Ruangan yang didominasi oleh gelap, hanya cahaya yang remang-remang yang mencoba untuk menyinari ruangan. Meski tak sepenuhnya mampu untuk dilakukan. Karena gelap memang lebih cocok untuk sosok yang kini berdiri di tengah ruangan.
Dia sedang memandangi mahakarya yang baru saja dia buat. Setelah memakan banyak waktu yang dia curi dari sela-sela kegiatannya sehari-hari. Pada akhirnya, karya itu telah berhasil dia selesaikan dengan apik. Senyum menghiasi wajahnya, sedang membayangkan wajah orang itu jika melihat karyanya ini.
Akankah 'dia' terkejut saat melihat karyanya?
Akankah 'dia' terkesan dengan salah satu mahakaryanya ini?
Atau, akankah 'dia' berada di sini sebagai objek untuk karya terakhirnya nanti?
"Hahaha!"
Sosok itu tertawa ketika yang terakhir terlintas di kepalanya. Aaah... Hanya memikirkan hal itu mampu membuat bulu kuduknya berdiri. Bukan karena takut, dia merasakan kesenangan yang selama ini dia idamkan. Kesenangan yang selama ini dia cari. Dan kesenangan yang telah melarikan diri darinya.
Sosok itu kembali membayangkan 'dia' akan menjadi objek karyanya sekaligus ending dari karya maha besar yang dia buat.
Sebuah ending dari sebuah mahakarya yang begitu indah yang telah dirangkai selama bertahun-tahun. Itu akan luar biasa. Luar biasa! Ending terepik di abad ini! Ah, tidak. Mungkin itu akan menjadi ending yang paling epik selama peradaban manusia!
"Aku tidak sabar untuk menggarap ending ini," sosok itu berkata dan menutup karyanya dengan kain putih yang bersih. Karyanya ini tidak boleh kotor sebelum 'dia' melihat dan menilai. Memuji seberapa baik karya yang dia buat ini.
Setelah karyanya tertutup dengan rapi dan yakin tak akan rusak, sosok itu melihat sekeliling dan berhenti pada kresek hitam yang ada di pojok ruangan. Dia mendekat dan kemudian mengikat tali kresek itu kencang, hingga nampak bentuk sedikit bulan. Dan memasukkannya ke dalam tas gendong miliknya.
"Aku harus membuangnya ke mana kali ini?" sosok itu bergumam seraya keluar dari ruangan. Tas gendong pun kini sudah tergantung di punggungnya. Dia sedang memikirkan harus membuang ke mana sampah yang ada di dalam tasnya ini. Jika dia membuang seperti sebelumnya itu tidak akan seru.
Sampahnya akan cepat ditemukan. Dan itu akan menghilangkan keseruan dari keonaran yang telah dia buat.
"Ah," senyum tersungging di wajahnya ketika dia tahu harus dibawa ke mana sampahnya itu. "Jika aku meletakkannya di sana, pasti dia akan segera pulang." dia mengangguk dengan pemikirannya itu.
Sepanjang koridor itu dia bernyanyi, lagu milik Ahn Yeeun yang berjudul night flower. Dan di tengah nyanyiannya dia selalu menyebutkan satu nama, berulang-ulang bagaikan sebuah mantra keberuntungan. Dan memang mantra itu selalu menyertainya, membawa keberuntungan yang tiada habisnya.
"Im Yoona.., Im Yoona.., Im Yoona..."
•••
"Im Yoona!"
Yang dipanggil memegang telinganya yang terasa pengang mendengar teriakan itu. Tidak bisakah sahabatnya ini tidak berlebihan? Tidak perlu untuk memeluknya dan berteriak di samping telinganya. Jika suatu saat Im Yoona mengalami masalah pendengaran, maka sudah dipastikan siapa pelakunya.
"Iya, iya," Yoona mencoba untuk melepaskan pelukan Heechul yang sangat kencang. "Kim Heechul, lepaskan aku!" dia berucap seraya memukul punggung sahabatnya untuk cepat melepaskannya atau tidak, dalam beberapa detik lagi kafe ini akan meledak karenanya.
Demi Tuhan yang sering dia dustai, tubuhnya bisa remuk!
Meski sahabatnya ini, Kim Heechul, sedikit feminim karena lingkaran pertemanannya perempuan dan juga hobinya sebagai crossdresser, Heechul tetap memiliki tubuh lelaki pada umumnya. Otot yang timbul di kedua lengannya dan tenaga yang kuat karena sering ke tempat gym. Jadi, dapat dibayangkan. Tubuh berotot itu memeluk tubuh seorang perempuan yang tingginya hanya 160 cm dan berat badan 35 kg.
Sudah kecil, pendek, kerempeng, hidup pula. Dan dipeluk oleh Kim Heechul akan membuat Im Yoona terlihat seperti pensil rapuh yang diremas kuat oleh tangan. Hancur kalau tidak segera dilepas.
"Kau ini ke mana saja, huh?!" tanya Heechul seraya memukul lengan Yoona, layaknya seorang ibu yang sedang memarahi anak gadisnya yang kelayapan dan pulang terlalu malam. Dalam kasus Yoona, dia bukan pulang terlalu malam, tetapi dia tidak pulang selama 6 bulan lamanya.
