Angka seratus muncul di banyak tempat pada tahun itu. Pusat Helena-Martha menerima kasus keseratus, perpustakaan panti memperoleh buku keseribu, dan Pak Darman memimpin pemeriksaan keselamatan pabrik yang keseratus.
Kasus keseratus tampak sederhana: seorang pekerja bernama Rina ditahan ijazahnya agar tidak mengundurkan diri. Perusahaan berjanji mengembalikan jika dia membayar denda yang lebih besar daripada gaji setahun.
Rina takut melawan karena seluruh keluarganya bergantung pada penghasilan. Nesia mengingatkan tim agar tidak menganggap kasus ini kecil hanya karena tidak ada kekerasan fisik.
Gugatan pusat bantuan membuat perusahaan mengembalikan dokumen semua pegawai. Regulator menjatuhkan sanksi dan mewajibkan perubahan kontrak.
Rina datang mengambil ijazah dengan tangan gemetar. "Saya kira kertas ini membuat mereka memiliki hidup saya."
"Kertas seharusnya mencatat kesepakatan, bukan menghapus pilihan," jawab Nesia.
Kalimat itu dipasang di ruang tunggu dengan izin Rina. Bukan nama Nesia yang tercantum di bawahnya.
Pada hari yang sama, perusahaan Wilson menerbitkan laporan keselamatan pertama yang seluruh datanya dapat dibaca publik. Ada kecelakaan baru dalam laporan tersebut. Dewan komunikasi ingin menundanya agar angka terlihat baik.
Remy menolak. Dia menemui pekerja yang terluka dan menjelaskan penyebab serta perbaikan. Untuk pertama kalinya, perusahaan mengakui kecelakaan sebelum media menemukannya.
Harga saham turun sebentar, lalu stabil. Yang lebih penting, pekerja mulai melaporkan bahaya tanpa takut dihukum.
Lukas meminta Remy kembali menjadi direktur utama. Remy menolak dan memilih jabatan pengawasan pemulihan. Dia tidak lagi membutuhkan kursi tertinggi untuk merasa berguna.
"Saya tidak menyangka Anda mampu menolak kekuasaan," goda Nesia.
"Aku sudah menikah dengan ketua pemeriksa proposal. Kekuasaan di rumah pun terbatas."
Perayaan sederhana diadakan di Martha Hall. Seratus pita digantung, masing-masing berisi satu perubahan yang lahir dari kesaksian korban. Tidak semua kasus dimenangkan. Beberapa pita kosong mewakili orang yang belum siap berbicara.
Maya hadir bersama anaknya. Alin datang dengan Dewi karena keduanya kini menjadi relawan. Tita memimpin meja penerimaan, sementara Dona menyelesaikan hari terakhir kerja sosialnya.
Hakim telah menyatakan kewajiban Dona selesai. Dia bebas meninggalkan pusat bantuan, tetapi memilih tetap bekerja sebagai staf arsip dengan gaji biasa.
"Kakak yakin tidak ingin jabatan?" tanya Nesia.
"Saya sedang belajar bahwa dekat dengan kekuasaan bukan satu-satunya cara merasa penting."
Sandra membuka program pendampingan bagi ibu yang terpisah dari anak. Dia memakai pengalaman sendiri tanpa menganggap semua ibu harus berdamai dengan keluarga yang menyakiti mereka.
Bu Tuti dan Vino datang dari kota lain bersama istri Vino. Pertemuan mereka dengan Nesia tidak canggung. Remy bahkan meminta Vino membantu membuat rak untuk cabang baru.
Ketika musik diputar, Rafi mengajak Sasa menari. Dewi duduk di samping Nesia dan mengucapkan terima kasih karena tidak menutup pintu.
"Saya hampir melakukannya," jawab Nesia jujur. "Kami semua belajar."
Malam berakhir dengan penanaman pohon di halaman gedung. Setiap keluarga korban menuangkan tanah. Remy tidak meletakkan plakat nama Wilson.
Ratri membaca kutipan terakhir Helena tentang tempat orang merayakan awal hidup baru. Martha Hall kini bukan hanya gedung pernikahan, melainkan tempat orang mengambil kembali hak atas hidup mereka.
Setelah semua tamu pulang, Nesia menemukan Remy menghitung pita.
"Ada sembilan puluh sembilan," katanya.
Pita terakhir ternyata dipegang Mila. Anak itu menulis: satu perempuan boleh berkata tidak, lalu menempelkannya di pintu utama.
Jumlahnya lengkap. Namun, Nesia mengingatkan bahwa keberhasilan bukan angka seratus. Setiap pita adalah hidup yang tidak boleh berubah menjadi statistik.
Mereka berdiri di bawah pohon muda bersama anak-anak. Tidak ada pidato penutup. Sasa mengeluh lapar, Rafi mencari bola, dan Edo sudah menghabiskan sisa kue.
Kehidupan terus bergerak dalam hal-hal biasa, jauh lebih nyata daripada angka bulat atau nama besar.
Pameran seratus pita berlangsung sebulan. Pengunjung boleh menambahkan catatan, termasuk kritik kepada perusahaan. Dewan tidak mencabut tulisan yang membuat mereka tidak nyaman.
Pak Darman membawa pekerja muda mengikuti latihan penghentian mesin. Ketika supervisor khawatir target produksi gagal, Remy mendukung pekerja menghentikan jalur sampai pemeriksaan selesai.
"Perusahaan rugi?" tanya Rafi.
"Hari ini iya," jawab Remy. "Tetapi tidak ada keluarga yang menerima surat kecelakaan."
Kasus Rina kemudian menjadi dasar aturan baru mengenai penahanan dokumen. Nesia membawa Rina dan perwakilan serikat ke sidang kebijakan, bukan berbicara menggantikan mereka.
Rina menjelaskan perusahaan boleh meminta pemberitahuan pengunduran diri, tetapi tidak boleh menyimpan masa depan seseorang sebagai jaminan. Kesaksiannya diterima dan rekomendasi nasional diterbitkan.
Lukas menunjukkan bahwa standar keselamatan justru mengurangi kerusakan serta pergantian pekerja. Remy mengingatkan dewan bahwa aturan tetap benar sekalipun keuntungan tidak naik.
Pernyataan itu dipasang di ruang rapat. Perubahan tidak boleh bergantung pada apakah keadilan sedang menguntungkan pemegang saham.
***