Safety car masuk pit di akhir lap dua puluh tiga. Lampu hijau. Balapan hidup lagi.
Bayu, P3, mengintip dari belakang mobil P2. Di depannya, Reno memimpin di kandangnya sendiri, tribun merah-emas berdiri meneriakkan namanya. Dua puluh tujuh lap tersisa. Aspal lima puluh tujuh derajat, mendung tipis menahannya tidak naik lebih jauh.
"Ban kamu paling segar," ulang Pak Gun. "Tapi jangan buru-buru. Salip yang P2 dulu. Itu mobil baru, top-speed-nya beda jauh. Kamu nggak bisa salip dia di lurus. Salip dia di tikungan, pas dia ragu karena bannya udah kerja keras."
Bayu menempel. Tiga lap ia pelajari mobil P2 — di mana ia melebar, di mana ia kehilangan traksi, di mana pengemudinya menyerah lebih awal. Lalu di tikungan sembilan, tikungan lambat di akhir lurus panjang, ia menyerang. Pengereman dalam, ban Adikarya mencengkram aspal sementara ban P2 menggelosor, dan Bayu menyodok ke dalam. Roda-ke-roda sejenak, lalu ia keluar di depan.
P2.
"BAGUS!" Dimas berteriak di radio, lupa protokol. Pak Gun tidak menegurnya.
Tinggal Reno.
Jarak tujuh detik. Dua puluh tiga lap. Bayu mulai memangkasnya — setengah detik per lap, lalu lebih. Ban segarnya bekerja, sementara ban Reno, yang sudah memimpin sejak start, mulai menua. Bayu bisa melihatnya di cara Reno menikung, sedikit lebih lebar tiap lap.
Lap empat puluh. Jarak dua detik.
"Kamu lebih cepat, Bayu," kata Pak Gun. "Tapi sirkuit ini susah nyalip. Lurus panjang punya Reno — mobilnya lebih kencang. Kamu cuma punya tikungan. Pilih satu tempat. Satu kesempatan."
Bayu tahu tempatnya. Tikungan sembilan. Tempat yang sama ia salip P2. Akhir lurus panjang, slipstream maksimal, lalu pengereman dalam.
Lap empat puluh enam. Jarak nol koma lima detik. Ia masuk slipstream Reno di lurus panjang, mobilnya menempel di belakang spakbor Reno, ditarik angin. Tikungan sembilan datang. Bayu rem sedikit lebih telat. Sedikit lebih berani.
Ia menyodok ke dalam.
Reno tidak menutup pintu kotor. Ia tidak menyenggol, tidak memaksa Bayu keluar lintasan seperti yang pernah ia lakukan dulu. Ia bertahan bersih, roda-ke-roda, dua mobil melebar bersama keluar tikungan, sejengkal jaraknya, asap ban dan deru mesin. Tribun berdiri.
Tapi mobil Reno lebih cepat di akselerasi keluar. Reno menutup lagi di lurus berikutnya, merebut posisi balik. Bersih. Murni kecepatan.
Bayu mencoba sekali lagi di lap empat puluh delapan. Reno menahan, sekali lagi bersih. Lap empat puluh sembilan, Bayu menyerang lagi, dan kali ini hampir berhasil — tapi Reno punya garis yang lebih baik, mobil yang lebih cepat di lurus, dan ia menutupnya dengan presisi seorang juara, bukan seorang penjahat.
Bendera putih. Satu lap terakhir.
Bayu menggali sisa terakhir ban, sisa terakhir keberanian. Tapi sirkuit ini, kandang Wijaya, dirancang untuk mobil seperti milik Reno. Garis finis datang dengan Reno di depan, nol koma delapan detik, dan Bayu menyeberanginya kedua.
P2.
Tribun meledak untuk Reno. Tapi di pit Prakoso, empat orang dan satu insinyur ban berteriak sampai serak.
"P2!" Pak Gun di radio, suaranya tercekik. "Podium, Nak. Podium kedua. Di kandang mereka."
Bayu mengangkat tangan di kokpit, dadanya naik-turun. Ia tidak menang. Tapi ia kalah dengan cara yang benar, di sirkuit yang seharusnya mustahil, dari rival yang balap bersih.
Di podium, Reno berdiri di anak tangga tertinggi, Bayu di kedua. Saat kamera berputar, Reno menoleh ke Bayu, dan di tengah hujan konfetti merah-emas, ia berkata pelan, hanya untuk mereka berdua:
"Kamu hampir dapat aku. Beneran hampir." Lalu, lebih pelan lagi: "Aku menang bersih hari ini. Itu... pertama kalinya aku yakin kemenangan ini punyaku sendiri."
Bayu menatapnya. Lalu, untuk pertama kalinya, ia mengulurkan tangan lebih dulu. Reno menyambutnya. Di bawah, ribuan suporter Wijaya tidak tahu apa yang baru saja terjadi di atas podium: bukan akhir sebuah rivalitas, tapi awal sebuah rasa hormat.
Di pit wall tim Wijaya, jauh di bawah, Pak Wijaya menatap putranya menjabat tangan anak Hardian Prakoso. Wajahnya tidak terbaca.