Halaman belakang sekolah selalu punya suara-suara yang tidak terburu-buru. Dari lapangan sebelah, dentum bola basket memantul dengan ritme tertentu—duk… duk… duk—diikuti decit sepatu yang sesekali mengiris udara. Angin siang mengaduk bau tanah lembap bercampur dedaunan kering; sinarnya jatuh miring, menyorot bangku semen berlumut dan pagar kawat yang bergetar pelan bila tertiup. Tempat ini biasanya sepi saat jam istirahat—terlalu jauh dari kantin, terlalu biasa untuk yang ingin pamer.
Safira memilih sudut ini bukan untuk bersembunyi. Ia hanya ingin mengabadikan daun-daun yang bertumpuk rapi di kaki pohon trembesi; dia suka memotret hal yang orang lain anggap biasa. Pita krem di ujung kepangnya bergerak pelan saat ia menunduk, mencari sudut. Jari-jarinya yang dingin meraba tombol kamera ponsel; napasnya stabil, mata fokus.
“Eh, Ratu Pita,” suara laki-laki memotong tenang itu, kasar, datang dari sisi kiri. “Foto-foto apaan, sih? Buat feed ‘kalem tapi cari perhatian’?”
Safira menoleh. Tiga anak laki-laki berdiri setengah melingkar. Bimo—berambut cepak dengan gelang karet di tangan—mengunyah permen karet sambil tersenyum menyepelekan. Guntur—lebih tinggi, tas di satu bahu, kancing seragam atasnya terbuka. Aldi—yang paling muda wajahnya, menatap dengan senyum kecil yang tidak ikut tertawa, tapi tidak juga mencegah.
“Permisi,” kata Safira pelan, berusaha balik ke mode netral. “Aku mau lewat.”
“Lewat boleh,” sahut Guntur, menyender ke tiang besi. “Tapi jawab dulu. Kamu pacarnya si Ahmad, bukan?” Ia mengedip ke dua temannya. “Yang suka duduk di jendela, itu.”
Aldi cekikikan—kecil, menyebalkan. “Kayaknya sih iya. Lihat aja pitanya, so-so sweet.”
Safira menahan napas sedetik. Ia sudah paham jenis ejekan seperti ini: tidak meledak, tapi menyenggol. Katanya bukan benda tajam, tapi bila diulang bisa jadi luka. Ia merapatkan tali tote bag di bahu. “Aku nggak main tebak-tebakan. Tolong kasih jalan.”
Bimo melangkah setengah, cukup untuk membuat jalur keluar terasa sempit. “Eh, santai dong, Kak Safira. Kami cuma nanya. Jangan baper. Atau kamu bisa jawab dengan cara lain—senyum manis gitu.” Tangannya mengangkat ponsel, pura-pura memotret. “Hashtag: Ratu Pita kalem tapi menawan.”
Suara bola basket dari kejauhan menepuk udara lebih keras—duk—seperti ikut kaget. Safira merasakan telapak tangannya lembap. Ia menegakkan punggung, berusaha menatap tepat di antara alis Bimo, seperti nasihat yang sering ia baca: tatap untuk membatasi. “Stop,” ucapnya, datar. “Bahas yang sopan.”
Guntur klik lidahnya. “Sopan tuh relatif. Kita lagi bercanda. Kamu aja yang—”
“—kamu aja yang terlalu berani ke perempuan sendiri,” Safira memotong, suaranya naik setengah irama tanpa berteriak. Ia merasakan jari-jarinya bergetar kecil, bukan karena takut, melainkan karena ingin marah tapi menahan. “Aku bilang: kasih jalan.”
Aldi melambai santai. “Udah, Gun. Biarin aja. Nanti pahlawan jendelanya datang.”
Kalimat itu seperti nubuatan kecil. Karena di momen berikutnya, langkah cepat terdengar dari arah lorong sisi kanan. Ahmad muncul—napasnya sedikit memburu, seragamnya setengah kusut karena berlari. Ia sempat memindai keadaan, dan begitu melihat Safira terhalang tiga orang, matanya mengeras. Bahu yang biasanya canggung tiba-tiba tegak.
“Masalah apa?” suara Ahmad tegas, tanpa teriak. Ia memosisikan diri setengah di depan Safira—tidak menutupi, tetapi melindungi.
Bimo menoleh dengan senyum lebar. “Nah, datang juga. Pahlawan jendela. Santai, Bro, kami cuma bercanda.”
“Bercanda yang bikin teman saya nggak nyaman bukan bercanda.” Ahmad menahan nada, tapi tiap suku katanya jatuh jelas. “Geser, Bi.”
Guntur mendengus. “Sejak kapan kamu ngatur halaman belakang? Ini bukan kelas, Pak Surya nggak ada.”
“Sejak kalian lupa kalau orang juga punya batas,” jawab Ahmad. Ia melangkah setengah maju, jarak ke Bimo tinggal sejengkal. “Aku minta baik-baik. Mundur. Ngobrolnya pakai bahasa manusia.”
