Kantor Wijaya Group berdiri delapan belas lantai di tengah kota, dinding kaca memantulkan langit sore seperti cermin yang terlalu bersih untuk menyimpan dosa. Bayu berdiri di lobi dengan jaket biru pudar bertuliskan PRAKOSO di dada, sepatu balapnya masih berbau oli. Resepsionis menatapnya seolah ia salah pintu.
"Saya mau ketemu Pak Wijaya," kata Bayu. "Bilang anak Hardian Prakoso datang."
Ia tidak punya janji. Tapi sepuluh menit kemudian seorang sekretaris turun, dan wajahnya berkata bahwa nama itu masih punya bobot.
Ruangan Pak Wijaya luas, meja kayu jati selebar pintu garasi tim Prakoso. Pria itu sekitar enam puluhan, rambut perak rapi, jam tangan yang harganya mungkin lebih mahal dari seluruh PR-09. Ia tidak berdiri.
"Bayu Prakoso." Suaranya halus. "Pembalap yang lagi naik daun. Duduk."
Bayu tidak duduk. Ia mengeluarkan sebuah kantong plastik bening dari saku jaket dan meletakkannya di atas meja jati. Di dalamnya, sebuah komponen rem yang permukaannya digores sengaja — bukan aus, bukan retak alami. Pak Heru yang menemukannya. Dimas yang membuktikan goresan itu dibuat tangan manusia.
"Rem mobil saya," kata Bayu. "Digergaji setengah. Kalau Pak Gun nggak tes ulang dini hari sebelum berangkat, saya mati di tikungan pertama seri tiga. Sama kayak Bapak saya."
Senyum tipis di wajah Pak Wijaya tidak goyah. "Dan kamu pikir saya tahu soal sepotong logam itu?"
"Orang yang masuk garasi saya pakai seragam vendor catering yang Pak yang sewa untuk acara tim Wijaya. Sekar lacak nomor kontraknya. Saya nggak ke sini buat nuduh sembarangan."
Untuk pertama kalinya, ada jeda. Pak Wijaya menyandarkan punggung. "Tim kecil yang sekarat itu lebih baik mati cepat daripada pelan-pelan, Nak. Itu belas kasihan, bukan kejahatan. Garasi ayahmu jadi jaminan utang. Rumah ibumu di ujung tanduk. Aku tawarkan beli tim kalian dengan harga layak dua bulan lalu—"
"Dan kami tolak."
"Karena harga diri." Pak Wijaya mengucapkannya seperti kata kotor. "Harga diri nggak bayar tagihan bank, Nak."
Pintu terbuka tanpa diketuk. Reno berdiri di ambang, jas balapnya masih basah keringat dari sesi tes. Ia jelas baru mendengar potongan terakhir dari koridor. Wajahnya pucat.
"Apa yang Papa lakukan?"
Pak Wijaya tidak menoleh. "Urusan dewasa, Reno. Keluar."
"Apa yang Papa lakukan." Kali ini bukan pertanyaan. Reno melangkah masuk, menatap kantong plastik di meja, lalu menatap Bayu. "Rem itu... mobilmu?"
Bayu mengangguk satu kali.
Reno mengambil kantong itu, memutarnya di bawah cahaya. Ia pembalap; ia tahu apa artinya rem yang gagal di kecepatan dua ratus. Ia pernah merasakan ban gagal di Tikungan Tujuh, pernah terbangun di rumah sakit. Tangannya gemetar bukan karena takut.
"Aku ngalahin dia di lintasan," kata Reno pelan, suaranya bergetar menahan sesuatu. "Aku menang karena aku lebih cepat. Papa mau aku menang... begini?"
"Aku lindungi masa depanmu," kata Pak Wijaya, akhirnya berdiri, suaranya mengeras. "Semua yang aku bangun, aku bangun untuk—"
"Aku nggak minta dibangunin pakai cara ini." Reno membanting kantong plastik ke meja jati. Suaranya pecah di kata terakhir.
Hening menggantung berat. Bayu menatap kedua orang itu — ayah dan anak yang berdiri di dua sisi garis yang baru saja terbelah di tengah ruangan.
"Saya nggak ke sini buat lapor polisi," kata Bayu akhirnya, memecah keheningan. Ia mengambil kembali kantong plastiknya, memasukkannya ke saku. "Saya nggak punya cukup bukti buat itu, dan Pak tahu. Saya ke sini biar Pak tahu: kalau tim Prakoso mati, itu di lintasan, lawan stopwatch. Bukan di garasi, lawan gergaji. Bapak saya nggak mati ketakutan. Saya juga nggak akan."
Ia berbalik, melangkah ke pintu. Di ambang, ia berhenti dan menoleh — bukan ke Pak Wijaya.
"Reno. Hari Minggu, seri tiga. Kandangmu. Aku tetap start."
Reno tidak menjawab. Tapi matanya, ketika bertemu mata Bayu, sudah bukan mata seorang rival yang meremehkan. Itu mata seseorang yang baru saja melihat ayahnya dari sudut yang tidak ia inginkan.
Bayu turun lift sendirian. Di pantulan dinding kaca delapan belas lantai, ia melihat dirinya — jaket biru pudar, nama ayahnya di dada. Untuk pertama kalinya sejak lima tahun, ia tidak merasa kecil di hadapan nama Wijaya.
Tapi ia tahu satu hal: musuh yang sudah ketahuan justru jadi lebih berbahaya. Dan hari Minggu, ia harus balapan di sirkuit yang mereka kuasai.