Hujan rintik menempel di kaca jendela kamar Ahmad seperti jari-jari kecil yang mengetuk pelan. Bau minyak kayu putih memenuhi ruangan—hangat, tajam, menenangkan—bercampur tipis dengan wangi kain sprei yang baru diganti. Lampu meja menyala redup, membentuk kolam cahaya kuning di atas buku catatan yang tak sempat ditutup rapat. Di luar, langit sore berwarna abu-abu s**u; suara air dari talang jatuh ritmis, tik… tik… tik, seperti jam yang memilih bahasa lain.
Ahmad terbaring miring, selimut menutupi sampai d**a. Kepalanya berat, tubuhnya dingin-hangat yang aneh—menggigil, lalu berkeringat, lalu menggigil lagi. Tenggorokannya kering. Semalam ia pulang kehujanan, menantang gerimis dengan alasan “cuma sebentar”. Sekarang “sebentar” itu menagih harga: demam yang mengajak pusing menari.
Pintu kamar diketuk dua kali. “Assalamualaikum,” suara lembut di balik pintu.
“Waalaikumsalam… masuk,” sahut Ahmad, pelan.
Pintu membuka sedikit, dan Safira menyelip masuk dengan tote bag kecil. Jaket hujannya masih basah di sisi luar; pipinya memerah dingin. “Maaf, telat. Hujan berhenti–jalan lagi,” katanya. Ia mengangkat wadah tertutup dari plastik bening. “Aku bawa bubur ayam—yang lembut. Sama obat demam. Ibumu yang bukain pintu, aku sudah izin.”
Dari dapur, suara ibu Ahmad menyahut, “Ibu bikin teh jahe, ya. Safira, jaga Ahmad dulu.”
“Iya, Bu,” Safira menjawab. Senyum kecilnya singgah ke Ahmad—senyum yang tenang, tidak heboh. Ia meletakkan tote bag, mengeluarkan tisu basah aroma anggur (ritual kecil mereka), termometer digital, dan kain kecil untuk kompres. “Suhu dulu,” katanya, duduk di tepi ranjang. Jemarinya dingin menyentuh dahi Ahmad sepersekian detik, lalu mundur. “Panas.”
Thermometer berbunyi; angka di layar memastikan perasaan Safira. Ia memeras kain kecil di baskom air hangat yang dititipkan ibu Ahmad, lalu menempelkannya di kening Ahmad. Sentuhan air meresap, sejuk seperti tangan yang mengusap kegelisahan.
“Terima kasih,” suara Ahmad serak. Ia memejam, menikmati sejuk yang merayap pelan ke pelipis.
“Duduk sebentar, makan dikit?” tanya Safira, hati-hati.
Ahmad berusaha bangkit. Safira membantu, menyelipkan bantal tambahan di belakang punggungnya. Ia membuka wadah bubur—uap tipis naik, harum bawang goreng dan ayam suwir. “Aku pesannya yang nggak pedas,” kata Safira. “Biar tenggorokanmu nggak protes.”
Sendok pertama ditiupnya pelan. “Awas panas.” Ia menyuapkan sedikit, menunggu Ahmad mengunyah, menatap apakah tenggorokannya menerima. Ada sesuatu yang sangat sederhana dari gerak itu—tangan yang maju perlahan, mata yang mengawasi dengan sabar—tapi di d**a Ahmad, sesuatu terasa bergerak: hangat yang tidak ada di minyak kayu putih.
“Enak,” kata Ahmad, jujur. Pelan-pelan ia menghabiskan beberapa suap. Safira menyeka sudut mulut Ahmad dengan tisu anggur—aroma manisnya muncul seperti lelucon lama yang menenangkan.
“Secara resmi, kontrak tisu anggur menyelamatkanmu lagi,” canda Safira. Senyumnya tipis.
Ahmad terkekeh, lalu batuk kecil. “Kamu selalu siap—tisu, plester, bubur.”
“Ini bukan kesiapan. Ini… aku suka melihat orang nyaman,” jawab Safira pelan, lebih ke udara daripada ke Ahmad. “Kalau bisa kubantu.”
Langkah kaki mendekat; ibu Ahmad masuk membawa teh jahe dalam gelas enamel. Wangi jahe mengangkat kepala, hangatnya meminjamkan keberanian. “Minum perlahan,” katanya. Ia menoleh ke Safira. “Diva tadi chat ibu, bilang sebentar lagi sampai.”
Safira mengangguk. Ahmad minum, uap teh jahe menabrak hidung—pedas manis yang membuka jalan napas. Di jendela, hujan sedikit menguat; jendela menampung bintik-bintik air yang berlomba.
Tak lama, pintu kembali diketuk. “Assalamualaikum!”
“Masuk, Div,” panggil Ahmad, suaranya lebih ringan setelah teh.
Diva masuk dengan payung dilipat, jaket krem kemasahan, dan kantong plastik berisi buah. Wajahnya cerah, tapi mata menangkap cepat keadaan: kain kompres di kening Ahmad, bubur yang setengah habis, tisu anggur yang basah di piring kecil, dan Safira yang duduk tenang di sisi ranjang. Ada sesuatu di d**a Diva yang mencelos—tidak keras, tidak kasar—lebih seperti lantai licin yang tiba-tiba terasa di telapak kaki.
