Salah satu kegiatan yang kami sukai adalah berburu kelapa, bukan karena orang tua kami memiliki kebun kelapa yang luas, tapi percayalah dikampung ini tidak ada larangan tersurat ataupun tersirat untuk mencari kelapa dikebun orang, asalkan yang dipungut adalah buah yang jatuh dan bukan hasil manjat kelapa orang.
Sesuai perjanjian sewaktu disekolah, rutinitas mengaji dilakukan lebih awal, tempat belajar ngaji adanya di rumah Hasmi, disana terdapat banyak guru mengaji yang terdiri dari orang tua Hasmi dan juga ketujuh kakaknya. Murid mengaji dirumah Hasmi cukup banyak, sekitar 17 orang sehingga ketika belajar mengaji dimulai maka akan terdengar ramai suara kami membaca Al-Qur’an masing-masing. Mengaji disini tak berbayar, hanya cukup dengan membantu beberapa pekerjaan rumah seperti mengangkat air dari sumur, menyapu di dalam rumah dan juga pekarangan, mencuci piring dan kadang-kadang ikut membantu mengupas buah kakao, pekerjaan itu terasa ringan karena dibagi dengan beberapa teman yang lain. Guru mengaji kami agak galak, terutama jika muridnya tak datang mengaji berhari-hari tanpa ijin, disiplinnya mirip-mirip disekolahan, sehingga untuk bolos mengaji harus berpikir beribu-ribu kali, pernah sekali aku bolos mengaji, saking takutnya bertemu guru mengaji, dengan merengek kuminta Mama menemaniku pergi mengaji dan memintanya memberikan alasan mengapa aku bolos mengaji pada saat itu.
Sejak ikut mengaji rutinitas tidur siangku bukan lagi menjadi kegiatan wajib dan ini membuatku sedikit bergembira. Karena banyak hal yang bisa Aku lakukan bersama teman-temanku, mulai dari mengejar cuan, mandi di sungai, bermain rumah-rumahan berbahan daun pisang, dan pada saat pohon pisang milik orang tua Hasmi gundul daunnya karena ulahku dan anaknya maka kami akan kena marah, pada situasi seperti itu kami akan lari bersembunyi sejauh mungkin, apakah kami kapok? Tentu tidak, karena dua atau tiga hari berikutnya kami akan mengulangi permainan itu lagi hahaha…..
Setelah membantu pekerjaan yang diperintahkan di rumah guru mengaji selesai, hari ini jadwal kami adalah berburu kelapa. Aku, Hasmi dan Ria berlari ke kebun yang sangat luas, dikebun tersebut kami seperti dilepas di hutan belantara karena sepanjang mata memandang yang ada hanya pohon kakao dan juga pohon kelapa. Persoalan tersesat tak pernah menjadi alasan untuk menciutkan nyali berlari lebih jauh ke dalam kebun karena setiap kebun yang dilintasi kami hapal siapa pemiliknya. Dengan berlari-lari kecil kebun demi kebun kami tapaki dan terus berlomba untuk memperebutkan buah kelapa yang berserakan diatas tanah.
“Kelapaku itu tiga”. Teriakku penuh semangat melihat ada tiga biji kelapa yang berserakan dibawah pohon kelapa yang tak jauh dari tempatku berdiri.
“Kelapaku itu dua”. Sahut Hasmi tak kalah semangat.
“Kelapaku itu semuanya”. Ucap Ria dengan lari yang semakin kencang. Wah benar-benar tuh si Ria, pasti asal nyebut aja, kata-kata ajaibnya tersebut membuatnya selalu beruntung mendapat bagian dari kelapa yang kami temukan ucapku dalam hati, dan jika Dia yang menemukan pertama kali maka Aku dan Hasmi tidak kebagian karena dia selalu menggunakan kata pamungkasnya yaitu ‘kelapaku itu semuanya’.
Ternyata ada satu tandan kelapa yang jatuh berisi tujuh biji kelapa. Lalu bagaimana kami membaginya? Pertama Aku yang mendapatkan tiga biji kelapa dengan alasan sebagai orang pertama yang melihat dan berteriak, kemudian Hasmi mendapat dua biji kelapa karena Dia adalah orang kedua yang berteriak, dan sisanya punya si Ria semua karena sudah mengeluarkan kata-kata pamungkasnya. Dalam situasi seperti inilah terkadang penyesalanku muncul, ‘b**o banget ni mulut kenapa nyebutnya cuma tiga, kenapa gak teriak saja seperti si Ria itu biar semua kelapa tersebut menjadi milikku’ umpatku dalam hati.
