Mereka membongkar sepanjang malam, dan saat fajar menyentuh garasi, jawabannya terhampar di atas kain lap bersih: bukan ring piston. Bearing. Satu bearing utama poros engkol, aus melewati batas aman, permukaannya tergores halus seperti pasir di logam.
Pak Heru memegangnya di bawah cahaya pagi, wajahnya muram. "Ini dia. Yang paling kita takutin."
"Bisa cari penggantinya?" tanya Bayu, matanya merah karena tak tidur.
"Aku telepon semua kenalan tadi malam," kata Pak Gun, suaranya parau. "Toko sparepart, bengkel lawas, pengepul mesin bekas. Tiga orang masih jawab subuh tadi." Ia menggeleng. "Spesifikasi bearing ini nggak standar. Bapakmu pesan khusus dari pemasok di luar negeri yang sekarang udah tutup. Dimensi dalamnya beda setengah milimeter dari yang umum. Pakai yang standar, dia nggak akan presisi, dan di putaran tinggi dia akan gagal—mungkin di tengah balapan."
Setengah milimeter. Jarak sekecil itu, antara tim Prakoso bertahan di klasemen atau hancur.
Sekar masuk membawa ponselnya, wajahnya lelah tapi matanya berbinar. "Bu Ratih nelepon balik. Dia bilang dia kenal satu orang—pensiunan insinyur pabrikan, namanya Pak Sukirman, yang nyimpen gudang part lawas balap dari era sembilan puluhan sampai dua ribuan. Bu Ratih bilang kalau ada yang punya bearing aneh kayak gini, ya orang itu. Tapi—" Sekar ragu.
"Tapi apa?"
"Pak Sukirman tinggal di luar kota. Empat jam perjalanan. Dan dia... katanya orangnya susah. Nggak suka jual ke sembarang orang. Bu Ratih bilang dia kolektor, bukan pedagang. Dia jual cuma kalau dia yakin partnya dipakai dengan benar."
Empat jam pergi, empat jam pulang. Seri ketiga tiga hari lagi. Tidak ada waktu untuk gagal.
"Aku yang pergi," kata Pak Gun, langsung melepas lap di pundaknya.
Bayu menahan lengannya. "Pak Gun belum tidur. Empat jam nyetir bolak-balik, Pak—"
"Justru aku yang harus pergi." Mata tua Pak Gun tegas. "Orang kayak Pak Sukirman, dia nggak akan jual ke anak muda yang dia nggak kenal. Tapi nama Hardian Prakoso—" ia berhenti sebentar, "—di kalangan kami yang tua, nama itu masih berarti. Aku dan Pak Sukirman seangkatan. Kalau ada yang bisa bujuk dia, itu aku."
Mereka berangkat siang itu, Pak Gun menyetir van tua tim. Bayu ingin ikut, tapi Pak Gun menolak—seseorang harus menjaga mobil, dan latihan mental Bayu untuk seri tiga tidak boleh terganggu. Maka Bayu menunggu, dan menunggu adalah siksaan tersendiri.
Pak Gun pulang lewat tengah malam. Bayu, Sekar, Dimas, dan Pak Heru masih terjaga di garasi. Saat van tua itu masuk pekarangan, mereka semua berdiri.
Pak Gun turun, lelah luar biasa, dan di tangannya sebuah kotak kayu kecil. Wajahnya sulit dibaca.
"Dia punya," kata Pak Gun. Lalu ia membuka kotak itu. Di dalamnya, dibungkus kain berminyak, bearing dengan spesifikasi tepat—dan bukan satu, tapi sepasang, cadangan. "Dia simpan dua dari era itu. Katanya nggak pernah dipakai."
Dimas hampir berteriak girang, tapi sesuatu di wajah Pak Gun menahannya.
"Berapa, Pak?" tanya Bayu pelan. "Berapa dia minta?"
Pak Gun terdiam. Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya—sebuah jam tangan tua, jam mekanik lawas yang Bayu kenali. Jam yang selalu dipakai Pak Gun, hadiah dari ayah Bayu bertahun-tahun lalu, satu-satunya barang mewah yang dimiliki mekanik tua itu.
"Pak Sukirman nggak mau uang," kata Pak Gun. "Dia kolektor, kayak kata Sekar. Dia mau barang yang punya cerita. Dan dia naksir jam ini sejak dulu, waktu kita masih sering ketemu di paddock." Ia menatap jam itu di telapaknya yang penuh kapalan. "Aku tukar."
Garasi itu jatuh sunyi. Bayu tahu apa arti jam itu. Hardian memberikannya pada Pak Gun di hari tim pertama kali finis podium, dulu, di musim yang sudah lama berlalu. Itu bukan jam. Itu kenangan tentang sahabatnya yang sudah tiada.
"Pak Gun—" suara Bayu tercekat. "Pak Gun nggak harus—"
"Harus." Pak Gun menutup kotak bearing, menyerahkannya ke tangan Bayu, menutup jari-jari Bayu di atasnya. "Jam itu kenangan Hardian. Tapi mesin ini juga kenangan Hardian. Dan mesin ini masih bisa jalan, masih bisa balapan, masih bisa bawa nama dia ke garis finis." Ia tersenyum, lelah tapi tulus. "Bapakmu nggak akan mau aku nyimpen jam sementara karyanya mati di garasi. Dia akan ketawa kalau aku ragu."
Bayu memeluk mekanik tua itu, dan untuk sesaat, tidak ada kata yang cukup. Pak Heru memalingkan wajah, matanya basah. Bahkan Dimas yang ceria diam.
Mereka memasang bearing itu sampai pagi. Tangan-tangan tua dan muda bekerja bersama atas jantung yang dibuat seorang ayah yang sudah tiada, menjaganya tetap berdetak untuk satu musim lagi.