Siang di taman sekolah seperti jeda panjang yang sengaja ditaruh di tengah kalimat. Angin berhembus lembut, mengibaskan ujung dedaunan flamboyan; beberapa helai terlepas, melayang pelan lalu mendarat di permukaan kolam kecil, membentuk riak lingkaran yang bertumbuh, saling menabrak, lalu hilang. Bau air yang menyimpan lumut tipis bercampur wangi tanah kering; suara jauh dari kantin—piring beradu, tawa yang meletup—mengapung sampai ke sini namun tidak mengganggu.
Aku duduk di bangku panjang dekat kolam bersama Diva. Buku catatan terbuka di pangkuanku; daftar tugas Bu Rani seperti tangga yang harus dinaiki satu-satu. Diva menatap halaman yang sama, ujung stabilo pastel di tangannya mengetuk ringan kertas, tiga kali, lalu berhenti. Kami bicara tentang pembagian tugas—yang mana paragrafku, yang mana caption yang akan dirapikan Diva. Kalimatnya rapi, suaranya tenang, namun di sela-sela, mataku lepas ke arah lain.
Mencari Ahmad.
Ia ada di bawah flamboyan yang sama, agak serong ke kanan, bersandar pada batangnya dengan kertas sketsa di lutut. Sinar matahari tersaring di atas kepalanya menjadi serpih-serpih terang. Satu tangan memegang pensil; tangan lain—yang biasanya lincah—diam di sisi, sesekali meremas ujung kertas seolah mencari jadi-jadian dari tepi. Dari jauh, wajahnya terlihat lebih teduh dari biasanya, tapi bukan teduh yang menyegarkan. Lebih seperti langit yang bersih tapi menahan hujan.
Dulu, Ahmad sering jadi pusat tawa kami. Cara ia menemukan kalimat lucu dari hal remeh; cara ia menutup jeda dengan komentar yang pas—tidak tajam, tapi kena. Belakangan, tawanya tertinggal setengah langkah. Suaranya lebih pelan, seolah ia sedang memilih kata bukan untuk dikatakan, melainkan untuk disembunyikan. Ia hadir, tapi seperti lewat lorong yang menyempit: pelan, hati-hati, dan sering menunduk.
“Saf,” suara Diva menarikku kembali. “Paragraf penutupnya mau yang ini atau yang lebih pendek?” Ia menunjuk dua opsi.
Aku menatap sekilas, lalu kembali pada halaman. “Yang pendek,” jawabku. “Biar fotonya yang bicara.”
“Baik,” kata Diva. Ia melirikku singkat—pandangan orang yang sudah lama tahu ritme napasku. “Kalau mau nengok, nengok aja. Lehermu dari tadi miring.”
Aku terkekeh, kalah oleh pengamatan yang tepat. “Ketahuan, ya.”
“Tidak ada yang sembunyi di bawah flamboyan,” seloroh Diva. Ia tersenyum, lalu menurunkan suara, seolah kami sedang menonton rahasia. “Dia agak… tenang hari ini.”
“Tenang yang aneh,” kataku, lebih untuk diriku sendiri. Tenang yang tidak menular, justru membuat ingin menanyakan sesuatu yang mungkin tidak perlu dijawab.
Seolah mendengar namanya dilafalkan di kepala kami, Ahmad melangkah mendekat. Suara sepatunya hampir tidak terdengar di paving. Ia berhenti di sisi bangku, menunduk pelan. “Boleh gabung?”
Diva bergeser memberi ruang. Aku ikut merapat. Ahmad duduk, menjaga jarak satu buku—jarak aman yang entah kenapa terasa jauh. Ia mengangkat sketsanya sebentar, menunjukkan garis-garis flamboyan yang belum selesai. “Aku bingung milih bayangannya,” katanya.
Nada suaranya lebih pelan dari biasanya. Tidak berat, hanya ditekan. Seperti orang menaruh gelas di meja dengan hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi.
“Bayangannya ikuti arah angin,” jawab Diva cepat, mencoba membuat suasana kembali luwes. “Biar gambarnya tidak kehilangan napas.”
Ahmad mengangguk. Ia menoleh padaku. “Kamu… lagi nulis apa?”
“Tutup mading,” kataku. “Kalimat yang tidak sok puitis.”
“Safira,” ia mengucap namaku utuh, matanya singgah sepersekian lebih lama. “Kalimatmu tidak pernah sok.”
Aku tidak balas tersenyum. Aku menunduk pada buku, padahal kalimat itu mengusik dadaku dengan rapi. Angin masuk lewat sela-sela baju; aku menahan tangan agar tidak mengusap lengan—takut kebaca.
Sebelum ini, selama beberapa hari, aku mengira perubahan Ahmad hanyalah lelah. PR menumpuk, latihan mading, piket, remedial—semuanya alasan yang bisa diterima. Tapi ada hal-hal kecil yang tak bisa disebut lelah: cara ia melamun di kelas lalu cepat-cepat kembali, cara ia mengaduk es teh di kantin sampai es mencair setengah gelas tanpa ia sadar, cara ia mendengar tawa kami namun menaruh sebagian dirinya di tempat yang kami tidak bisa lihat. Aku mulai bertanya—pada siapa pun selain pada orangnya: Ahmad menyembunyikan apa? Atau… menyimpan perasaan yang tidak seharusnya?
“Kita bagi tugas, ya,” kata Diva, kembali ke halaman. “Saf, kamu jaga alur. Ahmad, kamu periksa ejaan. Aku rangkum jadi caption.”
“Siap,” sahut Ahmad pendek.
