Butuh empat hari sebelum Bayu bisa menyelesaikan satu lap penuh di gokart tanpa berhenti panik di tengah jalan.
Hari pertama, ia hanya sanggup duduk diam dengan mesin menyala selama sepuluh menit. Hari kedua, ia bergerak maju lima meter, lalu mundur. Hari ketiga, setengah lap—lalu ia berhenti, gemetar, dan muntah di pinggir lintasan. Pak Gun tidak pernah mengeluh. Ia hanya menunggu, sabar, mencatat detik demi detik kemajuan kecil.
Hari keempat, sore menjelang magrib, langit oranye di atas lintasan gokart, Bayu menyelesaikan satu lap penuh.
Lambat. Berhati-hati. Tangannya masih kaku, garisnya jelek, dan ia mengerem terlalu dini di tiap tikungan karena takut. Tapi ia menyelesaikannya. Saat melewati garis start-finish, Pak Gun dan Dimas bertepuk tangan seperti Bayu baru saja memenangkan juara dunia.
Bayu melepas helm. Wajahnya basah—keringat, atau air mata, ia tak yakin. Tapi untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ada sesuatu di dadanya yang bukan ketakutan murni. Sesuatu yang nyaris seperti... lega.
"Catatan waktunya jelek banget, kan?" kata Bayu, mencoba bercanda.
"Jelek banget," Pak Gun mengangguk serius. "Tapi waktu bisa dikejar. Yang nggak bisa dikejar itu keberanian buat mulai. Dan itu udah kamu punya hari ini."
Mereka pulang malam itu dengan suasana hati yang lebih ringan. Tapi di gerbang sirkuit gokart, sebuah mobil sport mewah berhenti di samping truk mereka. Kaca jendelanya turun perlahan.
Seorang pemuda menyembulkan kepala. Usianya mungkin sebaya Bayu, atau sedikit lebih muda, dua puluh empat tahun barangkali, dengan rambut tertata rapi dan jam tangan yang harganya lebih mahal dari seluruh peralatan tim Prakoso.
"Prakoso Motorsport?" Pemuda itu membaca logo di pintu truk. Ia tersenyum, tapi senyumnya tidak ramah. "Aku kira tim ini udah mati sejak Pak Hardian meninggal."
Bayu menegang. "Kamu siapa?"
"Reno Wijaya." Pemuda itu menyebut namanya seolah itu harusnya cukup. Dan memang, di dunia balap nasional, nama itu cukup. Wijaya Group adalah konglomerat otomotif. Reno adalah pembalap muda yang dibiayai penuh oleh ayahnya, dengan tim termahal di Kejurnas, mesin paling mutakhir, dan rekor menang yang panjang. "Aku denger tim sekarat mau ikut Sentul. Kupikir itu lelucon. Ternyata beneran."
Dimas hampir maju, tapi Pak Gun menahannya dengan tangan.
"Kami ikut," kata Bayu datar. "Ada masalah?"
Reno tertawa kecil. "Nggak ada masalah. Cuma sayang aja. Sirkuit itu bukan tempat buat sentimen, Bos. Sentul makan pembalap yang nggak siap." Ia menatap Bayu dari atas ke bawah, dan ekspresinya berubah—seperti baru menyadari sesuatu. "Tunggu. Kamu Bayu Prakoso? Anak Pak Hardian yang kabur dari balap?"
Kata "kabur" itu menusuk. Bayu mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.
"Wah." Reno bersandar, menikmati momen itu. "Ini bakal seru. Pembalap yang takut sama lintasan, balik ke lintasan tempat bapaknya mati. Aku akan pastikan kamu dapat sambutan hangat, Prakoso."
Kaca jendela naik kembali, dan mobil sport itu melaju pergi dengan deru yang sengaja dipamerkan.
Garasi mereka hening sejenak. Lalu Dimas meledak. "Anak sombong! Punya duit banyak nggak berarti bisa—"
"Dimas," potong Pak Gun. "Simpan tenagamu buat mobil."
Tapi Bayu tidak marah seperti Dimas. Ia justru merasa dingin, terfokus. Kata-kata Reno menyakitkan karena benar. Ia memang kabur. Selama lima tahun.
"Pak Gun," kata Bayu saat mereka naik ke truk. "Besok kita pindah dari gokart. Saya mau coba PR-09."
Pak Gun menoleh, terkejut. "Kamu yakin? Itu lompatan besar. Dari lima puluh kilometer per jam ke dua ratus lebih—"
"Saya yakin." Bayu menatap jalan di depan, rahangnya mengeras. "Saya nggak mau cuma jadi tim yang ikut buat selamat. Saya mau dia tahu Prakoso bukan lelucon."