Hening sesaat. Di kejauhan, suara ring basket berdering karena bola masuk—cling—membelah tegang tipis. Safira berdiri di belakang, bisa melihat sisi wajah Ahmad: rahangnya tegas, matanya tidak berkedip. Ia tak pernah melihat Ahmad seperti ini—tenang, tapi keras pada tempatnya. Dadanya menghangat aneh.
Bimo menatap balik, menantang—beberapa detik yang seperti benang ditarik. Lalu ia tertawa pendek. “Wah, gaya. Oke, oke. Kita mundur. Tapi titip salam: kontrol dikit pacar lo, biar nggak jutek.”
“Dia bukan barang titipan,” Ahmad menyambar, cepat. “Dan dia nggak perlu ‘dikontrol’ siapa pun. Sekarang jalan.”
Nada di kata terakhir tidak tinggi, tapi ada bar yang tidak bisa dilompati. Aldi mengangkat kedua tangan, pura-pura menyerah. “Udah, Bi. Capek, nih. Main basket aja yuk.” Guntur mendongkol, tetapi menarik tas. Bimo menatap Safira—tatapan yang coba-coba menanam sisa, lalu memantul kembali ke Ahmad. “Santai, Bro. Lain kali, kalo bercanda, ketawalah.”
“Kalau bercanda yang bener, mungkin kami bisa ketawa,” Ahmad menutup, tetap berdiri sampai ketiganya bergeser menjauh, melewati pagar kawat ke sisi lapangan. Mereka tertawa-tawa lagi, tapi sudah menjauh, mengecil, kehilangan taring.
Saat suara mereka memudar, barulah Ahmad menghela napas panjang—napas yang seolah baru diizinkan keluar. Tangannya masih mengepal, kemudian pelan terbuka; ia menoleh ke Safira. “Kamu nggak apa-apa?”
Safira baru sadar selama beberapa menit tadi ia menahan napas lebih sering dari bernapas. Bahunya jatuh sedikit; jemarinya—yang dari tadi menggenggam tali tas—masih bergetar tipis. Ia memaksa tersenyum, tapi suaranya keluar setengah retak. “Aku… baik. Terima kasih.”
Ahmad merogoh saku tasnya refleks, mengeluarkan sebungkus tisu basah aroma anggur—ritual kecil yang tidak pernah kehilangan kekuatannya. “Ini,” katanya, menyodorkan. “Bukan untuk rapuh. Untuk hal-hal kecil yang sebaiknya dirawat.”
Safira tertawa—tawa kecil yang keluar seperti jendela dibuka. “Kalimatku kau curi ya?” Ia mengambil tisu, mengusap telapak tangan, menikmati aroma manis yang langsung menenangkan. “Tapi terima kasih. Jujur, tadi aku ingin marah. Tapi kalau aku marah, bisa tambah buruk.”
“Ya, kadang marah itu bensin yang nggak perlu,” jawab Ahmad, menatapnya, memastikan warna di wajah Safira kembali. “Kamu sudah benar. Kamu sudah bilang berhenti. Selebihnya, biar aku yang pasang badan.”
Kata-kata “pasang badan” itu menempel di d**a Safira, seperti sesuatu yang lama ia perlukan tapi tidak tahu ia perlukan. Mata mereka bertemu—sebentar, hangat. Safira menelan ludah, perasaannya aneh: ada lega yang besar sekali, ada gemetar yang manis, ada syukur yang menyebar pelan seperti teh panas di tubuh.
Di sudut lain halaman belakang, dari balik pilar lorong lantai satu, Diva berdiri dengan dua botol air mineral di tangan. Ia datang hendak mencari keduanya—niatnya sederhana, membagi air dan kabar gosip ekskul fotografi. Tapi begitu melihat adegan tadi, langkahnya tertahan. Ia menyaksikan bagaimana Ahmad berdiri tegak seperti garis yang tiba-tiba menjadi dinding, bagaimana Safira menahan diri dengan napas pendek, bagaimana tiga anak itu mundur. Kagum merayap duluan ke dadanya—kagum pada Ahmad yang berani, pada Safira yang tidak pecah. Lalu rasa lain menyusul—iri yang halus, seperti jarum kecil menyentuh kulit dari dalam.
Rasanya seperti berlari di jalur yang sama, tetapi setapak di belakang. Diva memegang erat botol air, plastiknya remas dan mengerut. Ia ingin mendekat, mengatakan sesuatu yang ringan—“Pahlawan jendela,” mungkin—agar suasana kembali ke orbit. Tapi kakinya berat. Di hadapannya, dua orang sahabatnya berdiri berhadapan—ruang di antara mereka bukan milik orang ketiga. Diva menelan udara yang rasanya hambar. Ia bergeser, memilih bayangan pilar sebagai tirai, membiarkan momen itu menjadi momen mereka.
“Mad,” Safira memanggil lebih pelan. “Kamu bisa kena masalah kalau mereka lapor balik.”
