Itu terjadi terlalu cepat untuk dipikirkan, dan cukup lambat untuk diingat seumur hidup.
Bayu sudah berkomitmen ke garis dalam, roda depannya sejajar dengan roda belakang Reno, mengerem di titik yang seharusnya membawanya bersih ke apex. Lalu ekor mobil Reno bergeser — ke dalam, ke arah garis yang sudah Bayu tempati. Bukan gerakan defensif yang sah, yang dilakukan sebelum lawan tiba. Ini terlambat. Ini setelah. Ini gerakan menutup pintu yang sudah ada kaki di ambangnya.
Roda mereka bersentuhan.
Sentuhan kecil — ban belakang Reno menyenggol ban depan kiri Bayu — tapi pada kecepatan itu, kecil sudah cukup. PR-09 tersentak. Ekornya melepas. Untuk satu detik yang membentang seperti karet, Bayu merasakan mobil keluar dari kendalinya, dunia mulai berputar, gravel di luar lintasan melebar di kaca helmnya seperti pasir yang menelan—
Dan trauma lama meledak di dadanya. Mesin meraung. Kendali hilang. *Ban. Pace bagus, Pak, pertahankan.* Statik. Sunyi.
Tapi tangannya bergerak sebelum ketakutannya selesai.
Lima tahun trauma. Tapi juga berbulan latihan, ratusan lap, suara Pak Gun terukir di balik tengkoraknya. *Lihat apex. Cuma tikungan.* Bayu melawan arah putaran, lembut di setir, mengangkat gas tanpa mengerem, membiarkan mobil menemukan kembali keseimbangannya alih-alih memaksanya. Roda menggigit gravel di pinggir, melempar batu kerikil ke udara, ekor mobil mengayun liar — lalu, ajaib, menggigit kembali ke aspal.
Ia menyelamatkannya. Setengah meter dari dinding penghalang, dengan empat roda hampir di luar lintasan, Bayu Prakoso menyelamatkan mobil yang seharusnya berakhir di gravel.
Tapi ia kehilangan segalanya. Reno melesat pergi. Tiga mobil lain melewatinya selagi ia melawan putaran. Saat PR-09 akhirnya kembali lurus dan menggigit penuh, Bayu sudah turun ke P5, jantung menghantam tulang rusuknya, tangan gemetar di setir.
"BAYU!" Suara Pak Gun nyaris pecah. "Kamu utuh? Lapor! KAMU UTUH?"
"Saya—" Napasnya tercekat. Lalu ia menemukannya kembali, dan dengan napas itu datang sesuatu yang panas, sesuatu yang bahkan trauma tak bisa padamkan. Amarah. "Saya utuh. Dia nyenggol saya, Pak. Dia tutup pintu pas saya udah masuk. Itu—itu nggak bersih. Itu nggak bersih!"
"Saya lihat." Suara Pak Gun keras, dingin, marah dengan cara yang jarang Bayu dengar. "Semua orang lihat. Kamera lihat. Selesaikan balapan dulu. Bawa pulang poin. Sisanya urusan steward."
Bayu memaksa amarahnya menjadi bahan bakar. Empat belas lap tersisa. Tangannya berhenti gemetar lap demi lap, dan ban Adikarya-nya — yang masih hijau, masih segar, masih berbicara — menjadi senjatanya. Ia menyusul kembali satu mobil. Lalu satu lagi di lurus saat lawannya melakukan kesalahan. Ia menyeberangi garis finis di P3 — podium di balapan undangan ini, tak terhitung di klasemen Kejurnas — tapi tak ada sukacita di dalam kokpit kali ini.
Di depannya, Reno finis P1. Bersih di mata papan skor, kotor di mata siapa pun yang menonton tikungan itu.
Di pit, Pak Gun sudah berdiri menunggu sebelum Bayu menyelesaikan lap pendinginan, dan di tangannya ada cetakan gambar dari kamera onboard — frame demi frame senggolan itu, ekor mobil Reno yang bergerak ke dalam terlalu lambat, terlalu sengaja.
"Kita protes," kata Pak Gun begitu Bayu melepas helm. Wajahnya keras seperti batu. "Sekarang. Malam ini. Ada bukti, ada saksi, ada kamera. Anak itu hampir bikin kamu mati di gravel, dan dia nggak boleh pulang bawa P1 dari senggolan itu."
Bayu menatap cetakan di tangan Pak Gun. Frame di mana ekor mobil Reno menyentuh rodanya. Frame di mana, untuk sekejap, ia merasakan kembali persis sensasi yang dulu mengubah hidupnya — kendali yang lepas, dunia yang berputar, raungan yang membawa kematian.
Tapi kali ini ia tidak mati. Kali ini ia membawanya kembali.
"Kita protes," kata Bayu pelan. Lalu ia mengangkat wajah, dan di matanya ada sesuatu yang baru — bukan trauma, bukan takut, tapi nyala yang dingin dan teguh. "Dan saya mau ada di ruangan itu waktu mereka tanya dia kenapa dia tutup pintu pas saya udah lewat."
Di seberang paddock, di tenda mewah Wijaya, Reno Wijaya turun dari mobilnya yang menang. Ia tidak mengangkat tangan ke arah tim. Ia tidak tersenyum pada trofi yang menunggu. Ia hanya berdiri di samping mobilnya, helm masih di kepala, menatap ke arah pit Prakoso di kejauhan — di mana Bayu masih hidup, masih berdiri, masih di podium.
Dan ketika ayahnya datang dari belakang, menepuk bahunya, dan berkata pelan, "Bagus. Begitu caranya," Reno tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, kemenangan terasa seperti sesuatu yang busuk di mulutnya.