“Pasien VIP,” kata Diva, memaksa nada bercanda. “RS Jendela siap bertugas. Aku bawa apel—biar dokter-dokter lain cemburu.”
Ibu Ahmad tertawa kecil. “Alhamdulillah, ramai yang sayang. Ibu ke dapur dulu, ya. Kalian jaga.” Ia menutup pintu pelan, memberi ruang pada mereka bertiga.
“Gimana rasanya?” tanya Diva mendekat, menaruh kantong buah di meja belajar.
“Kayak habis lomba lari sama demam,” jawab Ahmad. “Menang setengah, kalah setengah.”
“Yang penting menang di hati,” sela Safira, nada ringan.
Diva tersenyum. “Kalau hati, aku wasitnya.”
Mereka tertawa—pendek, karena Ahmad masih lemah. Diva menarik kursi dan duduk di sisi lain ranjang, menjaga jarak aman. Ia menawarkan, “Mau aku potongin apel?”
“Boleh, tapi nanti saja,” kata Ahmad. “Sekarang masih bubur.”
Safira kembali menyuapkan satu sendok, menunggu. Diva melihat gerakan itu dengan mata yang tak bisa dia perintah untuk tidak sakit. Sendok kecil berpindah dari wadah ke bibir Ahmad; si pasien menunduk menaati; si perawat menghela napas lega. Adegan sesederhana itu menampar sesuatu di dalam Diva. Ia mengangkat wajah, menatap pendar lampu di dinding. Tenang, katanya pada dirinya. Ini hanya bubur. Ini sahabatmu. Ini tidak apa-apa.
“Ada PR Pak Surya,” kata Diva kemudian, menemukan topik. “Esok dikumpulkan. Aku bawa tukang catatan—diriku sendiri—untuk membacakan poin penting.”
Safira menangkap alur. “Bagus. Biar Ahmad nggak ketinggalan.”
Diva membuka buku catatan rapi—hurufnya bersih, tulisan judul bergaris bawah. “Detail sensoris dalam narasi. Contohku tentang bau hujan yang tertinggal di seragam dan derit kursi ‘hantu tersinggung’.” Ia menatap Ahmad, mencoba menjahit jarak dengan tawa. Ahmad senyum, mata setengah terpejam.
“‘Hantu tersinggung’ itu warisanmu,” kata Ahmad. “Tolong jaga hak cipta.”
“Siap,” balas Diva. “Nanti kutagih royalti—es teh kurang manis satu gelas.”
Tawa kecil lagi. Hujan menggesek genting, bunyinya ajeg. Kain kompres diganti; Safira cekatan, tidak banyak bicara. Ia mengukur suhu lagi—turun setitik. “Bagus,” katanya. “Setelah makan obat, kamu tidur. Besok kamu butuh tenagamu untuk—”
“—tertawa,” sambung Ahmad. Safira tersenyum.
Diva memandangi dua pasang mata itu dan merasa sesuatu mendesak keras di dadanya. Ia ingat halaman buku biru semalam, kata-kata yang ia tuliskan terburu—tentang cemburu yang halus, tentang menjaga yang perlu dijaga. Aku kuat, katanya pada dirinya sendiri. Aku informatif. Aku PR: Penjaga Rasa. Tapi menjadi penjaga rasa ternyata juga berarti menjaga rasa sendiri; dan itu, malam ini, berat.
Ibu Ahmad masuk membawa piring kecil berisi pisang rebus. “Makan pisang sedikit, biar perut nggak kosong. Obatnya setelah ini.” Ia menatap Diva, hangat. “Diva, bantuin ibu bikin teh lagi?”
“Boleh, Bu.” Diva bangkit—lega diberi peran, tapi juga tahu: ia butuh keluar sebentar untuk menata napas.
Di dapur, uap air mendidih memeluk wajah. Diva menuang teh ke gelas, menambahkan sedikit gula. Tangannya tidak gemetar, tapi dadanya seperti ada beban kecil. Melalui ambang pintu, ia bisa melihat sepotong punggung Safira yang condong, sepotong tangan Ahmad yang menerima gelas enamel, sepotong tawa yang tidak pernah jahat kepada siapa pun.
Ia kembali ke kamar, meletakkan teh di meja kecil. “Hati-hati panas,” katanya datar, lalu memaksa senyum yang rapi. Ia duduk, membiarkan percakapan mengalir: tentang PR, tentang rumor ekskul fotografi, tentang polaroid Minggu kemarin yang sekarang menempel di dinding kamar Safira dan di dompet Diva. Sesekali Ahmad batuk kecil; Safira menepuk punggungnya pelan, ritme yang menenangkan. Diva menatap jam. Hujan berkurang, tinggal gerimis.