Karena kejadian seperti ini sering berulang, ada motivasi yang merintahku untuk sering latihan menyebut ‘kelapaku itu semuanya’ tapi ketika pelaksanaannya dilapangan ilmu Matematika selalu ikut menyertai hahaha….., terkadang Mamaku hanya geleng-geleng kelapa saat mendengarku latihan menyebut kata-kata pamungkas milik Ria, dan terkadang ia menggodaku dengan menyebut Ria lebih pintar dari aku, walaupun kenyataannya untuk urusan pelajaran di sekolah aku jauh lebih unggul dari Ria. Pernah sekali aku bertanya pada Ria kenapa dia selalu menggunakan kata pamungkasnya itu dan bukan menyebut jumlahnya, alasannya sederhana dia malas menghitung, jadi walaupun kelapa tersebut Cuma satu biji maka ia akan tetap menggunakan kata ‘kelapaku itu semuanya’ sedikit aneh menurutku, karena kata semua itu biasanya menunjukkan jumlah yang banyak, tapi keanehannya itulah yang membuatnya selalu beruntung, dan kadang juga jadi bahan lelucon saat ia yang terakhir mengeluarkan kata pamungkasnya namun Aku dan Hasmi sudah lebih dulu berteriak dengan menyebut jumlah kelapa yang tepat dan Ria sama sekali tak mendapatkan bagian.
Keringat bercucuran mengiri langkah-langkah setengah berlari menjelajah kebun entah sudah berapa hektar, tak hanya berlari kami juga sesekali melompat, merangkak dan bahkan salto, terkadang diselingi dengan teriakan-teriakan tidak jelas yang akan disahuti oleh orang lain yang mendengar teriakan kami, ini menjadi kegembiraan yang cukup mengiburr dalam berburu cuan. Pencarian kelapa kali ini mempertemukan kami dengan kelompok lain yang seprofesi dan saling menyapa dan bertanya sudah dapat kelapa berapa kemudian saling berpisah, saat merasa sudah cukup dengan hasil buruan hari ini, Hasmi mengajak kami untuk pulang, kami memang hanya mencari secukupnya saja karena jika mencari lebih banyak lagi, tak sanggup rasanya menenteng buah kelapa dalam jumlah yang banyak untuk dibawa pulang. hingga tibalah saatnya kami pulang dengan hati riang gembira membawa hasil buruan kali ini.
“Hmmm….besok disekolah Aku mau makan mie instant tidak di siram, dan membuat iri si Hana”. Ucap Ria bersemangat.
“Memangnya kenapa dengan si Hana?” tanyaku penasaran.
“Tadi Hana makan mie, Aku sudah sangat ngiler dibuatnya dan bahkan menelan ludah berulang-ulang, tapi Dia sama sekali tidak menawariku mienya”. Jawabnya kesal.
“Hahaha….hahaha……..”. Aku dan Hasmi hanya bisa terbahak-bahak melihat ekspresi kesal Ria.
“Besok biar beli tiga bungkus mie bisa, setelah nanti Mamaku membayar harga kelapa kita ini, dan dijamin besok pasti tak ada uang jajan untukku dari Mama karena tau Aku punya uang dari harga menjual kelapa”.
“Hahaha…..hahaha…….”. gantian mereka menertawakanku, sebenarnya bisa saja kelapa-kelapa ini kujual ditempat lain, tapi nanti tak ada alasan bagiku yang pulang terlambat. Dan walaupun begitu ada rasa bahagia tersendiri yang aku rasakan saat mendapatkan uang dari hasil keringat sendiri.
“Akhirnya sampai juga di rumah, Mama…… Mama…….”
“Iya Ani, kenapa Nak?”
“Hitung dulu ini kelapaku Mama”, dengan wajah berbinar kutunjukkan kelapa hasil buruanku.
“Sepuluh ribu semua”
“Tante hitungkan juga kelapaku” sahut Ria tidak sabaran.