Rasanya Heechul hampir gila karena panik ketika mendengar kabar Yoona telah menghilang tanpa jejak. Rambutnya pun ikut rontok karena terus dia jambak untuk memikirkan kiranya ke mana b******n di depannya ini pergi. Dan ketika Yoona berdiri di depannya ini, ingin rasanya dia memasangkan tali anjing ke leher Im Yoona, agar sahabatnya ini tidak pergi ke mana pun. Kalau perlu dia akan mengikatkannya ke pohon.
Sudah cukup dengan pelarian selama 6 bulan yang menyesakkan.
"Menjelajahi dunia baru." jawab Yoona santai dan meminum jus semangka yang sudah dihidangkan oleh maid lain.
Konsep kafe ini adalah maid crossdress, jadi pelayan laki-laki akan menjadi maid perempuan dan pelayan perempuan akan menjadi maid laki-laki. Sebuah konsep yang dirancang oleh hobi pemiliknya, tak lain dan tak bukan adalah Kim Heechul. Kafe maid crossdress yang dipenuhi oleh maid yang imut dan bertingkah manis.
Terkadang sahabatnya itu akan terjun sebagai maid dan melayani para tuan dan nyonya, sebutan untuk pelanggan. Bahkan Kim Heechul menjadi idol nomor 1 di sini. Dan juga sudah membuat lightstick khusus untuknya. Sudah seperti grup idol saja
Pernah Yoona ingin melamar menjadi salah satu maid, tapi ditolak mentah mentah oleh Heechul. "Kau itu lebih cocok menjadi pelayan Karen's Diner. Kalau kau jadi maid-chan di sini, bisnisku akan hancur." kata Heechul kala itu.
Padahal, menurut Yoona dirinya itu tidak buruk. Wajahnya cantik walau buka yang tercantik, dia juga manis kalau tersenyum. Entahlah, toh Yoona sudah tidak terlalu tertarik.
Akan menjadi bahan tertawaan seumur hidup, seorang anggota mafia paling ditakuti di Gangnam bekerja sambilan sebagai crossdresser. Citranya sebagai Queen akan hancur. Dan dia tidak akan memiliki muka untuk bertemu dengan anak-anaknya.
"Dunia baru konon," cibir Heechul. "Kau pikir kau sedang bermain game Toram Online atau menjadi bajak laut di dunia one Piece?"
"Lho, perkenalkan. Aku kru kesepuluh dari bajak laut mugiwara, Yamato."
"Yamato dadanya gede, bukan mangkok nasi sepertimu," timpal Heechul seraya memeragakan seberapa besar ukuran yang dia maksud. Tidak peduli ketika yang lain melihat mereka berdua. "Dan jawab pertanyaanku sebelumnya. Ke mana saja kau?"
"Sudah ku bilang, aku menjelajahi dunia baru," Yoona mendengus ketika Heechul menatapnya dengan ancaman. Seolah berkata kalau Yoona kembali bercanda dia akan ditendang dan dilempar ke jalanan. Itu cukup sakit jika dibayangkan. "Hanya ke Swiss, Belgia, Scotlandia, dan negara Eropa lainnya. Aku agak lupa ke mana saja. Sungguh." katanya ketika Heechul menatapnya tak percaya.
"Kalau kau berada di tempat yang ada peradaban, seharusnya kau bisa menggunakan ponselmu untuk menghubungiku atau kedua adikmu," Heechul menghela napasnya. "Baekhyun dan Jaemin hampir sama gilanya ketika kau menghilang begitu saja, terutama Siwon. ia bahkan seperti mayat hidup sekarang."
Siwon, seperti mayat hidup hanya karena dia menghilang? Huh? Omong kosong. Mafia yang paling ditakuti di seluruh Gangnam tidak mungkin akan menjadi gila hanya karena salah satu anggotanya menghilang. Dia bahkan tidak segan untuk membunuh bawahannya tanpa rasa bersalah.
Jadi, tidak ada alasan untuk Choi Siwon menjadi seperti itu.
"Kau sepertinya tidak percaya," Heechul berkata ketika Yoona hanya diam saja. "Siwon seperti orang gila, dia terus mencoba mencarimu. Bahkan aku sampai diteror olehnya dan diancam jika tidak memberitahukan keberadaanmu. Aku saja tidak tahu kau ada di mana."
"Dan itulah kenapa aku meninggalkan semua ponselku di sini. Agar kalian semua tidak menemukanku. Terutama dia."
Tebakannya sepertinya benar. Alasan Yoona kabur pasti ada sangkut pautnya dengan Siwon. Sebenarnya apalagi masalah di antara mereka berdua? Bukankah mereka sudah saling mengetahui perasaan masing-masing, bahwa mereka saling mencintai satu sama lain?
"Kau tidak mau cerita kepadaku?" tanya Heechul setelah mereka terdiam cukup lama. Suasana yang dingin dan hawa yang tidak menyenangkan yang dikeluarkan oleh Yoona cukup menjadi jawaban bagi Heechul, bahwa satu-satunya sahabatnya itu tidak akan mengatakan apa pun tentang itu. "Baiklah aku tidak akan bertanya tentang itu. Jadi, di mana oleh-oleh untukku?" tanyanya sambil menengadahkan tangannya di depan Yoona.
"Aku lupa untuk membelinya." Yoona menyengir dengan tangannya yang memberi tanda peace.
"Jalan-jalan macam apa tidak beli oleh-oleh?"
"Hehehe..."
"Hehe." Heechul meniru tawa Yoona dengan wajah datar. Bisa-bisanya dia menemukan sahabat bloon seperti Yoona ini. Apakah dosanya terlalu banyak sehingga dia dikirimkan sahabat wujudnya seperti Im Yoona?