olivia yang untungnya langsung sigap menopangku ketika aku hampir jatuh. Kami terlalu berkonsentrasi untuk bisa mencapai kursi terdekat hingga tidak memperhatikan ada yang mengikuti kami di belakang. Setelah berhasil duduk, kami menoleh dan mendapati Wilson sudah berdiri di hadapan kami. " Kamu gak apa-apa?" sorot matanya tajam dan serius tidak jahil seperti yang kulihat hari itu.
"Ehm, Liv, bisa tolong ambilkan aku air hangat di kantin?" aku menoleh salah tingkah pada Olivia.
"Oke." Olivia pun meninggalkan kami berdua. Wilson masih berdiri menatapku tak bergeming. Ditatap seperti itu, aku hanya menunduk, " Terima kasih." ucapku lirih. Wilson tersenyum miring dan duduk di sampingku. Hanya seperti itu, kami duduk seperti itu diam tak bersuara hingga Olivia kembali dengan secangkir air hangat. Olivia menyodorkan cangkir air hangatnya padaku, " Nah, Lis. Ayo diminum, lalu kita pulang, yuk!" Aku menoleh ke arah Wilson yang sedang sibuk dengan handphonenya.
" Kamu duluan aja, Liv. Aku masih tunggu jemputan." jawabku.
" Yakin? Kamu bisa sendiri?" tanya Olivia cemas.
"Iya, bisa kok. Aku uda enakan." kataku meyakinkan Olivia.
"Ya, udah, aku duluan ,ya! Bye, Lis!" Olivia berlalu dengan raut agak bingung karena melihat Wilson masih duduk di sana. " Bye, Wilson! Nitip Elisa, ya!"
Wilson mengangguk, " Ya!" Aduh, rasanya ingin kujahit mulutnya Olivia. Dan suasana juga jadi tegang dan kikuk. Aku mencoba mengalihkan perhatianku pada murid-murid lain yang lalu lalang di lapangan sekolah. Lalu aku mendengar Wilson bersuara dengan pelan, " Masih lama gak jemputanmu?"
Aku menoleh terkejut, " Oh, sebentar lagi mungkin sampai."
Wilson berdiri dan menoleh padaku, " Yuk, kita tunggu di sana, di sini sudah mulai panas."
Aku hanya bingung menatapnya. Jadi dia menemaniku tunggu jemputan? Masa sih?
" Ayo!" ajaknya lagi.
" Ehm, aku di sini aja, kamu bawa motor sendiri kan? Kamu pulang aja duluan." tolakku halus. Kakiku sudah bertenaga sih untuk jalan tapi aku hanya tidak ingin jalan berduaan dengannya. Ya, aku memang agak kaku dan pemalu menghadapi orang yang tidak dekat. Ada beberapa teman yang sering menilaiku sombong, tapi sebenarnya bukan sombong. Aku memang tidak pintar bergaul dan lebih suka berada dalam zona aman duniaku dan lingkunganku sendiri.
Wilson melirikku tajam, " Kamu takut teman-teman yang lain tahu kakimu lemas berdiri selama upacara? Jadi kamu lebih memilih duduk di sana hingga jemputanmu datang?"
Wajahku panas mendengar tuduhannya. Aku tidak tahu harus menjawab apa. " Bukan begitu."
" Apakah begitu memalukan bagimu kalau jalan terpincang-pincang? Oh, ya, aku baru ingat kamu selalu kelihatan hampir sempurna dalam segala hal." lanjutnya tanpa memperhatikan raut wajahku yang sudah merah padam.
Kekesalanku tadi berubah menjadi emosi. Apa haknya menilaiku seperti itu? Bukankah kita baru dua bulan ini sekelas, bukankah selama dua bulan ini kita juga bahkan jarang berbicara dan sama sekali tidak dekat. Jadi bagaimana dia bisa sok tahu seperti itu? Aku tidak menghiraukannya dan bangkit dengan kesal lalu langsung berjalan ke arah pintu gerbang sekolah.
"Hey!" teriaknya terkejut karena aku meninggalkannya. Tapi aku tidak menghiraukannya, aku terlalu kesal. Aku bahkan tidak menoleh sama sekali. Aku mendengar langkah kakinya mengejarku dan aku berjalan lebih cepat hingga sampai luar gerbang sekolah. Aku segera menaiki becak terdekat yang kutemui. Ternyata dia berhasil menyusulku tepat setelah aku menaiki becak.
" Hey, kamu naik becak? Bukankah kamu menunggu jemputan?" tanyanya bingung.
