Nama dokter Ilham dalam daftar laboratorium membuat Remy langsung curiga. Ilham adalah dokter keluarga yang merawat Sandra dan mengetahui banyak persoalan mereka. Penunjukannya bisa digunakan Armand untuk menuduh hasil tes tidak netral.
"Saya akan meminta pengadilan menggantinya," ujar Remy.
"Tunggu," kata Nesia. "Kita harus bertanya lebih dahulu apakah dokter Ilham mengetahui penunjukan ini."
Mereka pergi ke rumah sakit. Ilham baru selesai memeriksa pasien ketika Remy menunjukkan surat pengadilan.
"Saya tidak pernah menerima permintaan menjadi dokter pemeriksa," katanya. "Tanda tangan persetujuan ini bukan milik saya."
"Armand sengaja mencantumkan nama Om," ujar Remy.
Ilham memeriksa nama laboratorium. Tempat itu pernah bekerja sama dengan rumah sakit, tetapi izinnya dibekukan beberapa bulan lalu karena pelanggaran prosedur.
"Jika kalian datang tanpa memeriksa, sampelnya bisa diganti," katanya.
Nesia merasa semakin gelisah. "Bagaimana kita membuktikan hubungan darah jika semua tempat bisa dipengaruhi?"
Ilham menyarankan pengambilan sampel dilakukan di hadapan pengadilan dan dibagi kepada tiga laboratorium independen. Sandra, Nesia, Dona, dan Armand harus memberikan sampel agar hubungan keluarga dapat dibandingkan.
"Armand tidak akan datang," ujar Remy.
"Pengadilan bisa menggunakan sampel medis lama jika keasliannya dibuktikan," jawab Ilham.
Dokter itu terdiam sebelum mengakui sesuatu. Lebih dari dua puluh tahun lalu, dia adalah dokter muda di klinik tempat Armand melakukan tes DNA pertama.
"Om mengetahui Nesia sejak dulu?" tanya Remy.
"Saya hanya melihat nama Sandra dan seorang bayi. Saya tidak tahu bayi itu selamat sampai kalian membawa hasil lama."
Ilham menjelaskan bahwa kepala laboratorium saat itu memintanya menandatangani hasil negatif yang menyatakan Armand bukan ayah bayi. Dia menolak karena data asli menunjukkan kecocokan.
"Siapa kepala laboratoriumnya?" tanya Lukas.
"Dokter Bima. Dia meninggal sepuluh tahun lalu, tetapi sebelum meninggal pernah mengirim surat permintaan maaf."
Ilham mengambil sebuah map dari lemari kantornya. Surat Bima menyebut seorang pengusaha membayar laboratorium untuk mengganti nomor sampel. Nama pengusaha tidak ditulis, hanya inisial A.W.
"Mengapa Om menyimpan surat ini tanpa melapor?" tanya Remy.
"Saat itu tidak ada bukti lain. Bima juga mencabut pengakuannya beberapa hari kemudian karena keluarganya diteror. Saya takut laporan justru membuat bayi yang dicari semakin terancam."
Nesia merasa kecewa mendengar alasan takut yang sama berulang kali, tetapi tidak bisa membayangkan tekanan yang dialami mereka dua puluh tahun lalu.
"Apakah masih ada petugas yang bekerja saat tes pertama?" tanyanya.
Ilham menyebut seorang analis bernama Santi. Perempuan itu sekarang mengelola laboratorium kecil di kota lain. Dia mungkin bisa membuktikan bahwa sampel lama tidak pernah tertukar.
Remy meminta Lukas menghubunginya. Santi bersedia memberikan keterangan melalui penyidik dan masih menyimpan buku catatan pribadi dari masa kerja.
"Catatannya mencantumkan nomor tabung Sandra, bayi, dan Armand," ujar Lukas setelah menerima foto. "Semuanya cocok dengan salinan dokter Ilham."
"Jadi kita memiliki dua saksi," kata Nesia.
"Tetapi Armand akan tetap menuduh mereka bekerja sama," jawab Remy. "Tes baru harus dilakukan tanpa satu celah pun."
Ilham mengusulkan setiap tabung diberi kode acak yang hanya diketahui hakim. Pengantar dari masing-masing laboratorium tidak akan tahu sampel milik siapa. Proses pembukaan hasil juga dilakukan bersamaan.
"Saya akan mengundurkan diri sebagai pemeriksa agar tidak ada konflik kepentingan," kata Ilham. "Tetapi saya ingin hadir sebagai saksi sejarah medis."
Remy mengangguk. "Terima kasih karena kali ini Om memilih bicara."
