Renovasi rumah selesai dan meninggalkan satu kamar kosong di lantai atas. Remy ingin menjadikannya ruang baca. Bu Maryam menyebutnya calon kamar anak tanpa berpikir panjang.
Nesia langsung diam. Bu Maryam meminta maaf, tetapi kata-kata itu sudah membuka pembicaraan yang terus mereka tunda.
Malam hari, Nesia mengajak Remy masuk ke kamar kosong. Cahaya taman jatuh melalui jendela. Tidak ada perabot, hanya kotak-kotak buku.
"Saya takut menjadi ibu," katanya.
Remy tidak menjawab dengan keyakinan palsu. "Aku juga takut menjadi ayah."
Nesia takut kehilangan diri, mengulangi kesalahan Sandra, atau mencintai anak dengan cara yang berubah menjadi kendali. Remy takut mewarisi sifat William dan menjadikan anak sebagai penerus nama, bukan manusia.
Mereka menemui konselor keluarga, bukan dokter terlebih dahulu. Konselor meminta mereka memisahkan keinginan dari ketakutan dan tekanan orang lain.
Selama beberapa minggu, mereka menulis alasan masing-masing. Nesia ingin berbagi rumah yang kini aman, tetapi tidak merasa keluarga mereka kurang tanpa anak. Remy ingin membesarkan seseorang dengan kebebasan yang tidak pernah dia miliki.
"Tidak satu pun menjamin kita menjadi orang tua baik," kata Nesia.
"Tidak. Tetapi kita bisa meminta bantuan saat salah."
Mereka memutuskan tidak menetapkan batas waktu. Kamar kosong tetap menjadi ruang baca sementara. Bu Maryam dilarang membeli perlengkapan bayi diam-diam.
Tak lama kemudian, Panti Kasih Bunda meminta bantuan untuk dua kakak beradik yang kehilangan pengasuh. Mila mengenal mereka dan berharap Nesia membawa keduanya pulang.
"Kita tidak boleh mengasuh anak hanya karena kasihan," kata Nesia kepada Mila.
Dia dan Remy mengikuti pelatihan keluarga asuh untuk memahami tanggung jawabnya. Mereka terkejut mengetahui cinta dan rumah besar tidak cukup. Anak yang mengalami kehilangan membutuhkan rutinitas, privasi, serta orang dewasa yang tidak menuntut rasa terima kasih.
Remy gagal pada latihan pertama karena menyusun terlalu banyak aturan. Pengajar menyuruhnya membedakan keamanan dari kebutuhan mengendalikan.
"Semua orang tampaknya memakai pelatihan untuk memarahi saya," keluhnya.
"Karena Anda memberi banyak bahan," jawab Nesia.
Kakak beradik itu, Rafi dan Sasa, datang untuk kunjungan akhir pekan. Rafi berusia sepuluh tahun dan curiga pada setiap hadiah. Sasa baru enam tahun dan menyembunyikan makanan di bawah bantal.
Remy ingin membeli semua yang mereka butuhkan. Nesia mengingatkan agar bertanya dahulu. Rafi memilih sepatu biasa, bukan yang paling mahal. Sasa meminta kotak makanan kecil yang dapat dikunci.
Malam pertama, Sasa menangis dan ingin kembali ke panti. Nesia tidak membujuk dengan janji rumah baru. Dia duduk di depan pintu sampai anak itu tenang dan menelepon Bu Sari.
Rafi bertanya apakah mereka akan dipisahkan jika berbuat nakal. Remy menjawab tidak ada keputusan permanen yang dibuat tanpa mendengar keduanya.
"Orang dewasa selalu bilang begitu," kata Rafi.
"Kalau aku melanggar, kamu boleh memberi tahu Bu Sari dan petugas pendamping," ujar Remy. "Kamu tidak harus percaya sekarang."
Jawaban itu membuat Rafi sedikit tenang.
Setelah akhir pekan, kedua anak kembali ke panti sesuai jadwal. Rumah terasa sangat sepi. Nesia dan Remy tidak langsung mengajukan diri menjadi orang tua asuh. Mereka membahas kesalahan selama kunjungan dengan pendamping.