“Dua belas ribu kalau kelapanya Ria karena besar-besar bijinya”
“Kalau kelapaku berapa Tante?” tanya Hasmi sudah tak sabar.
“Sepuluh ribu sama kayak kelapanya Ani”
Ria bersorak gembira karena dia yang akan mendapat cuan yang lebih banyak hari ini, jogetnya mirip dengan tari ular, kami terbiasa mengekspresikan kebahagiaan kami, tariannya sesuai imajinasi masing-masing hahaha……
“Sepertinya gara-gara Mie instan ini jadi kuat Ria bawa kelapa yang besar-besar dan banyak” godaku pada Ria.
“Pokoknya besok Mie Instanku Aku habiskan sendiri, yang lain biar ngiler saja hahahaha…..”.
“Dendam membara kayaknya ini”. Ucap Hasmi lalu ikut tertawa.
“Oh iya besok ada panggilan mengupas buah Kakao di rumah Om Marati”, ucap Ria memberi info.
“Apa imbalannya?” tanya Hasmi.
“Mengupas satu karung buah Kakao dapat Mie instan 5 bungkus”. Kami memang terbiasa menerima tawaran seperti ini, hitung-hitung dapat jajanan gratis.
“Maaf teman, Aku tidak bisa ikut, mau belajar persiapan ulangan”. Ucapku memberi info.
“Kalau kamu Hasmi?”
“Kalau kamu mau Aku juga mau”
“Oke, Kita berdua saja besok yang bantu Om Marati”.
“Pulang Yuk”. Ajak Ria pada Hasmi. Lalu mereka berdua pamit dan pulang ke rumah masing-masing.
Selain berburu kelapa kedua temanku tersebut juga berburu biji kakao petani yang dimakan tikus, tikus-tikus ini memakan kakao dimalam hari, yang dimakan hanya bagian berlendir diluar biji, sehingga biji kakao tersebut tetap masih utuh, apakah ada larangan untuk pekerjaan tersebut? Sejauh ini belum ada larangan asal tidak mengambil buah kakao tersebut secara langsung dari pohonnya. Sungguh desaku ini memiliki banyak lapangan pekerjaan untuk orang-orang yang mau berusaha. Untuk pekerjaan disubuh hari tersebut aku menyerah, ini karena ketidakmampuanku mengubah kebiasaan buruk yang selalu bangun terlambat di pagi hari, sehingga persoalan cuan mereka berdua memiliki lebih banyak dari diriku. Jika kami merasa cuan kami masih cukup untuk jajan beberapa hari kedepan, maka aktivitas berburu kelapa digantikan dengan aktivitas lain seperti bermain.
Karena matahari makin ke barat dan perlahan mulai redup sinarnya, akupun berencana mandi kemudian segera bersilat di dapur, menu makan malam kali ini harus tanpa cela tekadku di dalam hati. Kegiatanku dimulai dengan memeriksa bahan yang ada, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan memotong sayur papaya yang rencananya akan aku tumis, sambil menunggu tumis papaya yang akan masak selanjutnya aku menggoreng ikan gabus hasil Bapak memancing, beruntungnya karena ikan tersebut sudah dibersihkan dan sisa digoreng, ‘wahh…kali ini Mama sangat pengertian, tau aja kalau anaknya ini benci pekerjaan membersihkan ikan’ batinku.
Kehidupan kami sangat sederhana, sayur yang kami konsumsi sehari-hari hampir semuanya gratis dari hasil kebun sendiri maupun diberi sama tetangga. Bapakku adalah seorang petani yang menyambi jadi buruh bangunan, Mamaku memiliki warung kecil-kecilan. Untuk urusan perpancian, Mama sudah melatihku sejak kelas tiga SD, dan sekarang tinggal mempraktekkan ilmu-ilmu yang sudah diturunkan Mama padaku, walaupun terkadang nasiku gosong karena lupa dan terpaksa kubuang dengan sembunyi-sembunyi agar tak ketahuan Mama, sayurku sedikit asin tapi ini masih bisa diatasi dengan cara menambahkannya sedikit air, dan untuk ikan kuberikan perhatian penuh dengan tingkat kehati-hatian level dewa saat memasaknya karena kalau gosong tak ada gantinya dan Mamaku pasti akan murka hahaha….