Reno Wijaya kembali ke paddock lima minggu setelah kecelakaannya, dan ada sesuatu yang berbeda padanya.
Bayu melihatnya pertama kali di pintu masuk sirkuit, saat kru sedang menurunkan PR-09 dari truk. Bukan seri Kejurnas — ini balapan undangan non-poin yang tetap diawasi panitia resmi, digelar di sela kalender, satu akhir pekan ekstra yang dipakai banyak tim untuk uji setelan menjelang seri ketiga, dan dipakai Reno untuk balapan pertamanya sejak kecelakaan. Reno berjalan dengan langkah yang lebih hati-hati dari dulu — sisa cedera di bahu, kata orang, yang membuatnya absen satu seri penuh — tapi bukan jalannya yang berubah. Matanya yang berubah.
Dulu mata Reno penuh ejekan ringan, kepongahan anak kaya yang tak pernah benar-benar kalah. Sekarang ada sesuatu yang lebih keras di sana. Dingin. Terkalibrasi. Seperti orang yang pernah melihat batas dan memutuskan tak akan pernah berdiri sedekat itu lagi tanpa membawa sesuatu untuk bertarung.
Mereka berpapasan di lorong paddock. Reno berhenti. Bayu berhenti.
"P3 di hujan," kata Reno. Bukan pertanyaan. "Saya nonton dari rumah sakit."
"Senang dengar kamu pulih," kata Bayu, dan ia mengucapkannya dengan tulus.
Sesuatu berkedut di rahang Reno. "Saya nggak butuh kasihan."
"Itu bukan kasihan. Itu sopan santun."
Reno menatapnya lama. Lalu, tak terduga, sudut mulutnya naik sedikit — bukan ejekan, sesuatu yang lebih rumit. "Kamu berubah. Anak yang panik di gokart itu nggak akan ngomong begitu sama saya."
"Kamu juga berubah," kata Bayu.
Senyum Reno memudar. Untuk sepersekian detik, sesuatu yang nyaris seperti kejujuran melintas di wajahnya — bayangan dari asap putih dan kemudi yang tak menurut dan beberapa detik di mana ia sendiri, seperti Hardian, tidak tahu apa yang akan membunuhnya. Lalu topeng itu kembali, lebih tebal dari sebelumnya.
"Saya kembali buat menang," kata Reno. "Bukan buat berteman. Kemarin kamu lawan saya pas saya nggak ada. Sekarang saya ada." Ia melangkah mendekat, suaranya turun. "Hujan kemarin keberuntungan kamu. Trek ini kering. Kita lihat anak Hardian bisa apa pas lintasannya nggak nolong dia."
Ia berlalu sebelum Bayu sempat menjawab.
Di pit, Pak Gun yang menyaksikan dari jauh datang menghampiri. "Apa kata dia?"
"Dia kembali," kata Bayu, menatap punggung Reno yang menjauh. "Dan dia lebih berbahaya dari dulu."
"Gimana lebih berbahaya?"
Bayu memikirkannya. "Dulu dia sombong karena nggak pernah kalah. Sekarang dia... takut kalah. Dan orang yang takut kalah lebih nekat dari orang yang sombong."
Pak Gun mengikuti pandangan Bayu. Di paddock seberang, di tenda mewah tim Wijaya yang dipenuhi mekanik berseragam rapi dan peralatan termahal di Kejurnas, Reno naik ke kokpit mobilnya. Dan di belakangnya, baru saja turun dari mobil hitam, seorang pria tua berjas mahal mengawasi — wajah yang sama yang menonton klip wawancara Bayu di gedung kaca, ayah Reno, pemilik Wijaya Group.
Pria itu tidak menatap putranya. Ia menatap, melintasi seluruh lebar paddock, langsung ke arah PR-09. Ke arah Bayu.
Mata mereka bertemu sesaat. Pria tua itu tidak tersenyum, tidak mengangguk, tidak memberi tanda apa pun. Ia hanya mengamati, dingin, seperti seseorang yang sedang menghitung — bukan mobil, bukan pembalap, tapi sebuah angka. Lima ratus delapan puluh juta. Sebuah utang. Sebuah tenggat.
Lalu ia berbalik dan masuk ke tendanya.
"Saya nggak suka itu," gumam Pak Gun pelan.
Kualifikasi sore itu mengkonfirmasi kekhawatiran. Lintasan kering, panjang, dengan lurus yang menghukum mobil lambat. Reno, dengan tubuh yang masih belum seratus persen, tetap merebut posisi depan — P2. Bayu, menyetir bersih sampai batas, hanya bisa meraih P9. Lebih baik dari seri kedua yang basah, tapi di lintasan kering jurang antara mobil kaya dan mobil tua kembali menganga.
Malam itu, di hotel, Sekar mengetuk pintu kamar Bayu dengan wajah pucat dan ponsel di tangan.
"Mas," katanya. "Ada berita. Tentang utang kita."
Bayu duduk tegak. "Apa?"
"Bank." Sekar menelan ludah. "Ada yang nawar buat... beli surat utang kita dari bank. Pihak ketiga. Mau ngambil alih piutangnya."
"Siapa?"
Sekar menunjukkan layar. Sebuah portal bisnis. Dan di sana, dalam satu baris kecil yang dingin, nama yang membuat perut Bayu mengeras:
*Wijaya Group dikabarkan menjajaki akuisisi piutang sejumlah debitur kecil di sektor otomotif.*
Besok balapan. Reno di depan, lapar dan nekat. Dan di belakang layar, ayahnya baru saja mengulurkan tangan menuju tali yang mengikat rumah keluarga Prakoso.