Ahmad Bertekad Mengungkapkan Perasaan di Masa Depan
Senja menuruni halaman belakang sekolah seperti kain tipis yang ditarik hati-hati. Langit berwarna keemasan, memantul di jendela-jendela kelas yang sudah kosong. Angin sore membawa wangi rumput dipotong dan sisa kapur yang entah kenapa masih terasa di ujung hidung. Di bangku taman yang dulu kami rebutkan untuk duduk bertiga, aku duduk sendirian. Kayunya sedikit kasar di telapak, catnya mengelupas kecil di sudut. Di permukaan dudukannya masih terlihat samar goresan spidol: Ahmad — Diva — Safira. Huruf-huruf itu mulai pudar, tapi tetap bisa k****a tanpa harus menyipit.
Sudah beberapa hari sejak perpisahan. Lapangan yang kemarin penuh tawa kini tinggal riak-riak sunyi. Jika kucoba menutup mata, aku masih bisa mendengar suara tepuk tangan, pelukan yang terlalu cepat, seragam penuh tanda tanga