Enam bulan setelah penetapan perwalian, seorang perempuan menunggu Rafi di depan sekolah. Dia memperkenalkan diri sebagai Tante Dewi, adik ibu kandung Rafi dan Sasa.
Rafi tidak pernah mendengar namanya. Guru segera memanggil Nesia karena perempuan itu tidak tercantum dalam daftar penjemput. Dewi tidak memaksa membawa Rafi, tetapi meminta kesempatan menemui kedua anak.
"Saya baru pulang dari luar negeri," katanya. "Saya tidak tahu kakak saya meninggal sampai semuanya terlambat."
Remy curiga. Tim hukum menemukan Dewi memang bekerja di kapal pesiar selama tujuh tahun. Dia mengirim uang kepada kakaknya, tetapi transfer berhenti setahun sebelum kecelakaan yang merenggut orang tua Rafi.
Petugas pendamping melarang pertemuan langsung sebelum identitas dan niat Dewi diperiksa. Rafi marah karena merasa keputusan kembali dibuat tanpa dirinya.
"Dia keluarga Ibu. Saya berhak bicara," katanya.
Nesia meminta maaf. "Kamu benar. Kami seharusnya menjelaskan alasan keamanan, bukan hanya mengatakan tidak."
Mereka menyusun pertemuan di pusat layanan sosial. Rafi boleh keluar kapan saja, sedangkan Sasa memilih melihat Dewi dari balik kaca terlebih dahulu.
Dewi membawa album masa kecil ibu mereka. Ada foto Rafi sebagai bayi dan Sasa saat baru lahir. Dia tidak membawa hadiah mahal atau meminta dipanggil Tante.
"Mengapa Tante tidak mencari kami?" tanya Rafi.
Dewi mengaku bertengkar dengan kakaknya mengenai uang. Setelah nomor telepon diblokir, dia memilih berhenti mencoba. Rasa malu membuatnya menunda pulang bahkan ketika kontrak kerja selesai.
"Saya membuat kesalahan," katanya. "Saya tidak datang untuk menghapusnya."
Sasa akhirnya masuk dan mengenali lagu yang dinyanyikan Dewi. Ibu mereka dahulu menyanyikan lagu sama sebelum tidur. Anak itu menangis dan memeluk album, bukan Dewi.
Pertemuan berlangsung satu jam. Setelahnya, Dewi mengajukan permohonan agar diakui sebagai keluarga kerabat. Dia belum meminta hak asuh, tetapi ingin kunjungan teratur.
Remy takut itu langkah pertama mengambil kedua anak. Dia meminta pengacara mencari alasan menolak. Nesia mengingatkan bahwa perwalian mereka tidak boleh dipakai memutus anak dari keluarga kandung.
"Kalau dia menyakiti mereka?"
"Kita awasi. Tetapi ketakutan kita bukan bukti bahwa dia akan menyakiti."
Rafi mendengar sebagian percakapan dan mengira Remy ingin mengusir Dewi. Dia mengemasi pakaian, bersiap kembali ke panti sebelum ditinggalkan lebih dahulu.
Remy menemukannya di kamar. Alih-alih mengambil tas, dia duduk di lantai.
"Aku takut kehilangan kalian," katanya. "Ketakutan itu membuatku ingin mengendalikan keadaan. Itu kesalahanku, bukan kesalahanmu atau Tante Dewi."
Rafi bertanya apakah mengenal Dewi berarti mengkhianati Nesia dan Remy.
"Tidak," jawab Remy. "Hatimu bukan kamar dengan satu kursi."
Mereka menyepakati kunjungan dua minggu sekali dengan pendamping. Dewi juga mengikuti pelatihan keluarga dan menjalani pemeriksaan rumah.
Sasa cepat dekat dengannya, sementara Rafi tetap berhati-hati. Dewi tidak menuntut kemajuan yang sama. Dia membacakan cerita melalui panggilan video dan menjawab pertanyaan tentang ibu mereka.
Suatu malam, Dewi memberikan surat terakhir kakaknya. Surat itu tidak pernah terkirim karena ditulis tanpa alamat. Ibu Rafi meminta maaf karena menjauh dan berharap adiknya suatu hari mengenal anak-anak.
Rafi meminta surat itu disimpan di ruang baca, dekat foto orang tua kandung. Nesia membuat salinan agar Dewi tetap memiliki satu.
Hubungan mereka mulai menemukan bentuk ketika Dewi mengumumkan telah mendapat pekerjaan tetap di kota. Dia ingin mengajukan hak asuh penuh.
Ruangan mendadak sunyi. Kali ini Remy tidak langsung memerintah atau menelepon pengacara. Dia menatap Rafi dan Sasa.
"Kalian berhak didengar lebih dahulu," katanya.
Petugas berbicara terpisah dengan kedua anak. Rafi takut Remy berhenti datang ke pertandingan bila dia memilih mengenal Dewi. Sasa takut kamarnya diberikan kepada orang lain. Keduanya diberi tahu bahwa hubungan baru tidak membatalkan rumah yang sudah ada.
Nesia dan Remy juga diwawancarai. Remy mengaku belum siap kehilangan anak-anak, tetapi bersedia tidak memakai uang atau pengacara untuk menang. Pengakuan jujur dianggap lebih sehat daripada janji bahwa dia tidak akan cemburu.
Dewi mengikuti pelatihan trauma dan memperlihatkan pesan lama dari kakaknya. Dia tidak menyembunyikan pertengkaran mereka. Ketika Rafi menolak memanggilnya Tante, Dewi menerima dan membiarkan kedekatan tumbuh tanpa gelar.
Mereka membuat perjanjian sederhana. Kamar anak-anak tetap tersedia, kunjungan ke panti berlanjut, dan setiap perubahan jadwal harus dijelaskan. Rafi memegang salinan agar orang dewasa tidak diam-diam mengubah aturan.
Remy memasukkan nama Dewi ke daftar penjemput hanya setelah Rafi setuju. Tindakan kecil itu menuntut kepercayaan lebih besar daripada menandatangani dana yayasan. Keamanan tidak lagi berarti menutup semua pintu.
Ketika permohonan hak asuh datang, mereka tetap takut. Namun, ketakutan itu dibicarakan bersama dan tidak diubah menjadi keputusan rahasia.
***