Ilham menerima teguran itu tanpa membela diri. "Diam saya dahulu mungkin ikut memperpanjang penderitaan Nesia. Saya tidak akan mengulang kesalahan yang sama."
Sebelum mereka pergi, Ilham memeriksa luka bahu Dona dan kondisi Sandra. Dia juga mengambil salinan rekam medis keduanya untuk memastikan tidak ada pihak yang mengubah data rumah sakit.
"Mulai sekarang, semua akses arsip keluarga dikunci," katanya. "Hanya saya dan direktur rumah sakit yang bisa membukanya."
Malam sebelum pengambilan sampel, Nesia sulit tidur. Dia duduk di ruang keluarga sambil membaca kembali hasil lama. Remy datang membawa susu hangat.
"Kamu takut hasilnya berbeda?" tanyanya.
"Saya takut seluruh identitas saya kembali ditentukan selembar kertas."
"Kamu tetap Nesia apa pun hasilnya."
"Tetapi saya baru saja menemukan ibu dan saudara. Saya tidak ingin kehilangan mereka."
Remy merangkulnya. "Hubungan yang kalian bangun tidak akan hilang hanya karena Armand memalsukan sesuatu."
Nesia bersandar di bahunya sampai rasa cemas sedikit mereda.
"Beberapa hari kemudian, seluruh arsip hilang dan saya dipindahkan," lanjutnya. "Saya menyimpan satu salinan karena merasa ada sesuatu yang salah."
Salinan tersebut berada dalam gudang dokumen pribadi Ilham. Dia meminta waktu untuk mencarinya dan bersedia menyerahkan kepada penyidik.
"Mengapa Om tidak pernah memberi tahu Papa?" tanya Remy.
"William tahu ada bayi yang disembunyikan, tetapi meminta saya tidak mencari karena keselamatannya terancam. Saya menyesal mengikuti permintaan itu."
Remy tidak langsung menyalahkan. Terlalu banyak orang dipaksa diam oleh Armand, dan kemarahan tidak akan mengubah masa lalu.
Keesokan harinya, pengadilan mengabulkan permintaan penggantian prosedur. Pengambilan sampel dilakukan di ruang khusus dengan pengawasan hakim, penyidik, dan perwakilan tiga laboratorium.
Dona datang dengan bahu masih diperban. "Saya tidak suka jarum," keluhnya.
"Anda berdiri di depan peluru, tetapi takut jarum?" tanya Nesia.
"Peluru datang terlalu cepat untuk ditakuti. Jarum memberi waktu untuk membayangkan rasa sakit."
Nesia menahan tawa dan menggenggam tangan kakaknya selama darah diambil. Dona pura-pura tidak membutuhkan bantuan, tetapi tidak melepaskan genggaman.
Sandra memberikan sampel berikutnya. Untuk sampel Armand, pengadilan menggunakan darah yang tertinggal di mobil pelarian setelah pemeriksaan memastikan miliknya.
Saat giliran Nesia, Remy berdiri di sampingnya. "Jangan melihat jarumnya."
"Saya tidak takut seperti Kak Dona."
"Aku mendengar itu," protes Dona dari kursi lain.
Suasana sempat mencair. Namun, ketika tabung sampel akan dimasukkan ke kotak, listrik gedung padam. Lampu darurat menyala beberapa detik kemudian.
Salah satu petugas laboratorium sudah menghilang bersama kotak sampel milik Armand.
Hakim memerintahkan seluruh orang tetap berada di dalam ruangan sampai identitas diperiksa. Dua petugas asli menemukan kartu pengenal cadangan mereka hilang dari ruang ganti.
"Pelaku mempelajari jadwal kita," ujar Remy.
Ilham meminta tabung lain segera dipindahkan ke brankas pengadilan. Dia memeriksa segel satu per satu dan menemukan goresan pada kotak sampel Nesia, tetapi lapisan dalamnya belum terbuka.
Dona berdiri di depan adiknya. "Kalau mereka mencoba lagi, mereka harus melewati saya."
"Bahu Kak Dona bahkan belum sembuh," jawab Nesia.
"Saya masih punya bahu yang lain."
Sandra menegur keduanya agar tidak menjadikan diri sebagai perisai. Di tengah ketegangan, sikap Dona membuat Nesia sadar hubungan mereka mulai berubah menjadi perlindungan yang nyata.
Remy menghubungi kepala keamanan dan meminta jalan keluar gedung disterilkan. Tidak ada satu pun sampel lain boleh berpindah tanpa pengawalan polisi.
***