Pak Gun mencoba menahannya selama tiga hari. Bukan dengan larangan keras—ia tahu Bayu sudah dewasa, sudah membuat keputusan-keputusan jauh lebih berat. Tapi dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggerus.
"Mobil yang kamu pakai apa?" tanyanya di garasi, sambil mengelap kunci pas. "PR-09 mobil formula. Balap eksibisi liar itu pakai mobil jalanan modifikasi, mobil drift, mobil time attack. Kamu nggak bisa bawa formula nasional ke jalanan, Mas. Bodinya nggak cocok, bannya nggak cocok, dan kalau ketahuan kamu bisa kena sanksi Kejurnas—balapan di event ilegal bisa cabut lisensi."
Itu memukul Bayu lebih keras dari larangan apa pun. Ia tidak memikirkan itu. Satu kesalahan, lisensi hilang, dan semuanya runtuh—termasuk satu-satunya jalan ke sponsor Lintas Jaya.
"Jadi mobilnya gimana?" tanya Bayu.
Di sinilah jawaban datang dari sumber yang tak terduga. Dimas, yang sejak tadi diam mendengarkan sambil menyolder, mengangkat kepala.
"Sepupu saya," katanya ragu. "Punya mobil sedan modifikasi buat time attack. Mesinnya kencang, dia rawat sendiri. Dia sering ikut event di sirkuit pinggiran—yang setengah resmi, ada izin tapi longgar. Hadiahnya lumayan. Bukan yang liar tanpa aturan, tapi juga bukan Kejurnas. Zona abu-abu."
Pak Gun menatap Dimas tajam. "Kamu kenal dunia itu?"
Dimas mengangkat bahu, sedikit malu. "Dulu, Pak. Sebelum saya gabung tim. Saya mekanik di event-event begitu. Saya tahu siapa yang bersih, siapa yang nggak. Yang sepupu saya ikut itu... relatif bersih. Ada marshal, ada ambulans standby. Cuma aturannya lebih longgar dari Kejurnas, dan ada taruhan di tribun."
Bayu mempertimbangkan. Ini bukan balap liar murni yang ditakutkan Pak Gun. Ini zona abu-abu—lebih aman, tapi tetap berisiko. Dan yang paling penting: bukan PR-09 yang dipakai, jadi lisensi Kejurnas-nya aman selama tidak ada yang mengaitkan namanya secara resmi.
"Hadiahnya berapa?" tanya Bayu.
"Yang main akhir bulan ini, di sirkuit lama dekat pelabuhan, juara satu dapat tiga puluh juta," kata Dimas. "Plus, kalau menang taruhan pribadi—orang-orang kaya yang suka taruhan pembalap—bisa nambah banyak. Tapi itu wilayah berbahaya, Mas. Saya nggak saranin sentuh taruhan."
Tiga puluh juta. Sepertiga dari yang dibutuhkan, dalam satu malam. Tiga event, dan seratus juta itu mungkin terkumpul. Atau, kalau ia menang besar sekali saja di event dengan hadiah lebih tinggi—
"Aku mau ketemu sepupu kamu," kata Bayu.
Pak Gun menghela napas panjang, suaranya berat dengan sesuatu yang lebih dalam dari ketidaksetujuan. "Mas Bayu. Aku mau ngomong satu hal, dan kamu dengerin sampai habis." Ia meletakkan kunci pas, menatap Bayu lurus, mata tua yang pernah melihat terlalu banyak. "Lima tahun lalu, aku yang ngangkat tubuh bapakmu dari mobil. Aku yang lihat wajahnya. Dan tiap malam sejak itu aku tanya diriku, apa ada yang bisa aku lakuin biar dia balik utuh."
Garasi itu jatuh sunyi. Bahkan solder Dimas berhenti mendesis.
"Balap eksibisi, balap liar, time attack—dunia itu makan pembalap, Mas. Bukan karena pembalapnya jelek. Tapi karena nggak ada yang ngecek mobilnya kayak kita ngecek PR-09. Nggak ada Bu Ratih yang ngasih sensor di ban. Nggak ada steward yang ngehukum yang nyenggol kotor. Kamu masuk ke sana, kamu masuk ke dunia tempat bapakmu mati—dunia tanpa data, tanpa peringatan, tanpa mata."
Bayu menelan. Kata-kata itu mengenai tepat di tempat yang paling sakit.
"Aku nggak akan larang kamu," lanjut Pak Gun pelan. "Kamu kepala keluarga sekarang. Itu hakmu. Tapi kalau kamu masuk, aku ikut. Aku cek mobil sepupu Dimas itu kayak aku cek mobilmu. Sampai detail terakhir. Karena aku nggak mau ngangkat tubuh anak Hardian dari mobil. Aku nggak akan sanggup dua kali."
Bayu menatap mentornya lama. Lalu ia mengangguk, pelan, dan menjabat tangan tua itu.
"Kalau aku masuk, kita masuk bareng," kata Bayu. "Sama kayak Tikungan Tujuh. Sama kayak ban. Kita nggak buta."
Malam itu, Dimas menelepon sepupunya. Dan Bayu, untuk pertama kalinya sejak musim dimulai, tidur dengan keputusan yang ia tahu mungkin menyelamatkan rumahnya—atau menyeretnya kembali ke kegelapan yang sudah lima tahun ia coba tinggalkan.