Dona meminta Nesia tidak mengundang Armand. Bukan karena membencinya, tetapi karena kehadiran tahanan dengan pengawalan akan mengubah suasana dan menarik perhatian media.
"Saya hanya ingin memberi kesempatan," kata Nesia. "Dia tetap ayah Kakak."
"Dan dia orang yang menghancurkan keluarga kita."
Sandra memilih tidak ikut menentukan. Dia belum siap melihat Armand di luar ruang pemeriksaan, tetapi tidak ingin memaksakan lukanya kepada Dona.
Remy menyarankan mereka bertanya langsung kepada Armand. Pengadilan belum tentu memberi izin, dan keputusan terakhir tetap berada pada Nesia serta Dona.
Kedua saudara itu pergi ke rumah sakit tahanan. Armand terlihat lebih kurus. Setelah membaca undangan, dia tidak menunjukkan kegembiraan.
"Saya tidak akan datang," katanya.
Dona tampak tersinggung meskipun sebelumnya menolak kehadirannya. "Ayah bahkan tidak perlu berpikir?"
"Kalau saya datang, wartawan akan mengejar kalian. Sandra tidak akan tenang. Hari itu bukan milik saya."
Nesia mengamati wajahnya. Untuk pertama kali, Armand membuat keputusan yang tidak menempatkan dirinya di pusat keluarga.
"Kami bisa menyediakan siaran khusus jika Ayah ingin melihat," ujar Dona.
"Tidak perlu. Ceritakan setelah selesai."
Armand mengeluarkan amplop yang sudah diperiksa penjaga. Isinya surat untuk Sandra dan sebuah kancing manset tua milik ayah Sandra. Dia menyimpannya sejak mereka menikah.
"Berikan kepada Nesia jika dia mau memakainya sebagai hiasan buket," katanya. "Itu satu-satunya benda keluarga yang tidak saya dapatkan melalui kebohongan."
Nesia menerima, tetapi tidak menjanjikan apa pun. Armand juga meminta maaf karena ancaman yang dibuat para pengikutnya terus membahayakan mereka.
"Permintaan maaf tidak mengurangi hukuman Ayah," kata Dona.
"Saya tahu."
Dalam perjalanan pulang, Dona menangis. Dia tidak tahu apakah perubahan kecil Armand membuatnya lega atau justru semakin marah karena ayahnya sebenarnya mampu memikirkan orang lain.
"Kakak tidak harus menentukan perasaan hari ini," kata Nesia.
Malam sebelum pernikahan, keluarga perempuan berkumpul di kamar Nesia. Rosa memeriksa gaun, Dona menata perhiasan, dan Sandra menyematkan kancing manset itu pada pita buket. Bu Nita membawa syal Helena sebagai kain pembungkus tangkai.
"Dua keluarga yang berantakan ada di satu buket," ujar Dona.
"Cocok untuk pengantinnya," balas Nesia.
Mereka tertawa. Bu Maryam kemudian masuk membawa semangkuk sup karena Nesia terlalu gugup untuk makan. Ketika dia hendak pergi, Nesia memintanya tetap tinggal.
"Besok Ibu duduk di depan," kata Nesia.
"Saya bukan keluarga pengantin."
"Ibu menyambut saya ketika semua orang menganggap saya orang asing. Kalau itu bukan keluarga, saya tidak tahu namanya apa."
Bu Maryam memeluk Nesia sambil menangis. Ani yang mengintip dari pintu ikut mengusap mata, lalu mengeluh riasannya rusak padahal acara masih esok hari.
Di kamar lain, Remy menerima kunjungan Vino. Lelaki itu membawa rak kecil buatan tangan untuk perpustakaan panti. Dia tidak ingin memberikannya di tengah acara karena takut dianggap mencari perhatian.
"Terima kasih sudah datang," kata Remy.
"Saya hampir tidak datang. Tetapi menghindari kalian berarti saya belum selesai dengan masa lalu."
