Bu Nita menyerahkan amplop kepada polisi. Dia mengaku datang karena pesan sebelumnya mengancam akan membakar Martha Hall jika melapor. Namun, setelah melihat pengawasan di makam, dia memilih tidak menyembunyikan apa pun.
Remy membaca kalimat tentang ayahnya berulang kali. William dinyatakan meninggal akibat serangan jantung, beberapa bulan setelah memaksa Remy menikahi Nesia. Tidak pernah ada kecurigaan pembunuhan.
"Bram hanya mencoba mengalihkan perhatian," kata Lukas.
"Atau ada rahasia lain yang belum kita temukan," jawab Remy.
Raka meminta rumah sakit membuka kembali catatan medis William. Hasil darah lama masih tersimpan dalam arsip laboratorium. Pemeriksaan baru menemukan jejak obat yang dapat memicu gangguan irama jantung jika diberikan dalam dosis tinggi.
Miriam terkejut. Dia berada di rumah ketika William jatuh di ruang kerjanya. Sebelum meninggal, William minum teh yang dibawa seorang pelayan pengganti.
"Ani sedang cuti hari itu," katanya. "Agen mengirim pekerja bernama Rina. Dia berhenti keesokan harinya."
Data agen menunjukkan identitas Rina palsu. Foto pada formulir buram, tetapi Dona mengenali tahi lalat di dekat mata perempuan itu.
"Itu Ratih, kakak Rico."
Ratih pernah bekerja sebagai perawat Armand dan menghilang setelah William meninggal. Polisi menemukan catatan penerbangan yang menunjukkan dia tidak pernah meninggalkan negara, meskipun paspornya mencatat perjalanan ke Malaysia.
Remy merasa bersalah karena tidak mempertanyakan kematian ayahnya. Saat itu hubungan mereka buruk. Dia bahkan tidak berada di rumah pada malam terakhir William hidup.
"Aku mengira Papa hanya menerima akibat dari hidup yang penuh tekanan," katanya kepada Nesia.
"Anda tidak bisa mengetahui bukti yang sengaja disembunyikan."
"Aku menghabiskan hari terakhir kami dengan mengatakan aku membencinya."
Nesia memegang wajah Remy. "Perkataan itu lahir dari luka yang nyata. Anda boleh menyesal, tetapi jangan mengubah William menjadi orang tanpa kesalahan hanya karena beliau sudah meninggal."
Remy menangis tanpa mencoba bersembunyi. Dia mengingat ayah yang memaksanya, melindunginya dengan cara keliru, lalu diam-diam mencari kebenaran tentang Helena. Cinta dan kemarahan dapat hidup di tempat yang sama.
Polisi menginterogasi Armand mengenai Ratih. Lelaki itu bersumpah tidak memerintahkan pembunuhan William. Menurutnya, Ratih dan Rico kehilangan ayah dalam kecelakaan pabrik Wilson puluhan tahun lalu. William membayar ganti rugi, tetapi laporan keselamatan dipalsukan agar perusahaan tidak ditutup.
"Rico menganggap uang itu penghinaan," ujar Armand. "Saya memanfaatkan kemarahannya untuk beberapa pekerjaan, tetapi Ratih mempunyai rencananya sendiri."
Motifnya kini lebih rumit. Bram membayar Rico untuk memburu Nesia dan Dona, Surya menyediakan akses, sedangkan Ratih mungkin memakai jaringan yang sama demi membalas William.
Lukas menemukan berkas kecelakaan pabrik di arsip. Tiga pekerja meninggal, termasuk Santoso, ayah Rico. Tanda tangan William ada pada laporan palsu tersebut.
Remy memutuskan mengumumkan kebenaran dan memberi ganti rugi baru kepada seluruh keluarga korban. Dewan perusahaan memperingatkan bahwa pengakuan itu dapat menjatuhkan harga saham serta memicu gugatan.
"Kalau perusahaan hanya bisa bertahan dengan kebohongan, berarti sejak awal tidak sehat," jawab Remy.