“Biar,” jawab Ahmad, mengangkat bahu sedikit. “Kalau perlu jelasin ke Pak Surya atau BK, aku jelasin. Ada saksi juga.” Ia menunjuk pagar kawat, ke arah lapangan. “Dan… ada CCTV lorong sana. Suara mungkin nggak jelas, tapi gestur cukup bicara.”
Safira mengangguk. “Kamu selalu memikirkan detail.”
“Karena kamu selalu memikirkan orang lain,” Ahmad menimpali, spontan. Begitu kalimat itu keluar, ia seperti tersadar—terlambat menahannya. Ujung telinganya memanas. “Maksudku… ya, gitulah.”
Safira tersenyum, kali ini tanpa berusaha menutup-nutupi. Senyum yang tulus, yang datang dari tempat paling jujur—bukan untuk membalas, hanya untuk mengakui: ia merasa aman di sini. “Aku berutang, Ahmad.”
“Kamu nggak berutang apa-apa.” Ahmad menatap daun-daun kering yang bergerak sedikit. “Kita teman.”
Kata “teman” keluar lembut, tapi Safira mendengarnya seperti kata yang punya lebih dari satu arti—setidaknya untuknya. Ia menyimpan baik-baik rasa hangat itu di d**a, seperti menaruh foto polaroid kecil ke dalam saku: tidak untuk dipamerkan, tapi untuk dipegang saat diperlukan.
Dari kejauhan, bel pendek pertanda setengah istirahat lewat berdenting. Suara bola basket berhenti—sejenak—sebelum kembali memantul. Angin mengangkat debu ringan; daun kering menari setengah putaran. Diva akhirnya mengumpulkan sisa-sisa langkahnya, melangkah keluar dari balik pilar. Ia mengatur wajah, menyusun senyum yang tidak menusuk siapa pun.
“Eh,” sapanya, datar tapi ringan. “Kalian kok ke sini? Aku cari dari tadi.” Ia mengangkat botol. “Air. Sponsor resmi Trio Jendela.”
Ahmad menoleh, lega. “Div.” Ia menerima botol itu, menawarkannya ke Safira dulu. “Minum.”
Safira menerima, ujung jarinya menyentuh singkat punggung tangan Ahmad—kebetulan, tapi cukup untuk menarik garis api tipis ke lengan. Diva melihat sentuhan itu, matanya memotret tanpa kamera. Ada sesuatu di dadanya bergerak lagi—kagum, iri, takut. Ia memalingkan wajah sepersekian detik, menatap pagar kawat yang mengilat oleh matahari.
“Kalian nggak apa-apa?” Diva berusaha bertanya normal.
“Nggak apa,” jawab Safira. “Tadi ada anak-anak iseng. Tapi sudah beres.” Ia menatap Ahmad lagi—sekilas, seperti permisi untuk membiarkan terima kasihnya keluar dengan benar. “Terima kasih, ya.”
Ahmad hanya mengangguk, padahal dadanya sedikit berdebar. “Sama-sama.”
Diva meneguk airnya sendiri, tenggorokannya kering. Itu air yang dingin, tapi tidak cukup untuk memadamkan sesuatu di dalam. Ia memaksa tertawa kecil. “Lain kali kalau ada yang iseng, panggil aku. Aku punya jurus ‘press release’. Mereka akan bosan sendiri.”
Ahmad dan Safira tertawa—tulus. Diva ikut tertawa, tetapi tawa itu terdengar agak serak di telinganya sendiri. Ia menyadari sesuatu yang tidak mau ia akui keras-keras: semakin hari, jarak di antara dua sahabatnya itu seperti mengecil, sementara dirinya—tak peduli seberapa keras ia berjalan—selalu tertinggal setapak.
Bel panjang berbunyi—kali ini benar-benar memanggil kembali. Suara anak-anak dari kantin mengalir seperti sungai kecil menuju kelas. Trio itu berjalan berdampingan melewati lorong; bangku-bangku kosong di halaman belakang kembali menjadi benda biasa. Di dekat pintu kelas, Diva memperlambat langkah agar Safira dan Ahmad lebih dulu masuk. Ia memandangi punggung keduanya—sederhana, tapi saling mencari ritme.
“Terima kasih,” kata Safira sekali lagi sebelum duduk, senyum tulusnya diarahkan pada Ahmad—senyum yang menyatakan lebih banyak dari kata-kata singkatnya. Ahmad membalas dengan anggukan pelan dan mata yang—untuk sesaat—tidak beranjak dari wajah Safira.
Dari bangku samping, Diva menarik kursinya. Suara derit kecil terdengar—seperti kursi yang mengeluh pelan. Di antara tawa dan obrolan kelas yang kembali ramai, Diva duduk, menggulung perasaannya seperti kertas yang ingin ia simpan untuk malam nanti. Ia memandang keluar jendela: daun trembesi jatuh satu-satu, lambat, tepat, sementara di dalam ruangan ini, sesuatu terasa berlari. Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa, dengan jujur dan tanpa drama: dirinya semakin tertinggal dari kedekatan mereka.