Aku tidak menghiraukannya, " Jalan, Bang!" kataku pada abang becak. Setelah kami agak jauh dari sekolah, aku menyebutkan alamat rumahku pada abang becak. Sebenarnya aku memang tidak menunggu jemputan, aku berbohong pada Olivia tadi. Aku hanya tidak ingin ikut Olivia yang pasti berujung mengajakku ke mall. Aku ingin langsung pulang rumah untuk belajar, besok ulangan harian. Ya, aku memang selalu giat belajar kalau ada ulangan. Teman-teman sekelasku selalu menganggap aku ambisius untuk mendapat predikat juara kelas. Padahal tidak seperti itu, aku hanya ingin dapat menyelesaikan soal ulangan dengan benar. Aku hanya tidak menyukai perasaan panik karena tidak dapat menjawab pertanyaan soal-soal ulangan dan harus meminta-minta jawaban pada teman lain pada saat ulangan berlangsung. Ya, sejujurnya aku juga tipe penakut, takut ketahuan meminta jawaban dan mendapat nilai nol.
Keesokan harinya, ketika memasuki kelas, mataku langsung bertemu dengan tatapan tajam Wilson. Aku yang duluan memutuskan kontak mata dan berjalan ke tempat dudukku. Tapi tetap saja aku merasa ada tatapan yang menusukku dari belakang. Dan benar saja, ketika aku menoleh, aku mendapati Wilson sudah duduk di belakangku dan menatap lurus padaku. Aku menghela nafas dan berbisik pada Olivia yang duduk di sebelahku, " Jimmy tidak datang, ya?" tanyaku sambil memberi kode pada Olivia ke arah Wilson. Seharusnya Jimmy yang duduk di belakangku.
Olivia balas berbisik, " Itu Jimmy." sambil menunjuk ke arah tempat duduk Jimmy yang berada di pojok dinding. " Tadi Jimmy minta pindah tempat duduk ke pojok sana karena tidak tahan dekat dengan kipas angin, dia alergi angin dari kipas angin, sering sakit perut. Jadi tadi bu Ani menukar tempat duduk Jimmy dan Wilson."
" Oh!" hanya itu kata yang keluar dari mulutku karena masih terkejut dengan penjelasan Olivia.
Ulangan harian yang berlangsung selama 45 menit akhirnya selesai. " Huhhh...akhirnya selesai. Yuk, ke kantin!" ajak Olivia.
" Kamu duluan aja, Liv, nanti aku nyusul. Aku mau bersihkan papan tulis dulu." jawabku.
" Oke!" Olivia pun berlalu.
Hari ini giliranku piket membersihkan papan tulis. Aku membaca jadwal nama-nama petugas piket papan tulis yang ditempel di lemari kelas. Ternyata yang bertugas membersihkan papan tulis hari ini adalah aku dan Harry. Aku pun mencari Harry untuk sama-sama membersihkan papan tulis. Tapi Harry tidak kelihatan di kelas.
Jadi aku berinisiatif untuk mengambil ember yang telah diisi air dan kain yang biasa digunakan untuk membersihkan papan tulis. Guru pelajaran Fisika hari ini sangat suka menuliskan penyelesaian dari setiap soalnya panjang lebar memenuhi papan tulis dari atas ke bawah dan ujung ke ujung. Ya, postur badanku 165cm,tidak termasuk pendek, tapi tetap saja untuk menggapai bagian paling atas papan tulis, aku harus berjinjit. Jadi aku membersihkan papan tulis sambil berjinjit, aku mulai dari bagian kiri ke kanan.
Dan ketika sampai pada pertengahan papan tulis, aku berhenti. Wilson berdiri tepat di hadapanku dengan pose yang sama denganku. Rupanya ia juga membersihkan papan tulis dari bagian kanan ke kiri, hingga kami bertemu di bagian tengah papan tulis. Kami sama-sama mematung sejenak. Walaupun sudah berjinjit, aku hanya mencapai ujung hidung Wilson. Aku buru-buru berlalu dari sana, ke arah ember di atas meja dan memeras kain. Mungkinkah dia sengaja membantuku?
Aku ingin bertanya, tapi saat aku berjalan mendekatinya kembali, dia sudah dihampiri Harry.
"Thank you, bro ud gantiin aku bentar." Aku mendengar ucapan Harry. Lalu Wilson berlalu meninggalkan kelas.
Desember 2006
Elisa POV
Hari ini tgl 21 Desember 2006, sekolah kami merayakan hari Natal duluan sebelum hari Natal yang sesungguhnya.
Ya, setiap tahun kita selalu merayakan duluan hari Natal di sekolah sebelum libur pada tgl 25 Desember.