Nesia berdiri di sampingnya saat konferensi pers. Remy mengakui keterlibatan William tanpa berdalih bahwa kejadian itu sudah lama. Dia membuka penyelidikan independen untuk semua kecelakaan kerja pada masa kepemimpinan ayahnya.
Setelah siaran, pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Pengakuan tidak menghidupkan ayah kami.
Raka melacak sinyal ke klinik kosong milik Armand. Polisi menemukan obat yang sama dengan zat dalam darah William dan catatan pasien atas nama Ratih Santoso.
Sebuah kamera tersembunyi merekam Ratih datang malam sebelumnya. Wajahnya tampak jelas. Sebelum pergi, dia menatap kamera seolah tahu akan diawasi dan mengangkat selembar kertas.
Pada kertas itu tertulis alamat pabrik lama Wilson.
Sebelum operasi disetujui, Remy menemui keluarga korban kecelakaan pabrik. Dia tidak membawa wartawan atau pengacara perusahaan. Sebagian menolak membuka pintu, sebagian lain menerima hanya untuk meluapkan kemarahan.
Seorang perempuan tua menunjukkan sepatu kerja suaminya yang masih disimpan. Ganti rugi William habis untuk membayar utang pengobatan, sedangkan anak-anaknya berhenti sekolah. Dia tidak menginginkan cek baru sebelum nama suaminya dibersihkan dari tuduhan lalai.
"Saya akan memperbaiki catatan resminya," janji Remy.
"Jangan berjanji kalau hanya ingin hati Anda tenang," balas perempuan itu.
Ucapan tersebut mengikuti Remy sampai rumah. Bersama Lukas, dia membentuk tim yang setengah anggotanya berasal dari serikat pekerja. Mereka diberi akses penuh terhadap arsip keselamatan dan hak menerbitkan temuan tanpa persetujuan keluarga Wilson.
Nesia bertanya apakah Remy siap kehilangan jabatan jika dewan menolak. Remy mengaku takut. Perusahaan adalah satu-satunya warisan yang selama ini membuatnya merasa dekat dengan William.
"Mungkin mempertahankan warisan bukan berarti mempertahankan bentuknya," ujar Nesia. "Anda bisa menjaga bagian yang baik dengan membongkar bagian yang busuk."
Remy menulis surat kepada ayahnya malam itu. Dia menuliskan kemarahan karena William memalsukan laporan, rasa terima kasih karena pernah mencoba memperbaiki beberapa korban, dan penyesalan atas kata-kata terakhir mereka. Surat itu tidak dibakar atau disimpan dalam brankas. Dia meletakkannya di makam William agar kesedihannya tidak lagi menjadi rahasia.
Ketika hendak pergi, Remy melihat bunga baru tanpa kartu. Polisi memeriksanya dan menemukan alat perekam kecil. Ratih atau Rico telah mendengar percakapannya dengan Nesia.
Raka sempat membatalkan rencana pabrik karena musuh mengetahui mereka sedang menyelidiki. Namun, rekaman kamera klinik memperlihatkan Ratih sengaja meninggalkan alamat. Itu bukan tempat persembunyian, melainkan panggung yang dipilih untuk memaksa Remy menghadapi dosa William.
Remy setuju datang hanya jika polisi mengendalikan semua pintu keluar. Nesia menuntut berada di pusat komando. Tidak satu pun dari mereka menyukai rencana tersebut, tetapi menangkap Ratih dan Rico adalah satu-satunya cara menghentikan ancaman secara pasti.
Remy yakin Ratih mengundangnya. Polisi melarang dia datang, tetapi Raka menyusun cara menggunakan pertemuan tersebut untuk menangkap Ratih dan Rico sekaligus.
Malam berikutnya, Remy masuk ke pabrik memakai rompi antipeluru. Nesia menunggu di mobil komando seperti saat operasi penyelamatan Tita.
Lampu pabrik menyala satu per satu. Ratih berdiri di lantai atas, sementara Rico muncul di belakang Remy dengan pistol.
"Akhirnya anak William datang membayar utangnya," kata Ratih.
***