Aku menyodorkan pena ke Ahmad agar ia menandai catatan. Jari kami bersentuhan. Bukan kali pertama; bukan hal besar. Namun hari ini, ada sesuatu yang berpindah pelan dari telapak ke telapak—hangat yang tidak minta izin. Seseorang meniup daun flamboyan di atas kami; helai tipis jatuh tepat di perbatasan kami bertiga, menimbulkan riak kecil di kolam.
“Rambutmu…” Ahmad tiba-tiba berhenti, seperti menepis sesuatu di udara. “Ada…,” ia menunjuk pelipisku. Anak rambutku melambai, tersangkut di bibir, membuatku kesal sendiri. Refleks aku merapikannya, ujung jemariku gemetar ringan.
“Terima kasih,” kataku, entah untuk peringatan kecilnya atau untuk cara ia tidak menyentuh apa pun selain udara.
Diva menatap kami dari sisi. Ia mengangkat botol airnya, meminumnya perlahan. Ada guratan kecil di senyumnya—bukan patah, lebih seperti garis yang belum diarsir. “Aku ke koperasi bentar,” katanya mendadak, nada cerah yang dipasang terampil. “Beli isi ulang correction tape. Kalian lanjut.”
“Perlu ditemani?” tawarku.
“Tidak,” balasnya cepat. “Aku bisa.” Ia bangkit, menepuk pinggir bangku, lalu pergi. Aku melihat punggungnya menjauh, langkahnya mantap seperti selalu, tapi aku tahu: Diva jarang pergi kalau tidak ingin memberi ruang.
Ruang itu tiba-tiba terasa seperti kolam yang baru saja kehilangan ombak kecilnya. Sunyi menebal, namun tidak dingin. Ahmad memutar pensil di antara jari; aku membalik halaman yang tidak perlu dibalik. “Tadi di kelas, kamu diam,” kataku, akhirnya. “Tidak apa-apa?”
“Aku…” Ia menghela napas. Angin membawa suaranya sebagian saja. “Kadang-kadang, kepala ramai tanpa suara.”
Jawaban itu jujur sekaligus menghindar. Aku menimbang, antara bertanya lagi atau memeluk hening. Janji bertiga pernah kami ucapkan: kita nggak akan pisah. Tapi aku tahu, ada kalimat tambahan yang tidak kami tulis: jangan paksa pintu yang masih disangga dari dalam. Aku memilih duduk di sebelahnya, tidak bergerak. Menjadi ada—kadang itu cukup.
“Kita latihan foto ‘Pulang’ nanti sore?” tanyaku, mengganti arah. “Koridor jam empat. Cahaya jatuhnya pas.”
Ahmad menatapku—kali ini tidak tergesa. Ada sesuatu di matanya yang aku kenali dari kaca pada jam-jam paling jujur: rindu yang tidak diperintah dan takut yang tidak mau mengaku namanya. “Iya,” katanya pelan. “Jam empat.”
Detak jantungku berubah ritme. Bukan kencang karena lari, bukan pelan karena tenang. Di tengah—tapi berisik. Campuran yang aneh: rindu pada sesuatu yang belum jadi apa-apa, takut pada sesuatu yang bisa merusak apa saja.
Dari kejauhan, Diva sudah kembali, namun ia tidak langsung merapat. Ia berdiri setengah di balik pohon, seolah meminjam bayangan untuk menilai cuaca. Matanya memantul di permukaan kolam, mengukur riak-reak yang kami buat tanpa sadar. Aku melihatnya sebentar; ada sesuatu dalam tatapannya yang membuatku ingin mendekap. Orang ketiga adalah orang yang paling paham dua hati yang diam. Aku ingin bilang, “jangan jauh-jauh,” tapi lidahku memilih diam.
“Kamu tahu,” Ahmad bersuara lagi, lirih, “flamboyan ini… kalau diterpa angin, bayangannya mudah putus. Tapi akar di bawah tetap kuat.”
Aku menoleh. “Kamu menyemangati siapa?”
Ia tersenyum, mengangkat bahu. “Kamu. Aku. Diva. Bangku ini.”
Aku tertawa sedikit, tawa yang bentuknya lebih seperti napas. Ia mengembalikan penaku. Jari kami tidak bersentuhan kali ini, tapi jaraknya terlalu dekat untuk disebut aman. Seekor capung lewat, sayapnya memantulkan cahaya—sekilas, lalu hilang.
Bel jam pelajaran berikutnya terdengar dari arah gedung utama. Sunyi kami mematah sendiri. Diva mendekat dengan correction tape baru di tangan, suaranya kembali rapi. “Ayo, nanti keburu telat.”
Kami berdiri. Ahmad menepuk pelan sisi bangku, seperti mengucap terima kasih pada saksi yang setia. Kami berjalan bertiga, namun aku bisa merasakan garis tipis yang bergerak: jarak yang bukan dibuat oleh pertengkaran, melainkan oleh perasaan yang tidak menemukan pintu.
Di depan tangga, Diva berhenti untuk mengikat tali sepatu. Ahmad menoleh ke arah papan pengumuman. Aku melanjutkan sendiri beberapa langkah, melewati lorong yang sunyi karena semua orang sudah di kelas. Angin sore menyibak rambutku; aku membiarkannya. Flamboyan di halaman jatuh satu demi satu, daun-daunnya seperti huruf yang tiba-tiba malas disusun.
Dalam hati, aku bergumam pelan, takut didengar siapa pun selain diriku sendiri:
Aku nggak tahu kenapa, tapi rasanya Ahmad bukan lagi Ahmad yang dulu.
Aku melangkah menuju kelas, buku di d**a, napas kuatur. Di belakang, tanpa aku sadari, Ahmad berdiri di ujung lorong, menatap punggungku sebentar lebih lama dari wajar—mencoba menyembunyikan sesuatu yang bahkan dari jauh sudah bisa k****a.