Berita pembekuan rekening menyebar cepat. Ratusan pegawai berkumpul di depan kantor Maheswari Group dan menuntut kepastian gaji. Armand tidak bisa dihubungi, sementara direksi saling menyalahkan.
Sandra masih belum cukup sehat untuk memimpin. Dona memiliki saham, tetapi sebagian direksi tidak mempercayainya karena hubungan dengan Armand. Nama Nesia mulai disebut sebagai penyebab kekacauan.
"Saya harus menemui mereka," ujar Nesia.
Remy menolak. "Kerumunan sedang marah."
"Mereka marah karena takut tidak bisa memberi makan keluarga. Saya memahami ketakutan itu."
Edo menyarankan mengadakan pertemuan dengan perwakilan pegawai di dalam gedung. Keamanan bisa dijaga, sementara Nesia tetap mendengar tuntutan mereka.
Enam perwakilan datang. Seorang pekerja pabrik bernama Pak Rahmat mengatakan gaji belum masuk dan perusahaan tidak memberi penjelasan.
"Kami tidak peduli siapa anak siapa," katanya. "Kami hanya ingin hak kami."
Nesia mengangguk. "Bapak benar. Masalah keluarga tidak seharusnya membuat pegawai menanggung akibat."
Direktur keuangan menjelaskan rekening operasional ikut dibekukan karena bercampur dengan transaksi ilegal Armand. Membuka kembali membutuhkan persetujuan penyidik.
"Gunakan dana saham titipan William," ujar Nesia.
Remy menatapnya. Dana itu secara hukum milik Nesia dan cukup membayar gaji satu bulan.
"Kamu tidak harus menggunakan uang pribadi," katanya.
"Uang itu berasal dari dividen perusahaan yang selama ini dikelola menggunakan hak saya. Mengembalikannya kepada pekerja bukan kerugian."
Tim hukum menyusun pinjaman darurat tanpa bunga kepada Maheswari Group. Nesia menandatangani setelah memastikan gaji dibayar penuh dan dana tidak digunakan untuk kebutuhan direksi.
Pak Rahmat membaca kesepakatan tersebut. "Nyonya benar-benar akan menggunakan uang sendiri?"
"Saya pernah menunggu upah harian untuk membeli makan. Saya tidak ingin orang lain mengalami hal yang sama karena persoalan yang tidak mereka buat."
Para perwakilan menerima penjelasan dan meminta kerumunan pulang dengan tertib. Untuk pertama kalinya, pegawai melihat Nesia bukan sebagai pewaris asing, tetapi seseorang yang memahami kehidupan mereka.
Sebelum meninggalkan ruangan, Pak Rahmat menyerahkan daftar pekerja yang paling terdampak pembekuan rekening. Ada ibu tunggal, pegawai yang sedang membayar biaya rumah sakit, dan puluhan keluarga yang bergantung pada satu penghasilan.
"Kami tidak meminta belas kasihan," katanya. "Kami hanya ingin perusahaan mengingat bahwa setiap angka dalam laporan adalah kehidupan seseorang."
Nesia menerima daftar tersebut. "Saya akan mengingatnya."
Dia meminta bagian sumber daya manusia membuka pos bantuan darurat menggunakan dana fasilitas direksi yang dibekukan. Prioritas diberikan kepada biaya pengobatan serta kebutuhan sekolah anak pekerja.
Seorang direktur menolak karena kebijakan itu belum mendapat persetujuan dewan. "Nyonya belum resmi menjadi pemimpin perusahaan."
"Benar," jawab Nesia. "Tetapi Anda sudah resmi menggunakan uang perusahaan untuk perjalanan keluarga. Kalau pengeluaran itu bisa disetujui dalam satu hari, bantuan pekerja juga bisa."
Edo menyembunyikan senyum, sedangkan direktur tersebut tidak mampu menjawab. Tim hukum memastikan keputusan darurat dapat diambil oleh Sandra sebagai pemegang saham lama. Sandra menandatangani surat persetujuan melalui sambungan elektronik.
Setelah para perwakilan pergi, Nesia merasa kakinya lemas. Dia duduk dan menarik napas panjang.
"Tadi kamu terlihat tidak takut," kata Remy.
"Saya hampir lupa semua kalimat yang sudah disiapkan."
"Namun kamu berbicara menggunakan pengalamanmu sendiri."
"Saya tahu rasanya menunggu uang yang belum tentu datang. Mereka tidak membutuhkan istilah bisnis, hanya kepastian."
Remy menyerahkan sebotol air. "Kamu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak direksi di ruangan ini."
"Apa?"
