Dua hari setelah balapan undangan itu, di garasi Prakoso, Sekar menempelkan selembar kertas hasil cetakan di papan tulis tua yang dulu dipakai ayah mereka untuk corat-coret setelan mesin. Di kertas itu, klasemen sementara Kejurnas setelah dua dari lima seri — balapan undangan kemarin tidak menambah satu poin pun, tapi dua seri resmi sudah cukup mengangkat mereka.
"Kalian harus lihat ini," kata Sekar, suaranya bergetar antara tak percaya dan bangga. "Aku hitung tiga kali biar nggak salah."
Bayu, Pak Gun, Dimas, dan Pak Heru berkumpul. Bu Marni berdiri di belakang, tangannya menggenggam lap dapur.
Sekar menunjuk satu baris dengan jari yang sedikit gemetar. "PRAKOSO. Posisi sembilan klasemen sementara."
Hening sebentar. Lalu Dimas berteriak dan memeluk Pak Heru, yang biasanya kaku, untuk pertama kalinya tertawa lepas.
Sembilan. Dari dua puluh dua tim. Setelah finis P5 di Sentul dan P3—podium pertama—di seri kedua, poin Bayu menumpuk cukup untuk membawa tim sekarat itu masuk sepuluh besar sementara. Tepat di zona yang dijanjikan PT Lintas Jaya.
"Sementara," Pak Gun mengingatkan, walau senyumnya tak bisa disembunyikan. "Ini baru dua seri. Masih ada tiga. Dan klasemen bisa berubah tiap balapan. Tim di posisi sepuluh sampai tiga belas cuma terpaut beberapa poin di belakang kita. Satu balapan jelek, kita keluar lagi."
"Tapi kita di dalam, Pak," kata Bayu. Ia menatap angka itu lama. Sembilan. Tiga bulan lalu, tim ini cuma terpal abu-abu di garasi gelap. "Buat pertama kalinya, target Lintas Jaya itu bukan mustahil. Kelihatan. Bisa diraba."
Bu Marni mendekat ke papan, menyentuh nama keluarga mereka yang tercetak di antara nama-nama tim besar berdana raksasa. Matanya berkaca. "Bapakmu," bisiknya, "dulu mimpinya cuma masuk sepuluh besar. Sekali aja. Sebelum dia..." Ia tidak menyelesaikan kalimat itu.
Bayu memeluk ibunya dari samping. Sekar ikut mendekat. Untuk sesaat, garasi yang dulu sunyi itu terasa seperti rumah lagi.
Tapi Pak Gun, yang matanya selalu setengah di masa depan, menarik Bayu ke samping setelah yang lain bubar mengerjakan mobil.
"Aku harus jujur sama kamu, Mas," katanya pelan. "Posisi sembilan ini punya harga. Sebelum hari ini, kita tim sekarat yang nggak diperhitungkan siapa pun. Kita di bawah radar. Sekarang nggak lagi. Sekarang nama Prakoso ada di papan klasemen, di zona yang diincar tim-tim besar. Termasuk Wijaya."
Bayu mengangguk pelan. Kata-kata Adit di koridor menara masih menggantung di kepalanya. Mereka nggak akan main di lintasan aja.
"Kamu lihat Reno nyenggol kamu kemarin," lanjut Pak Gun. "Itu di lintasan, di depan kamera. Itu yang aku nggak takutin. Yang aku takutin yang nggak ada kameranya. Kita naik klasemen, kita jadi ganjalan buat target mereka. Orang kayak ayahnya Reno nggak suka ganjalan."
"Pak Gun pikir mereka bakal ngapain?"
Mekanik tua itu menatap PR-09 yang berdiri di tengah garasi, bodinya yang biru pudar kini dihiasi logo Adikarya. "Aku nggak tahu. Dan itu yang bikin aku nggak bisa tidur." Ia menepuk bahu Bayu. "Tapi satu hal aku tahu. Mulai sekarang, kita jaga mobil ini siang malam. Garasi nggak boleh kosong tanpa pengawasan. Sparepart kita catat satu-satu. Aku nggak mau ada apa pun yang masuk ke mobil ini tanpa salah satu dari kita yang lihat."
Bayu menatap mentornya. Ada ketegasan baru di wajah Pak Gun—bukan ketakutan, tapi kewaspadaan seorang prajurit tua yang pernah melihat bagaimana hal kecil bisa membunuh.
Malam itu, sebelum tidur, Bayu berdiri lagi di depan papan klasemen. Sembilan. Ia menyentuh nama keluarganya. Lalu matanya turun ke daftar utang yang masih tertempel di sudut papan, angka yang tak pernah hilang: Rp580 juta. Tenggat yang semakin dekat.
Masuk sepuluh besar sementara adalah satu hal. Bertahan di sana sampai akhir musim, melawan tim yang akan melakukan apa saja untuk menyingkirkanmu, sambil utang menggerogoti rumah—itu hal yang lain sama sekali.
Ia mematikan lampu garasi. Di kegelapan, motto ayahnya di sisi kokpit masih samar terbaca. Berani itu takut yang tetap jalan.
"Kita tetap jalan, Pak," bisik Bayu. "Sejauh ini, kita tetap jalan."