Hadiah uang untuk finis P5 datang dalam amplop yang lebih tipis dari yang Bayu harapkan.
Mereka berkumpul di meja makan—Bayu, Sekar, Bu Marni, dan Pak Gun yang sudah mereka anggap keluarga—dengan kalkulator dan tumpukan kertas di antara gelas teh yang mendingin. Cahaya lampu menggantung rendah, menerangi angka-angka yang tidak mau bersahabat.
"Hadiah P5 seri pertama," kata Sekar, mengetuk kalkulator. "Dikurangi biaya hotel kemarin, bensin truk angkut, sewa mekanik harian, sama cicilan ke pemilik gokart yang nyewain sirkuit." Ia menarik napas. "Sisa bersih buat tim—nggak sampai sepuluh juta."
Tidak ada yang berbicara. Sepuluh juta. Setengah harga satu set ban kompetisi yang akan mereka butuhkan untuk seri kedua, kalau Adikarya tidak menyuplai gratis lagi. Setetes air di gurun lima ratus delapan puluh juta.
Bu Marni mengeluarkan amplop lain dari laci. Amplop putih dengan kop bank, ujungnya sudah sedikit lecek karena dipegang berkali-kali. Ia meletakkannya di tengah meja seperti meletakkan sesuatu yang panas.
"Datang kemarin," kata Bu Marni. Suaranya tenang, terlalu tenang, suara seorang ibu yang sudah belajar tidak menangis di depan anak-anaknya. "Ibu belum buka. Ibu nunggu kalian pulang."
Bayu membuka amplop itu. Ia membacanya dua kali sebelum kata-kata di dalamnya membentuk makna. Lalu ia meletakkannya, menggosok wajahnya dengan kedua tangan.
"Bank mempercepat jadwal," katanya. "Tenggat penilaian aset—penyitaan—dimajukan. Mereka bilang ada peninjauan ulang risiko kredit." Ia tertawa pendek, tanpa humor. "Peninjauan ulang. Sehari setelah aku tolak Wijaya."
Pak Gun mengangkat kepalanya tajam. "Kamu pikir—"
"Aku nggak bisa buktiin." Bayu menggeleng. "Tapi waktunya pas banget. Wijaya bilang dia bakal cari jalan lain. Mungkin dia kenal seseorang di bank. Mungkin cuma kebetulan." Ia menatap surat itu. "Tapi tetep aja, tenggatnya nyata. Maju. Kita punya waktu lebih sedikit dari yang kita kira."
Bu Marni mengulurkan tangan dan menutup surat itu, melipatnya pelan. "Berapa lama?"
"Beberapa minggu lebih cepat dari rencana." Bayu mengusap pelipisnya. "Kalau kita finis sepuluh besar musim, sponsor Lintas Jaya cair, utang ketutup. Tapi musim masih empat seri lagi. Sponsor itu baru bayar di akhir. Dan tenggat bank sekarang mungkin datang sebelum musim selesai."
Hening lagi. Itu jurang yang sebenarnya. Bukan sekadar harus finis sepuluh besar—tapi harus bertahan cukup lama agar sampai ke akhir musim sebelum rumah ini disita lebih dulu.
Sekar menutup laptopnya, lalu membukanya lagi, jari-jarinya gelisah. "Aku udah bikin daftar," katanya. "Sponsor-sponsor kecil. Bengkel ban lokal, bukan yang gede. Warung kopi yang lagi mau branding. Toko sparepart. Mereka nggak bakal kasih puluhan juta—paling beberapa juta per logo. Tapi kalau aku kumpulin sepuluh, lima belas sponsor kecil..." Ia menatap kakaknya. "Itu nutup biaya operasional per seri. Biar hadiah balapan bisa kita simpen buat ngejar tenggat, bukan kebakar buat hotel sama bensin."
Bayu menatap adiknya. Sekar dua puluh tahun, mahasiswi, seharusnya pusing dengan skripsi dan teman-temannya, bukan dengan proposal sponsor dan jadwal penyitaan bank. Rasa bersalah menusuknya lagi—tapi kali ini ia menelannya. Mereka tidak punya kemewahan untuk merasa bersalah.
"Kamu yakin bisa?" tanya Bayu.
"Nggak." Sekar tersenyum, lelah tapi keras kepala, senyum yang sangat mirip ayah mereka. "Tapi kakak juga nggak yakin bisa balap lagi dua bulan lalu. Terus kakak finis P5." Ia menutup laptop. "Kita keluarga keras kepala, Kak. Bapak ngajarin gitu."
Pak Gun terkekeh pelan di ujung meja, suara serak penuh sayang. Bu Marni mengusap mata diam-diam, lalu berdiri, mengumpulkan gelas teh, menyibukkan diri seperti yang selalu ia lakukan ketika hatinya terlalu penuh.
"Satu hal," kata Bu Marni dari arah wastafel, membelakangi mereka. Suaranya bergetar tipis. "Apa pun yang kalian lakukan buat rumah ini—Ibu cuma minta satu. Bayu pulang utuh tiap balapan. Rumah boleh hilang. Tim boleh bubar. Tapi anak Ibu pulang." Ia berhenti. "Ibu udah kehilangan satu orang di tikungan itu. Ibu nggak sanggup kehilangan dua."
Bayu berdiri, mendekat, dan memeluk ibunya dari belakang—sesuatu yang tidak ia lakukan sejak ia masih kecil. "Aku pulang, Bu," katanya pelan ke rambut ibunya yang mulai memutih. "Tiap kali. Aku janji."
Di luar, malam jatuh ke jalan kecil mereka. Di garasi, PR-09 menunggu di bawah neon berkedip, dan jam terus berdetak menuju tenggat yang sekarang lebih dekat dari sebelumnya.