"Alasan untuk peduli."
Nesia tersenyum, tetapi masih ragu menerima posisi. Dia meminta bertemu beberapa kepala bagian sebelum memutuskan. Sepanjang sore, dia mendengarkan masalah pabrik, penjualan, dan keuangan. Banyak istilah tidak dipahami, sehingga dia mencatat dan bertanya tanpa malu.
Dona ikut membantu menjelaskan. "Jangan mencoba menguasai semuanya dalam sehari. Bahkan aku belajar bertahun-tahun."
"Apakah Kak Dona bersedia mendampingi saya jika saya menerima?"
Dona terdiam mendengar panggilan itu, lalu mengangguk. "Hanya sampai kamu berhenti menanyakan hal yang sama tiga kali."
"Berarti Anda bersedia cukup lama."
Untuk pertama kalinya, keduanya tertawa bersama di ruang rapat keluarga mereka.
Remy memperhatikan dari belakang dengan rasa bangga. "Kamu mengatakan tidak bisa memimpin."
"Saya hanya melakukan hal yang menurut saya benar."
"Itulah bagian terpenting dari memimpin."
Masalah belum selesai. Direksi meminta seseorang menjadi pelaksana sementara sampai status kepemilikan diputus. Sandra mengusulkan Nesia, tetapi Nesia menolak karena belum memiliki pengetahuan.
"Saya bahkan baru belajar menggunakan garpu yang benar," katanya kepada ibunya.
"Kamu tidak akan bekerja sendiri," jawab Sandra. "Ada direksi profesional, Dona, dan Remy."
Remy tidak ingin memaksanya. "Kamu bisa menolak jika belum siap."
Nesia meminta waktu berpikir. Malam itu, dia kembali membuka buku manajemen yang diberikan Edo. Remy menemani sambil menyelesaikan pekerjaan.
"Bagaimana jika saya membuat keputusan salah?" tanya Nesia.
"Semua pemimpin pernah salah. Perbedaannya adalah apakah dia mau memperbaiki atau menyembunyikannya."
"Anda akan membantu saya?"
"Aku akan berada di sampingmu, tetapi keputusan tetap milikmu."
Nesia akhirnya menerima posisi sementara selama tiga bulan dengan syarat seorang profesional mendampingi dan semua transaksi diaudit terbuka.
Keesokan harinya, tiga laboratorium mengirim hasil tes secara bersamaan. Seluruhnya menyatakan Nesia adalah anak biologis Sandra dan Armand, sekaligus saudara seayah Dona.
Pengadilan mengesahkan status Nesia sebagai ahli waris sementara sampai sidang akhir. Para pegawai menyambut berita itu dengan lebih tenang setelah gaji masuk.
Namun, laporan pertama yang diterima Nesia sebagai pelaksana perusahaan menunjukkan sebuah masalah besar. Maheswari Group memiliki utang tersembunyi yang jatuh tempo dalam tiga puluh hari.
Nilainya hampir sama dengan seluruh aset yang mereka miliki.
Nesia menutup laporan itu perlahan. Tanggung jawab barunya ternyata jauh lebih besar daripada yang sempat dibayangkannya.
Berita pengesahan status Nesia disiarkan media pada sore hari. Wartawan meminta pernyataan, tetapi Nesia hanya mengumumkan bahwa prioritasnya menjaga hak pegawai dan membantu audit.
"Apakah Nyonya akan mengambil alih kekayaan keluarga Wijaya?" tanya seorang wartawan.
"Saya mengambil tanggung jawab atas bagian yang memang menjadi hak saya," jawab Nesia. "Kekayaan yang dibangun melalui pelanggaran bukan sesuatu yang ingin saya pertahankan."
Pernyataan itu mendapat dukungan, tetapi juga membuat beberapa investor khawatir. Harga saham bergerak turun sebelum kembali stabil setelah laporan pembayaran gaji diumumkan.
Di rumah, Nesia menunjukkan dokumen utang kepada Sandra. Ibunya mengaku tidak pernah mengetahui pinjaman tersebut karena Armand menggunakan tanda tangan digital ketika Sandra sakit.
"Saya menyerahkan terlalu banyak kendali kepadanya," kata Sandra menyesal.
"Kita tidak bisa memperbaiki semuanya hari ini," ujar Nesia. "Tetapi mulai sekarang tidak ada dokumen yang ditandatangani tanpa dibaca dua orang."
Dona setuju dan menawarkan memeriksa catatan bisnis lama. Mereka bekerja hingga menemukan pola perusahaan cangkang yang semuanya dibuat setelah kondisi Sandra memburuk.
***