Keduanya duduk tanpa persaingan. Vino meminta Remy tidak menjadikan perlindungan sebagai alasan membatasi Nesia. Remy menerima nasihat itu karena tahu Vino berbicara dari pengalaman kehilangan keberanian.
"Dan kalau saya kembali melakukan kesalahan?" tanya Remy.
"Nesia akan memberi tahu dengan sangat jelas."
Mereka tertawa kecil. Ketika Vino pergi, Lukas masuk membawa jas dan menemukan Remy menatap cincin pernikahan.
"Masih takut?" tanyanya.
"Lebih takut daripada saat menghadapi pistol."
"Bagus. Berarti Kakak mengerti janji ini penting."
Remy mengaku takut menjadi seperti William, mencintai keluarga tetapi menghancurkan mereka melalui keputusan sepihak. Lukas mengingatkan bahwa perbedaan tidak terletak pada tidak pernah salah. Perbedaannya adalah kesediaan mendengar saat kesalahan ditunjukkan.
Pagi pernikahan datang dengan langit cerah. Tidak ada hujan, gangguan listrik, ataupun pesan ancaman. Meski begitu, Nesia terbangun sebelum fajar dan memeriksa telepon berkali-kali.
Sandra membantu menyisir rambutnya. Tangannya gemetar saat memasang kalung keluarga Maheswari.
"Ibu menunggu bertahun-tahun untuk melakukan ini," katanya.
"Saya juga, meskipun dulu tidak tahu siapa yang saya tunggu."
Dona masuk mengenakan gaun pendamping. Untuk pertama kalinya mereka berdiri bersama di depan cermin sebagai dua putri Sandra. Tidak ada yang mencoba mengganti tahun-tahun hilang dengan kata-kata besar. Mereka hanya saling menggenggam tangan.
Sebelum berangkat, Nesia menerima paket tanpa nama. Keamanan langsung mengosongkan ruangan. Raka memeriksanya dan menemukan tidak ada bahan berbahaya.
Di dalamnya hanya terdapat foto keluarga pertama mereka serta tulisan tangan Armand.
Jangan biarkan dosa kami menjadi warisan kalian.
Nesia memasukkan foto itu ke dalam tas, tetapi meninggalkan pesannya. Hari tersebut tidak membutuhkan bayangan Armand untuk memiliki makna.
Mobil bergerak menuju Martha Hall. Di depan gedung, anak-anak panti sudah berdiri membawa bunga. Remy menunggu di balik pintu utama, sementara musik pertama mulai dimainkan.
Perjalanan hanya berlangsung dua puluh menit, tetapi Nesia meminta mobil berhenti sebentar di depan Panti Kasih Bunda. Bu Sari sudah menunggu di gerbang bersama anak-anak yang terlalu kecil untuk hadir di gedung.
Mereka memberikan buket kertas dan sebuah surat berisi tanda tangan tidak beraturan. Bu Sari mengingatkan Nesia bahwa kamar lamanya akan selalu tersedia, meskipun kini hanya cukup untuk menyimpan koper.
"Dulu saya takut tidak ada yang datang menjemput saya," ujar Nesia. "Sekarang saya tahu pulang tidak selalu berarti dijemput. Kadang-kadang kita membangun jalan sendiri."
Bu Sari membetulkan kerudungnya seperti ketika Nesia pertama kali pergi bekerja. Dia tidak menangis sampai mobil kembali bergerak.
Di Martha Hall, pemeriksaan keamanan dilakukan tanpa membuat tamu merasa dicurigai. Raka berdiri dekat pintu layanan. Dia mengangguk kepada Nesia, tanda bahwa semua jalur aman. Nesia membalas anggukan itu, lalu mematikan telepon.
Untuk beberapa jam berikutnya, dunia boleh menunggu. Dia tidak lagi berjalan menuju pernikahan darurat orang asing. Dia datang menemui lelaki yang sudah melihat ketakutan, kemarahan, serta kekurangannya dan tetap bersedia belajar mencintainya dengan benar.
Dengan napas mantap, Nesia turun dari mobil dan menyambut hari yang telah dipilihnya sendiri.
***