Hujan turun seperti benang-benang halus ketika bus tua itu akhirnya berhenti. Alya menurunkan koper kecil yang rodanya sudah goyang, lalu berdiri memandangi terminal kota yang penuh hiruk pikuk. Semuanya terasa asing. Terlalu terang. Terlalu cepat.
Sementara itu, hatinya justru terasa berat.
Ia masih bisa mendengar suara ibunya dari dua hari lalu—lemah, terbatuk, tapi memaksanya berangkat bekerja ke kota.
“Pergilah, Nak… mungkin ini satu-satunya jalan.”
Alya mengusap sisa embun hujan di bulu matanya.
Ia tak punya pilihan lain.
---
Gedung perusahaan tempat ia diterima bekerja menjulang tinggi, berlapis kaca, memantulkan langit mendung kota. Alya menggenggam mapnya erat-erat, mencoba menenangkan napas.
“Kamu pasti bisa… demi Ibu.”
Begitu masuk ke lobby, ia langsung merasa seperti titik kecil di tengah lautan manusia berbusana formal. Banyak mata meliriknya—sebagian penasaran, sebagian meremehkan. Alya menunduk sopan. Pakaian sederhananya terlihat mencolok di antara jas-jas elegan.
Lift berbunyi.
Pintu terbuka.
Dan seseorang keluar dari sana.
Langkah kaki laki-laki itu mantap, teratur, dan penuh wibawa. Setelan jas hitam membalut tubuhnya dengan sempurna; wajahnya tampan tapi dingin, tatapan matanya tajam seperti sedang menilai dunia.
Semua karyawan menunduk, hampir serempak.
Alya hanya berdiri terpaku, tidak tahu harus melakukan apa—sampai suara bisikan karyawan di sampingnya membuat jantungnya tersentak.
“Itu… Pak Arvin Mahendra.”
“Direktur kita.”
Baru mendengar namanya saja membuat Alya buru-buru menunduk. Namun langkah Arvin sudah berhenti… tepat di depannya.
Alya mengangkat wajah sedikit, dan tatapan mereka bertemu.
Hanya sedetik.
Tapi cukup untuk membuat Alya lupa bagaimana caranya bernapas.
Tatapan Arvin turun dari wajah Alya, ke map yang ia pegang, lalu kembali ke matanya. Sorotnya dingin—seolah sedang mengukur apakah gadis itu layak berada di sini atau tidak.
“Siapa kamu?” suaranya tegas, datar, dan tanpa basa-basi.
Alya menelan ludah.
“S-saya… Alya, Pak. Karyawan baru. Administrasi…”
Arvin mengangkat alis sedikit.
Sorotnya tampak tak puas.
“Kemejamu berkerut.”
“Rambutmu acak-acakan.”
“Dan kamu terlambat lima menit.”
Nadanya tidak keras, tapi setiap kata menusuk seperti pisau kecil.
Alya langsung menunduk lebih dalam.
“Saya minta maaf, Pak. Saya baru tiba dari perjalanan jauh. Saya akan memperbaikinya.”
Arvin menatapnya sebentar lagi—tatapan yang sulit dibaca, antara tidak peduli dan sedikit… tertarik.
“Belajarlah bersikap profesional. Di sini, kesalahan kecil bisa jadi besar.” ucapnya lalu berjalan pergi.
Semua orang menghela napas lega ketika Arvin memasuki lift lain.
Alya memegang dadanya. Jantungnya masih berdetak cepat.
“Kamu hebat…” kata karyawan tadi dengan mata besar. “Biasanya karyawan baru langsung menangis kalau ditegur Pak Arvin.”
Alya memaksakan senyum.
Jika saja mereka tahu apa yang sudah ia lalui sebelum sampai di sini—kekhawatiran soal ibunya, tagihan rumah sakit, tekanan harus bertahan—teguran dari direktur dingin itu hanyalah angin kecil dibanding badai yang telah menghantam hidupnya.
Namun, tanpa ia sadari…
laki-laki yang baru saja menegurnya itulah yang nanti akan membuat hidupnya jauh lebih rumit.
Alya melangkah masuk lebih dalam ke gedung itu—ke dalam dunia yang belum pernah ia pahami.
Dan hari itu, tanpa ia tahu, adalah awal dari kisah yang akan mengubah segalanya.