Nesia menyadari dirinya beberapa kali terlalu cepat menafsirkan diam Sasa. Remy mengaku ingin menggunakan hadiah untuk memperoleh kepercayaan Rafi.
"Kita belum siap," kata Nesia.
"Mungkin kesiapan bukan keadaan selesai belajar," jawab Remy. "Mungkin kesediaan terus belajar."
Mereka menjalani tiga kunjungan lagi. Perlahan, Rafi mulai meninggalkan bukunya di rumah sebagai tanda akan kembali. Sasa tidak lagi menyembunyikan makanan setelah diberi laci khusus yang selalu terisi.
Pada rapat evaluasi, petugas bertanya apakah mereka ingin menjadi keluarga asuh sementara. Nesia dan Remy meminta waktu berbicara dengan Rafi serta Sasa terlebih dahulu.
"Kami ingin mencoba," kata Nesia kepada kedua anak. "Tetapi kalian boleh mengatakan belum siap."
Rafi melihat adiknya. "Kalau kami tinggal, kamar kami boleh punya kunci?"
"Boleh, dengan aturan keselamatan yang kita sepakati bersama."
Sasa bertanya apakah Bu Sari tetap boleh dikunjungi. Remy menjawab mereka akan mengantar kapan pun jadwal memungkinkan dan tidak pernah melarang hubungan dengan panti.
Keduanya setuju mencoba tiga bulan.
Kamar kosong akhirnya tetap menjadi ruang baca. Dua kamar tamu lain diubah sesuai pilihan Rafi dan Sasa, tanpa warna yang ditentukan orang dewasa.
Sandra sempat khawatir Nesia bergerak terlalu cepat. Dia takut putrinya mengasuh anak untuk mengisi masa kecil yang hilang. Nesia tidak tersinggung dan mengajak Sandra menghadiri sesi bersama pendamping.
Dalam sesi itu, Nesia mengakui dorongan menyelamatkan Rafi dan Sasa memang muncul. Pendamping menjelaskan anak tidak membutuhkan penyelamat, melainkan orang dewasa yang konsisten dan bersedia menghormati hubungan sebelumnya.
Remy juga menjalani pemeriksaan latar belakang seperti calon pengasuh lain. Kekayaan tidak memberinya jalur khusus. Catatan ancaman di rumah membuat petugas meminta rencana keamanan yang tidak mengubah kehidupan anak menjadi pengurungan.
Mereka memindahkan petugas bersenjata dari lorong, memasang sistem yang tidak merekam kamar pribadi, dan mengajari anak cara memanggil bantuan. Rafi ikut memilih pengawal yang boleh mengantar sekolah.
Bu Maryam mengikuti pelatihan trauma. Dia belajar tidak memaksa Sasa menghabiskan makanan dan tidak mengambil simpanannya diam-diam. Dona belajar tidak datang membawa hadiah mahal setiap kunjungan.
"Jadi saya hanya boleh membawa diri?" tanyanya.
"Itu yang paling sulit bagi Kakak," jawab Nesia.
Pada kunjungan berikutnya, Dona membawa permainan papan bekas miliknya. Rafi menyukainya karena tidak merasa harus berterima kasih atas barang baru.
Sebelum keputusan tiga bulan dibuat, petugas berbicara kepada kedua anak tanpa kehadiran Nesia dan Remy. Mereka diberi tahu bahwa mengatakan tidak tidak akan memengaruhi tempat mereka di panti.
Ketika akhirnya memilih mencoba, Rafi meminta kesepakatan ditulis dengan bahasa sederhana. Remy membuat satu halaman, lalu meminta Rafi mencoret bagian yang tidak disukai. Kertas itu bukan kontrak untuk mengikat, melainkan daftar hak yang dapat dipahami anak.
Nesia memasangnya di ruang baca. Di bagian paling bawah tertulis bahwa semua anggota rumah boleh meminta perubahan melalui rapat keluarga. Remy menganggap kalimat itu bukti dirinya sedang dihukum oleh sejarah, tetapi tetap menandatanganinya sambil tersenyum.
***