"Aku nggak suka tempat ini," kata Pak Gun, berdiri di pinggir lintasan Sirkuit seri kedua dengan tangan di pinggang dan kerutan dalam di dahinya. "Mobil kita bakal benci tempat ini."
Mereka datang dua hari lebih awal untuk survei—Bayu, Pak Gun, Dimas membawa peralatan ukur, dan Sekar dengan papan jepit penuh catatan sponsor di tas. Sirkuit ini berbeda total dari Sentul. Di mana Sentul penuh tikungan teknis yang menghargai mobil lincah, sirkuit ini punya dua lurusan panjang—sangat panjang—yang membentang seperti landasan pacu, dihubungkan tikungan-tikungan cepat yang lebar.
"Top-speed," kata Bayu, menatap lurusan utama yang seakan tak ada ujungnya. "Di sini menang ditentukan top-speed."
"Dan top-speed itu satu hal yang nggak kita punya." Pak Gun menendang kerikil. "Mesin V6 Hardian itu jagoan di putaran menengah—tarikan keluar tikungan dahsyat. Tapi di lurusan panjang begini, mobil-mobil bermesin lebih besar bakal numpuk kecepatan dan ninggalin kita. Reno punya mesin yang top-speed-nya mungkin lima belas kilometer per jam lebih tinggi dari kita. Di lurusan sepanjang ini, lima belas kilo per jam itu jurang."
Bayu berjalan menyusuri pagar, merasakan angin, membayangkan PR-09 di lintasan ini. Pak Gun benar. Di Sentul mereka menang dengan kelincahan dan strategi ban. Di sini, kelincahan tidak banyak gunanya—tikungannya terlalu cepat dan lebar, hampir bisa diambil tanpa angkat gas. Yang menentukan adalah berapa cepat kau bisa lari di garis lurus, dan PR-09 akan kalah di sana.
"Kualifikasi bakal jelek," kata Bayu pelan. Bukan keluhan—perhitungan.
"Mungkin." Pak Gun menatapnya. "Tapi balapan beda dari kualifikasi. Dengar." Ia menunjuk ke ujung lurusan, ke tikungan tajam yang menyiku setelah kecepatan tinggi. "Tikungan itu. Setelah lurusan sepanjang itu, semua orang masuk dengan kecepatan tinggi dan harus ngerem keras. Di sini, ban yang awet dan rem yang dingin itu emas. Mobil bermesin gede yang nyalip kita di lurusan—mereka habisin ban dan rem buat ngerem dari kecepatan tinggi berulang kali. Kalau ban kita tahan lebih lama, di akhir balapan mereka melambat dan kita nggak."
Dimas, yang sedang mengukur sudut tikungan dengan alat, mengangkat kepala. "Jadi strateginya bukan ngejar mereka di lurusan. Strateginya bertahan, biar di akhir balapan mereka yang jatuh ke tangan kita?"
"Pintar, anak muda." Pak Gun menepuk bahu Dimas. "Kita nggak bisa menang dengan kecepatan. Kita menang dengan kesabaran. Sama kayak Sentul. Cuma di sini lebih susah, karena kita harus nahan lebih lama sambil dilewatin terus di lurusan. Itu siksaan mental buat pembalap—dilewatin lagi dan lagi, dan tetep sabar."
Bayu menatap lurusan panjang itu lagi, dan merasakan beban perhitungannya. Dilewati lagi dan lagi. Melihat mobil-mobil melesat di sebelahmu, harus menahan diri untuk tidak memaksa mesin tua melampaui batasnya, harus percaya bahwa di lap-lap terakhir kesabaran akan terbayar. Itu bukan hanya soal mengemudi. Itu soal tidak panik melihat dirimu kalah, lap demi lap, sampai saat balas dendam tiba.
"Aku bisa," kata Bayu.
"Aku tahu." Pak Gun menatapnya. "Tapi ini bakal lebih berat dari yang kamu kira. Di Sentul kamu lawan trauma. Di sini kamu lawan gengsi—nafsu buat ngebut yang ada di setiap pembalap. Pembalap yang bagus bukan yang paling berani, tapi yang paling sadar batas. Kamu harus sadar batas mobil ini lima puluh lap penuh sambil orang lain ngebut di sebelahmu. Itu ujian beda."
Di kejauhan, di garasi tim lain di seberang paddock, mereka melihat truk-truk mengilap dengan logo Wijaya Group sedang menurunkan mobil. Reno belum kembali balapan—cederanya belum pulih—tapi timnya hadir, tim termahal di grid, dengan mesin yang dibuat persis untuk lintasan seperti ini.
Sekar mendekat, menutup papan jepitnya. "Kak," katanya pelan, "aku dapet dua sponsor kecil dari kota ini. Toko ban lokal sama dealer motor bekas. Masing-masing tiga juta. Logo kecil di sayap belakang." Ia tersenyum lelah. "Bukan banyak. Tapi itu hotel sama bensin kita buat seri ini."
Bayu mengusap kepala adiknya. "Itu banyak, Sekar. Itu banyak banget."
Mereka berdiri bertiga—empat dengan Dimas—di pinggir lintasan asing yang tidak bersahabat dengan mobil mereka, di bawah langit sore yang mulai jingga. Sirkuit ini akan menyiksa PR-09. Kualifikasi akan buruk. Mereka akan dilewati lagi dan lagi di lurusan panjang.
Tapi Bayu sudah belajar satu hal di Sentul yang ia bawa ke sini: tim Prakoso tidak menang dengan menjadi yang tercepat. Mereka menang dengan menjadi yang paling sabar, yang paling sadar, yang paling tahu kapan harus menahan dan kapan harus menyerang.
"Pulang," kata Pak Gun, mengumpulkan alat ukur. "Kita punya kerjaan. Mobil ini harus disetel buat tempat yang dibencinya. Dan itu, Nak, justru pekerjaan favorit bapakmu."