Aku sedang bersiap-siap di ruang ganti yang terletak di belakang aula sekolah. Aku dipilih sebagai peran utama dalam sebuah drama Natal yang akan dipentaskan hari ini.
Tok..tok..tok..
Aku mendengar suara pintu ruang ganti diketuk. Aku menoleh bersamaan dengan terbukanya pintu tersebut.
"Hai, Li, lagi siap-siap, ya?" tanya Oliv di depan pintu yang terbuka setengah. Dari tempat dudukku, aku dapat melihat Wilson yang berdiri tidak jauh di belakang Oliv.
"Ya, ada apa, Liv?" tanyaku sambil berbalik kembali menghadap cermin untuk merapikan riasan wajahku.
"Nanti siap acara Natal kita ke mall yuk!"ajak Oliv antusias. Oliv memang ratu ny Mall.
Sebenarnya aku ingin segera pulang ke rumah dan rebahan setelah acara selesai. Badan dan kakiku rasanya cape dan pegel semua karena seminggu ini hampir setiap hari aku mengikuti latihan drama dan pulang sore.
"Ayolah, Li, please...."Oliv merengek dengan wajah memelasnya karena melihatku yang belum meresponnya.
Aku memutuskan untuk menerima ajakan Oliv untuk ke mall karena hari ini adalah hari terakhir sekolah, liburan natal yang panjang akan dimulai besok.
“Baiklah,Liv.” Aku ikut, tapi jangan lama-lama,ya. Nanti mamaku marah kalau aku kemalaman pulang.” jawabku akhirnya. Sekilas aku melihat senyum di wajah Wilson yang kelihatan acuh tidak peduli.
Acara Natal sekolah akhirnya berakhir. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 14.00. Aku bergegas mengganti pakaian seragamku kembali mengingat janji ke mall dengan Oliv. Setelah berjalan menelusuri koridor aula sekolah, aku akhirnya menemukan Oliv di tengah ramainya siswa-siswa yang berfoto dan mengobrol. “Yuk, Liv, jalan !” kataku menarik tangan Oliv.
“Bentar, ya Lis, anggota kita belum lengkap.” jswab Oliv sambil celingukan ke kanan kiri. Aku mengikuti arah pandang Oliv dan tatapanku bertemu dengan tatapan tajam Wilson yang berjalan ke arah kami.
Aku menarik lengan baju Oliv, “Kita pergi sama siapa aja?” Oliv menoleh padaku dan berbisik, “Itu mereka sedang berjalan ke arah kita.”
Dan benar saja, yang dimaksud Oliv memang Wilson dan sahabatnya Justin. “Sudah lengkap kita? Ayo jalan!” ajak Justin yang duluan sampai di hadapan kami.
Oliv langsung menarik tanganku yang masih terbengong, “Yuk, nanti kemalaman.” Aku mengikuti Oliv berjalan menuruni tangga ke lantai satu sekolah kami. “Aduh!” seruku refleks karena aku menabrak punggung Oliv yang tiba-tiba berhenti. Wilson yang mengikuti tepat di belakangku juga refleks menabrak punggungku. Tangga ke lantai satu hari ini memang ramai dan berdesakan karena dibagi dua jalur, jalur naik dan jalur turun.
“Kenapa, Liv?” tanyaku sambil melihat melewati kepala Oliv di depanku.
“Macet, di depan ada pembagian hadiah, jadinya harus antri turun tangga.” jawab Oliv lesu.
“Wah, lama dong.” seruku sambil melihat jam tangan.
“Lewat tangga belakang aja,yuk!” ajak Justin. Aku menoleh ke arah Justin dan berpikir sejenak. “Ayo!” Wilson menarik tanganku hingga mau tak mau aku ikut berbalik arah yang diikuti oleh Oliv. Kami berlari ke arah tangga belakang. Kami berpapasan dengan salah satu guru.
“Hey, ngapain itu gandeng tangan?” seru guru yang biasa kami panggil Pak Ton. Karena terkejut, aku langsung menghempaskan tangan Wilson. Kami segera berlari menghindari Pak Ton. “Maaf, pak!” seru kami serentak sambil berlari menuju tangga belakang.
Akhirnya kami sampai di gerbang belakang sekolah. “Kita naik apa?” tanyaku pada Oliv.
“Naik motor.” jawab Wilson singkat dan berlalu ke area parkiran motor. Aku hanya berdiri mematung melihat Oliv sudah naik ke motor Justin.
