Setelah Darma dan mama Ela pergi, Andin masih duduk di pelataran halaman bandara. Andin tak menyangka, kedatangan Aksa yang seharusnya Andin jadikan kejutan untuk darma, ternyata Andin sendiri lah yang mendapatkan kejutan dari Darma atas kesalah pahaman yang terjadi.
" Kak Andin... bangun yuk, kak. Disini panas, kita masuk mobil dulu yuk " Aksa mencoba untuk membantu Andin untuk berdiri.
Tanpa sepatah kata pun, Andin mengikuti arahan Aksa yang membantu nya untuk berdiri, berjalan, hingga masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, Aska memberi Andin minum agar fikiran nya bisa sedikit tenang.
" Kak...! Kak Andin tenang ya " Aksa menggenggam tangan sang kakak. Kemudian memeluk nya dan merelakan dirinya dijadikan sandaran kakak perempuan nya itu.
Air mata Andin membasahi pipi merah nya. Namun tatapan nya kosong. Andin berharap, kejadian yang baru saja terjadi kepada nya hanya lah mimpi di siang bolong dan sebentar lagi akan membangunkan dari tidur nya. Namun ternyata tidak. Kejadian yang baru saja terjadi adalah nyata. Suami yang ia junjung kewibawaan nya telah menceraikan nya. Dengan kesalah pahaman yang terjadi, bahkan Andin tak diberi kesempatan untuk menjelaskan tentang kejadian yang sebenarnya.
" Aksa..." Andin memanggil Aksa, dengan suara yang lirih nyaris tak terdengar.
" Iya, kak... aku disini " Aksa lega, akhirnya Andin mau bicara.
" Apakah aku sehina itu ? Sampai-sampai mas Darma tidak memaafkan aku. Bahkan tidak mau mendengarkan penjelasan ku " Andin mencoba untuk mengeluarkan segala isi hatinya.
" Nggak, kak. Kak Andin adalah wanita paling hebat dan istimewa. Kak.." Aksa memanggil kakak nya yang masih bersandar dalam pelukan nya.
" Hmm " Hanya itu jawaban Andin.
" Maafin aku ya, kak. Karena kedatangan aku, kak Andin dan kak Darma malah...." Aksa tak sanggup melanjutkan perkataan nya. Tak sanggup jika membuat Andin terluka karena mengingat nya.
Andin melepaskan pelukan nya. Kemudian menatap wajah Aksa yang merasa bersalah atas kejadian yang menimpa nya.
" Nggak, Aksa. Bukan salah kamu. Aku seneng kamu pulang. Aku seneng karena akhirnya kita bisa menghabiskan waktu bersama lagi " Andin mencoba tersenyum dan menghapus air mata nya. Namun tak bisa di pungkiri, mata nya masih berkaca-kaca karena menahan tangis.
" Kak Andin..." Aksa memanggil kembali nama kakak nya, namun kali ini Aksa menatap dalam mata Andin. Aksa bisa merasakan kesedihan yang di rasakan Andin.
" Are you okay ?" Aksa mengusap wajah Andin yang pipi nya masih basah karena air mata nya.
Andin mengangguk dan tersenyum. Tapi air mata kembali meluncur bebas ke pipi nya.
Andin kembali memeluk Aksa, meluapkan semua beban yang ada di d**a nya.
Tak lama kemudian, Andin dan Aksa tiba di halaman rumah mama Lisa. Rumah yang hanya Andin datangi sesekali di waktu senggang nya. Dua hari sebelumnya, Andin sudah menyiapkan beberapa asisten rumah tangga agar mempermudah Aksa tinggal di sana setelah kedatangan nya ke rumah itu. Namun tak di sangka, bukan hanya Aksa yang akan menempati rumah itu, tetapi Andin sendiri juga yang akan menempati rumah mama Lisa.
" Aksa.. kamu istirahat aja dulu di kamar kamu ya. Aku juga mau istirahat di kamar " Andin yang merasa letih, akhirnya memilih untuk beristirahat, agar fikiran nya juga bisa lebih tenang setelah beristirahat.
" Baik, kak " Tak ada bantahan bahkan penolakan dari Aksa. Mereka pun menuju kamar masing-masing untuk beristirahat.
