Sirkuit seri tiga adalah benteng Wijaya. Tim mereka membangunnya bertahun lalu, menguji setiap mobil mereka di sini ribuan lap. Setiap tikungan mereka hafal sampai milimeter. Tribun penuh warna merah-emas Wijaya Group, dan ketika PR-09 biru pudar masuk paddock, ada cemoohan tipis dari arah suporter.
"Selamat datang di neraka," kata Dimas pelan, menatap papan iklan raksasa Wijaya yang menutupi separuh tribun utama.
"Neraka pakai aspal bagus," sahut Pak Heru, berlutut memeriksa suspensi. "Lihat ini. Rata kayak meja biliar. Mobil baru bakal cepat di sini. Mobil tua kita..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Pak Gun mengelilingi PR-09 sekali, mengetuk-ngetuk bodi dengan buku jari, kebiasaan lama. "Tiga lurus panjang," gumamnya. "Mobil kita kalah tenaga. Kita nggak bakal menang di lurus. Tapi sirkuit ini panas. Aspal terbuka, nggak ada pohon." Ia menoleh ke Dimas. "Pasang termometer aspal di pit wall. Aku mau angka itu kelihatan tiap detik. Kalau ada satu hal yang kita punya dan mereka nggak — itu sensor di setir Bayu."
Bayu mengangguk pelan, tapi matanya tertuju pada deretan mobil tim Wijaya di garasi seberang — mengkilap, baru, dikelilingi belasan mekanik berseragam rapi. Empat orang melawan empat puluh. Garasi mengelupas melawan benteng kaca.
"Kita pernah lebih kecil dari ini," kata Pak Gun, seolah membaca pikirannya. "Era Bapakmu, kita cuma bertiga. Kita tetap menang. Bukan karena uang. Karena kita lebih ngerti mobil kita daripada mereka ngerti mobil mereka."
Kualifikasi berjalan persis seperti yang ditakuti Pak Gun. Sirkuit ini punya tiga lurus panjang, dan PR-09 kalah top-speed dari mobil-mobil baru. Bayu menggali habis di setiap tikungan, mengejar di pengereman, tapi di lurus mobil-mobil mahal itu meninggalkannya seperti ia berkendara mundur.
Hasil: P9. Bukan bencana, tapi jauh dari posisi yang mereka butuhkan. Reno meraih pole, mulus, di kandangnya sendiri. Tribun meledak.
"P9," kata Bu Ratih, menatap data di tablet. Ia datang dari pabrik Adikarya, kini hadir di hampir setiap seri. "Tapi lihat data ban kamu, Bayu. Suhu stabil. Konsisten. Mobil-mobil di depan kamu hari ini panas banget di ban depan kanan. Mereka cepat di kualifikasi—"
"Tapi balapan lima puluh lap beda," sambung Pak Gun, mengusap dagunya. "Mereka cepat sekarang. Kita lihat siapa yang masih punya ban di lap empat puluh."
Pagi balapan, langit cerah. Bayu menatap termometer aspal yang dipasang Dimas di pit wall: lima puluh empat derajat, dan matahari masih naik. Dadanya mengencang. Lima puluh empat. Hardian mati di lima puluh delapan. Tikungan Tujuh tidak ada di sirkuit ini, tapi suhu itu mengikuti Bayu ke mana pun ia pergi.
"Bayu." Suara Pak Gun di radio, tenang. "Aku tahu apa yang kamu pikir. Lihat setir. Sensor jalan. Kita nggak buta. Inget itu."
Bayu menarik napas. Menatap angka-angka kecil di setir — suhu dan tekanan tiap ban, terbaca real-time. Senjata yang tidak dimiliki dua puluh satu mobil lain.
Lampu menyala merah. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima.
Padam.
Bayu melepas kopling sempurna, PR-09 melonjak. Di tikungan pertama, kekacauan biasa: mobil saling mengunci rem, satu melebar, Bayu mencuri celah di dalam. P7 keluar tikungan satu. Tribun merah-emas mendesis.
Lap-lap pertama brutal. Mobil-mobil di depan menarik jauh di lurus panjang, lalu Bayu mengejar di sektor tikungan. Tarik-ulur tanpa henti. Tapi Pak Gun benar: di lap sepuluh, mobil P5 dan P6 mulai melambat. Bayu melihat ban mereka — ia tidak butuh data lawan, ia bisa membaca cara mereka menikung, ragu, melebar.
"Mereka mulai habis," lapor Bayu di radio. "Ban depan mereka udah nggak nyengkram."
"Sabar," kata Pak Gun. "Jangan kamu serang sekarang. Suhu aspal naik. Lima puluh enam. Jaga ban kamu sendiri dulu. Yang lain bakal jatuh sendiri."
Bayu menahan diri. Setiap serat tubuhnya ingin menyalip, tapi ia ingat pelajaran lama: pembalap yang bagus bukan yang paling berani, tapi yang paling sadar batas. Ia jaga pace, baca sensor, biarkan suhu bekerja untuk lawan-lawannya.
Lap dua puluh. Aspal lima puluh tujuh derajat. Satu per satu, mobil-mobil mahal di depan masuk pit, ban depan mereka habis sebelum waktunya. Bayu, dengan ban Adikarya yang melemah bertahap dan memberi peringatan, terus melaju. P5. P4.
Di depan, hanya tinggal tiga mobil. Salah satunya Reno, memimpin di kandangnya. Dan jauh di belakang, di pit wall tim Wijaya, Bayu tahu Pak Wijaya sedang menonton tim sekarat yang seharusnya sudah mati ini merangkak naik di sirkuitnya sendiri.
Lalu suara Dimas memotong radio, tegang. "Bayu — depan kamu, mobil P3, ban kanan depannya... data telemetri publik dia merah. Dia bakal—"
Kalimat itu tak sempat selesai. Di lurus panjang menuju tikungan cepat, mobil di depan Bayu tiba-tiba berasap.