Tin..tin..bunyi klakson motor Wilson meyadarkanmu. “Ayo, naik!” seru Wilson. Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya aku naik ke motor Wilson. Aku memegang erat pegangan besi di belakang motornya karena jalanan di sekitar sekolah lumayan berlubang dan banyak batu-batu kecil.
Kami hanya diam sepanjang jalan. Setelah 20 menit menerobos padatnya lalu lintas, akhirnya kami tiba di mall. Keluar dari area parkiran mall, Oliv menunjuk sebuah etalase toko yang memajang gaun keluaran terbaru. “Wah, cantik sekali!” seru Oliv yang langsung berjalan memasuki toko baju itu.
“Kamu tidak masuk?” tanya Wilson. Aku menoleh padanya “Tidak, aku tidak suka model gaun seperti itu.” jawabku lalu meninggalkan mereka.
Aku berjalan sendiri menikmati apa yang kulihat di etalase-etalase pertokoan mall. Aku menghentikan langkahku di sebuah toko aksesoris. Yang menarik perhatianku bukanlah aksesorisnya karena aku jarang memakai aksesoris. Aku takjub dengan sebuah pajangan mirip bola kristal yang isinya ornament natal dengan gunung serta pemandangan bersalju yang sangat indah berkilau. Aku meraihnya dan semakin terbius dengan keindahannya dalam genggamanku. Namun aku meletakkannya kembali karena melihat harganya yang lumayan mahal.
Aku melihat sebuah tangan meraih bola kristal itu. Aku menoleh dan melihat orang yang sedang mengamati bola kristal itu. “Indah sekali.” katanya singkat.
“Bukannya kamu sedang bersama Oliv dan Justin?” tanyaku heran.
Ia hanya menoleh sekilas. “Aku ke kasir dulu.” katanya dengan membawa bola kristal itu. Aku hanya bisa pasrah merelakan bola kristal itu dibawa pergi.
Keluar dari toko aksesoris aku berjalan mencari keberadaan Oliv. “Jadi beli gaunnya?” tanyaku setelah bertemu Oliv.
“Nggak jadi. Nggak ada ukuranku.” jawab Oliv sedih. “Oh ya, mana Wilson?” lanjut Oliv.
“Itu dia.” tunjuk Justin ke arah belakang punggungku. “Yuk, cari makan. Uda bunyi perutku.” canda Justin.
Kami memilih fast food karena sedang ingin makan fast food dan lebih cepat penyajiannya. Aku duduk di samping Oliv dan berhadapan dengan Wilson.
Aku mengopek semua kulit ayam dan meletakkannya di piring untuk dimakan terakhir. Itu kebiasaanku ketika makan ayam, aku suka menyisakan bagian terenak untuk dimakan terakhir.
“Kamu tidak makan kulitnya? Aku ambil ya.” kata Justin.
“Enak saja. Aku akan makan nanti. Aku sengaja menyisakannya untuk dimakan terakhir.” jawabku buru-buru. Aku melihat orang yang duduk di hadapanku senyum-senyum sendiri.
“Kenapa? Lucu ya?” tanyaku kesal.
“Ternyata kamu juga suka menyisakan kulit ayam untuk dimakan terakhir, sama seperti orang pada umumnya. ” jawab Wilson menatap lurus ke arahku.
Aku balas menatapnya tajam, “Memangnya aku harus berbeda dengan orang lain? Kamu ini kenapa sih suka sekali membuatku kesal?”
“Kamu yang kenapa, suka sekali kesal padaku.” katanya yang lebih menyerupai pernyataan daripada pertanyaan.
Karena malas menjawabnya, aku memusatkan perhatianku kembali pada makanan di piring. Justin dan Oliv yang melihat kecanggungan di antara kami, berusaha mencairkan suasana dengan obrolan-obrolan ringan yang kutimpali sesekali. Tapi sebisa mungkin aku mengabaikan orang di depanku dan menganggapnya tidak ada.
Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk pulang. Aku yang lebih memilih ikut motor Justin terpaksa harus kecewa dan ikut motor Wilson karena rumah kami yang lebih searah.
Kami hanya diam sepanjang jalan menuju rumahku. Beberapa kali aku bersuara untuk mengarahkannya jalan ke rumahku.
“Terima kasih,ya.” kataku begitu turun dari motornya dan mengembalikan helm miliknya. Aku sudah akan berbalik ketika ia mencekal tanganku.
“Ini untukmu. Merry Christmas.” katanya menyodorkan kantongan plastik yang aku kenali sebagai kantongan plastik dari toko aksesoris yang kami kunjungi tadi.
“Untukku?” tanyaku tidak percaya. Ia hanya diam dan tetap menyodorkan kantongan itu di hadapanku.