“Mad,” kata Safira pelan, “obat dulu ya.” Ia memegang gelas air, menyodorkan dua tablet. Ahmad mengambil satu per satu, menelan. Safira mengamati, berjaga kalau-kalau tersedak. Ahmad tidak tersedak, tapi tenggorokannya bergerak, membuat garis di lehernya menonjol halus—detail yang entah kenapa membuat Safira menunduk cepat. Pipinya memanas.
Diva menangkap perubahan kecil itu. Ia tertawa—bukan untuk menertawakan, hanya untuk memberi udara. “Kalau kalian saling menatap lama-lama, obatnya bisa iri,” katanya.
Safira menutup mulut, malu-malu. Ahmad ikut tersenyum. “Obat—maaf—kami tidak berniat merusak rumah tanggamu,” ucapnya pada pil di tangan, membuat mereka bertiga kembali tertawa.
Pelan-pelan, kehangatan bubur, jahe, obat, dan perhatian merayap di tubuh Ahmad. Matanya berat. Safira merapikan selimut sampai menutupi kaki. Diva menurunkan intensitas suaranya, seolah kamar ini punya aturan suara baru. Langkah-langkah ibu terdengar lalu menjauh; rumah menyusut jadi kecil, nyaman.
“Tidur,” bisik Safira. “Kami di sini.”
Ahmad mengangguk. Ia memandang keduanya—dua wajah yang berbeda tapi sama-sama rumah. Di antara kantuk, matanya berhenti sepersekian detik pada Safira. Terima kasih, ucapnya tanpa suara. Lalu ia memejam, menyerah pada tidur yang datang seperti kapal penyelamat.
Kamar menjadi tenang. Hujan menyisakan suara serasah; minyak kayu putih menetap seperti selimut kedua. Safira duduk, telapak tangannya di pangkuan. Diva berdiri dan melangkah ke arah jendela. Ia menatap luar—halaman basah, tetesan dari tepi atap jatuh berpola. Ia menelan sesuatu yang berkumpul di tenggorokannya.
“Saf,” panggilnya pelan, tetap menatap jendela. “Kamu hebat.”
Safira menoleh, bingung. “He—hebat apa?”
“Hebat menenangkan,” jawab Diva. “Kamu… membuat yang ramai jadi rapi.” Kalimat yang biasa ia pakai untuk menggoda dirinya sendiri, kini ia hadiahkan. Safira terdiam, lalu tersenyum takut-takut.
“Diva juga,” kata Safira. “Kamu membuat hal berat jadi bisa ditahan. Kamu yang paling cepat tertawa.”
Diva mengangguk. “Iya. Tapi—” Ia berhenti, mencari kata yang tidak membocorkan bendungan. “Aku sebaiknya pulang dulu. Ibu di rumah minta tolong beli sesuatu.”
Safira menatap jam. “Aku tunggu sampai bu Ahmad bilang boleh pulang. Biar kalau Ahmad kebangun, ada yang kasih air.”
“Bagus,” kata Diva. Ada tusukan halus di d**a, tapi ia menepuknya dengan sopan di dalam hati. Ia mendekat ke ranjang, menatap Ahmad yang sudah nyaris tertidur. “Cepat sembuh, ya, Pak Ilustrator. Es teh kurang manis menunggu di kantin.” Ia menyentuh tepi selimut, perpisahan yang sederhana.
Diva pamit pada ibu Ahmad di ruang tamu, lalu keluar. Gerimis menyambutnya, halus dan rajin. Ia membuka payung krem, melangkah menyusuri gang kecil. Taman tetangga becek, bumi wangi, udara menempel di kulit. Beberapa langkah pertama, ia baik-baik saja—napasnya stabil, langkahnya mantap.
Lalu, di tikungan yang sepi, tangis datang tanpa ketuk. Bukan ledakan, bukan yang menyita suara. Tangis itu turun diam-diam, seperti hujan rintik yang dari tadi setia: menuruni pipi tanpa mengubah banyak hal di luar, tapi menenggelamkan sesuatu yang rapuh di dalam. Diva berhenti sejenak, menggenggam gagang payung lebih kuat. Ia mendongak, menelan air mata, dan tertawa kecil pada dirinya sendiri—tawa yang tidak lucu, tapi perlu.
Di saku jaketnya, ada dompet kecil. Di dalamnya, foto polaroid Minggu kemarin tersimpan. Diva mengeluarkannya, melindunginya dari gerimis dengan tangan. Tiga wajah tersenyum—ceria, terang, seperti tidak mungkin retak. “Untuk yang ramai jadi rapi, untuk yang samar jadi jelas,” tulisannya di belakang melintas di kepala.
“Kalau ini cerita,” bisiknya pada malam, “aku narator yang tidak jujur—kecuali di halaman buku biru.”
Ia menyeka pipi dengan punggung tangan, menarik napas panjang. Lalu melangkah lagi, membiarkan gerimis menyamar sebagai air mata yang lain. Ia telah memutuskan untuk tidak merusak apa pun; ia akan menjaga, sejauh yang ia bisa. Namun di bawah payung krem itu, Diva akhirnya mengakui dengan jujur pada diri sendiri: ia mulai kalah dalam cinta yang tak pernah diungkapkan.