Malam hari nya.. Andin dan Aksa berkumpul di meja makan untuk menyantap makan malam bersama. Keakraban semakin harmonis di antara keduanya. Bahkan Andin yang sedari tadi seolah tak bisa berhenti menangis, kini sudah mulai tampak keceriaan nya lagi. Tak lupa juga, Andin dan Aksa melakukan panggilan video dengan mama Lisa dan papa Tio. Andin dan Aksa tidak mengatakan hal yang sebenarnya terjadi pada rumah tangga Andin dan Darma. Bahkan saat mama Lisa menanyakan keberadaan Darma, Andin mengatakan jika Darma sedang ada perjalanan dinas keluar kota dan sedang menginap di rumah mama Lisa karena ingin menemani Aksa.
Dan tentu saja mama Lisa dan papa Tio mempercayai nya. Karena memang selama ini hubungan Andin dan Darma benar-benar sangat harmonis dan romantis di depan mama Lisa dan di depan umum.
Setelah panggilan di tutup, dan makan malam pun selesai. Andin sedang duduk termenung di samping kolam yang ada di belakang halaman rumah nya.
Semua ingatan tentang kebersamaan nya dengan Darma, seakan menari di ingatan nya. Andin tak menyangka, rumah tangga yang sudah ia jalani dengan Darma selama delapan tahun lama nya, kini harus kandas dan seakan berakhir tragis. Bukan talak satu, tetapi langsung talak tiga sekaligus. Setega itu Darma kepada nya, itulah yang sedan Andin katakan di dalam hati nya.
Teringat saat malam anniversary mereka yang ke lima tahun, Darma mengatakan untuk selalu mencintai Andin dalam keadaan apapun. Baik dalam keadaan sehat maupun sakit, baik dalam keadaan berharta maupun miskin. Cinta Darma tidak akan goyah sedikit pun kepada nya. Dan rupanya, semua itu hanya kebohongan belaka. Andin tersenyum miris, hati nya sakit, mata nya kembali mengeluarkan cairan bening.
" Hemh.. ternyata selucu itu ya. Bagaimana bisa dia mengingkari janji dan ucapan nya sendiri " Andin seolah mentertawakan dirinya sendiri karena begitu mempercayai ucapan Darma saat itu.
Dari kejauhan, Aksa melihat Andin yang sekejap menangis, namun kemudian sekejap tertawa sendiri. Aksa khawatir dengan mental sang kakak. Karena bagaimanapun, kejadian yang menimpa Andin juga ada sangkut pautnya dengan kedatangan nya.
Perlahan, langkah demi langkah Aksa mendekat pada Andin. Dengan suara yang lembut, Aksa memanggil sang kakak.
" Kak Andin..." Aksa memanggil
Andin menoleh, kemudian membalikkan tubuhnya.
" Iya, Aksa !" senyum tipis terukir di bibir Andin.
" Are you okay ?" Aksa memastikan keadaan sang kakak.
" I am okay, sa " Andin menyembunyikan kesedihan nya. Andin juga merasa tidak enak pada Aksa karena menyambut kedatangan nya dengan kesedihan yang menimpa nya. Pertemuan yang seharusnya menjadi momen paling bahagia di antara mereka, tapi keadaan harus membuat keadaan menjadi rumit.
Melihat Aksa, Andin berusaha untuk tidak lagi memikirkan Darma. Karena menurut Andin, sekeras apapun dirinya ingin kembali pada Darma, tapi ucapan talak tiga yang di layangkan Darma seakan menjadi mustahil untuk mereka bisa bersatu kembali.
" Aksa..." Andin menampakkan wajah ceria nya.
" Iya, kak " Aksa membalas senyuman sang kakak.
" Kamu mau bantu aku ?" Andin berusaha meyakinkan dirinya sendiri dan juga Aksa.
" Bantu apa, kak ?" Tanya Aksa penasaran
" Bantu aku untuk melupakan mas Darma. Bantu aku untuk mengembangkan kembali perusahaan meskipun tanpa bekingan dari perusahaan mas Darma " Andin seolah memiliki semangat yang tiba-tiba meninggi.
Apakah maksud dari semua ini ???